
Setelah makan malam, Sania dan Tania mengajak Rianti, Ira, dan Wulan untuk berkumpul di ruang tengah lantai dua, yang dekat dengan kamar mereka. Kedua Kakak beradik itu ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Mereka menceritakan hasil pembicaraan Papa Dandi, Mang Hanif dan Mang Supri tadi siang yang tidak sengaja didengar saat akan memanggil mereka untuk makan siang bersama. Mereka terlibat pembicaraan serius.
"Ya Allah, tidak disangka permasalahan di desa ini begitu rumit dan pelik. Bahkan melibat sindikat mafia sampai ke tingkat internasional. Tapi jika tidak diselesaikan akan membahayakan semuanya. Akan lebih banyak korban, " ujar Rianti.
"Benar, tapi kita harus menyusun strategi jitu untuk memecahkan kasus ini. Jangan gegabah juga jika tidak ingin mati konyol, " ujar Wulan.
"Apa nih yang akan kita lakukan?" tanya Ira, mulai gerah mendengar cerita dari Sania dan Tania. Rasa ikut merasa geram sekaligus prihatin.
Semua tampak terdiam, mencoba memutar otak memasang strategi yang paling jitu, namun tidak sampai membahayakan mereka.
Satu menit
Lima menit
Sepuluh menit
Lima belas menit
Tiga puluh menit
Wulan yang mulai menemukan ide cemerlang yang terbayang dalam otaknya segera mengemukakan kepada sahabat-sahabatnya.
"Begini saja, kita akan mulai menyelidiki lebih detil tentang Samiri. Untuk mengetahui siapa yang berada di belakang Samiri. Pasti ada orang yang menggerakkannya sehingga dia berani bertingkah semena-mena di desa ini. Selama ini tidak ada yang berani melawannya, kan? Makanya dia bisa bergerak bebas tanpa tersentuh hukum. Kita juga harus tahu apakah Samiri ini orang pertama yang berhubungan langsung dengan mafia itu ataukah hanya perantara? Menurutku, ini dulu yang harus kita ketahui terlebih dahulu. Kalau memang dia orang pertama yang langsung berhubungan dengan mafia itu maka memang dialah penjahatnya. Tapi jika ternyata dia hanya perantara saja, hanya menjalankan perintah atau hanya dimanfaatkan oleh orang yang berkuasa di belakangnya, ini yang harus kita waspadai. Aku curiga, orang yang berada di belakangnya inilah penjahat sesungguhnya. Setelah semua jelas, kita lanjutkan ke rencana selanjutnya. Bagaimana menurut kalian, setuju tidak dengan pendapatku?"
Semua tampak terdiam sejenak, mencoba mencerna ide dari Wulan.
"Aku setuju, sebelum kita melakukan sesuatu memang harus kita selidiki dulu agar tidak salah langkah. Kalau dia hanya perantara atau pesuruh, maka dia bukan penjahat yang sesungguhnya. Semoga saja seperti itu. Tapi kalau dia orang yang pertama yang berhubungan dengan para mafia itu maka benar dialah menjahatnya, " ujar Ira menganggukkan kepalanya tanda setuju. Menurutnya ide Wulan ini cukup masuk akal.
"Tapi, bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui semua itu?" tanya Tania.
Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Rianti membuka suara,
__ADS_1
"Kalau seperti itu, harus ada orang yang bisa masuk ke markas mereka untuk menyadap semua aktivitas mereka. Atau ada tidak CCTV di sekitar desa ini?" tanya Rianti.
Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Rianti, tiba-tiba ada orang ikut menyela pembicaraan mereka, membuat semua orang menoleh ke arah orang itu. Ya, dia adalah Rina, putri Mang Supri dan Bi Arum.
"Bagaimana kalau aku saja yang memasang alat penyadap itu?" tawar Rina.
"Apa maksudmu?" tanya Sania sambil menarik tangan Rina dan mengajaknya duduk di sebelahnya.
Rina melanjutkan perkataannya,
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar semua percakapan kalian tadi. Tadinya aku ke sini untuk berpamitan mau pulang."
"Aku tahu dimana markas mereka. Aku juga beberapa kali melihat bagaimana mereka mencoba menipu teman-temanku yang lain. Beberapa sudah menjadi korbannya, sudah ditempatkan, namun ada juga yang masih dalam masa karantina sebelum diserahkan kepada mafia itu."
Melihat semua orang menatap ke arahnya, sambil berurai air mata gadis itu bercerita,
"Aku... aku pun hampir menjadi korbannya karena termakan bujuk rayu Juragan Samiri yang katanya akan mengajakku mencarikan pekerjaan di luar negeri, di Hongkong. Aku tertarik karena ingin memperbaiki kehidupanku, ingin mandiri, ingin punya penghasilan sendiri, membeli apapun yang aku mau tanpa menyusahkan kedua orang tuaku lagi. Aku hampir saja terjerumus, setelah dianggap lulus tes untuk ikut masuk karantina. Biasanya orang yang berhasil masuk karantina sudah bisa dipastikan akan disalurkan."
Sejenak Rina terlihat tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Dadanya terasa sesak saat mengingat semua itu. Membayangkan jika kehormatannya rusak, masa depannya pasti akan suram. Bersyukur masih diselamatkan sebelum semau itu terjadi.
