Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Khitbah


__ADS_3

Malam ini, Daffa, Wirawan, Linda, Ira, dan Raihan tampak sudah rapi. Daffa terlihat tampan dengan setelan baju kemeja berwarna biru metalik dan celana panjang kain warna hitam. Tampak pas dengan kulitnya yang putih bersih. Mereka segera bergegas ke luar rumah dan masuk ke mobil.


Hari ini, sesuai janji, Daffa dan keluarga akan berkunjung ke rumah Rima untuk mengkhitbahnya. Setelah sebelumnya sudah ada pembicaraan tentang perjodohan Daffa dan Rima. Keduanya pun tidak menolak.


Flashback On


Setelah Daffa menyetujui keinginan Ummi Linda untuk menjodohkannya dengan Rima, putri dari sahabat Ummi Linda, dan juga sahabat perempuannya, Ira. Selanjutnya, Linda berusaha menghubungi Aini dengan berkunjung ke rumahnya.


Setelah berbincang ringan, Linda mulai mengutarakan maksud kunjungannya hari ini.


"Aini, aku ingin hubungan persahabatan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu jika kita jodohkan anak kita, Daffa dan Rima, putrimu?" tanya Linda mulai membuka pembicaraan.


Mendengar itu, Aini terlihat terkejut. Namun tidak lama kemudian dia langsung tersenyum.


"Kamu mau berbesanan denganku, begitu maksudmu?" Aini balik bertanya.


"Iya, biar kita jadi benar-benar bersaudara. Sebelum ke mari aku sudah bicara dengan Daffa, ternyata dia setuju. Sekarang tinggal Rimanya, nih. Bagaimana menurutmu? Maukah kamu berbesanan denganku?" jawab Linda.


Mendengar itu, Aini tersenyum senang dan menjawab,


"Sebenarnya, aku juga berpikiran seperti itu, sih. Ingin menjodohkan Rima dengan Daffa, supaya kita semakin dekat. Kita jadi saudara betulan. Jadi satu keluarga. Aku sudah bicarakan juga dengan Rima, walaupun awalnya kaget, tapi akhirnya dia mau juga. Tapi, biarkan dia fokus dulu menghadapi ujian kelulusannya. Begitu sih, permintaannya."


Linda pun tersenyum lega dan senang mendengarnya.


Flashback Off


Tak terasa, kini mobil keluarga Wirawan telah sampai di depan rumah keluarga Ridwan dan Aini. Kedatangan mereka disambut baik oleh tuan rumah. Ridwan dan Aini menyambut tamu istimewa mereka dan mempersilakan untuk duduk di ruang tamu yang terlihat cukup luas.


Aini tampak memanggil Rima yang masih ada di kamarnya. Langsung masuk ke kamar putrinya yang terlihat sedang duduk di depan meja rias. Rima tampak cantik dalam balutan gamis berwarna pink cerah dilengkapi dengan kerudung warna senada.


"Duh, anak Mama, ngaca terus, nih. Sudah cantik, kok, " puji Aini, membuat Rima jadi malu.

__ADS_1


"Ayo keluar! Daffa dan keluarganya sudah datang, loh."


"Iya, sebentar, Ma, " jawab Rima, lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah mamanya menuju ruang tamu.


Begitu sampai di ruang tamu, Rima menyalami Linda dan Ira, sementara kepada Daffa dan Wirawan, hanya menyangkutkan kedua tangannya, tanda bersalaman jarak jauh. Daffa tampak tertegun melihat penampilan Rima malam ini. Terlihat tidak mampu menyembunyikan rasa keterpesonaannya. Sampai akhirnya disadarkan dengan suara deheman dari Umminya. Barulah Daffa menundukkan kembali pandangannya dengan gugup bercampur malu. Wajahnya tampak bersemu merah. Begitu pun dengan Rima.


Lalu mereka duduk di sofa. Posisi Rima duduk di tengah-tengah di antara kedua orang tuanya. Tepat berhadapan dengan Daffa. Hanya terhalang meja saja.


Untuk mencairkan suasana mereka berbincang ringan dulu. Kemudian Wirawan memulai menyatakan maksud kunjungan mereka.


"Ehm, seperti pembicaraan sebelumnya, kami ke mari ingin melamar putri Pak Ridwan dan Ibu Aini untuk putra saya, Daffa secara resmi. Bagaimana, maukah menerimanya?"


