
Sejak satu tahun belakangan. Selain aktif di unit kegiatannya masing-masing, mereka juga aktif di Rohis Sekolah. Setelah masa orientasi siswa mereka berempat dikelompokkan, dengan bimbingan satu orang mentor. Dan masih terus berlangsung sampai sekarang.
Setelah berpamitan, Ira langsung ke luar rumah, mengendarai motor Scoopy berwarna pink menuju rumah Rianti. Lima belas menit kemudian, sampailah di depan rumah Rianti, membuka pagarnya, dan memarkirkan motornya di teras depan. Berdampingan dengan motor lain, yang telah terlebih dulu ada di situ. Rupanya, itu motor milik Wulan.
"Assalamualaikum!" sapa Ira, sambil mengetuk pintu agak keras.
"Wa'alaikumussalam, " terdengar balasan salam dari samping rumah itu. Dan tampaklah Rianti sedang berjalan menghampirinya.
"Eh, Ira, masuklah, sudah ada Wulan di dalam. Tinggal nunggu Sania dan Kak Lisa. Sebentar lagi sampai, tadi katanya sedang di jalan, " ajak Rianti, sambil mengajak bersalaman dan saling bercipika cipiki.
Dengan bergandengan, Ira mengikuti langkah Rianti, masuk ke teras samping rumahnya. Di sana ada gasebo yang terbuat dari kayu yang sering menjadi tempat favorit mereka melakukan berbagai kegiatan bersama. Seperti belajar bersama, mengkaji Islam, dan sebagainya.
Baru saja duduk, tiba-tiba terdengar sapaan salam dari luar, rupanya Sania dan Lisa yang baru datang secara bersamaan. Tepatnya, Lisa yang menumpang di motornya Sania. Rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Setiap kali waktunya kajian, Sania selalu menjemput Lisa untuk berangkat bersama ke rumah Rianti.
Rianti kembali menghampiri Sania dan Lisa di ruang depan dan mengajak mereka ke samping rumahnya, bergabung dengan yang lain.
Setelah berbincang ringan sebentar, dimulailah kajiannya.
"Ra, gimana kabar pengantin baru? Cerita, dong, " tanya Rianti antusias.
Pertanyaan itu membuat semua orang yang ada di situ memalingkan wajah mereka ke arah wajah Ira. Ingin ikut mendengarkan cerita.
"Alhamdulillah, baik-baik saja. Sepertinya mereka terlihat bahagia. Masih pada malu-malu. Lucu, deh. Biasanya juga kakakku itu malu-maluin. Belum sempat ngobrol-ngobrol, sih. Baru sempat sarapan bareng, langsung pamit ke sini, " terang Ira, sedikit bercerita.
"Sudah, sudah, ceritanya dilanjutkan nanti. Sekarang waktunya kajian kita dulu. Oke?" ujar Lisa menengahi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh!"
"Wa'alaikumussalam!"
"Bismillahirrahmanirrahim."
"*Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta'inuwanastaghfiruhu wana'udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a'maalina. Man yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu" falaa haadiyalahu. Asyhadu anna muhammdan abduhuu warosuluh."
Artinya:
Kami panjatkan segala puji kepada-Nya dan kami mohon pertolongan-Nya. Seraya memohon ampun dan perlindungan-Nya dari segala keburukan jiwaku dan kejelekan amaliahku. Barang siapa telah Allah berikan petunjuk jalan baginya, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad hamba Allah dan utusan Allah*.
"Alhamdulillah, di pagi yang cerah ini kita bisa sama-sama berkumpul di majlis yang mulia ini untuk mengkaji Islam. Semoga keberkahan meliputi diri kita, menjadikan ilmu yang kita dapatkan hari ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Insya Allah majlis inilah yang selalu dinaungi oleh para malaikat dan selalu mendoakan ampunan untuk kita. Aamiin."
"Seperti biasa, sebelum kajian dimulai, selalu didahului dengan setoran beberapa ayat. Yuk, kita mulai dari kanan saya dulu! Silakan Rianti!"
