Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Mulai Kuliah


__ADS_3

Satu bulan sudah Daffa dan Rima menikah. Hubungan keduanya semakin dekat dan mesra. Pagi ini, Rima berencana mau ke calon kampus tempatnya kuliah. Dengan diantar oleh Daffa, suaminya. Kebetulan Daffa tidak ada jadwal kuliah pagi, baru ada nanti siang, jam 13.00.


Hari ini memang waktunya untuk melakukan pendaftaran ulang bagi para mahasiswa baru. Rima begitu mantap dan bersemangat mengambil jurusan desain mode. Melanjutkan kegemarannya dalam hal menjahit. Suaminya memberi kebebasan untuk menentukan pilihan yang sesuai minat dan bakatnya.


Setelah sarapan pagi, sepasang suami istri muda itu langsung berpamitan kepada Wirawan dan Linda. Kemudian mobil pun langsung meluncur dengan kecepatan sedang menuju tempat calon kampus istrinya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di sana. Daffa langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang terlihat sangat luas. Setelah keduanya keluar dari mobil, langsung melangkah masuk ke gedung kampus itu. Keduanya sempat bertanya tentang tempat melakukan daftar ulang kepada satpam yang berjaga di depan kampus. Setelah itu, langsung melangkah menuju tempat yang telah ditunjuk tadi.


Suasana kampus pagi ini terlihat cukup ramai, terutama di ruangan seperti aula, tempat melakukan daftar ulang. Sepertinya mereka para mahasiswa baru juga seperti Rima. Tampak antrian begitu panjang. Di depan sana, terdapat beberapa meja beserta orang-orang yang menerima mahasiswa. Sesuai jurusan yang akan diambil oleh para mahasiswa baru itu.


Setelah bersabar menunggu antrian, akhirnya tibalah giliran Rima yang melakukan pendaftaran ulang. Daffa masih setia menemani di sampingnya. Ikutan antri.


Lima belas menit berlalu akhirnya proses daftar ulang itu selesai. Keduanya langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


"A, sebelum kita pulang temani aku dulu keliling kampus ini, ya. Mau lihat-lihat. Terutama jurusan aku nanti, " pinta Rima dengan tatapan memohon. Membuat Daffa tidak dapat menolak keinginan istri belianya itu.


"Baiklah, ayo!" sambut Daffa sambil meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.


Keduanya berjalan keliling kampus dengan berjalan kaki. Hitung-hitung olah raga, pikirnya. Hingga langkah mereka tiba di gedung jurusannya. Di depan pintu gerbangnya terdapat sebuah papan bertuliskan Desain Mode. Melihat itu, langsung melangkahkan kakinya dengan ringan. Di dalamnya, terdapat banyak ruangan tempat kuliahnya nanti. Ternyata di dalamnya, tepatnya di tengah gedung terdapat kantin yang terlihat sangat luas. Bisa menampung ribuan orang. Di sinilah biasanya para dosen dan mahasiswa, mencari pengganjal perut.


Setelah puas berkeliling dan menghabiskan waktu hingga dua jam, akhirnya Daffa dan Rima memilih kembali pulang ke rumah. Sampai di rumah keduanya duduk di ruang tengah.


Linda yang mendekati anak dan menantunya dan ikut nimbrung. Duduk di sofa kecil.


"Bagaimana, sudah daftar ulangnya?"


"Sudah, Mi, sambil keliling-keliling dulu. Biar nanti nggak bingung lagi, " jawab Rima.


"Terus, kapan kamu mulai kuliahnya? Sudah ada jadwalnya?" tanya Linda lagi.


"Dua Minggu lagi, Mi, " jawab Rima.


Selanjutnya mereka bertiga melanjutkan obrolan ringan sambil bercanda ria.


***


Dua Minggu kemudian


Hari ini adalah hari pertama bagi Rima untuk menimba ilmu di kampus barunya. Berangkat dengan diantar oleh Daffa, setelah itu barulah suaminya itu melanjutkan kembali ke kampusnya.


