Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Hari Pertama Sekolah 3


__ADS_3


Rumah Wulan


Kreek!


Pintu kamar Wulan dibuka oleh Rosita, mamanya. Berjalan menghampiri Wulan, bermaksud membangunkannya untuk shalat Subuh dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Wulan menjadi murid SMA, bukan SMP lagi.


"Masya Allah, ini anak gadis tidurnya sembarang. Bantal di pojok, guling di lantai, selimut di bawah tubuhnya. Sementara posisi tidurnya melintang. Motah, bener. Gimana kalau menikah nanti, bisa-bisa suaminya nggak kebagian tempat tidur, dong?" omel Rosita, sambil menggelengkan kepalanya, heran.


"Wulan, ayo bangun! Shalat Subuh dulu. Kamu kan hari ini masuk sekolah. Sudah jam 05.00, tuh. Dikira sudah bangun dari tadi, " cicit Rosita sambil mengguncangkan tubuhnya supaya cepat bangun.


Setiap pagi pemandangan itulah yang dilihatnya. Turunan siapa, sih, tidurnya kaya gini? Rasa-rasanya tidurku nggak kaya gitu, deh, gerutunya sendirian.


Rupanya, ada yang mendengar gerutuannya dari tadi. Yup, suaminya, Irfan sudah ada di belakangnya. Baru saja pulang dari masjid. Irfan menahan tawanya, geli. Apalagi saat ia mendengar gerutuannya yang terakhir.


"Ah, benarkah? Lalu, kira-kira kaki siapa yang semalam sudah ada di kepalaku? Terus, pas bangun tadi juga malah kedua kaki sudah ada di perut. Kaya mau dipites aku, adu gulat, " ledek suaminya, menahan geli.


Matanya langsung mendelik ke arah suaminya. Sinis. Yang ditatap, malah makin cengengesan.


"Idih Papa, enak aja, mana mungkin kaya gitu? Aku tidurnya anggun tau, " elaknya merajuk, menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.


'Benarkah aku tidurnya kaya gitu?' gumamnya dalam hati.


"Ya, kan kau tidur, makanya nggak sadar. Aku yang setiap malam tidurnya keganggu. Nggak kebagian tempat tidur, " Irfan semakin menjadi meledek istrinya. Membuatnya jadi merengut kesal.


"Oh, jadi gitu, ya. Ceritanya curhat, nih. Ya, sudah, besok-besok Papa nggak usah tidur dekat aku lagi, " rajuknya, memasang muka cemberut.


'Wah, gawat kalau gini. Beneran marah dia, ' batin Irfan panik. Tawanya seketika lenyap.


Lalu perlahan mendekati istrinya dan merayunya, "Jangan gitu, dong, Sayang. Bidadariku. Biar begitu Papa tetap cinta, kok. Suer!" sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya, seperti tanda orang bersumpah. Dan memasang wajah memelas.


"Nggak usah ngerayu. Nggak mempan!" seru Rosita, ngambek.


Irfan terus berusaha merayunya, hingga berhasil membuat istrinya tersenyum lagi. Ulah konyol mereka terhenti karena mendengar teriakan Wulan, "Aduh, Papa, Mama, berantem kok di kamar Wulan, sih? Berisik, tau, " protes Wulan, kesal.


Keduanya tersenyum malu. Menundukkan kepalanya.


"Eh, iya lupa. Mama maksudnya tadi mau bangunin kamu untuk shalat Subuh, terus siap-siap ke sekolah. Ayo, cepatan mandi, wudhu dan shalat Subuh. Mama mau masak dulu," Rosita mencoba mengalihkan pembicaraan. Lalu menarik tangan suaminya keluar kamar.


Gantian, sekarang malah Wulan yang geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua orang tuanya, sambil menahan tawanya.

__ADS_1


'Kocak bener mereka,' gumamnya geli.


