Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Positif


__ADS_3

Assalamualaikum, para Pembaca, maaf Author agak lambat postingnya. Dari kemarin-kemarin sedang merevisi naskah ini. Ada beberapa tambahan sedikit, biar lebih seru bacanya, karena dilengkapi dengan berbagai gambar visual yang mendukung cerita ini. Biar lebih masuk ke dalam cerita. Fillnya juga lebih dapat. Halunya juga lebih kena🤭. Semoga cerita saya semakin disukai. Aamiin. Tetap dukung Author dengan like, komen, dan votenya, ya.


Salam,


Nurmita Dewi


***


Daffa telah sampai di depan rumahnya, langsung masuk ke dalam rumahnya dan memasuki kamarnya. Dicarinya sang istri ternyata tidak terlihat di kamar mereka.


'Kemana dia?' gumamnya bertanya-tanya, netranya liar mencari sosok istri belianya di sudut-sudut kamar mereka dengan bingung bercampur cemas.


Dibuka kamar mandi, barangkali sedang ada di sana. Ternyata tidak ada juga. Dengan panik, laki-laki itu kembali ke luar kamarnya, melangkah menuju dapur. Ternyata di sana hanya ada Bi Inah yang sedang memasak.


"Bi Inah, istriku di mana? Di kamar kok tidak ada?" tanya Daffa bingung.


"Ada di taman belakang, Den. Lagi ngobrol sama nyonya, " jawab Bi Inah.


"Oh, pantesan dari tadi nggak kelihatan di kamar. Makasih, ya, Bi, " jawab Daffa sambil melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Benar saja, kedua wanita kesayangannya sedang berada di sana. Keduanya asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. Suara salam seketika menghentikan tawa mereka dan menoleh ke sumber suara.


"Eh, kamu Daf, wa'alaikumussalam, " Linda menjawab salamnya. Daffa mengulurkan tangannya ingin mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Rima menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Sudah lama sampainya, A?" tanya Rima.


"Baru saja, tadi langsung ke kamar. Dicari-cari tidak ada. Ternyata lagi pada di sini, toh, " terang Daffa.


"Hehehe.. iya dari tadi asyik ngobrol sama Mama, sampai tidak tahu Aa sudah pulang, " jawab Rima.


"Gimana, kamu sudah baikan? Jadi kita ke dokter?" tanya Daffa sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Sebenarnya sudah mendingan, sih. Tapi masih agak lemas, makanya bisa ngobrol sama Mama, " jawab gadis itu.


"Ya sudah, kita siap-siap ke rumah sakit, yuk!" ajak Daffa.


"Apa Mama perlu ikut juga?" tawar Linda.


"Oh, Mama mau ikut? Boleh. Ayolah, kita siap-siap!" jawab Daffa.



Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya ketiganya sampai di rumah sakit. Mereka langsung masuk ke ruang tunggu pasien di depan ruangan Dokter Spesialis Kandungan, karena tadi sudah mendaftar terlebih dahulu sebelum ke rumah. Dan sudah mendapatkan nomor antrian.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tibalah giliran Rima. Segera saja masuk bersama suami dan ibu mertuanya.


Ketiganya duduk di depan dokter wanita yang bernama dr. Rintang, yang tertulis di name tagnya. Dokter paruh baya itu mulai menanyakan keluhan yang dirasakan oleh Rima. Gadis itu pun menjelaskan semua yang dirasakan selama beberapa hari ini.


Dr. Rintang menyuruh Rima untuk melakukan test pack sambil menyerahkan sebuah tabung kecil untuk menampung urin. Gadis itu menuruti perintah sang dokter.


Setelah menunggu lama, akhirnya muncullah hasilnya. Dokter paruh baya kira-kira seusia Ummi Linda namun masih terlihat kecantikannya itu terlihat tersenyum setelah melihat hasilnya, membuat Rima, Daffa, dan Linda semakin penasaran melihat reaksinya.


"Jadi, bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Daffa tidak dapat menahan lagi rasa penasarannya. Linda dan Rima ikut menatap dokter itu.


"Selamat, istri Anda bukannya sakit apa-apa, itulah gejala kehamilan pada wanita di semester awal. Test pack terlihat muncul garis merah dua, ini menunjukkan bahwa dugaan saya betul, " jawab dr. Rintang.


"Itu artinya aku akan jadi seorang ayah, benar begitu, Dok? Mi?" tanya Daffa lagi, takut salah pendengaran. Secara bergantian matanya menatap dokter dan ibu kandungnya.


"Iya Nak, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah, " jawab Linda dengar suara bergetar karena menahan rasa harunya. Bahagia.


