
Satu bulan kemudian
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Hisyam dan Lisa. Keduanya akan melangsungkan akad nikah yang menandakan bahwa mereka akan menjadi sepasang suami istri.
Lisa tampak telah siap dan tampil cantik dengan gaun pengantin berwarna putih tulang, cadarnya, plus tiara yang bertengger manis di atas kepalanya, semua hasil rancangan duo calon designer, Ira dan Rima. Dengan kolaborasi yang dilakukan oleh keduanya menghasilkan gaun yang cantik dan lebih cepat rampungnya pula. Belum lagi mereka harus merancang pula busana untuk keluarga besar dua calon mempelai. Membuat mereka harus bekerja ekstra cepat, mengingat waktunya tidak lama. Akhirnya kerja keras keduanya tidak sia-sia. Satu minggu sebelum hari H, semuanya telah siap.
Tepat pukul 07.30, Hisyam dan keluarganya telah sampai di gedung tempat pelaksanaan acara pernikahan. Mereka disambut oleh keluarga Lisa. Lalu dibawa menuju tempat akad nikah akan dilangsungkan.
Bapak penghulu yang bertugas menikahkan kedua calon mempelai itu pun telah hadir. Hisyam segera duduk di sana. Begitu pula Papa Hendrik duduk tepat di hadapan Hisyam.
Tak lama kemudian, acara akad nikah pun berlangsung. Dengan lantang, Hisyam mampu mengucapkan kalimat ijab qobul tersebut dalam satu tarikan nafas. Membuat semua orang yang menyaksikan ikut merasa lega, hingga mengucapkan,
__ADS_1
"Alhamdulillah!"
Setelah dinyatakan sah oleh para saksi dari kedua belah pihak, detik itu pula Hisyam dan Lisa telah resmi menjadi sepasang suami istri. Semua orang yang hadir turut merasakan keharuan dan kebahagiaan.
Setelah menandatangani surat nikah masing-masing, Hisyam menyematkan cincin di jari manis Lisa. Lalu untuk pertama kalinya ia mencium punggung tangan laki-laki yang baru saja menjadi suaminya. Keduanya masih terlihat malu-malu dan canggung. Namun dari roman wajahnya, tak mampu menyembunyikan rasa bahagia.
Setelah itu, Hisyam mulai membacakan surat Ar Rahman sebagai mahar tambahan untuk Lisa. Air mata mulai menetes di pipi Lisa, tak mampu lagi menahan keharuannya. Rasanya masih ada rasa tidak percaya jika kini ia telah menikah dengan orang yang hampir saja dilupakannya. Mengira bahwa tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Namun jika Allah telah berkehendak, siapa yang mampu mengelak, bukan? Begitulah skenario Allah.
Setelah selesai, keduanya menempati kursi pelaminan yang dibuat terpisah. Lisa duduk bersama Mama Rita dan Mama Halimah, sedangkan Hisyam duduk bersama Papa Hendrik dan Papa Hamid. Sehingga memudahkan tamu laki-laki maupun perempuan untuk menyalami pengantin sesuai dengan areanya.
Meskipun awalnya beberapa tamu itu tampak kebingungan dengan dekorasi yang tidak biasa. Yaitu adanya pemisahan antara tamu laki-laki dan perempuan, namun akhirnya mereka bisa mengikuti setelah diarahkan. Termasuk mengarahkan ketika akan menikmati berbagai hidangan yang telah disediakan. Karena meja prasmanan sampai stand makanan ringan pun dibuat terpisah. Hal ini dilakukan agar mengurangi interaksi yang berlebihan antara laki-laki dan perempuan.
Biasanya saat ada acara pesta seperti ini semua orang, terutama perempuan berlomba-lomba untuk tampil dengan berdandan cantik, berpakaian bagus dan menarik, yang pastinya mengundang perhatian lawan jenis. Dengan konsep pernikahan seperti ini setidaknya mengurangi potensi terjadinya maksiat, padahal pernikahan adalah sesuatu yang suci, sakral, tidak ingin terkotori oleh hal itu. Seperti memandang lawan jenis yang bukan haknya. Itulah yang dipikirkan oleh kedua pengantin baru ini.
Bahkan dari undangan yang dibuat pun telah diberi keterangan khusus untuk muslimah untuk mengenakan pakaian muslimah.
__ADS_1
***
Menjelang waktu Zuhur, Hisyam, Lisa dan keluarga telah bersiap untuk melaksanakan shalat Zuhur berjamaah di masjid yang letaknya tidak jauh dari gedung. Begitu pula para petugas yang telah membantu kelancaran pesta mereka. Hal ini juga mengajarkan kepada para tamu bahwa dalam suasana bahagia seperti ini tidak boleh melupakan Sang Pemberi Kebahagiaan, yaitu Allah. Beribadah kepada Allah tetap harus dinomorsatukan. Sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Tidak sedikit para tamu pun ikut shalat berjamaah.
Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Setelah itu, Hisyam dan Lisa segera berganti pakaian untuk resepsi. Bersiap untuk menerima tamu kembali. Seluruh rangkaian acara selesai tepat pukul 15.00. Karena memang hanya sampai di situlah waktu yang diberikan untuk menyewa gedung ini. Terlihat para petugas mulai merapikan meja dan kursi tamu, termasuk meja prasmanan dan peralatannya.
Hisyam dan Lisa telah berganti pakaian dengan pakaian biasa namun tetap rapi. Daffa, Rima dan teman-temannya yang telah membantu mensukseskan pestanya, bertugas mengarahkan para tamu mulai berpamitan pulang.
"Bang, kita pamit pulang dulu, ya. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir.
Artinya: ”Semoga Allah memberikan berkah untukmu, semoga Allah memberi berkah padamu dan menghimpun kalian berdua (sebagai suami istri) dalam kebaikan, " ujar Daffa mewakili teman-temannya.
"Ya, terima kasih banyak atas bantuan kalian semua, ya, " Hisyam menjawab.
Lalu Daffa dan Hisyam saling berjabat tangan dan merangkul, diikuti oleh Abrar, Faisal, Thariq, dan Fikri. Begitu pula Rima, Rianti, Ira, Wulan dan Sania melakukan hal yang sama kepada Lisa. Setelah itu, semuanya membubarkan diri menuju kediaman masing-masing.
__ADS_1