Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Juara Bertahan


__ADS_3

Assalamualaikum, maafkan Author, baru bisa update lagi karena kesibukan. Masih di dunia nulis juga, sih. Jadi kemarin-kemarin masih fokus ke sana dulu. Alhamdulillah sudah kelar. Jadi bisa fokus lagi menyelesaikan dua novelku di sini yang belum rampung.


Judulnya:


Romansa Putih Abu


Hope


Silakan berkunjung, ya🤗


Tinggal cari nama Nurmita Dewi, langsung ada karya-karya saya.


Mulai hari ini dan seterusnya saya akan kembali update tulisan setiap hari, menggantikan kemarin-kemarin yang sempat tertunda. Semoga dimudahkan.


Terima kasih kepada para reader yang telah membaca novel saya dan tetap setia menanti update cerita saya, ya. Senang rasanya. Tapi ada sedihnya juga, sih. Kok, belum ada yang vote, ya dan komennya, ya. Hiks...😢


Ayo, saya tunggu dukungannya, biar makin semangat terus menyelesaikannya.❤️


Author,

__ADS_1


Nurmita Dewi


****


Sore itu, Sania tampak senyum-senyum sambil menatap langit-langit kamarnya, mengingat perjuangannya berkompetisi hari ini. Meski sempat terjadi insiden 'keributan' namun dapat dihadapi dengan tegar. Di tambah dukungan dari sahabat-sahabatnya yang membela dan mendukungnya. Beruntung Sania tidak memperturutkan emosinya begitu saja. Ia memilih bersikap memaafkan mereka yang sempat meremehkannya. Hingga akhirnya, mereka pun berkenalan. Dengan demikian bertambahlah teman-temannya di luar sekolah.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendirian begitu?" tegur Mami Larasati. Meski suaranya pelan namun sanggup membuat Sania terkejut, karena tidak menyadari kehadiran Maminya di kamarnya dan memperhatikan tingkahnya.


"Eh, Mami, bikin kaget saja, deh," Sania bangkit dari posisi berbaringnya lalu memeluk lengan maminya yang telah duduk di sampingnya, sambil menyandarkan kepalanya di bahunya dengan manja.


"Terus kenapa, dong? Kok senyum-senyum sendiri kaya gitu?" tanya Mami Larasati.


"Hayo, ada apa, nih? Lagi mikirin apa, sih? Atau kamu mulai jatuh cinta?" berondong Mami Larasati.


"Ih, Mami apa-apaan, sih. Mikirnya kejauhan, deh. Mana ada itu pacar-pacaran. Kan Mami sendiri yang sering mengingatkan Sania kalau pacaran itu dilarang di dalam Islam. Lagipula Sania masih ingin banyak belajar, dan mengejar impian Sania sebelum bertemu jodoh. Harapan Sania sih gitu, Mi, " jawab Sania.


"Baguslah, anak Mami sudah paham tentang itu, " sahut Mami Larasati sambil mengelus kepala anaknya.


"Sania cuma ingat kejadian hari ini, Mi. Waktu kompetisi panahan, " jawab Sania akhirnya.

__ADS_1


Lalu mengalirkan ceritanya selama kompetisi kemarin, termasuk insiden kecil yang sempat mewarnainya, namun berakhir bahagia. Sania mendapat teman-teman baru. Sang Mami mendengarkan dengan penuh perhatian, sampai Sania menyelesaikan ceritanya.


Setelah selesai bercerita, Mami Larasati mencoba menanggapi, "Alhamdulillah, ternyata anak mami ini punya hati yang besar, lembut, mau memaafkan kesalahpahaman mereka. Tapi, jadinya malah nambah teman. Keren, deh. Mami bangga sama kamu, Nak, " tuturnya sambil mempererat pelukannya, dan menciumi pucuk kepalanya. Membuat Sania semakin bahagia karena merasakan kasih sayang yang begitu besar dari wanita yang telah melahirkannya itu.


Lalu melanjutkan penuturannya,


"Memang seharusnya kita seperti itu. Tetap bersikap baik kepada siapapun. Tidak ada ruginya memaafkan mereka yang menyakitimu. Yang namanya kebaikan akan kembali kepada dirimu sendiri. Kamu mungkin berhak untuk marah ketika merasa direndahkan oleh orang lain, tapi kamu memilih untuk memaafkan mereka itu sangat luar biasa. Itu namanya ihsan. Berbuat baik kepada orang lain semata-mata karena Allah. Manfaatnya tentu bisa kamu rasakan sendiri, bukan? Kamu disayangi oleh sahabat-sahabatmu, pahalanya tentu amat besar di sisi Allah. Ingat kan, pelajaran tentang Islam, Iman, dan Ihsan?"


Sania menganggukkan kepalanya sambil menyimak penuturan Maminya yang selalu bisa menenangkan. Sania merasa beruntung memiliki orang tua yang mau memahami keinginan putrinya. Bisa menjadi sahabat baginya di saat seperti ini. Mau menjadi pendengar yang baik, sehingga gadis itu merasa nyaman curhat apapun kepada maminya. Baik dalam keadaan suka maupun duka.


***


Satu bulan kemudian


Tak terasa seluruh rangkaian kompetisi dalam rangka menyambut HUT Kota B telah berakhir. SMA Cendekia kembali mengantongi juara umum dan membawa kembali piala bergilir Walikota Cup ke sekolah mereka. Berarti, empat tahun berturut-turut sudah SMA Cendekia mampu mempertahankannya. Dengan demikian tidak sia-sia perjuangan mereka dari mulai latihan hingga kompetisi berakhir.


Para siswa dan siswi SMA Cendekia kembali kepada rutinitas mereka sebagai pelajar. Apalagi kelas tiga sudah mulai disibukkan dengan persiapan menghadapi Ujian Akhir. Sering diadakan latihan-latihan ulangan yang menjawab soal-soal. Terutama memasuki semester akhir ini.


***

__ADS_1


Teman-teman, kangen tidak sama cerita Rima dan Daffa? Gimana kelanjutannya, ya? Insya Allah besok ada kelanjutannya. Tunggu saja, ya🤗.


__ADS_2