Begitulah orang tua Wulan. Saling meledek tapi saling cinta. Selalu mesra. Mungkin karena usia keduanya tidak jauh berbeda. Dari zaman sekolah (SMA) dulu memang begitu. Jadi, seperti sahabat saja. Berantem melulu, terus nggak lama baikan lagi. Tapi tidak pernah lama, nggak sampai seharian. Lagipula, berantemnya bukan hal besar. Irfan yang suka jahil, senang menggoda istrinya. Dan Rosita selalu menanggapi, kadang balas jahil lagi, meledek juga. Seakan mereka lupa sudah punya dua anak kembar, tapi beda jenis kelamin yang sudah remaja. Wulandari dan Walandanu. Tapi semua itu malah membuat hubungan kedua makin hangat.


***



Flashback On


Singkat cerita, ternyata semua itu untuk menutupi perasaan mereka yang sesungguhnya. Sama-sama gengsi menunjukkannya. Sampai akhirnya mereka sempat terpisah karena kuliah di tempat yang berbeda. Rosita memilih kuliah di Kota Kembang, Bandung. Sedangkan Irfan di ibukota Indonesia, Jakarta. Di tempat kuliah masing-masing ternyata mereka memutuskan untuk berhijrah. Sejak tahu, bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam. Ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Keduanya rajin mengkaji Islam, berusaha menjadi seorang muslim/muslimah yang lebih baik lagi, lebih taat. Menjaga interaksi dengan lawan jenis.


Hingga akhirnya, setelah lima tahun berlalu, tepatnya setelah Rosita kuliah, keduanya kembali ke kota B ini. Mereka bertemu kembali dalam suatu acara Tablig Akbar. Kebetulan keduanya panitia. Awalnya, mereka tidak saling menyadari. Berhubung panitia ikhwan dan akhwatnya terpisah. Bertemunya justru setelah acara itu selesai. Saat peserta mulai bubar, panitia beres-beres, supaya gedung itu kembali bersih dan rapi, seperti sebelumnya.


Tidak sengaja, saat berpapasan mereka saling pandang dan menunjuk, karena merasa saling kenal.


"Rosita!" panggil Irfan. Rosita menoleh mencari suara seseorang yang memanggilnya.


"Eh, Irfan, kan?" Rosita balik bertanya. Irfan mengangguk.


"Kamu panitia juga?" tanya Irfan.


"Iya, " jawab Rosita singkat.


"Eh, iya, aku duluan, ya Fan. Mau pulang. Sudah beres semua, Assalamualaikum!" pamit Rosita, sambil beranjak menjauh dari Irfan.


"Wa'alaikumussalam!" jawab Irfan.


Setelah pertemuan itu, Irfan kembali terkenang akan kenangan mereka dulu.


"Duh, kenapa aku jadi mikirin dia lagi, sih? Astaghfirullah!" gumam Irfan, sambil mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Mencoba menghilangkan bayangan masa lalunya.


Tak lama, suara adzan berkumandang memanggil setiap muslim untuk shalat Maghrib dari masjid di dekat rumahnya. Bergegas Irfan bangkit, berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu ke luar rumah berjalan menuju Masjid, ikut shalat berjamaah. Tepat kakinya memasuki masjid, Pak Ujang, marbot masjid berdiri dan mengumandangkan iqomah, tanda shalat akan segera dimulai. Lalu, shalat lah mereka dengan khusyu'.


Beberapa bulan kemudian, akhirnya mereka mengetahui bahwa ternyata mentornya Irfan, Akbar adalah suami dari mentornya Rosita, Tika namanya. Hal itu diketahui tanpa sengaja saat mereka bertemu di rumah Akbar dan Tika. Rosita janjian dengan Tika mau ambil buku yang dipesannya. Sedangkan Irfan memang sedang ada di sana. Kajian mingguan.


Sebenarnya, Rosita tidak menyadari kalau Irfan sedang ada di sana. Irfan lah yang pertama kali melihatnya tanpa sengaja, saat asyik ngobrol dengan Tika. Lalu berpamitan pulang.


Setelah kajiannya selesai, Irfan sengaja pulang belakangan. Ia merasa penasaran dengan kedatangan Rosita tadi


"Bang, itu tadi yang datang Rosita, ya?" tanya Irfan to the poin.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Kamu kenal sama dia?" Akbar balik bertanya.


