
Semenjak Rina mengetahui semua kejahatan Samiri dengan menipu mereka akan disalurkan untuk bekerja, ternyata akan disalurkan ke dunia prostitusi. Gadis itu bertekad ingin membongkar kejahatan mereka. Apalagi setelah melihat langsung apa yang dilakukannya terhadap Pak Hasan dan Laila, sahabatnya. Mendengar Sania dan para sahabatnya sedang membicarakan masalah ini membuatnya merasa bahwa kehadiran mereka akan membantunya membongkar kejahatan Samiri dan komplotannya itu. Agar tidak semakin merajalela di desa ini.
"Biar aku saja yang masuk ke markas mereka, aku akan menyelidiki langsung. Ingin tahu juga siapa orang yang ada di belakang Samiri ini, " ujar Rina.
"Yakin, kamu bisa masuk ke sana sendiri?" tanya Sania, masih cemas takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada sahabat masa kecilnya itu.
"Yakin, tentu aku akan berhati-hati. Aku juga ke sana ingin memperingati teman-temanku yang masih di karantina tentang kejahatan Samiri. Dan membantu mereka agar bisa keluar dari sana, " ujar Rina.
"Jangan cemas, aku pasti akan baik-baik saja, " ujar Rina meyakinkan saat menyadari tatapan cemas dari Sania. Sambil mengelus pelan lengan Sania.
Sania menghela nafas berat. Masih cemas.
"Apa perlu kami temani?" tawar Sania.
Rina menggelengkan kepalanya, lalu berujar,
"Tidak perlu, justru kalau kalian ikut akan lebih mencurigakan."
Rianti menyela pembicaraan Rina
"Bagaimana dengan Handi? Kira-kira dia bisa membantu kita tidak?"
"Iya benar, coba kita ajak dia bekerjasama dengan kita. Sepertinya dia banyak tahu tentang Samiri dan komplotannya, " ujar Ira.
"Tidak ada salahnya kita coba. Siapa tahu dengan begitu lebih mudah bagi kita untuk membongkar kejahatan mereka dan menyelamatkan gadis-gadis di desa ini, " sahut Tania.
Semua mengangguk setuju.
"Baik, aku akan menghubungi Handi, " ujar Rina seraya meraih ponsel yang ada di dalam saku roknya, dan mulai menekan nomor Handi.
Sambungan ponsel diangkat dari seberang.
Rina: "Halo, Assalamualaikum, Handi!"
Handi: "Wa'alaikumussalam, kamu Rina? Ada apa?"
Rina: "Handi, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Ini sangat penting dan mendesak."
Handi: ".....…............................................................."
Rina: Baiklah, besok pagi sekitar jam 08.00 aku tunggu di rumahku, ya."
Handi: "....….............................................................."
Rina: "Oke, terima kasih sebelumnya. Sudah dulu, ya. Sampai jumpa besok. Assalamualaikum."
Handi: "Wa'alaikumussalam."
Rina menutup sambungan ponselnya. Lalu menatap gadis-gadis yang ada di depannya yang sedang merubunginya.
"Gimana, Rin?" tanya Sania.
"Besok kita ketemu di rumahku saja. Biar lebih leluasa, " ujar Rina.
__ADS_1
"Handi mau menemui kita?" tanya Sania.
Rina mengangguk sebagai jawaban. Selanjutnya mereka mulai menyusun strategi untuk memulai pergerakan mereka.
"Sekarang sebaiknya kita istirahat dulu, sudah malam. Sampai ketemu besok, " ujar Sania, saat menyadari waktu kian larut. Dilihatnya jam dinding menunjukkan angka 23.00.
Rina pun berpamitan pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari vila. Sementara yang lain mulai membubarkan diri, masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Mengumpulkan tenaga untuk esok hari.
***
Esok harinya
Sesuai rencana, Sania dan para sahabatnya pergi ke rumah Rina, setelah sarapan pagi bersama. Tidak lama mereka sampai terdengar suara orang mengetuk pintu. Ternyata yang datang adalah Handi.
Handi yang belum menyadari kehadiran Sania dan para sahabatnya langsung bertanya,
"Hai Rin, ada apa pagi-pagi begini memintaku untuk datang kemari? Kok, sepi, kemana orang tuamu?"
