
Satu bulan kemudian
Hari ini adalah hari perdana bagi siswa-siswi SMA Cendekia menghadapi Ujian Penilaian Akhir Semester. Mereka tampak serius mengerjakan soal-soal yang dihadapi. Berharap bisa menyelesaikannya dengan baik dan benar.
Setelah dua jam kemudian, mereka akhirnya satu per satu mulai keluar kelas setelah menyelesaikan ujian pertama ini. Terdengar bel yang mengingatkan waktu beristirahat. Setelah 30 menit kemudian mereka kembali masuk ke kelas masing-masing untuk menghadapi ujian kedua di hari ini.
Setelah selesai ujian kedua, Rianti mengajak sahabat-sahabatnya ke kantin. Perutnya terasa lapar. Gadis itu baru ingat tadi pagi hanya sarapan segelas susu, karena terburu-buru. Takut terlambat.
Rianti dan Ira memesan bakmi ayam bakso dan teh manis hangat, sedangkan Wulan dan Sania memilih siomay dan es jeruk. Tak lama pesanan pun datang, mereka pun segera menikmati makanan masing-masing.
Di tengah-tengah keasyikan mereka menyantap, tiba-tiba Rianti menyela, membuat ketiga sahabatnya menghentikan sejenak suapan masing-masing.
"Teman-teman, setelah ujian ini kan kita libur. Gimana kalau kita liburan bareng saja. Belum pernah kan kita liburan bareng?" usul Rianti.
"Wah, oke juga usulmu. Sepertinya seru, deh, " sambut Ira dengan tak kalah antusias.
Begitu pula dengan Wulan dan Sania, turut antusias.
"Nah, gimana kalau kita liburan di Villa keluargaku saja? Aku juga sudah lama tidak liburan ke sana. Seingatku terakhir ke sana sekitar 3 tahun yang lalu. Nanti kita bisa belajar naik kuda, berenang di villaku, kebetulan kolamnya indoor, di dalam villa, supaya aman kalau mau berenang, terus kita juga bisa barbeque an di taman belakang dekat kolam renang. Malam hari kita bisa bakar-bakaran, kaya jagung, daging, steak, dan lainnya," Sania mengusulkan tempat mereka menghabiskan liburan bersama.
"Di mana, San?" tanya Ira.
"Di Puncak, Bogor, " jawab Sania.
"Oke juga, sepertinya seru. Kita siapkan bahan-bahannya untuk barbeque an, " seru Wulan ikut semangat.
Semua sepakat untuk menghabiskan masa liburan mereka di Villa milik keluarga Sania. Mereka pun mulai menyusun rencana, kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan di sana.
__ADS_1
Akhirnya, selesailah Ujian Penilaian Akhir Semester yang berlangsung selama beberapa hari. Rapot pun telah mereka terima dengan hasil yang baik. Bahkan keempat remaja belia bersahabat ini pun mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Setidaknya lima besar mereka raih.
Rianti mendapatkan ranking 1, bahkan nilainya yang tertinggi bukan hanya di kelasnya saja, tapi seluruh angkatan. Seperti biasa, Rianti selalu mendapatkan ranking pertama sejak masih SD, SMP, hingga kini. Berikutnya, Ira menempati ranking ke dua, nilainya hanya rendah sedikit dari Rianti. Sania, mendapatkan ranking ketiga, sementara Wulan harus puas mendapatkan rangking 5 di kelasnya. Meski begitu mereka tetap menerima dan puas akan mencapai mereka dalam prestasi akademik di tahun ini.
Rianti, memang dikaruniai otak yang cerdas, namun tidak membuatnya sombong dan pelit ilmu. Gadis manis berkacamata minus ini selalu menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya tentang pelajaran yang tidak dipahami. Dan tak pernah segan mengajari teman-temannya dengan sabar dan telaten, hingga penjelasannya mudah dipahami. Karena itulah, teman-temannya banyak yang menyukainya.
***
Sesuai rencana, Rianti, Ira, Wulan dan Sania ingin menghabiskan waktu liburan bersama di Villa milik keluarga Sania. Tania, adik Sania merengek ingin ikut liburan bersama kakak dan sahabat-sahabatnya. Kebetulan Tania pun memang cukup dekat dengan mereka. Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 mereka sudah berkumpul di rumah Sania. Karena akan berangkat bersama dari rumahnya. Setelah sarapan yang disediakan oleh Mami Sania dan Tania, mereka pun mulai berangkat. Dengan menggunakan satu mobil, dan dikendarai oleh Mang Asep, supir keluarga Sania dan Tania.
Setelah menghabiskan waktu selama dua jam akhirnya sampai juga mereka di Villa milik keluarga Sania dan Vani Kelima remaja belia itu, langsung keluar dari mobil sambil melihat-lihat keadaan di sekeliling Villa tersebut. Vila yang sederhana, berbahan dasar kayu, tidak terlalu besar namun elegan, cukup untuk liburan bersama keluarga. Pemandangan di belakang villa tersebut sangat indah. Terlihat pegunungan yang seolah menambah suasana indah villa ini. Sejauh mata memandang terlihat pula area perkebunan teh, dan rumah-rumah penduduk.