__ADS_1
Satu per satu, keempat remaja itu mulai menyetorkan hapalan ayat kepada Lisa, sambil menyimak, dan sesekali membetulkan bacaan atau membantu mengingatkan jika ada yang lupa suatu ayat. Setelah itu, barulah kajiannya dimulai.
"Hari ini dan beberapa waktu ke depan, kita akan membahas tentang hukum tata pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Allah SWT telah menciptakan kita beserta dengan sekumpulan aturannya yang dibawa oleh Baginda tercinta kita Nabi Muhammad Saw melalui perantaraan Malaikat Jibril, untuk diterapkan oleh seluruh umat manusia di dunia. Untuk memudahkan urusan manusia di dunia dan bukan untuk mempersulit. Salah satu aturan itu adalah tentang pergaulan antara laki-laki dan perempuan dengan sangat detil dan tegas."
"Mengapa? Karena dalam hubungan antara kedua jenis kelamin ini berpotensi menimbulkan masalah di antara keduanya, baik di ranah pribadi maupun publik. Allah ingin membimbing kita dalam menyalurkan naluri kasih sayang yang ada pada diri setiap manusia dengan cara yang benar, bukan bebas tanpa nilai. Seperti pandangan sebagian besar masyarakat yang terkontaminasi dengan cara hidup barat yang maunya serba bebas, seperti pergaulan bebas, tanpa mempedulikan siapa lawannya, lawan jenis atau sesama jenis, dan apakah teman, pacar, atau bahkan saudara kandung sendiri, misalnya. Yang penting bagaimana bisa menyalurkan hawa nafsunya berupa hubungan seksual saja, tanpa memikirkan akibatnya setelah itu."
"Padahal dari hubungan keduanya ini akan lahir anak atau keturunan. Otomatis dengan kehadiran mereka membutuhkan pula aturan lain yang menyertainya. Islam amat memperhatikan tentang nasab keturunan. Selanjutnya akan ada pula aturan lainnya, seperti hak pengasuhan anak, hak perwalian, hak waris, dan lainnya. Tuh, makin berkembang dan kompleks, bukan? Semua itu berawal dari hubungan antara dua orang berbeda jenis kelamin ini. Jadi, jangan dianggap remeh begitu saja, ya."
"Islam mengatur sedemikian rupa tentang urusan ini agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Jadi hubungan keduanya hanya boleh terjadi dalam pernikahan saja, bukan yang lain. Sebelum itu, tidak diperbolehkan berhubungan dekat dengan lawan jenis, tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan secara syar'i. Seperti dalam hal kesehatan, pendidikan, berorganisasi, dan lainnya sebagai bagian dari anggota masyarakat. Untuk hal itu, dibolehkan saling berinteraksi dalam rangka ta'awun atau kerja sama. Saling mempermudah urusan di masyarakat. Ini terkait dengan aturan publik."
"Namun, dalam pelaksanaannya, tetap ada rambu-rambunya agar dari interaksi ini tidak berkembang menjadi urusan pribadi, seperti rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Ada tujuh. Kita bahas satu per satu, ya."
"Aturan pertama, yaitu ghadul bashar atau menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur'an surat An-Nur ayat 30 dan 31."
"Kedua, bagi perempuan harus mengenakan pakaian syar'i ketika keluar rumah atau di depan laki-laki yang bukan mahram. Selain kepada mereka maka kita harus menutup aurat. Adapun pakaian syar'i bagi perempuan adalah jilbab atau pakaian panjang dan luas yang mengulur ke bawah, hingga menutupi seluruh tubuh kita, atau yang biasa kita kenal dengan gamis, abaya. Ini ada dalam Al Qur'an surat Al Ahzab ayat 59. Dan juga gunakan khimar atau kerudung, yang ini ada dalam surat An Nuur ayat 31."
"Ketiga, tidak berkhalwat atau berdua-duaan. Harus disertai mahram."
"Keempat, tidak berikhtilat atau bercampur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa ada kebutuhan yang dibolehkan secara syar'i. Keempat, ketika keluar rumah harus izin terlebih dahulu kepada mahram atau suami bagi yang sudah menikah.
"Kelima, tidak bertabarruj atau bersolek untuk menarik perhatian lawan jenis."
