Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Kompetisi Panahan Putri


__ADS_3

Hari ini giliran Sania yang akan mengikuti kompetisi, yaitu di cabang panahan putri. Sebanyak 30 sekolah mengikutinya. Mewakili sekolah masing-masing.


Sejak pukul 6.00 pagi Sania dan para peserta telah hadir di lapangan GOR. Begitu pula dengan para pendukung dari sekolah masing-masing, yang ikut memberikan semangat kepada teman-teman mereka. Persis di belakang Sania dan tim telah hadir sahabat-sahabat Sania, yaitu Rianti, Ira dan Wulan. Tentu saja kehadiran mereka menambah semangatnya untuk memenangkan kompetisi ini.


"Semangat Sania dan tim, kalian pasti bisa!" seru mereka.


Semua memberikan dukungan moril untuk teman-teman mereka yang akan berkompetisi hari ini. Sehingga wajah-wajah penuh semangat begitu terpancar.


Tepat pukul 08.00 kompetisi dimulai. Sang MC mulai menjelaskan aturan mainnya,


"Assalamualaikum, selamat pagi adik-adik, siap berkompetisi hari ini?" sapa MC.


"Wa'alaikumussalam, siap!" jawab para peserta.


"Baik, saya akan menjelaskan aturan mainnya. Pada babak penyisihan pertama ini kita akan membagi menjadi lima gelombang. Satu gelombang akan maju sepuluh orang yang akan dipanggil sesuai nomor punggung kalian. Sebagai penentuan siapakah lima orang yang bertahan dan lima orang yang akan tersisih berdasarkan hasil pencapaian kalian.


"Kalian akan dinilai berdasarkan kecepatan dan ketepatan anak busur kalian mencapai papan di depan. Apakah tepat sasaran atau tidak. Begitu pula dengan gelombang berikutnya. Dari situlah akan kita ketahui siapa saja yang akan menjadi lima besar terbaik dari setiap gelombang. Mereka juga yang nantinya akan berhak berjuang di babak final nanti. Jadi berikan kemampuan kalian yang terbaik hari ini, ya. Agar kalian bisa mengikuti kompetisi ini hingga akhir dan keluar sebagai pemenang. Aamiin."


Sejenak sang MC menghela napas lalu melanjutkan,


"Nah, sekarang saya akan panggilkan siapa saja yang akan maju di bagian pertama ini, semua siap-siap, ya."



Ternyata Sania lah yang pertama maju mewakili sekolahnya bersama lima orang lainnya. Dengan penuh percaya diri, Sania pun maju ke depan. Semua mata tampak serius memperhatikan para peserta, berharap penuh semoga mereka bisa tetap bertahan, bukan tersisih.


Begitu pula dengan peserta yang lainnya.


Suara-suara pun tampak riuh memberikan


__ADS_1


dukungan kepada jagoan mereka. Beberapa mata tampak memperhatikan penampilan Sania yang hanya sendirian bercadar. Bahkan di antara semua peserta hanya dia sendiri yang bercadar. Berbagai pandangan pun berbeda-beda, ada yang kagum, namun tak sedikit juga yang terlihat sinis dan meremehkan.


Sampai terdengar komentar mereka, baik yang positif maupun negatif,


"Siapa gadis bercadar itu?"


"Hebat dia, tidak malu, berani tampil beda."


"Gadis sebelia itu sudah mau menutup auratnya sesempurna itu, hebat! Sangat langka di zaman ini orang yang seperti itu."


" Bisa apa dia?"


"Apa tidak merasa repot dengan peralatan panahannya itu dengan penampilan seperti itu?"


"Jangan-jangan dia *******? Atau mata-mata musuh yang menyamar jadi pelajar?"


"Kenapa wajahnya ditutup, apa yang dia sembunyikan?"


Komentar-komentar mereka sebenarnya cukup mengganggu bagi Sania, terutama pada lontaran negatif. Namun, ia berusaha tidak mempedulikannya. Berusaha tetap fokus. Sementara sahabat-sahabatnya tampak tidak bisa menahan emosi. Apalagi Wulan, yang memang tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang ada di hatinya.


Yang dari tadi berbicara tampak terkejut, namun kemudian tidak mempedulikan tegurannya. Mereka terus saja bergosip ria mengenai penampilan Sania. Hal itu tentu saja semakin memancing kemarahannya. Hampir saja Wulan berjalan mendekati mereka dan memberikan pelajaran pada mereka jika tidak dicegah oleh sahabat-sahabatnya.


"Sudahlah, tidak perlu emosi. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang. Orang seperti mereka tidak perlu dijawab dengan kata-kata pedas lagi. Jika kita seperti itu juga, berarti kita sama buruknya dengan mereka, " tegur Rianti sambil berusaha menahan emosinya juga.


