
Pulang sekolah, begitu Ira memasuki rumah mereka merasa heran melihat kesibukan di dapur. Waktu menunjukkan pukul 14.00.
"Ummi, mau ada acara apa, nih. Kok, kayanya sibuk betul?" tanya Ira keheranan.
"Nanti malam kita akan ada makan malam bersama di sini, bersama papa dan mama kakak iparmu, " jawab Linda, namun tangannya tidak menghentikan aktifitasnya memasak.
"Kok, mendadak, Mi? Ada acara spesial apa?" tanya Ira lagi, merasa belum puas dengan jawaban dari ibunya.
"Tentu saja spesial, sayang. Karena sebentar lagi kamu akan jadi Tante dan Raihan jadi Om, " jawab Linda lagi, kali ini sambil menoleh ke wajah Ira sebentar.
"Ira jadi tante dan Raihan jadi Om?" ulang Ira sambil mengerutkan keningnya.
Linda tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ma maksudnya, aku mau punya keponakan, gitu? Kak Rima hamil?" tanya Ira, memastikan.
"Ya, kamu akan punya ponakan. Awas, jangan jadi Tante pecicilan, " jawaban itu bukanlah berasal dari ibunya, melainkan Daffa yang sudah berdiri di belakangnya. Sedang tersenyum penuh rasa bangga, sambil mengangkat dan menurunkan alis matanya. Menggoda adik kesayangannya itu.
Bukannya cemberut atau ngambek, Ira malah langsung menghambur ke pelukan kakak sulungnya. Membuat Daffa sempat kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu, namun akhirnya ia membalasnya juga. Dan mengelus rambut adiknya itu dengan lembut.
Ira menjauhkan sedikit wajahnya dan menatap wajah kakak sulungnya dan bertanya,
"Benarkah, A? Asyik, rumah ini bakal makin ramai dengan celotehan bayi. Duh, senangnya!"
Daffa menganggukkan kepalanya mantap, sambil tersenyum, lalu melepaskan pelukannya.
"Sekarang di mana Kak Rimanya?" tanya Ira, sambil celingukan mencari sosok kakak iparnya.
__ADS_1
"Di kamar, lagi tiduran. Tadi baru pulang dari rumah sakit, belanja sebentar, terus langsung pulang. Tadinya sih mau ikut bantuin Ummi, tapi Aa larang, takutnya kecapekan. Kalau mau ngobrol nanti saja kalau sudah bangun, " ujar Daffa.
"Oke, baiklah, demi keponakanku, " sahutnya bangga.
***
Malam harinya, semua keluarga telah berkumpul. Termasuk Ridwan dan Aini, papa dan mama Rima. Rima tampak cantik dalam balutan gamis berwarna biru langit dan khimar biru dongker. Begitu melekat di kulit wajahnya yang putih bersih. Di tambah dengan aura keibuan yang mulai terlihat, aura kebahagiaan. Semakin menambah keindahan yang tergambar di wajahnya. Membuat semua yang hadir turut merasakan kebahagiaan. Semuanya mengucapkan selamat atas kehamilannya Rima dan sangat antusias mengingat bayi yang ada dalam rahimnya itu adalah cucu yang pertama bagi mereka.
Daffa pun tidak mau kalah, ia berdandan rapi. Mengenakan kemeja warna senada dengan istrinya dan celana biru dongker. Semuanya dipilihkan dan disiapkan oleh istrinya. Keduanya tampak cantik dan tampan, sangat serasi.
Mereka semua larut dalam kebahagiaan. Dengan semangat mereka mulai menyantap berbagai sajian yang telah dihidangkan di atas meja makan. Dilanjutkan dengan berbincang ringan sambil bercanda.
Di tengah obrolan ringan mereka, tiba-tiba Raihan mendekati kakak iparnya dan duduk di sampingnya yang memang kosong. Jadi, kini posisi Rima berada di tengah antara Raihan dan suaminya, sambil memandanginya dengan pandangan menelisik. Rima terheran-heran melihat tingkah adik iparnya.
"Ada apa Raihan?" tanya Rima, sambil menatap adik iparnya. Membuat Daffa pun ikut menatap ke arah adik bungsunya.
"Kak, dede bayinya mana? Kok, nggak kelihatan?" tanya Raihan polos.
"Dede bayinya masih di dalam perut Kak Rima, sayang. Nanti kalau sudah lahir, Raihan baru bisa lihat dan main sama Dede bayi," jawab Rima lembut sambil menunjuk perutnya sendiri. Daffa tertawa geli sambil mengelus perut istrinya.
"Iya? Kapan?" tanya Raihan lagi, terlihat tidak sabar.
"Masih lama, Rai, beberapa bulan lagi. Sabar, ya. Doakan saja semuanya dimudahkan sampai Dede bayi lahir dengan selamat, " kali ini Daffa yang menjawab, lalu mengacak rambut adik bungsunya dengan lembut.
Mendengar itu, dengan spontan Raihan menadahkan kedua tangannya ke atas, membentuk gerakan seperti berdoa.