Melihat anggukan dari wanita yang telah melahirkannya itu, membuat rasa bahagia yang dirasakan oleh Daffa semakin membuncah. Tanpa sadar, laki-laki itu langsung memeluk dan menciumi kepala dan seluruh wajah istrinya sebagai reaksi atas kebahagiannya sambil mengucapkan terima kasih. Air matanya pun tidak dapat ditahan. Demikian pula yang dirasakan oleh Rima. Gadis itu pun terlihat tidak kalah bahagianya dengan suaminya. Keduanya saling berpelukan dan menitikkan air mata. Larut dalam kebahagiaan dan keharuan. Pasangan muda itu sepertinya lupa sedang berada di mana.


"Sekarang kita lakukan USG dulu, ya. Untuk lebih memastikan lagi. Mari silakan berbaring di atas tempat tidur, Nyonya!" ajakan dokter Rintang itu seketika menyadarkan keduanya, melepaskan pelukan mereka, dan menghapus air mata.


Dengan bantuan Daffa, gadis itu segera menuruti perintah dokter. Setelah berbaring, suster yang mendampingi dokter Rintang segera menyingkapkan gamis dan baju atasan Rima sedikit sampai terlihat perutnya. Lalu mulai mengoleskan semacam gell yang terasa sejuk ke permukaan kulit perutnya.


Dr. Rintang mengarahkan pandangannya ke layar monitor yang menggambarkan kondisi di dalam perut Rima.


"Nah, tuh coba kita lihat di sana, ada semacam bulatan kecil, itulah janin anak Anda, Nyonya. Ehm, kapan terakhir Anda datang bulan?"


"Lupa kapan terakhir datang bulannya, Dok. Tapi seingat saya sejak bulan lalu sampai bulan ini memang belum haid lagi. Saya tidak curiga ke sini, dikira hanya telat saja karena kecapekan, juga karena kesibukan saya kuliah, " terang Rima.


"Bisa dimaklumi karena ini kehamilan pertama Anda, mungkin belum paham dengan gejala kehamilan. Saya sarankan, jaga kandungan Anda. Tidak boleh terlalu lelah, banyak pikiran, stress, dan mengangkat benda yang berat-berat, dan konsumsi makanan yang bergizi dan sehat. Karena diusia kehamilan trimester awal ini masih dalam kondisi rentan mengalami keguguran. Masih belum kuat janinnya, " ujar dokter paruh baya itu.


"Tapi jangan khawatir, nanti akan saya beri obat penguat, pengurang rasa mual, vitamin, dan kalsium untuk istri Anda. Supaya kandungannya kuat. Semoga dimudahkan sampai persalinan, " doa dr Rintang dengan senyuman tulus. Ikut berbahagia dengan pasien dan keluarganya.


Suster kembali membantu merapikan kembali baju yang tadi disingkap hingga tertutup kembali auratnya, dan Daffa membantu istrinya turun dari tempat tidur. Lalu kembali duduk di tempat semula.


"Ini resepnya, silakan ambil di apotik, Nyonya, " ujar dr. Rintang sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan resep obat yang harus diminum oleh Rima.


"Baik, terima kasih, Dok. Kami pamit dulu, Assalamualaikum. "


"Ya, wa'alaikumussalam."


Setelah meninggalkan ruangan itu, ketiganya langsung melangkah menuju apotik untuk menebus obat. Setelah menunggu antrian yang cukup panjang, akhirnya tibalah giliran Rima yang dipanggil. Daffa segera mengambilkan obat itu. Sementara Linda dan Rima menunggu di kursi tunggu. Setelah selesai, ketiganya langsung melangkahkan kaki keluar dari gedung rumah sakit itu.


Namun, saat kaki mereka berada di luar terdengar suara adzan dari masjid di rumah sakit itu. Akhirnya, ketiganya memutuskan untuk melakukan shalat Zuhur terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah shalat, Daffa langsung membawa mobilnya ke sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit, untuk makan siang. Begitu duduk, mereka langsung memesan makanan yang diinginkan. Sambil menunggu pesanan datang, Linda mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi suaminya.


"Assalamualaikum, Bi, ada kabar gembira, nih. Sebentar lagi kita akan punya cucu. Kita akan jadi nenek dan kakek. Kami baru pulang dari rumah sakit. Katanya, usia kandungan cucu kita sudah memasuki enam minggu."


"Oh ya, Alhamdulillah. Aku bahagia sekali."


"Aku juga, apalagi anak dan menantu kita. Mereka terlihat sangat bahagia."