Rina menjawab, "Orang tuaku sudah berangkat ke Vilanya Tuan Dandi."
"Terus, kamu sendirian di sini? Dan mengajakku ke rumahmu saat tidak ada orang tuamu? Secara, aku laki-laki, loh. Kamu lupa?" tanya Handi, heran.
Mendengar pertanyaan Handi, Rina memasang wajah cemberut. Jengkel. Tapi kemudian dijawab juga,
"Aku tidak sendirian di sini, Han. Itu ada teman-temanku juga di dalam. Bukan mau apa-apa. Jangan geer kamu, ya."
Handi terkekeh mendengar suara ketus Rina.
"Teman-temanmu siapa?" tanya Handi.
Melihat siapa teman-teman Rina, Handi tampak terkejut dan sedikit salah tingkah. Apalagi saat melihat sosok Rianti, gadis yang beberapa waktu lalu sempat menarik perhatiannya, bahkan sampai berseteru.
"Mereka yang dimaksud teman-temanmu?" tanya Handi, setelah berhasil menenangkan diri.
Perlahan, Rina mulai menjelaskan maksudnya meminta bertemu dengannya. Menceritakan tentang kasus kejahatan Samiri. Peristiwa Pak Hasan dan Laila. Sampai pengakuan gadis itu yang hampir terjerumus.
Dan kedatangan Sania dan para sahabatnya itu karena ingin membantu menyelesaikan kasus ini. Selanjutnya berharap Handi mau membantu mereka.
Handi tampak mendengarkan dengan serius. Sesekali terlihat emosi dan geram. Tidak menyangka jika kejahatan Samiri sampai juga ke desa ini.
"Aku ikut prihatin mendengar apa yang terjadi pada Pak Hasan dan Laila, bagaimana keadaan mereka?" tanya Handi.
"Keadaan mereka sudah lebih baik. Masih dirawat di rumah sakit. Rumahnya juga sedang direnovasi, " jawab Rina.
"Syukurlah, untung ada papa Sania yang membantu mereka, " ujar Handi.
"Sekarang apa yang bisa kubantu?" tanya Handi menatap Rina dan teman-temannya satu per satu.
Wulan mulai bertanya, "Menurut cerita Rina, di desamu juga Samiri ini berulah juga?"
Handi mengangguk dan menjawab, "Benar, bahkan sebelum ke desa ini, desa kami dulu mereka beroperasi. Sudah banyak korbannya. Sampai akhirnya merambah pula ke desa ini."
"Katanya dia juga pengedar narkoba?" tanya Wulan lagi.
__ADS_1
Handi mengiyakan.
"Apa kamu sempat terkena atau mengkonsumsi obat-obatan haram itu?" tanya Rianti.
Mendengat pertanyaannya sepertinya Handi terlihat tersinggung. Kesal. Dengan cepat langsung menjawab dengan tegas,
"Tentu saja tidak. Meskipun dulu kami sering berbuat onar tapi tidak sampai terlibat dengan Samiri dan komplotannya. Bahkan kami sering menggagalkan rencana mereka. Kami hanya suka iseng, ikut balapan liar, hanya itu. Tidak lebih. Apalagi sampai menyentuh barang haram itu. Makanya waktu itu aku sempat memperingatkan mu, Rin, saat aku tahu kamu mau mencari pekerjaan melalui Samiri. Tapi kamu tidak mau mendengarkan aku. Kamu pikir aku membohongimu?" keluh Handi mengeluarkan kekesalannya karena merasa dituduh terlibat dengan mereka.
"Kami dulu memang suka menggoda gadis-gadis namun tidak sampai berbuat lebih, apalagi menjerumuskan mereka ke Samiri untuk dijadikan pelacur, " ujar Handi lagi, menegaskan.
"Maaf, bukan bermaksud membuatmu tersinggung, Han. Aku hanya bertanya, " ujar Rianti. Membuat Handi menghela napas berat, tampak masih kesal.
Sebenarnya Handi menganggap wajar dengan pertanyaan Rianti mengingat tingkahnya selama ini bersama teman-teman geng motornya, namun ketika dilontarkan langsung menjadi tersinggung juga. Karena memang merasa tidak pernah terlibat. Karena itulah, dia merasa harus mengklarifikasi.