"Keenam, tidak bepergian selama lebih dari dua puluh empat jam tanpa disertai mahram."
"Ketujuh, memahami kehidupan khusus dan kehidupan umum di ruang pribadi dan publik atau umum. Kehidupan khusus adalah suatu tempat yang jika kita memasukinya harus izin terlebih dahulu, seperti masuk rumah, kamar pribadi, mobil pribadi. Sedangkan kehidupan umum adalah suatu tempat yang jika kita memasukinya tidak perlu ada izin terlebih dahulu. Misalnya, sekolah, pasar, supermarket, lapangan, masjid atau mushalla, dan lainnya."
"Dari sini, adakah yang mau bertanya?"
"Saya, Kak Lisa," jawab keempat remaja di depannya sambil mengangkat tangan kanannya secara bersamaan.
"Wah, rebutan, nih. Memang kalau sudah bahas masalah ini pasti seru, seperti tidak ada habisnya. Oke, satu per satu, ya. Kakak tampung dulu pertanyaan. Ayo, silakan! Hm, Sania dulu, deh, yang lebih dulu angkat tangan, " ujar Lisa, senang.
"Baik, begini, tadi kata Kak Lisa kita harus menundukkan pandang, maksudnya bagaimana?" tanya Sania.
"Baik, Kak Lisa catat dulu pertanyaannya, ya. Dijawabnya sekalian nanti. Nah, sekarang, silakan Wulan!"
"Baik, Kak. Yang dimaksud dengan mahram itu, apa sih?"
"Oke, itu saja?"
Wulan mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu, silakan Ira!" sahut Lisa mempersilakan Ira untuk bertanya.
"Baik, Kak. Kalau Ira mau tanya tentang baju. Mengingat Ira berkecimpung di dunia perbajuan. Batasannya seperti apa pakaian yang sempurna dan syar'i itu? Dan satu lagi, batas aurat itu seperti apa?
__ADS_1
"Oke, catat, " ujar Lisa sambil menuliskan pertanyaan dari Ira.
"Nah, sekarang giliran Rianti. Ayo, silakan!"
"Baik, Kak. Rianti mau tanya tentang poin tujuh, yaitu kehidupan khusus dan umum, belum paham."
"Oke, dicatat lagi, ya."
"Nah, sekarang Kakak akan jawab satu per satu. Pertanyaan bagus semua."
"Pertanyaan pertama dari Sania, yaitu tentang menundukkan pandangan. Maksudnya, menahan pandangan kita terhadap lawan jenis dari pandangan yang tidak berhak. Yang darinya menimbulkan rasa lain yaitu, ketertarikan secara fisik atau seksualitas. Jadi, menunduk itu bukan berarti kita harus menunduk dalam arti yang sebenarnya, benar-benar tidak memandang. Tapi lebih kepada menahan pandangan. Begitu, Sania. Bisa dipahami atau masih kurang puas dengan jawaban saya?"
"Cukup dulu, Kak."
"Baik. Sekarang pertanyaan kedua dari Wulan. Apa yang dimaksud dengan mahram? Jadi, mahram adalah orang-orang yang haram untuk kita nikahi. Mahram di sini, ada yang sifatnya abadi atau berlaku selamanya, dan ada juga yang sementara. Yang sifatnya abadi adalah karena adanya pertalian darah, seperti ayah kandung, saudara kandung laki-laki, paman, kakek. Sedangkan mahram sementara itu karena adanya pertalian perkawinan, seperti suami atau istri. Selain dari mereka boleh dinikahi. Saudara sepupu bukanlah mahram, ya. Jadi, boleh menikah dengannya. Seperti Ali bin Abi Thalib, sepupunya Rasulullah yang menikahi putrinya, Fatimah Az Zahra. Begitu pula dengan kakak ipar. Karena kalian boleh menikah dengannya jika kakak atau adik kandung telah wafat. Yang biasa kita kenal dengan istilah turun atau naik ranjang. Karena itu, kepada selain mahram kita harus selalu menutup aurat dengan pakaian syar'i. Begitu, Wulan. Bisa dipahami?"
"Paham, Kak. Ada lagi?" tanya Lisa.
