
"Tenang jangan gugup, ada Mama, Papa, Kakakmu, dan adikmu, " bujuk sang mama. Lisa pun mengangguk dan mengikuti langkah mamanya menuju ruang tamu.
Pada saat yang bersamaan Papa Hendrik pun bersiap menuju ruang tamu. Mereka pun berempat berjalan beriringan.
Begitu sampai di ruang tamu dan menyapa tamunya. Hendrik menatap wajah tamunya dengan kening berkerut seperti mengingat sesuatu. Sepertinya tidak asing. Begitu pula dengan Hamid. Lalu seperti keduanya teringat sesuatu dan saling menunjuk.
"Hendrik!"
"Hamid!"
"Masya Allah, lama sekali tidak bertemu kita. Apa kabar? Semenjak lulus SMA, lost kontak jadinya kita, " seru Hendrik.
"Ya Allah, Alhamdulillah, baik. Iya, ya. Sudah lama sekali."
Lalu kedua saling mendekat dan berangkulan. Hal itu, tentu saja membuat semua orang merasa bingung sepertinya keduanya telah saling mengenal. Semua mata memandang ke arah dua orang sahabat yang lama berpisah.
"Dan dunia itu ternyata sempit, ya. Jadi kamu Papanya Hisyam? " tanya Hendrik.
"Iya, tidak disangka kita bisa bertemu dalam kondisi seperti ini, " jawab Hamid.
Setelah puas melepas rindu, dan keduanya melepaskan rangkulannya. Barulah mereka sadar akan wajah-wajah bingung meminta penjelasan melihat tingkah keduanya. Membuat mereka jadi terkekeh. Sungguh, pertemuan ini di luar dugaan mereka.
Hendrik dan Hamid pun menceritakan sedikit kisah mereka. Keduanya adalah sahabat dekat saat di SMA, bahkan teman sebangku selama tiga tahun. Suka dan duka pun mereka alami bersama. Saling mendukung, menguatkan satu sama lain. Sungguh, masa remaja yang tidak terlupakan. Ingat kenakalan mereka, kejahilan, memori itu seolah berputar di benak keduanya. Keduanya pun saling menceritakan tentang kehidupan masing-masing semenjak berpisah. Pertemuan ini sejenak membuat keduanya lupa akan tujuan mereka bertemu.
__ADS_1
Semuanya tampak terkejut mendengar cerita persahabatan keduanya. Tidak menyangka sama sekali. Suasana yang tadinya canggung tampak lebih santai. Hendrik maupun Hamid mulai memperkenalkan anggota keluarganya masing-masing.
Di tengah obrolan santai itu, Hamid mulai bicara tentang maksud dan tujuannya menerima undangan makan malam ini.
"Ehm, begini, Hen, kami ini datang kemari selain ingin memenuhi undangan kalian, juga ingin kembali mengutarakan maksud hati putraku, Hisyam untuk menjadikan Nak Lisa sebagai istrinya. Mewakili dari pihak keluarga. Tidak disangka kita bertemu dalam kondisi begini. Putra dan putri kita pun saling mengenal sejak SMA, tapi kita sama sekali tidak pernah bertemu. Baru hari ini kita bertemu. Aku yakin, pasti ini bukan kebetulan saja, " ujar Hamid.
"Ya, kau benar, Hadi. Kebetulan yang sangat luar biasa. Kita bisa jadi satu keluarga besar, nih. Berbesanan, " Hendrik mengiyakan sekaligus mensyukuri pertemuan tak terduga ini.
Hamid pun mengangguk membenarkan.
"Kemarin Hisyam sudah datang kemari, ya?" Tanya Hadi.
Hendrik pun membenarkan dan menceritakan kunjungan Hisyam kemarin.
Mendengar itu, Hendrik jadi terkekeh karena mengingat pertemuan mereka kemarin. Bagaimana dia menguji Hisyam. Dengan sabar dan berani dia pun meladeninya, namun tetap menjaga sopan santun terhadap orang tua.
"Gimana sih, kau ini Hamid? Seharusnya pertanyaan ini kau tanyakan pada putra dan putri kita. Kan yang mau menikah itu mereka, bukan aku, " tanya Hendrik. Pertanyaan itu dianggap lucu.
"Justru aku kemari mewakili putraku, Hisyam untuk melamarkan putrimu, " jawab Hamid, menjelaskan maksud dari pertanyaannya itu.
"Kalau begitu, tanyakan saja pada putriku. Dia mau menerimanya atau tidak. Aku dan mamanya sih mengikuti keinginannya, dong. Kan yang akan merasakan pahit dan manisnya kehidupan berumah tangga itu akan dirasakan oleh mereka sendiri, " ujar Hendrik.
"Baiklah, akan kutanyakan padanya. "
__ADS_1
Lalu tatapannya beralih ke arah Lisa yang masih tampak malu-malu.
"Nak Lisa, mungkin ini pertanyaan untuk yang kesekian kalinya, ya. Hisyam sendiri sudah menyatakan maksud hatinya kepada kamu secara pribadi, bukan? Dan Hisyam juga sudah memenuhi keinginanmu untuk menemui orang tuamu dulu. Nah, hari ini Papa mau bertanya secara resmi, maukah kamu menerima putra saya ini?" Tanya Hamid mewakili Hisyam.
Setelah memandang kedua orang tuanya, kakaknya Kartika dan adiknya, Lulu, meminta persetujuan dan restu, barulah dia menjawab dengan berani, dan menggangguk.
"Bismillah, saya mau menerimanya sebagai calon suami saya. Semoga yang terbaik. Mohon restu dari semuanya, " Jawab Lisa sambil menangkupkan kedua tangannya seperti memohon.
"Alhamdulillah!" Semuanya serempak melafazkan hamdalah sambil menghela nafas lega.
Setelah itu dilanjutkan dengan obrolan ringan.
Setelah berbincang santai, Mama Halimah mengajak semuanya untuk menikmati hidangan yang telah disajikan sejak tadi di ruang tengah.
Semuanya melangkah mengikuti tuan rumah. Dilihatnya aneka hidangan yang mengundang selera. Mereka pun menikmati makan malam ini.
Setelah selesai menikmati makanan masing-masing, semuanya kembali ke ruang tamu. Obrolan pun berlanjut mengenai rencana mereka ke depan. Dimulai dari penentuan waktu kapan Hisyam dan Lisa akan menikah. Yaitu, bulan depan.
Setelah puas mengobrol, akhirnya Hisyam dan keluarganya berpamitan untuk pulang. Malam ini semua tampak bahagia.
Ya, malam ini merupakan pertemuan istimewa bagi mereka bagi Hendrik dan Hamid, terutama begitu pula bagi Hisyam dan Lisa.
Bersambung
__ADS_1