Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Rencana Papa Dandi


__ADS_3

Peristiwa yang menimpa Pak Hasan dan keluarganya benar-benar memukul dan menampar kesadarannya. Sebagai pemimpin Papa Dandi merasa telah abai terhadap permasalahan para karyawannya. Ya, abai dalam memenuhi hak-hak karyawannya yang merupakan tanggungjawabnya. Bahkan seharusnya mereka berhak mendapatkan upahnya sebelum keringat mereka mengering. Walaupun selama ini Papa Dandi merasa tidak pernah sampai lalai atau terlambat dalam pemberian upah untuk para karyawan sekalipun.


Apalagi Pak Hasan bukanlah orang baru. Dua puluh tahun dia telah mengabdi di peternakan miliknya. Walaupun pekerjaannya hanya sebagai buruh tukang bersih-bersih kandang, namun dia menjalani dengan baik dan senang, bahkan tergolong rajin. Orangnya juga apik, cara kerjanya rapi. Membuat kondisi kandang selalu dalam keadaan rapi dan bersih. Tidak kumuh, apalagi jorok. Membuat siapapun senang berkunjung ke sana. Dia juga rajin memberikan pakan ternak-ternak itu sehingga terlihat gemuk dan sehat. Jarang terkena penyakit.


'Ah, jangankan memperhatikan para karyawanku, waktuku untuk keluarga kecilku saja sedikit. Kurang memiliki waktu luang untuk menghabiskan waktu bersama istri dan anakku. Kesibukan kerja membuatku mengabaikan banyak hal. Sebenarnya, untuk apa harta yang telah kuupayakan siang dan malam selama ini? Jika tidak bisa memberi manfaat?' keluh Papa Dandi, merasa kesal pada dirinya sendiri.


Mencoba merenungi setiap perjalanan hidupnya semenjak membangun usaha di bidang perkebunan dan peternakan di sini. Lalu membangun bisnisnya yang lain di kota B yang juga sangat sukses.


Begitu banyak rencana yang ada di kepala Papa Dandi. Dia ingin memperbaiki semuanya. Tidak ingin peristiwa yang menimpa keluarga Pak Hasan terjadi pula kepada karyawan lainnya.


Selama Pak Hasan dan Laila dirawat di rumah sakit, Papa Dandi dengan dibantu beberapa karyawannya membedah rumah Pak Hasan agar lebih layak huni. Sementara para gadis-gadis yang sedang berlibur itu, Sania dan para sahabatnya, ikut sibuk sebagai seksi konsumsi. Memasak untuk para karyawan. Dibantu pula oleh Bi Arum, Bi Sari dan Anti, putri Mang Hanif dan Bi Sari. Gadis-gadis remaja belia itu benar-benar memanfaatkan masa liburannya dengan hal yang bermanfaat.


Sambil menunggu pembangunan rumah Pak Hasan rampung, penyelidikan terhadap Samiri dan anak buahnya tetap berjalan. Mereka terus mengumpulkan bukti-bukti kejahatannya agar bisa segera menjebloskannya ke dalam penjara.


Saat ini Papa Dandi sedang mengadakan rapat bersama Mang Hanif dan Mang Supri untuk membicarakan perkembangan hasil penyelidikan yang dilakukan selama beberapa hari ini.


"Bagaimana perkembangan hasil penyelidikan terhadap Samiri?" tanya Papa Dandi dengan memasang wajah serius.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Papa Dandi, Mang Hanif dan Mang Supri terlihat saling berpandangan.


"Berdasarkan hasil penyelidikan dan bertanya kepada para saksi yang pernah menjadi korbannya, ternyata Si Samiri ini benar-benar luar biasa kejahatannya. Sangat melampaui batas, " ujar Mang Hanif.


"Maksudnya? Tolong jelaskan semuanya, " tanya Papa Dandi penasaran.

__ADS_1


"Ternyata selain menjalankan praktek rentenir ilegal dan liar terhadap warga desa kita, banyak juga kejahatan lain yang dilakukan. Dia juga terlibat kasus perdagangan wanita, terutama gadis-gadis perawan, seumuran anak-anak kita untuk dijerumuskan ke dunia prostitusi. Bekerjasama dengan sindikat mafia dalam dan internasional. Beberapa gadis di desa kita telah menjadi korbannya. Dia melakukannya dengan sangat rapi dan manis. Para gadis itu dijanjikan pekerjaan di luar kota atau di luar negeri sebagai TKW namun ternyata malah dijerumuskan di sana. Belum lagi dia juga pengedar narkoba sekaligus pemakai, " ucap Supri ikut menjelaskan.


