
"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
****
Rianti pun bertransaksi dengan ibu Siti. Sementara teman-temannya hanya diam memperhatikan keduanya. Setelah semua selesai, Rianti dan sahabat-sahabatnya kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar.
Sampai di rumah wajah Rianti tampak cerah, riang gembira. Walaupun tampak lelah, namun tidak dapat disembunyikan suasana hatinya itu. Membuat Bunda Asti jadi bertanya-tanya, "Gimana tadi dagangannya, laris?" tebak Bunda Asti. Ia berpikir pasti penyebab kegembiraan yang tergambar di wajah putrinya karena hal itu.
Benar saja, wajah Rianti tampak semakin senang, matanya pun berbinar. Lalu mengalirlah ceritanya.
"Iya, Bun, Alhamdulillah semuanya habis terjual. Bahkan tadi sebelum dibawa ke kantin, teman-teman kelasku sudah pada beli duluan. Karena sempat dibawa dulu ke kelas. Uh, jadi semangat kalau begini."
"Alhamdulillah, Bunda ikut senang mendengarnya. Putri Bunda ini memang hebat. Semoga laris terus, ya, " ujar Bunda Asti.
"Oh iya, Danti mana, Bun? Belum pulang?" tanya Rianti, sambil celingukan mencari keberadaan adiknya.
"Belum, sepertinya sebentar lagi, " jawab Asti.
Rianti hanya ber-oh, lalu kembali mengobrol dengan bundanya.
Tidak lama kemudian, datanglah Danti memasuki rumah sambil membawa kotak tempat menyimpan kue yang telah kosong. Wajahnya pun tak kalah gembiranya dengan kakaknya. Melihat itu, dengan tak sabar Rianti segera bertanya,
"Dek, gimana tadi, lancar?"
__ADS_1
"Iya, dong. Nih, lihat, kosong, kan?" jawab Danti, sambil memperlihatkan kotak kue itu, dengan senang dan bangga. Ia tak kalah semangatnya dari kakaknya.
"Alhamdulillah, " doa Rianti dan bundanya bersamaan.
"Yey, kalau begini terus setiap hari senang banget, deh. Besok kita jualan lagi ya, Teh. Tapi bangunin Danti pas mau masaknya, ya," ujar Danti.
"Oke, tapi kamu harus sudah bangun sebelum subuh, minimal jam 03.00 an, lah, " tantang Rianti.
"Wokeh, siapa takut!" Danti menjawab tantangan dari kakaknya.
"Siplah kalau begitu. Jangan lupa pasang alarmmu. Biar nggak kesiangan, " ujar Rianti.
"Oke, siap, Bos!" jawab Danti sambil mengangkat tangan kanannya lalu ditempelkan ke tulang pelipisnya, gerakan seperti hormat.
****
Rianti dan Danti tampak sibuk berkutat di dapur membuat makanan yang akan mereka jual hari ini. Menu hari ini masih sama dengan kemarin, tapi ditambah lagi dengan kebab berukuran sedang. Tidak besar atau jumbo dan juga tidak kecil. Cukup mengganjal perut orang-orang yang belum sempat sarapan.
Rianti mulai menyusun menu mulai hari Senin sampai Jumat. Ia berencana menunya berganti-ganti supaya tidak bosan.
Tak terasa waktu terus bergulir. Kesibukan mereka terhenti saat mendengar kumandang suara adzan subuh, memanggil setiap umat Islam menjalankan ibadah shalat. Karena dilakukan berdua kali ini bisa lebih cepat selesai. Segera kakak beradik itu melaksanakan shalat subuh di kamar masing-masing.
Setelah selesai shalat, mereka kembali ke dapur. Melanjutkan kembali aktifitas yang sempat tertunda. Semuanya sudah siap, tinggal dikemas saja.
__ADS_1
Sedang asyik mengemas makanan, Bunda Asti berjalan mendekati kedua putrinya.
"Masya Allah, rajinnya putri-putri Bunda. Sudah pada shalat Subuh belum?" puji Asti.
"Sudah, Bun, baru saja," jawab Rianti dan Danti berbarengan sambil menoleh ke arah bunda mereka.
"Alhamdulillah, sudah selesai semuanya?" tanya Asti.
"Sudah, Bun, tinggal dikemas saja. Tadi kepotong shalat dulu soalnya," jawab Rianti.
Lalu mengalirlah nasihat untuk keduanya,
"Hebat anak-anak Bunda yang cantik dan sholihah. Sesibuk apapun kita tidak boleh lupa dengan kewajiban shalat. Ingatlah semua karunia dan rezeki itu dari Allah. Belajarlah mencari rezeki dengan cara yang diridhai Allah. Agar berkah. Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan nikmat yang sedikit maka pasti akan ditambah. Itu janji Allah. Dan kita harus yakin dengan janji itu. Paham anak-anakku?"
"Iya, Bun, " jawab keduanya sambil mengangguk.
"Ya sudah, lanjutkan. Bunda mau masak buat sarapan dulu, ya, " ujar Bunda Asti.
Kedua kakak beradik itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara Bunda Asti memasak untuk sarapan mereka sekeluarga.
Setelah Rianti dan Danti selesai mengemas semua makanan dengan rapi, bergantian keduanya membersihkan tubuh. Karena kamar mandi di rumah itu hanya satu. Setelah selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah dengan rapi, keduanya menghampiri Bunda mereka di dapur. Ternyata masakan sudah siap tinggal diantarkan ke meja makan.
Mereka segera berbagi tugas, Danti menata meja makan, sedangkan Rianti membuatkan minuman untuk semuanya.
__ADS_1
Begitulah keseharian keluarga Asti dan Iskandar, terutama bundanya. Sejak menikah dengan Iskandar, ia memutuskan ingin menjadi ibu rumah tangga full di rumah, mendidik anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Karena ia sadar bahwa itulah tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Suatu saat pasti kedua suami istri itu harus melepas anak-anaknya dan akan menjalani kehidupan masing-masing, dengan keluarga kecil mereka. Menjadi istri dan ibu juga. Begitu pula dengan Radit, anak bungsu mereka, kelak akan menjadi imam, suami dan ayah bagi anak-anaknya. Karena itu, bagi Asti sangat penting menanamkan nilai-nilai mulia terutama pondasi agama sejak dini untuk bekal mereka dalam menjalani hidup ini. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah namun bukan berarti tidak bisa.
Semua tampak sedang menikmati sarapan sambil mengobrol dengan akrab. Setelah selesai sarapan, mereka pun siap-siap berpamitan pada bundanya dan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ayah mereka.