
Assalamualaikum, sebulan penuh kita digembleng menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi, menjadi insan bertakwa. Seraya berharap tahun depan bisa bertemu lagi dengan bulan mulia itu. Aamiin.
Dan Author juga mengucapkan:
Mohon Maaf Lahir dan Batin atas segala kata dan sikap yang pernah khilaf.
🙏😊
*تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ*
“Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu, Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu semua senantiasa dalam kebaikan.”
Aamiin Allahumma Aamiin
****
Ikbal ikut tersenyum, lalu menjawab,
"Aku cuma ingin menghibur mereka, sejenak melupakan kesedihan yang baru saja menimpa mereka. Semoga bisa mengurangi rasa trauma yang mereka rasakan. "
Wulan mengaminkan.
Keceriaan anak-anak itu diabadikan dengan kameranya. Sebagai kenang-kenangan. Melihat senyum anak-anak itu Wulan dan sahabat-sahabatnya jadi menitikkan air mata haru.
'Semoga badai di hati mereka segera berlalu, ' doa mereka dalam hati.
Setelah puas memandangi anak-anak bermain, akhirnya keduanya berpisah. Wulan kembali mengajak sahabat-sahabatnya berkeliling sambil mengumpulkan bahan reportase. Sementara Ikbal kembali ke poskonya. Beberapa kali ia terlihat sedang melakukan wawancara dengan beberapa orang. Semuanya tak luput dari perhatiannya. Setiap momen yang ia lihat, ia amati, tak luput dari jepretan kameranya.
Akhirnya, seluruh rangkaian acara bakti sosial di lokasi bencana telah selesai. Semuanya telah berkumpul di tempat yang telah ditentukan dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
Sampai di rumah, Wulan langsung mencari orang-orang tercintanya, orang tuanya, dan saudara kembarnya. Dipeluknya satu per satu sambil mengurai air mata. Yang dipeluk memandanginya dengan heran, namun tidak juga menolak. Karena tidak biasanya seperti ini.
"Ada apa, Sayang? Kok datang-datang kaya gini?" tanya Rosita, mamanya.
Dengan sesenggukan Wulan bercerita,
"Alhamdulillah, kedua orang tuaku masih ada, saudaraku juga. Banyak anak-anak yang tiba-tiba jadi yatim, piatu, atau kehilangan anggota keluarganya pasca bencana longsor itu. Wulan sedih ingat sama mereka. Duh, tidak kebayang kalau itu menimpaku. Eh, astaghfirullah..."
Akhirnya semua mengerti ada apa di balik sikapnya ini. Rosita menganggapi sambil menghapus air matanya,
"Ya, itulah yang namanya ujian. Semua orang pasti diuji, dengan berbagai bentuknya. Ada yang diuji dengan kesenangan, kelapangan hidup, namun adakalanya kita juga diuji dengan rasa takut, rasa sedih, kehilangan, dan lainnya. Semua itu adalah kehendak Allah, karena ingin melihat sejauhmana keimanan kita kepada-Nya."
__ADS_1
"Iya, Ma, Wulan ngerti semua itu adalah ujian. Pasti berat sekali, ya. Wulan tidak tega membayangkan anak-anak yang kehilangan orang tercinta, rumah mereka, harta benda mereka, dan lainnya dalam waktu singkat, " tutur Wulan sendu.
Papanya, Irfan ikut menanggapi sambil mengelus rambut putrinya, "Anak gadis papa sudah dewasa ternyata. Tidak disangka bisa melo kaya gini. Begitulah yang namanya hidup, tidak akan lepas dari ujian. Bersyukurlah jika masih diuji, itu tandanya Allah masih peduli pada kita. Akan selalu ada hikmah indah dibalik ujian. "
Wulan adalah gadis yang biasanya selalu ceria, agak tomboy, santai, jarang terlihat serius. Tapi sekarang ia terlihat berbeda, seperti bukan dirinya. Rupanya perjalanan ke lokasi bencana itu begitu membekas dalam dirinya.