Mendengar itu, Wulan langsung berusaha meredam emosinya. Dia mulai mengatur napasnya yang terasa sesak karena menahan emosi sejak tadi. Lalu Wulan mendekati Sania, menepuk bahunya lalu menghiburnya, "Kamu jangan terpengaruh dengan omong kosong mereka. Tetap fokus menghadapi kompetisi ini. Kami yakin kamu bisa. Kami semua mendukungmu. "


Mendengar itu, Sania tersenyum dan menatap sahabat-sahabatnya, "Terima kasih atas dukungannya. Doakan aku, ya. Semoga aku tidak mengecewakan kalian. Jangan khawatir, aku tidak akan terpengaruh. Aku sudah terbiasa menghadapi hal ini. Justru kuanggap sebagai tantangan agar aku memberikan segenap kemampuanku yang terbaik."


Mendengar itu, ketiga sahabatnya terlihat tersenyum lega, sambil mengangkat kedua jempol mereka. Bermaksud memuji ketangguhan mentalnya. Sania pun kembali mengumpulkan semangatnya yang sempat turun.


Akhirnya, insiden "keributan" itu berhasil dihadapi. Sang MC pun memberi aba-aba agar peserta mulai berkompetisi.

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri, Sania maju bersama ke sepuluh orang lainnya yang akan berkompetisi. Semua yang hadir memperhatikan dengan penuh ketegangan. Sania mulai mengarahkan anak panahnya menuju pusat papan yang menjadi sasarannya, yang diberi angka 10. Netranya tampak tajam dan fokus, mengumpulkan daya konsentrasinya agar tepat sasaran. Sebelah matanya tampak memicing untuk menambah kejelian matanya.



Hingga terdengar suara aba-aba, barulah mereka mulai melepas anak panahnya. Tanpa lupa mengucapkan basmalah, Sania pun melepaskan anak panahnya bersamaan dengan yang lain. Daan... anak panahnya tepat mengenai pusat papan yang bertuliskan angka 10. Melihat itu, suasana yang tadinya tampak senyap, penuh ketegangan, akhirnya riuh saat melihat Sania berhasil melepaskan anak panahnya tanpa meleset sedikit pun.


Teriakan riuh itu, berasal dari sahabat-sahabat, dan juga teman-teman satu sekolahnya. Mereka ikut merasa bangga. Melihat itu, Sania jadi menitikkan air mata karena menahan keharuan yang tiba-tiba merasukinya.


Setelah keriuhan itu, akhirnya MC kembali dapat mengendalikan situasi. Sania dan ke sepuluh kompetitornya pun telah kembali ke tempat duduk mereka.


Begitu Sania kembali ke tempat duduknya, Rianti, Ira, dan Wulan langsung berhamburan memeluknya. Membuat Sania makin merasa bahagia. Ternyata persahabatan mereka memang kokoh. Sejak hari pertama kompetisi mereka saling mendukung sahabat-sahabatnya. Dengan hadir di setiap kompetisi mereka. Kini mereka pun memberikan dukungan penuh kepada Sania. Bahkan membelanya ketika Sania hampir saja merasa sedih dan down karena komentar-komentar negatif dari orang-orang yang tidak mengerti apa-apa. Menghiburnya.


Dan orang-orang yang tadinya berkomentar miring sinis, sempat memandang sebelah mata, meremehkan, tampak menundukkan kepala. Malu dengan komentar mereka sebelumnya. Apalagi setelah mengetahui, bahwa Sania menang telak, dan berhak mengikuti babak berikutnya. Sementara jagoan mereka termasuk orang yang disisihkan.


Sania tampak mendekati salah satu kompetitornya yang disisihkan. Rianti, Ira, dan Wulan mengikuti. Mereka khawatir jika Sania akan kembali mendapatkan hinaan seperti tadi. Setelah dekat, Sania memasang senyum manisnya. Terlihat dari matanya yang seperti terlihat sedang tersenyum. Sania mengulurkan tangannya terlebih dahulu.


Akhirnya Wulan dan kompetitornya saling berjabat tangan. Dengan suara bergetar sang kompetitornya mengucapkan selamat atas keberhasilannya lolos di babak pertama ini. Dan dengan rendah hati Sania memberikan semangat kepadanya. Mereka pun akhirnya saling berkenalan.


"Sania."


"Lita."


"Alya."


"Rani."


"Sofi."


"Ratih."


Begitulah sifat Sania, yang berhati lembut, mudah memaafkan, ramah, sehingga mampu menepis anggapan buruk tentangnya tadi hanya karena penampilannya yang bercadar. Sania senantiasa ingat akan nasihat kedua orang tuanya, agar selalu bersikap baik kepada siapapun, terlebih kepada sesama muslim.

__ADS_1


Hari ini mereka mendapatkan pelajaran berharga, bahwa apa yang dilihat belum tentu seperti itu. Allah tidak melihat seseorang dari rupa dan penampilannya, melainkan ketakwaannya. Terlebih lagi cadar bukanlah hal yang harus dipertanyakan apalagi dipertentangkan. Rumor yang beredar tentang muslimah bercadar tidak sepenuhnya benar.


Setidaknya, itulah yang mereka lihat pada diri Sania. Sania tampil sebagai sosok muslimah sejati. Yang terpenting, penampilannya tidak memasung geraknya untuk berprestasi sesuai keinginannya.


__ADS_2