Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Strategi Baru Rina


__ADS_3

Sania dan para sahabatnya memutuskan untuk tinggal di rumah Iwan yang letaknya tidak jauh dari hutan. Agar lebih leluasa mengawasi semua yang terjadi di dalam markas Samiri. Selain itu lebih aman pula, tidak menimbulkan kecurigaan dari Samiri maupun anak buahnya. Mereka juga mendengarkan percakapan antara Rina dan Samiri tadi. Semua terkejut mendengar keinginan Samiri yang ingin menjadikan Rina sebagai istri keempatnya. Sungguh di luar perkiraan mereka.


"What? Samiri ingin menjadikan Rina sebagai istri keempatnya? Wah, sudah gila apa, tuh orang?" geram Sania, tidak habis pikir.


"Iya, usia mereka jauh sekali. Usia Rina sama dengan kita, enam belas tahunan, sedangkan Samiri seusia Papa kita, empat puluh lima tahunan?" ujar Ira.


"Kok, Rina mau saja menerimanya? Maksudnya apa?" Handi yang sejak tadi diam, akhirnya ikut bersuara.


"Sebentar ... sebentar... sepertinya Rina mengubah strateginya. Aku yakin, pasti dia tidak sungguh-sungguh mau menerima laki-laki itu. Atau... jangan-jangan ini jebakan, " ujar Rianti, yang memiliki pemikiran lain dibandingkan sahabatnya yang lain.


Mendengar itu, semua tampak terdiam. Bingung. Hingga kemudian Wulan membuka suaranya juga,


"Ya, sudah kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Rina. Mudah-mudahan memang benar kalau Rina tidak sungguh-sungguh menerima laki-laki itu. Tapi kecurigaan Rianti perlu diwaspadai juga. Semoga Rina tidak terkecoh, " ujar Wulan.


Semua mengangguk membenarkan ucapan Wulan tadi. Lalu perhatian semuanya kembali ke layar monitor yang ada di laptop milik Wulan.


Sementara Rina berusaha untuk mengikuti permainan Samiri. Yang terpenting baginya misinya bersama Sania dan para sahabatnya bisa terlaksana. Membongkar kejahatan Samiri dan memberi peringatan dan menyelamatkan teman-temannya yang akan dijadikan pelacur. Dia akan tetap di sana sampai misinya berhasil.


'Bismillah, Ya Allah, mudahkan segala urusan hamba. Lindungilah Kami dari orang-orang yang zhalim, ' doanya dalam hati.


Rina yang masih duduk di ruang tamu bersama Samiri, mulai berusaha mengorek keterangan dengan cara halus. Ingin mengetahui situasi di mansion ini. Mengukur kekuatan lawan. Agar mudah memperhitungkan strategi ke depan.


"Juragan, mengapa mansion ini terlihat sepi? Tidak ada orang kah, selain yang berjaga di luar?" tanya Rina, memulai pertanyaannya.


"Oh, ada, aku tidak sendirian. Ada banyak pelayan di sini dengan tugasnya masing-masing. Mungkin mereka sedang di dalam, " jawab Samiri.


Rina menganggukkan kepalanya. Lalu kembali berujar,

__ADS_1


"Oh, saya kira di sini hanya ada kita saja."


Mendengar ucapan gadis itu membuat Samiri menarik sudut bibirnya, menyeringai.


"Kenapa? Apakah kamu ingin kita berduaan saja, tanpa ada orang lain, begitu? Boleh juga idemu itu. Akan kusuruh mereka keluar biar kita bisa bebas berduaan, " tanya Samiri, setengah menggoda.


"Oh, eh, tidak, " ujar Rina sedikit gugup, khawatir hal itu benar-benar terjadi, "Ehm, bukan begitu maksud saya, Juragan. Saya hanya penasaran saja. Masa di mansion sebesar ini Juragan hanya sendirian? Apa tidak kesepian? Apa istri-istri Juragan yang lain tinggal di sini juga?"


Samiri menjawab, "Istri-istriku tidak tinggal di sini. Mereka tinggal di rumah-rumah yang lain. Untuk masing-masing istriku tinggal di rumah yang aku pilihkan. Begitu juga dengan kamu nanti pasti akan mendapatkannya, kalau kita sudah menikah, " jawab Samiri.


Rina terlihat manggut-manggut.


"Wah, benarkah? Terimakasih kasih, Juragan. Jadi tidak sabar, " ujar Rina, menunjukkan sikap pura-pura senang. Tidak dengan hatinya.


"Tidak sabar apa? Ingin segera menikah denganku?" tanya Samiri, masih berusaha menggoda.


"Hahaha... bersabarlah. Jika kamu mau kita bisa secepatnya menikah, " ujar Samiri, mulai memasang wajah penuh harap.


"Sepertinya Juragan yang sudah tidak bisa bersabar. Saya masih ingin menyelesaikan sekolahku dulu. Lalu kuliah. Masa istri seorang Juragan yang terkenal hebat ini, SMA saja tidak lulus? Apa kata dunia?" ujar Rina sarkastik, namun dengan wajah bercanda.