"Sementara ini cukup dulu, Kak, " jawab Wulan.
"Oke, sekarang giliran pertanyaan ketiga dari Ira. Bagus juga, nih pertanyaannya. Pas betul dengan aktivitas kamu sebagai calon desainer. Baik, begini, seperti yang tadi saya jelaskan bahwa pakaian syar'i itu dengan menggunakan gamis atau abaya dan kerudung. Harus menutupi seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yaitu wajah dan telapak tangan. Itulah aurat wanita di hadapan laki-laki asing dan di luar rumah. Sedangkan di hadapan mahram atau perempuan, boleh menanggalkan jilbab dan kerudungnya. Cukup mengenakan pakaian rumah saja, mau pakai daster, kulot, rok, dan sebagainya. Namun harus tetap sopan dan menutup aurat, batasannya sama seperti auratnya laki-laki, yaitu dari pusar sampai lutut. Jadi, pakaian yang sempurna dan syar'i adalah baju luar seperti gamis atau abaya, dan di dalamnya dilapisi pula dengan pakaian rumah atau disebut juga mihnah. Supaya tidak menerawang langsung terlihat lekuk tubuh kita di balik jilbab yang dikenakan. Jangan juga berpakaian seperti menyerupai laki-laki. Atau berlagak tomboy, atau sebaliknya laki-laki menyerupai perempuan atau melambai. Begitu Ira, paham?"
"Ya, paham, Kak. Terima kasih atas jawabannya." jawab Ira mantap.
"Oke, bisa langsung diterapkan, bukan? Lanjutkan cita-cita kamu menjadi desainer muslimah."
Terakhir, pertanyaan dari Rianti yaitu tentang kehidupan khusus dan umum. Tadi Kakak sudah menjelaskan bahwa kehidupan khusus adalah suatu tempat yang jika kita memasukinya harus ada izin terlebih dahulu. Seperti rumah, kamar, mobil pribadi. Ya, ketika kita bertamu harus izin terlebih dahulu, bukan. Tidak boleh nyelonong begitu saja. Tanpa ketuk pintu atau salam. Tidak boleh memaksa ketika tidak dibukakan. Jika tiga kali tidak ada jawaban, maka kembalilah. Tidak boleh juga sambil mengintip ke dalam rumah melalui jendela, misalnya. Walaupun dengan maksud ingin melihat keadaan di dalam rumah, ada orangnya atau tidak. Berdirilah agak jauh dari pintu posisi menyamping atau membelakangi. Terserah, yang penting jangan mengintip. Begitu juga ketika mau masuk ke rumah kita. Atau masuk ke kamar orang tua, kakak, atau adik. Hargai privasi mereka. Terutama di waktu ba'da shalat Subuh, Zuhur, dan Isya. Karena di waktu itulah biasanya kita menanggalkan pakaian kita untuk beristirahat atau kegiatan apapun secara pribadi. Khawatir sedang berpakaian, misalnya. Itu aturan di kehidupan khusus. Sedangkan di kehidupan umum, kita bisa memasukinya tanpa perlu izin terlebih dahulu. Nah, di sana berlaku hukum umum atau publik. Begitu Rianti, paham?"
"Ya, paham, Kak, " jawab Rianti.
"Alhamdulillah, masih ada lagi yang mau dibahas? sebelum ditutup. Sebentar lagi waktu kita habis, nih."
Semuanya menggeleng tanda merasa puas dengan jawaban dan penjelasan detil dari Lisa.
"Baiklah, jika tidak ada lagi, kita tutup dulu kajian kita dengan membaca istighfar, hamballah, dan doa kafaratul majlis.
"Astaghfirullahal Adzim!"
"Alhamdulillah!"
"Subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu ala Ilaha Illa anta, astaghfiruka watuubu ilaik."
"Alhamdulillah, semoga apa-apa yang sudah kita kaji hari ini bisa dipahami dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh!"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh!" jawab Rianti, Ira, Wulan, dan Sania secara bersamaan, sambil mengusap wajah masing-masing seperti gerakan mengaminkan doa.
Selanjutnya, mereka berbincang-bincang santai sambil menikmati camilan yang telah disediakan oleh bunda Rianti.