Suasana serius itu terus terbawa sampai berhari-hari. Ia lebih banyak diam, seperti merenung, jarang terdengar tawanya, makan pun terlihat kurang bersemangat. Membuat seisi rumah menjadi khawatir, karena tidak pernah melihat Wulan seperti ini. Sekaligus merasa kehilangan dengan keceriaannya. Setelah melaksanakan tugasnya membuat reportase tentang kegiatan selama di sana semakin terlihat.
Saat Wulan sedang asyik duduk di sandaran tempat tidurnya sambil memainkan ponsel, Danu berjalan mendekatinya. Wajahnya tampak serius. Saking seriusnya tidak menyadari kehadirannya.
"Woi, asyik benar yang main hape. Dari tadi dipanggil-panggil tidak dijawab, " seru Danu sambil mengguncang bahu saudari kembarnya itu.
Setelah itu barulah dia menoleh ke arah Danu yang sudah duduk di sisinya. Namun ekspresi wajahnya masih belum berubah.
"Serius amat, sih. Lagi apa?" tanya Danu lagi.
"Ada apa?" Wulan malah balik bertanya.
"Aku lihat, akhir-akhir ini kamu banyak diam. Lagi ada masalah?" tanya Danu.
"Tidak ada apa-apa, " elak Wulan.
"Ayolah, cerita. Kita kan kembar, kalau ada apa-apa dengan kamu aku pasti akan merasakannya juga, " bujuk Danu.
Meski Wulan dan Danu satu sekolah, namun Danu tidak sempat ikut ke sana karena ada kegiatan lain.
"Apa kamu masih kepikiran sama orang-orang yang ada di lokasi bencana itu?"
Perlahan Wulan mengangguk.
"Iya, Dan, rasanya speechless saja melihat keadaan mereka. Dengan tenda yang sederhana yang tersedia di sana pasti kalau panas akan kepanasan, kalau dingin pasti kedinginan banget. Kasihan mereka. Terutama anak-anak, orang tua renta. Belum lagi, makan seadanya saja. Kalau ingat mereka rasanya susah untuk tertawa, makan pun rasanya malas? Tapi ternyata banyak juga para sukarelawan yang ikhlas membantu mereka. Belum lagi para dermawan yang menyumbangkan sebagian rezeki mereka. Masih banyak yang peduli dengan sesama. "
Danu mendengarkan curhatan Wulan dengan penuh perhatian.
"Sampai segitunya kamu mikirin mereka. Memangnya menyedihkan banget, ya?" tanya Danu.
"Iya, Dan. Kalau kamu lihat sendiri pasti akan tersentuh juga," jawab Wulan.
"Nih, lihat foto-foto ini, " pinta Wulan, mengajak Danu untuk ikut berempati.
Keduanya sama-sama melihat foto-foto yang dilihat dari kamera yang dibawa Wulan waktu itu. Sesekali wajah Danu terlihat tertegun, seperti tidak tega bercampur ngeri melihat bangunan yang runtuh, jalanan tampak luluh lantak, tanah yang retak, dan orang-orang yang menjadi korban. Seketika Danu bisa mengerti apa yang sedang dirasakan oleh saudari kembarnya itu.
"Iya, ngeri juga. Aku saja yang cuma lihat di foto ini merasa tidak tega, apalagi kamu yang datang dan melihat keadaan mereka secara langsung, " ujar Danu bergidik.
"Minggu depan rencananya aku mau ke sana lagi sama teman-teman, " ujar Wulan.
"Oh, mau ke sana lagi?" tanya Danu.
__ADS_1
"Iya, mau kirim bantuan lagi. Kebetulan di sana ada kakak kelas kita yang aktif membantu di sana. Dia rumahnya tidak jauh dari lokasi bencana. Jadi, bantuannya aku serahkan ke dia, " jawab Wulan.
"Oh ya, ada kakak kelas kita juga? Siapa?" tanya Danu penasaran.
"Itu, Kak Ikbal, " jawab Wulan.