Laki-laki paruh baya itu terkekeh mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya ini.


"Baiklah, baiklah... karena aku sedang senang. Aku akan mempertimbangkannya. Tidak masalah kalau ingin kuliah setelah lulus SMA, akan kubiayai pendidikanmu, " ujar Samiri.


"Benarkah? Terima kasih," ujar Rina menunjukkan mata berbinar-binarnya. Sekali lagi ini juga akting.


Sungguh, akting Rina begitu meyakinkan. Hingga setiap perubahan ekspresi wajahnya yang begitu cepat dan apa yang tersembunyi di dalam hatinya yang sesungguhnya bertentangan tidak terlihat. Tidak sia-sia selama ini dia aktif di kegiatan teater di sekolahnya. Hari ini dia mempraktekkan kehebatan aktingnya.

__ADS_1


Rina terus berusaha mengorek informasi tentang kondisi markas dan teman-temannya yang sudah lebih dulu ada di sini. Mengatur kata-katanya setenang mungkin agar tidak dicurigai.


Setelah lama berbincang, Samiri mengantarkan gadis belia yang telah lama ingin dipersuntingnya itu ke sebuah ruangan yang ada di lantai dua. Setelah sampai, Samiri membukakan pintu dan mempersilakan Rina untuk memasukinya. Sambil berucap, "Ini kamarmu. Masuk dan beristirahatlah! Buat dirimu nyaman. Nanti bisa kita lanjutkan lagi pembicaraan kita. Jika kamu butuh sesuatu katakan saja padaku, nanti biar pelayan yang memenuhi kebutuhanmu, kamarku di sebelah kamarmu."


Rina menganggukkan kepalanya, lalu mulai melangkahkan kakinya. Walaupun sempat agak ragu dan mulai terasa tegang. Karena belum bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun tetap berusaha bersikap tenang, agar tidak panik. Dia tidak ingin melakukan sesuatu dengan gegabah yang mungkin akan merusak rencananya.


Setelah mengucapkan itu, Samiri pamit keluar ruangan dan menutup pintu itu. Rina pun langsung menguncinya dari dalam.


Sepeninggal Samiri, netra Rina mulai memperhatikan interior ruangan yang ternyata sebuah kamar tidur. Sangat luas dan mewah, bergaya klasik modern. Cat dindingnya berwarna campuran putih tulang dan peach, membuat kamar ini terlihat cerah dan begitu megah. Tampak bersih dan rapi.


Di tengah ruangan terdapat ranjang berukuran king size, yang diapit dengan dua meja nakas di kanan dan kirinya. Di ujung ranjang terdapat sofa berukuran sedang tanpa penyangga. Di sebelah kanan terdapat lemari berukuran besar. Yang dilapisi kaca di sepanjang lemari. Sehingga apa yang ada di dalam lemari bisa terlihat. Rina mendekati lemari itu, ternyata di dalamnya sudah dilengkapi pula dengan gaun-gaun mewah, dan pakaian lainnya, lengkap dengan ********** pula. Belum lagi terdapat tas-tas mewah. Semua tampak baru.


Di sebelah kiri terdapat meja rias yang mewah. Di atas meja sudah ada berbagai alat kecantikan yang dari merk-nya cukup terkenal dan memang disesuaikan dengan kulitnya yang masih remaja.


Dilihatnya di ujung sebelah kiri seperti sebuah pintu. Dengan penasaran, Rina mulai mendekat dan membuka pintu itu. Ternyata itulah kamar mandinya. Bergaya modern pula. Terdapat bath tub mewah di dalamnya. Ada wastafel berukuran sedang yang mewah. Di atas wastafel sudah terdapat pula peralatan mandi yang terlihat baru.


Sungguh, kamar ini sepertinya memang sudah dipersiapkan untuknya oleh Samiri. Bersebelahan pula dengannya. Menyadari itu, Rina mulai agak panik


'Waduh, sepertinya Juragan Samiri serius dengan keinginannya. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumamnya.


'Tidak. Aku tidak boleh terpengaruh dengan semuanya. Kemewahan ini memang begitu menggiurkan. Namun aku tidak boleh terlena. Tetap fokus pada rencanamu. Ayo, kamu bisa, Rina!' gumam Rina menyemangati dirinya.


Gadis itu keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya lalu duduk di sofa. Mulai menyusun rencana yang paling efektif. Dia merasa harus bergerak cepat sebelum teman-temannya dikirim kepada para mafia itu.


'Aku harus segera menemui teman-teman dan memberi peringatan kepada mereka. Kasihan, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka korban penipuan, " gumam gadis itu sedih.


'Aku harus mencari cara agar bisa menemui mereka tanpa menimbulkan kecurigaan, ' gumamnya lagi.

__ADS_1


Rina terus menyusun rencana. Hingga akhirnya tertidur dalam keadaan masih duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


__ADS_2