"Sekarang bagaimana keadaan menantuku, apakah masih lemas?"


"Tadinya sih masih, tapi begitu tahu bahwa dirinya hamil, sepertinya mendadak lupa, jadi bersemangat lagi,"


"Awas, ah, tetap ingatkan jangan terlalu lupa diri. Tetap harus dijaga. Masih rawan, soalnya. Sekarang kalian ada di mana?"


"Di restoran, lagi makan siang dulu. Setelah ini mau belanja dulu sebentar."


"Oke, tapi jangan terlalu lama, ya. Kasihan menantu dan cucuku kalau kecapekan."


"Iya Bi, habis belanja langsung pulang, kok. Oke, aku tutup dulu telponnya, ya. Sampai ketemu nanti. Assalamualaikum."


"Oke, wa'alaikumussalam, hati-hati, ya."


Linda mengakhiri telponnya lalu menekan nomor Aini, sahabat dan juga besannya itu. Memberi kabar gembira ini. Di seberang sana, Aini juga terdengar bahagia. Suaranya terdengar parau, seperti menangis. Keduanya seketika ikut larut dalam kebahagiaan. Setelah puas menumpahkan rasa, akhirnya Linda pun mengakhiri pembicaraan mereka. Dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Kedua pasangan muda itu hanya tersenyum melihat tingkah ibu mereka yang begitu gembira dan antusias mengabarkan kabar gembira ini.


Tidak menunggu lama, pesanan pun datang. Mereka langsung menyantapnya dengan lahap.


Di tengah suapannya, Rima merasakan perutnya seolah seperti diaduk-aduk, membuatnya ingin menumpahkan semua isi perutnya. Namun segera ditahannya sekuat tenaga karena ingat nasihat dari dokter Rintang tadi. Akhirnya gadis itu terus memaksakan diri untuk terus memakan makanannya sampai habis. Semua demi janin yang kini tengah bersarang di dalam rahimnya.


Ya, begitulah seorang ibu. Mereka akan merasakan penderita sejak awal kehamilan sampai melahirkan, belum lagi harus menyusui bayinya hingga dua tahun, dan mengasuhnya. Namun mereka rela menderita demi sang buah hati yang merupakan titipan dari Sang Penggenggam Jiwa. Tidak ada satu pun wanita yang merasa kapok mengandung dan melahirkan. Maka tidak heran jika Allah memberi pahala berupa mati syahid jika di masa-masa itu sang ibu meninggal dunia. Hingga menjadikan kedudukannya mulia di hadapan Allah melebihi ayah. Surga dan neraka pun berada di bawah telapak kakinya. Keridhaannya mengundang ridha Allah, sebaliknya kemurkaannya mengundang kemurkaan-Nya juga. Maka setiap anak diperintahkan untuk selalu menghormati dan berbakti kepada ibunya. Tidak dibenarkan menyakiti hatinya dengan cara membentaknya meski hanya sekedar mengucap kata, "Ah" atau "Uh".


Setelah selesai menyantap makanan, Daffa mengajak istri dan ibu kandungnya untuk berbelanja ke sebuah supermarket. Laki-laki itu dengan semangat mendorong troli belanjaan dan memasukkan beberapa barang dan makanan untuk istrinya, seperti buah-buahan, susu ibu hamil, beberapa camilan sehat, dan lainnya.


Rima tampak tertegun melihat es krim yang begitu menggoda lidahnya. Membuat air liurnya hampir menetes. Daffa yang sedang memperhatikannya, langsung mengikuti arah pandangan istrinya.


"Kamu mau es krim, sayang?" tanya Daffa dengan penuh perhatian. Membuat gadis itu langsung menganggukkan kepalanya senang, matanya tampak berbinar.


Dengan sigap, Daffa langsung mengambil beberapa box yang lumayan besar es krim dengan rasa berbeda, coklat, vanila, dan strawberry.


"Kok, banyak banget, A?" tanya Rima.


"Biar kamu bisa santai makannya dan puas, Tenang saja, aku juga mau, kok, " ucapnya santai.


Mendengar itu, akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia merasa senang dengan perhatian yang ditunjukkan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Begitu pula perhatian yang ditunjukkan oleh ibu mertuanya Linda. Hari ini, wanita itu berencana akan memasak makanan kesukaan Rima, agar menantunya itu mau makan banyak. Karena itu, ia membeli bahan-bahan di sana.


Setelah dirasa belanjaan mereka sudah cukup, Daffa membawa troli itu menuju meja kasir dan membayar semuanya. Setelah itu, barulah mereka pulang ke rumah.


__ADS_2