"Ya Allah, sehatkan Dede Bayi, cepatlah besar dan lahir biar bisa main sama Raihan, " doanya dengan suara lantang. Membuat kedua pasangan muda itu ikut menadahkan tangan dan mengaminkan doanya, sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah acara makan malam dan puas mengobrol dengan penuh kehangatan, akhirnya Ridwan dan Aini berpamitan untuk pulang.
***
"Apa? Kak Rima sudah hamil?" teriak Wulan spontan, saat mendengar kabar tentang kehamilan kakak ipar Ira di kantin sekolah.
"St, kamu tuh teriak-teriak, sih. Berisik, tahu! Biasa saja, kali, " tegur Ira kepada sahabatnya itu sambil menutup telinganya sendiri. Membuat Wulan langsung menutup mulutnya dan melirik ke kanan dan ke kiri. Benar saja, beberapa temannya yang duduk tidak jauh dari mereka yang sedang menyantap makanan jadi menoleh ke arah mereka.
"Alhamdulillah, cepat juga, ya, " ujar Rianti ikut merasa senang.
"Terus kuliahnya gimana kalau hamil gini?" tanya Sania.
"Katanya sih, lihat kondisi Kak Rima dulu. Kalau kuat dan baik-baik saja tetap kuliah, tapi kalau nggak kuat terpaksa cuti dulu sambil kandungannya benar-benar sudah kuat, soalnya masih enam minggu, belum kuat, masih rentan keguguran. Jadi, harus dijaga betul, jangan sampai kecapekan, stress, dan lainnya." jawab Ira.
"Semoga saja kuat, jadi kuliahnya tidak terganggu," doa Sania. Yang lain mengaminkan.
"Kak Rima ngidam, tidak?" tanya Wulan.
"Kayanya belum terlalu banyak maunya, deh. Paling kalau cium bau nasi matang suka mual atau pas sikat gigi, suka mendadak muntah. Maunya es krim, yang asem-asem, yang segar-segar gitu, deh. Katanya, lumayan mengurangi rasa mual. Lucunya, A Daffa kayanya ikutan ngidam. Dia jadi suka rujak ulek buah, gitu. Hampir setiap hari beli bahan rujakan terus minta dibikinin sambel rujaknya, " cerita Ira sambil menahan tawanya.
"Memangnya laki-laki bisa ikutan ngidam juga, ya?" tanya Rianti heran bercampur geli membayangkannya.
"Bisa saja, malah ada yang istrinya biasa saja, yang mual-mual atau ngidam parah justru suaminya. Morning sick terus selama tiga bulan. Kaya mamaku dulu waktu hamil aku sama Danu, gitu katanya. Eh, rupanya bayinya kembar. Lucu, deh dengar cerita mereka. Papa dan Mamaku kan memang sudah kenal dari zaman SMA, seangkatan tapi beda kelas. Tapi udah kaya musuh bebuyutan, berantem melulu. Papa itu orangnya iseng, suka banget jahil ke mama. Eh, nggak tahunya begitulah caranya biar dekat sama mama. Jadinya pas hamil kaya balas dendam. Sampai sekarang masih suka jahil ke mama. Jadinya, mama juga ikutan jahil, biar bisa mengimbangi, katanya. Tidak mau kalah. Udah kaya judul novel saja, musuh bebuyutan tapi nikah, " jawab Wulan sambil menahan tawanya, geli sendiri dengan istilah terakhir yang diucapkannya dan mengingat tingkah lucu kedua orang tuanya.
"Lucu banget, sih. Itu mah ceritanya sama kaya orangtuanya Kak Rima. Gitu juga, katanya. Cuma bedanya, papanya Kak Rima itu kakak kelas Ummi sama Tante Aini. Sempat pisah lama, karena memilih kuliah di beda kota. Tapi akhirnya ketemu juga. Jodoh itu memang tidak ada yang tau, ya. Penuh misteri, tapi selalu bikin penasaran. Selalu banyak cerita dibalik pertemuan dengan jodoh di masa depan, " Ira ikut bercerita.
"Lucu juga, ya ternyata cara orang tua kita menemukan belahan jiwa. Pasti, begitu juga dengan orang lain. Entah siapa jodoh kita, sampai sekarang masih misteri, " ujar Rianti.
__ADS_1
"Ya, yang namanya jodoh itu rahasia Allah. Siapa pun dan di manapun dia berada saat ini pasti telah dipersiapkan oleh Allah dan dipertemukan dengan kita, di waktu dan tempat yang tepat. Semua akan terungkap pada waktunya kelak. Tapi kita tetap harus menjemputnya dengan ikhtiar. Kalau ingin suami yang baik dan shalih kitanya juga harus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi menjadi seorang muslimah yang baik dan shalihah. Pasangan kita itu adalah cerminan diri kita. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, sebaliknya wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula, " ujar Sania, menimpali ucapan sahabat-sahabatnya tentang jodoh.
Ketiga sahabatnya membenarkan ucapan Sania.