"Subhanallah, benar-benar ini orang memang harus diberantas hingga ke akar-akarnya, " umpat Papa Dandi terkejut bercampur geram. Tangannya sampai mengepal kuat hingga terlihat. Dia jadi teringat putri-putrinya, tidak terbayangkan jika mereka mengalaminya. Hatinya pasti sangat hancur. Permata-permata kesayangannya kehilangan kehormatannya yang selama ini mati-matian dia jaga.


"Ya Allah, astaghfirullah, summa na'udzubillahi min dzalik. Jangan sampai itu terjadi pada anak-anak kita. Dia benar-benar bisa merusak generasi muda jika dibiarkan begitu saja. Yang laki-laki dirusak akalnya, yang perempuan dirusak kehormatannya. Benar-benar tidak punya hati. Sampai segitunya mencari harta," tukas Papa Dandi, rasanya begitu emosi mendengar laporan dari para asistennya terbaiknya itu.


"Segera kumpulkan bukti-bukti semua kejahatannya secepatnya! Aku tunggu laporan kalian selengkapnya, " titah Dandi gemas.


"Baik, Tuan. Saya juga emosi saat mengetahuinya. Rasanya ngeri jika hal itu menimpa anak-anak kita. Akan hancur masa depan mereka, " Mang Supri.


"Laila, putri Pak Hasan nyaris menjadi korbannya, " sahut Mang Hanif menyambung keterangan dari Mang Supri, bergidik ngeri.


Mendengar Mang Hanif menyebut nama putri Pak Hasan, membuatnya Papa Dandi kembali teringat sosok gadis itu.


"Sudah siap, Tuan. Dan sudah diserahkan kepada pihak sekolah. Nanti setelah kesehatannya pulih dia bisa melanjutkan kembali sekolahnya. Saya juga sudah melunasi tunggakan pembayaran sekolahnya selama tiga bulan karena tidak ada lagi biaya, " jawab Mang Hanif.


"Hm, bagus. Alhamdulillah, sayang sekali jika anak itu harus putus sekolah hanya karena biaya, " ujar Papa Dandi sambil menganggukkan kepalanya. Merasa puas akan kerja asistennya itu.


"Apa ada karyawan kita lainnya yang menjadi korbannya?" tanya Papa Dandi, khawatir ada lagi yang mengalami hal serupa dengan Pak Hasan, tanpa diketahui.


"Ada juga beberapa, Tuan. Namun tidak separah Pak Hasan. Mereka masih berusaha mencicil. Menurut keterangan Pak Hasan, ternyata Laila itu sempat ditargetkan untuk menjadi korban perdagangan wanita jika Pak Hasan tidak juga segera melunasi hutang-hutangnya, " jawab Mang Hanif.


"Astaghfirullah! Alhamdulillah anak itu masih selamat. Kita segera mengetahui semuanya, " ujar Papa Dandi, kembali emosi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Sania dan Tania mendengar pembicaraan mereka tanpa sengaja. Sebenarnya mereka mendekati ruang kerja papa mereka untuk mengajaknya makan siang bersama, namun belum sempat mengetuk pintu dan mengucap salam pendengaran keduanya menangkap pembicaraan mereka.


Kakak beradik itu saling berpandangan.


"Gawat, kita harus bantu papa menyelidiki kasus ini, Dek. Tidak bisa dibiarkan. Kita bisa minta bantuan teman-teman juga, " bisik Sania kepada adiknya.


"Benar, ternyata ada hikmahnya juga kita berlibur di sini. Kita jadi tahu permasalahan yang ada di sini. Secara, sudah lama kita tidak ke sini, kan? Jadi tidak tahu hal seperti ini bisa terjadi di desa ini, " ujar Tania membenarkan perkataan kakaknya.


"Ayo, sebaiknya kita ajak Papa, Mang Hanif dan Mang Supri untuk makan siang bersama yang lain. Mereka sudah menunggu, " titah Sania. Lalu mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum!" sapa Sania.


"Wa'alaikumussalam, " jawab semua yang ada di dalam.


"Masuk, sayang!" titah Papa Dandi saat melihat siapa yang mengetuk pintu itu, ternyata putri-putri kesayangannya.


"Ayo, makan siang, Pa. Semua sudah menunggu, " ajak Sania.


"Oh, sudah waktunya makan siang, ya?" tanya Papa Dandi yang tidak menyadari bahwa waktu telah menunjukkan waktunya makan siang. Saking seriusnya membicarakan kasus Samiri.


"Baiklah, ayo kita makan siang dulu. Nanti dilanjutkan lagi, " ajak Papa Dandi kepada Mang Supri dan Mang Hanif.


Ketiganya menyusul langkah Sania dan Tania menuju ruang makan. Setelah makan dilanjutkan shalat Zuhur berjamaah di mushalla Villa.

__ADS_1


__ADS_2