"Sebentar, tadi kamu bilang sering menggagalkan rencana jahat Samiri. Maksud kamu apa? Berarti kamu mengetahui sesuatu tentang siapa yang ada di balik Samiri itu?" tanya Wulan.
"Iya, kami sering mengingatkan para gadis yang diketahui ingin mencari pekerjaan melalui Samiri langsung mengingatkan mereka. Seperti yang kulakukan waktu itu pada Rina. Sebagian ada yang mau mendengarkan namun ada juga yang tidak. Mengenai dengan siapanya dia bekerjasama aku tidak tahu apa-apa, " jawab Handi menerangkan.
Semua terlihat manggut-manggut setelah melihat tidak ada kebohongan dalam sorot matanya.
"Lalu, apa rencana kalian?" tanya Handi.
Rina menjelaskan rencananya akan berpura-pura melanjutkan niatnya mencari pekerjaan melalui Samiri, dan ikut gabung bersama teman-temannya yang masih dalam masa karantina. Untuk mengetahui siapa orang yang ada di belakang Samiri, dan mencari celah untuk menyelamatkan mereka sebelum diserahkan ke kliennya.
Handi tampak terdiam, memikirkan sesuatu.
"Sebenarnya ini sangat beresiko, Rin. Tapi memang tidak ada jalan lain. Tenang saja, aku dan teman-temanku pasti akan melindungimu. Aku juga sebenarnya sudah lama ingin membekuk mereka. Di desaku juga sudah sangat meresahkan."
Wulan berkata, mengurai strateginya, "Kamu pakailah alat penyadap. Aku sudah memesan kepada saudara kembarku untuk mengirimkan alatnya hari ini juga. Nanti alat itu akan terhubung ke laptopku, untuk mengawasi semua yang terjadi di markas manusia jahat itu. Kami akan mengantarkan kamu dengan mobil, dan berhenti di tempat yang tidak terlihat oleh mereka dan mengawasi dari sana. Jika terjadi sesuatu yang berbahaya, kami akan segera mendekat. Kami kasih tanda saja."
"Aku akan meretas data file tentang Samiri, semoga ada petunjuk. Dan memudahkan semuanya. Biar cepat dituntaskan."
Dari cara Wulan menjelaskan sepertinya dia terbiasa menyusun strategi. Membuat semuanya merasa heran dan penasaran, terutama para sahabatnya tentang siapa sebenarnya sosok Wulan ini.
"Apa kamu seorang peretas?" tanya Rianti yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
Melihat tatapan para sahabatnya yang penuh rasa penasaran, akhirnya Wulan membuka kedoknya,
"Ya, aku dan Danu, saudara kembarku adalah seorang peretas. Ini harusnya jadi rahasia, ya. Orang tua kami saja tidak tahu. Kami sering diberi tugas oleh pihak kepolisian bagian inteligen untuk mengusut beberapa kasus yang sulit dipecahkan."
Mendengar itu, semua tampak terkejut. Tidak menyangka, di balik sifatnya yang ceria, cenderung santai, tidak pernah serius, ternyata menjalani pekerjaan yang cukup serius juga. Beresiko pula.
Sifat duo kembar berbeda kelamin ini memang berbeda. Danu lebih pendiam, serius, cenderung introvert, tidak banyak bicara, sedangkan Wulan lebih ceria, santai, cerewet, cenderung ekstrovert.
"Ingat, ini hanya berhenti pada kalian saja, ya. Tidak boleh ada yang tahu lagi. Rahasia sebenarnya, " tukas Wulan, memperingatkan.
"Baik, kami akan menutup mulut, " sahut Ira, sambil menggerakkan jemarinya ke arah mulutnya, sebagai tanda akan menutup mulutnya. Yang lain pun mengangguk, akan ikut menjaga rahasia ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum, Readers
Bagaimana kabarnya? Bagaimana pendapat kalian? Mulai terasa tegang belum? Jika belum, di bab selanjutnya akan lebih terasa tegangnya, ya.
__ADS_1
Tolong tinggalkan komentar yang membangun, ya. Untuk perbaikan novel ini. Sambil terus mengikuti ceritaku ini.
Happy reading.🤗😘