Sania mengajak sahabat-sahabatnya untuk memasuki Villanya. Mereka berjalan mendekati pintu depan. Mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!" sapa Sania dan Tania.
Ya, mereka adalah sepasang suami istri
yang bertugas menjaga dan merawat villa ini. Namanya Mang Supri dan Bi Arum. Namun tidak tinggal di sini. Karena rumah mereka tidak jauh dari Villa ini. Setiap dua hari sekali mereka pasti kemari untuk mengurus villa ini agar selalu dalam keadaan rapi dan bersih.
Mang Supri dan Bi Arum tampak memperhatikan wajah-wajah belia di depannya. Lalu keduanya tampak mengenal dua sosok yang tampak tak asing.
"Masya Allah, pasti ini Non Sania dan Non Tania, ya? Sudah tumbuh besar, ya. Sampai agak pangling Bibi. Habisnya kalian sudah lama tidak kemari?" tanya Bi Arum.
"Benar, Bi. Aku Sania, dan ini adikku, Vania. Apa kabar, semua sehat?" jawab Sania dengan ramah.
"Dan ini pasti teman-temannya Non, ya?" tanya Mang Supri, sambil menatap Ira, Wulan dan Rianti satu per satu.
__ADS_1
"Benar, " jawab Rianti, Ira dan Wulan dengan senyum ramah.
Sania kemudian memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada Mang Supri dan Bi Arum, lalu menjelaskan siapa sosok kedua paru baya berbeda jenis kelamin ini.
"Ayo, masuk, silakan duduk! Aduh, kalian pasti capek setelah dalam perjalanan jauh. Mau Bibi buatkan minum?" tawar Bi Arum
"Boleh, Bi, tapi kami mau ke kamar dulu. Mau simpan tas dan bersih-bersih dulu, biar segar, " ujar Sania.
"Oh iya, baik, Non. Nanti minumannya mau diantar ke kamar atau gimana?" tanya Bi Arum lagi.
"Di simpan di sini saja, Bi. Nanti kami ke sini lagi, kok, " jawab Sania.
"Oh iya, Mang Supri mau minta kunci kamarku, sama teman-temanku, " pinta Sania kepada Mang Supri.
"Oh iya, ini, Non, " Jawab Mang Supri sambil menyerahkan kunci-kunci tersebut. "Kamar-kamarnya sudah Mamang siapkan, kok. Kan sudah diberitahu oleh Tuan Besar kalau Non dan teman-temannya mau liburan di sini, " jawab Mang Supri.
"Oke, terima kasih, ya Mang, " ujar Sania.
"Sama-sama, Non, " sahut Mang Supri, sambil berpamitan mau mengerjakan pekerjaan yang tertunda karena menyambut kedatangan anak majikan dan sahabat-sahabatnya itu.
Sania mulai mempersilakan sahabat-sahabatnya untuk memilih kamar yang ingin mereka tempati. Lalu menyerahkan kunci untuk masing-masing kamar. Satu orang mendapatkan satu kamar. Sedangkan Sania dan Tania menempati kamar yang biasa mereka tempati jika datang ke Villa ini.
Mereka mulai memasuki kamar masing-masing, yang berada di lantai dua. Semua kamar memang berada lantai dua dan tiga. Masing-masing lantai terdapat sepuluh kamar. Sedangkan lantai satu disetting sebagai tempat berkumpul. Di sana juga terdapat kolam renang indoor, dapur, dan taman. Tipe kamar-kamar di sini memang dibuat sama, kecuali kamar milik orang tua Sania dan Tania. Terdapat kasur berukuran sedang di setiap kamarnya yang tampak rapi, bersih, dan wangi. Lemari pakaian berukuran dua pintu, dan kamar mandi. Tak lupa balkon yang ada di samping, dengan jendela yang cukup luas, pencahayaan cukup terasa, ditambah lagi dengan atapnya yang tampak tinggi, membuat sirkulasi udaranya tampak lancar.
Semua kamar mendapatkan view berupa pemandangan indah yang mengarah ke perkebunan teh dan pegunungan. Villa ini sengaja dibangun di tengah perkebunan teh. Rumah-rumah penduduk tampak terlihat. Jadi, siapapun bisa menikmati pemandangan indah itu. Belum lagi jika sore hari atau pagi hari gunung itu tampak berkabut. Udara sejuk pun akan terasa lebih menggigit mulai menjelang malam hingga dini hari.
Setelah puas melihat-lihat interior kamar masing-masing, para gadis itu mulai memasukkan pakaiannya ke lemari yang ada di kamar itu. Sebagian ada yang merebahkan diri dulu, sekedar meluruskan punggung yang terasa pegal, sambil mencoba keempukan kasur yang ditempati. Ada juga yang langsung membersihkan diri dulu, atau sekedar buang air, dan mencuci muka saja. Semua sibuk dengan aktivitas pribadi masing-masing.
__ADS_1