"Iya, teman SMA ku dulu. Kaget saja melihatnya tadi," jawab Irfan apa adanya.


Mendengar itu, Akbar mulai curiga.


"Kenapa kaget? Biasa saja, kali. Dia kan juga sering ke sini, kajian mingguan juga sama istriku. Setiap hari Rabu sore jadwalnya. Tadi itu dia ke sini karena mau ambil buku yang dipesannya melalui istriku. Gitu, aja. Sebentaran doang, " jelas Akbar.


"Oh, gitu, ya? Pantes nggak pernah ketemu, " Irfan keceplosan tanpa sadar.


"Emangnya mau ngapain kalau ketemu? Hayo, ada apa, nih. Tanya-tanya dia? Kau sengaja pulang belakangan hanya untuk nanyain dia, kan?" tebak Akbar, dengan logat Medannya yang masih cukup kental walaupun sudah lama tinggal kota B, sejak kuliah dan kemudian bertemu jodoh di sini. Adik tingkat dua tahun di bawahnya, namun berbeda fakultas. Mereka sering bertemu karena masih dalam satu organisasi yaitu di DKM tingkat Universitas.


Irfan garuk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Nyengir malu.


"Ya, nggak ngapa-ngapain juga, sih, Bang, " jawab Irfan malu-malu. Wajahnya yang putih bersih itu jadi merah.


"Ayo, jujur sama aku, kau tertarik sama dia? Kalau mau, biar nanti aku tanyain ke istriku, apa dia sudah punya calon atau belum. Berdoa saja, semoga belum, " todong Akbar langsung.


"Eh!" Irfan kaget ditodong begitu. Tapi jantungnya jadi berdebar-debar.


'Duh, ngapain juga sih aku tanya-tanya tentang dia?' gumamnya dalam hati.


Eh, tapi akhirnya Irfan mengangguk.


Akhirnya, Akbar dan Tika mencomblangi mereka. Akbar menghubungi Irfan, sedangkan Tika menghubungi Rosita.


Setelah tahu Rosita belum punya calon, menyatakan diri ingin mengkhitbahnya. Setelah mendapat tantangan dari Rosita aga langsung saja menemui orang tuanya, akhirnya Irfan menjawab tantangan itu dengan temani Akbar, mentornya. Rosita pun ternyata menerimanya. Dan setelah pertemuan dua keluarga, diputuskan menikah bulan depannya.


Resepsi pernikahan dilaksanakan dalam suasana Islami. Di mana para undangan laki-laki dan perempuan terpisah. Dan diberi catatan di surat undangan, agar para muslimah mengenakan pakaian muslimah, menutup aurat. Souvenir yang disediakan cukup unik. Yaitu, semacam booklet/buku saku yang di dalamnya menuliskan tentang fikih singkat tentang pernikahan, pergaulan dengan lawan jenis. Disusun oleh mereka, dibantu oleh Akbar dan Tika. Jadi, mereka berharap, para undangan mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat, yaitu ilmu.


Begitulah kisah orang tua Wulan dan Danu.


Flashback Off


****


Setelah selesai shalat dan memakai seragamnya, Wulan keluar kamar dan berjalan menuju meja makan. Membantu mamanya menyiapkan sarapan.



Tidak lama kemudian, Danu pun keluar dari kamarnya sudah memakai seragamnya dengan rapi dan dilapisi dengan jaket berwarna biru tua dan syal yang melingkar di lehernya. Pagi ini memang terasa dingin. Mungkin karena semalaman bumi diguyur hujan deras. Wulan dan Danu, saudara kembar berbeda jenis kelamin itu memang sekolah di sekolah yang sama, SMA Cendekia.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Irfan bergabung, dan mengajak untuk sarapan bersama. Hari ini, mereka sarapan dengan sandwich bakar isi daging asap, lembaran keju, dan sayuran, seperti irisan mentimun, tomat, dan daun salada. Dan minumannya susu.


Setelah selesai menyanpat sarapan masing-masing, mereka berpamitan kepada mama mereka dan melangkah keluar rumah. Irfan mengantar Wulan dan Danu terlebih dahulu ke sekolah sebelum berangkat ke kantor.


__ADS_2