Tanpa menunggu lama, Ridwan segera menanggapinya,


"Kami sebagai orang tua sangat menyambut niat baik Nak Daffa. Tapi kami juga perlu untuk menanyakan kembali kepada Rima. Karena biar bagaimana pun mereka lah yang akan menjalaninya. Kelak, manis dan pahitnya kehidupan berumahtangga akan mereka hadapi sendiri."


Lalu pandangannya beralih kepada putrinya yang duduk di sampingnya. Jemari Rima tampak bergetar sambil menggenggam kuat telapak tangan mamanya. Saking gugupnya. Baginya, hari ini adalah hari besarnya. Bahagia atau tidaknya di masa depan dia sendiri yang akan menentukannya.


"Pak Ridwan, biar saya saja yang bertanya langsung kepada Rima. Boleh?"


Akhirnya Ridwan mengangguk tanda setuju. Pandangan Wirawan beralih ke arah Rima dan bertanya,


"Bagaimana, Nak. Apakah kamu mau menerima lamaran Daffa?"


Rima tidak langsung menjawab, secara bergantian ia menatap kedua orang tuanya, meminta kekuatan dan keberanian untuk menjawabnya. Lalu perlahan Rima hanya mampu mengangguk sambil menahan malu. Wajahnya jadi merona. Langsung menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang cantik.


Melihat itu, semuanya tampak menghela napas lega. Begitu pun dengan Daffa dan Rima. Tiba-tiba suasana tegang itu dikejutkan dengan sorak dari Ira, "Yeay, akhirnya aku punya kakak perempuan juga, " seru Ira tiba-tiba, tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Membuat semuanya jadi tertawa melihat tingkah Ira. Wajah sumringah tampak dari Daffa dan Rima.


Namun, akibatnya ketegangan pun mulai mencair. Apalagi saat dilanjutkan dengan melakukan pembicaraan ringan sambil menyusun rencana. Termasuk kapan mereka akan menikah. Setelah diputuskan, Daffa dan Rima akan menikah tiga bulan lagi. Setelah Rima lulus SMA.


Semua dirasa sudah dibicarakan, rencana telah tersusun. Pertemuan pun ditutup dengan makan malam bersama. Setelah itu, keluarga Wirawan pamit pulang.

__ADS_1


Saat di perjalanan pulang, Daffa terlihat tampak senyum-senyum sendiri. Mengenang pertemuan tadi. Tingkahnya ini bisa ditangkap oleh Ira yang duduk di sebelahnya. Melihat itu, langsung membuatnya ingin menggoda kakaknya yang biasanya super jahil itu kini jadi tampak bahagia. Ia geli sendiri saat mengingat tingkah kakaknya yang begitu gugup, salah tingkah, dan malu-malu di depan Rima. 'Biasanya juga malu-maluin, ' gumam Rima geli.


"Hayo, senyum-senyum sendiri, pasti lagi kepikiran Kak Rima, ya, A?" goda Rima sambil mencolek pipi kakaknya itu.


Daffa terkejut karena ternyata dari tadi adiknya itu memperhatikannya. Namun segera ditutupi dengan pura-pura galak, "Apaan sih, kamu?"


"Awas loh, jangan ngebayangin Kak Rima terus. Kalian kan belum nikah. Jadi harus pintar-pintar jaga hati!" ujar Ira tanpa mempedulikan tatapan tajam kakaknya.


Dengan sengaja Ira jadi menyenandungkan potongan nasyid, bermaksud menyindir kakaknya, sambil menggerakkan jari telunjuknya seolah seperti menasihati,


Jagalah hati jangan kau kotori


Jagalah hati lentera hidup ini


Jagalah hati jangan kau nodai


Jagalah hati cahaya ilahi


Dengan gerakan cepat, Daffa langsung menangkap jari tangan adiknya itu dan berlagak seperti akan menggigitnya. Sampai membuat Ira berteriak.


"Berisik!" tukas Daffa.


"Duh, kalian ini apa-apaan, sih. Dari tadi ribut terus. Kamu juga Ira dari tadi godain kakakmu saja, " tegur Linda dan Wirawan bersamaan.


"Ih, Ummi sama Abi kompak bener. Janjian, ya? " seru Ira sambil menahan tawanya.


"Habisnya, dari tadi ribut terus, pusing nih Abi dengarnya. Orang lagi nyetir juga, jadi nggak konsen, nih, " tukas Wirawan.


Akhirnya suasana hening sejenak. Tapi tidak bisa bertahan lama. Karena Ira kembali menggoda kakaknya. Dan kembali ramai. Wirawan dan Linda hanya menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah. Dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2