"Ya Allah, benarkah cerita kamu ini?" tanya Sania lagi prihatin. Rina menganggukkan kepalanya. Melihat itu Sania langsung memeluk Rina, keduanya ikut menangis. Yang lain pun ikut merasa prihatin.
"Apa Mang Supri dan Bi Arum mengetahui hal ini, " tanya Rianti.
Mendengar pertanyaan Rianti, Rina menggelengkan kepalanya.
"Tidak, orang tuaku tidak tahu. Aku baru mau bilang sama orang tuaku setelah berhasil lulus dan mau berangkat. Sebenarnya, Handi sempat memberi aku peringatan atas rencana jahat dari Samiri itu. Namun aku tidak mau mendengar, karena saat itu aku sedang semangat-semangatnya ingin mencari pekerjaan. Apalagi dengan track record Handi sebagai ketua geng motor yang sering berbuat onar, tentu aku tidak dapat mempercayainya begitu saja.
"Handi? Apa dia tahu tentang semua kejahatannya? Bukannya dia bukan warga desa sini?" tanya Ira, penasaran.
Rina menjawab, "Ternyata Samiri bukan hanya mencari mangsa di desa kami, di desanya juga sudah banyak korbannya. Justru di sanalah kejahatannya dimulai. Baru merambah ke desa kami."
"Wah, benar-benar gawat, nih. Kalau dibiarkan bisa merambah ke mana-mana ini, " tukas Wulan gemas bercampur emosi.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Handi bisa tahu kalau kamu ikut mendaftar ingin mencari pekerjaan?" tanya Ira, makin penasaran.
"Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Handi ketika mau mendaftar ikut mencari pekerjaan. Saat itu, dia langsung mengingatkan aku. Meskipun Handi sering berbuat onar terhadap warga, tapi kepadaku dia tidak pernah mengganggu karena dia masih menganggapku sebagai temannya. Jadi sebagai teman dia berusaha mencegahku dan memperingatkan aku. Tapi aku sempat tidak mau mendengarkan."
"Aku baru sadar kalau semua itu hanya tipuan setelah tidak sengaja mendengar sendiri percakapan antara Samiri dan anak buahnya tentang rencana selanjutnya. Mereka sedang membagi-bagi aku dan teman-teman yang masih dikarantina itu akan diserahkan kemana, dan untuk apa. Dari situ pula aku tahu semuanya, tepat satu hari sebelum aku dikarantina. Kegiatan selama karantina itu semua dilakukan di markasnya. Karena itulah aku bisa tahu di mana markasnya." terang Rina.
Semua tampak terdiam sejenak.
"Apa kamu sempat merekam pembicaraan mereka?" tanya Wulan.
Rina menganggukkan kepalanya,
"Ya, aku sempat merekam percakapan mereka bahkan memvideokannya, " jawab Rina.
"Bagus! Ini bisa jadi barang bukti kuat. Tolong kirim ke ponselku, " ujar Wulan.
Rina segera menuruti permintaan Wulan. Setelah rekaman itu sampai ke ponselnya, dia juga menyimpan ke laptopnya.
"Apa kamu tahu dengan siapa dia bekerjasama? Apakah ada orang di belakangnya?" tanya Sania.
Rina menggelengkan kepalanya, lalu menjawab,
"Kalau itu aku tidak tahu. Sepertinya dia memang tidak bekerja sendiri. Samiri ini hanyalah penyalur, pesuruh, bukan orang pertama yang berhubungan langsung dengan sindikat mafia."
Wulan tampak berpikir keras hingga mengerutkan keningnya.
"Bagaimana dengan Handi, apa dia mengetahui sesuatu? Mungkin saja dia tahu siapa orang di balik layar ini. Bukankah tadi kamu bilang bahwa di desanya juga banyak yang menjadi korbannya? Dan kejahatannya dimulai dari sana, kan?" tanya Wulan lagi. Gadis itu ingin memahami lebih dalam. Jiwa wartawannya seolah bergelora.
Rina menjawab, "Oh iya, ya. Bisa jadi Handi mengetahui sesuatu. Bisa kita tanyakan juga, atau memintanya agar mau menjadi saksi.
Sania berujar, "Oke, baiklah. Sekarang yang harus kita tahu adalah siapa orang yang ada di belakang Samiri."
"Karena itulah biar aku yang ke sana, pura-pura ingin melanjutkan rencanaku untuk bekerja di luar negeri. Aku akan menyelidiki langsung dari dekat, " ujar Rina.
__ADS_1
"Tapi ini sangat berbahaya, Rin. Aku tidak mau terjadi yang tidak diinginkan sama kamu, " ujar Sania lagi cemas.
"Tidak ada cara lain, San. Hanya itu satu-satunya cara yang paling efektif. Anggap saja aku orang dalam. Jadi tidak ada yang curiga. Bekali aku alat menyadap. Tenang saja, aku yakin akan baik-baik saja. Kita harus bergerak cepat sebelum teman-temanku yang masih dikarantina dibawa ke tempat prostitusi yang dituju, " ujar Rina. Dia memang sudah bertekad untuk membongkar kejahatan mereka semenjak mengetahui semuanya.