
Rumah Ira
Kring... kring... kring!
Bunyi alarm dari jam weker di kamarnya yang memekakkan telinga membuat Ira melonjak kaget. Langsung terbangun dari tidurnya. Jantungnya jadi berdegup kencang. Kepalanya serasa berputar, karena bangun mendadak langsung duduk. Dengan bersungut kesal segera dimatikannya alarm itu. Maklumlah, belum terbiasa. Jam weker itu memang baru seminggu ini menghuni kamarnya. Hadiah kelulusan dari Wirawan, abinya.
Katanya, "Putri Abi sudah besar ternyata, ya. Jam weker ini sengaja Abi beli. Berharap Ira bisa lebih pintar lagi membagi waktu. Waktu untuk belajar, ibadah, bermain, dan lainnya. Jadi, selalu menggunakan waktunya untuk yang bermanfaat saja. Jauhi hal-hal yang sia-sia. Mengerti, sayang?"
Diliriknya jam weker, ternyata waktu menunjukkan pukul 04.30. Hm, waktunya shalat subuh, nih, gumamnya. Ira berdiri dari ranjangnya lalu melangkah keluar kamar, mengambil handuk menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Hm, masih sepi. Abi, A Daffa, dan Raihan pasti sedang di masjid. Shalat Subuh berjamaah. Ummi shalat di kamarnya. Pantas saja sepi. Langsung mandi, ah, ' gumam Ira.
Ira memang terbiasa mandi subuh sebelum menjalankan ibadah shalat Subuh. Rasanya kurang nyaman kalau shalat tanpa mandi dulu. Ia selalu ingin menghadap Sang Pencipta dalam keadaan bersih. Kebiasaan ini memang menurun dari umminya, ummi dari neneknya, begitu seterusnya sampai ke atas. Seolah sudah menjadi tradisi turun-temurun.
Linda pernah bercerita pada Ira, "Kebiasaan mandi subuh itu sangat baik dan banyak manfaatnya. Bisa mengurangi stres hingga depresi, memperlancar peredaran darah, mengurangi kadar gula darah, meningkatkan kesuburan, memberikan dorongan energi tambahan, meningkatkan memori, dan masih banyak lagi."
Ira segera masuk ke dalam kamar mandi dan mandi di sana. Setelah mandi, lanjut shalat Subuh. lalu merapikan tempat tidurnya. Diperiksanya tas sekolahnya. Takut ada yang ketinggalan. Setelah memastikan semuanya lengkap, ada dalam tasnya, Ira melangkah kembali keluar kamar menuju dapurDilihatnya, sudah ada Linda yang tampak sibuk memasak. Ira segera menghampirinya.
"Masak apa, Mi?" tegur Ira langsung.
Tentu saja membuat Linda hampir melonjak karena kaget. Sambil mengelus dadanya, Linda mengomel kesal, "Ira, kamu mengagetkan saja. Gimana coba kalau Ummi punya penyakit jantung? Bisa jantungan, tau. Salam dulu, kek!"
"He... he... he..., maaf Mi, " Ira malah cengengesan sambil menangkupkan kedua tangannya. Lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya ini. Akhirnya Linda tersenyum juga.
Ira mengulangi pertanyaannya tadi.
"Ini, masak nasi goreng aja. Yang praktis dan cepat. Kebetulan ada sisa tiga potong ayam ungkep kemarin, jadinya disuir-suir aja. Terus dibikin nasi goreng, deh. Tinggal ditambah telur dadar. Nih, beres, deh," jawab Linda, sambil mematikan kompor.
__ADS_1
"Hm, harum, pasti yummy!" puji Ira dengan mata berbinar. Rasanya tidak sabar ingin segera menyantapnya. Perutnya juga sudah mulai berontak minta diisi. Lapar.
Linda tersenyum.
"Ayo, sekarang bantu Ummi menyiapkan sarapan. Sebentar lagi pasti pada ke sini, deh!" titah Linda.
"Iya, Mi," jawab Ira, lalu mengambil peralatan makan dan dibawa ke meja makan.
Benar saja, tidak lama kemudian muncullah Wirawan dan Daffa, kakak laki-laki sulungnya dari arah kamar masing-masing. Dengan pakaian yang sudah rapi. Disusul pula Raihan.
Melihat adiknya, Daffa jadi ingin menggodanya.
"Deuh, yang udah SMA, udah gede nih, ceritanya? Hm, tapi kok masih pake seragam SMP, sih? Beneran udah lulus? Tampaknya meragukan, ck... ck... ck...! Nggak salah kostum, tuh?" Goda Daffa sambil mulutnya sengaja didecakkan dan geleng-geleng kepala. Mencoel pipi Ira.
"Ih, Aa. Ya, lulus, lah. Sombong bener, mentang-mentang udah kuliah, " gerutunya kesal. Bibirnya jadi mengerucut.
Melihat itu, Daffa semakin senang menggodanya. Sampai Ira terlihat mau menangis. Melihat itu, Linda turun tangan. Mengangkat tangannya dan menjewer telinga Daffa.
"Aduh... duh..., sakit Mi, "keluh Daffa sambil meringis menahan sakit.
"Kamu nih, senang banget menggoda adikmu. Minta maaf!" omel Linda.
"I... Iya, tapi lepasin dulu dong, Mi, " Daffa memohon dengan memasang wajah memelas.
"Minta maaf dulu!" Titah Linda.
"Aduh, iya, iya! Maafkan Aa, ya Adikku tersayang," pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya, tanda meminta maaf.
Melihat ekspresi kakaknya yang lucu, akhirnya pecah juga tawanya. Akhirnya, tangan Linda lepas dari telinganya.
'Fiuh, akhirnya!' gumam Daffa lega.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Ayo, kita sarapan! Nanti pada kesiangan, loh. Pagi-pagi udah rame aja, " seru Wirawan mengingatkan.
Akhirnya semua segera mengambil tempat duduknya masing-masing lalu menyantap sarapan hingga ludes semuanya. Melihat itu, Linda tersenyum bahagia. Puas melihat keluarga kecil tercintanya menikmati hasil masakannya.
"Wah, Ummi nasgornya enak benar. Nggak kalah sama di resto-resto. Eh, apa enakan ini, ya," puji Daffa, setengah merayu Umminya supaya nggak ngomel-ngomel lagi.
"Hm, bisanya ngerayu Ummi, ya. Mau dijewer lagi?" pura-pura mengancam Daffa.
Mendengar itu, Daffa langsung menutup kedua telinganya. Bergidik ngeri.
"Eit, jangan dong, Mi. Ampun, deh! Beneran enak, kok. Buktinya habis, tuh, " mohon Daffa, sambil menunjuk piringnya yang sudah kandas. Bersih tak bersisa.
"Sudah, sudah, ribut terus, nih. Ayo, berangkat! Abi antar semua," lerai Wirawan.
Akhirnya, ketiganya melangkah keluar, setelah cium tangan dan kedua pipi Linda, lalu masuk ke mobil. Mobil pun dijalankan mengantarkan anak-anaknya sebelum pergi mengajar di kampus. Wirawan memang seorang dosen yang mengajar di Universitas Harapan Utama.
****
Author mau perkenalkan foto keluarga Ira, ya.
Wirawan Adiguna/Wirawan (Abi Ira)
Linda Setiawati/Linda (Ummi Ira)
Daffa Wirawan Adiguna
__ADS_1
Raihan Wirawan Adiguna