"Oh, Kak Ikbal yang dulu jadi pendamping kelas kita pas orientasi siswa baru?" tanya Danu lagi.
"Iya, dia bersama warganya yang terdekat telah banyak membantu korban itu, bahkan sampai bergabung dengan Tim ACT. Jadi, bantuan dari kita-kita diserahkan ke mereka, lalu disalurkan kepada warga korban. Itu baru para pemudanya, belum lagi ibu-ibunya, ikut aktif masak, ada juga yang sengaja bawa makanan. Belum lagi, tim medis, mereka juga tidak kalah hebatnya, sigap membantu. Kalau kamu lihat pasti ikut takjub juga, " terang Wulan, menceritakan pengalamannya selama di lokasi bencana tersebut.
"Jadi penasaran, kapan rencananya mau ke sana lagi. Boleh aku ikut?" Danu menawarkan diri.
"Oh, kamu mau ikut, boleh saja. Kalau mau nyumbang juga boleh banget, " jawab Wulan senang.
"Oke, nanti aku mau ajak teman-temanku. Pasti mereka mau nyumbang juga. " jawab Danu mantap.
"Oh iya, apa saja yang mereka butuhkan?" tanya Danu.
Wulan menjawab,
"Kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman, susu bayi atau anak-anak, popok bayi, selimut, baju layak pakai, dan lainnya. Atau buku-buku sekolah juga boleh, sama alat tulis, gedung sekolah kan ada yang runtuh, akhirnya terpaksa mereka belajar di tenda seadanya. Kalau mau uang juga bisa, hasilnya nanti dibelanjakan dulu untuk menambah keperluan mereka."
"Oke, nanti aku sampaikan ke teman-teman, deh, " jawab Danu.
"Sip, Insya Allah kami akan ke sana rutin, dua Minggu sekali, sambil membawakan bantuan susulan sampai keadaan di sana membaik. "
"Wow, bersemangat sekali kalian!" seru Danu.
"Menolong orang itu jangan tanggung-tanggung. Lakukan karena Allah, " ujar Wulan.
"Ya, kamu benar! " Danu jadi ikut bersemangat dengan ekspresi yang lucu.
"Idih, kok jadi kamu yang lebih semangat?" goda Wulan, tertawa geli.
Melihat tawa saudari kembarnya, Danu merasa senang,
"Nah, gitu dong, akhirnya kamu ketawa juga. Walaupun keadaan mereka menyedihkan, kamu tidak usah terlalu serius kaya gini. Rumah ini jadi sepi karena kamu banyak diam akhir-akhir ini. Mama sama Papa sangat mengkhawatirkanmu, loh. Termasuk aku juga, " ujar Danu.
Mendengar suara tawa dari kamar Wulan, Rosita dan Irfan yang berada di ruang tengah berjalan mendekat ke kamarnya. Ingin tahu apa penyebab Wulan bisa tertawa lagi.
"Wah, wah, anak gadis Papa sudah ketawa lagi. Ada apa ini?" seru Papa Irfan.
"Iya, nih. Udah lama tidak mendengar suara tawa kamu, " seru Rosita lagi.
"Tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Cuma lucu saja Danu, " jawab Wulan.
"Lucu kenapa?" tanya Rosita penasaran.
__ADS_1
Akhirnya Wulan menceritakan hal yang menurutnya lucu tadi. Melihat keceriaan kembali putrinya membuat orang tua dan saudaranya merasa lega. Mereka benar-benar merindukan suaranya, tawanya, candanya. Akhirnya mereka berempat mengobrol di kamar Wulan dengan seru. Suasana kamar itu jadi ramai dengan suara tawa. Semuanya senang melihat Wulan sudah bisa keluar dari kebaperannya. Tidak disangka gadis yang biasanya terlihat cuek, semaunya, manja, ceria itu, ternyata memiliki hati yang lembut. Mudah tersentuh ketika melihat orang lain yang kesusahan. Membuatkan mendadak jadi melankolis.