"Pulang jam berapa?" tanya Daffa sebelum gadis itu benar-benar turun dari mobil.


"Ba'da Zuhur, A, kira-kira jam 12.30, " jawab Rima.

__ADS_1


"Oke, nanti Aa jemput, ya. Kita ketemu di masjid kampusmu saja. Sekalian shalat Zuhur di sana, " ujar Daffa.


Rima menganggukkan kepalanya, lalu mencium punggung tangan suaminya. Membuat Daffa tersenyum dan mengecup kening istrinya dengan mesra.


"Oke, sampai ketemu nanti, ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Rima membuka pintu, dan melangkah masuk ke dalam gedung kampusnya. Setelah memastikan istrinya sudah masuk ke kampusnya dan bayangannya menghilang barulah Daffa menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat itu menuju kampusnya.


***


Siang ini begitu terik. Debu jalanan terlihat beterbangan, menambah suasana panas. Daffa memarkirkan mobilnya di kampus istrinya. Diliriknya jam yang ada di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 11.30.


Daffa langsung memutuskan untuk langsung masuk ke dalam masjid, sambil menunggu adzan. Namun sebelum ke masjid, laki-laki itu sempat membeli dua botol minuman air mineral, satu untuknya dan satunya lagi untuk istrinya nanti.


'Pasti dia haus banget, ' gumam Daffa sambil membayangkan wajah lesu dan berkeringat karena cuaca panas. Seketika laki-laki itu menarik bibirnya membentuk senyuman.


Akhirnya suara adzan pun mulai berkumandang dari masjid. Daffa langsung mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah dengan yang lain. Setelah selesai shalat, Daffa mengeluarkan mushabnya untuk bertilawah sebentar sambil menunggu istrinya keluar dari kelasnya.


Tepat pukul 12.30, Rima keluar dari kelasnya dan langsung melangkahkan kakinya menuju masjid kampus. Dari kejauhan, gadis itu sudah melihat suaminya yang terlihat asyik menunduk, seperti sedang membaca sesuatu. Setelah dekat barulah tahu bahwa ternyata suaminya sedang bertilawah. Saking seriusnya, sampai tidak menyadari kehadirannya.


"Assalamualaikum," sapa Rima lembut sambil tersenyum manis.


Rima mencium punggung tangan laki-laki itu lalu duduk di samping kanannya.


"Serius amat, sih. Sampai tidak sadar kalau istrinya sudah ada di dekat suaminya," sindir Rima, pura-pura merajuk.


"Maaf, deh, nggak sengaja, kok, " jawab Daffa menjelaskan, lalu mengusap lembut kepalanya.


"Capek? Gimana kuliah hari ini, menyenangkan?" tanya Daffa penuh perhatian sambil menyeka kening istrinya yang terlihat berkeringat. Membuat Rima kembali tersenyum menerima perhatiannya itu.


"Alhamdulillah, cukup menyenangkan di hari pertama ini. Langsung dapat teman baru, " cerita Rima.


"Temannya perempuan atau laki-laki, nih?" tanya Daffa setengah menyelidiki.


"Ya, perempuan, lah, A. Masa laki-laki," sahut Rima setengah kesal mendengar pertanyaan suaminya.


"Oh, oke, jangan berteman dengan laki-laki, ya!" Daffa mengingatkan dengan nada posesif.


"Ya, tentu tidak lah. Sejak kapan Rima punya teman laki-laki. Aa nih ada-ada saja, deh, " jawab Rima masih kesal.


"Sip, baguslah, Aa percaya sama kamu, kok," ujar Daffa akhirnya.

__ADS_1


"Ya, sudah Rima shalat dulu, ya. Aa lanjutin saja tilawahnya, " pamit Rima.


Daffa mengangguk. Matanya tak lepas menatap punggung istrinya yang berjalan menjauh menuju toilet khusus wanita. Di dalam terdapat banyak keran untuk berwudhu. Rima masuk dulu ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah itu barulah berwudhu. Setelah itu, gadis itu keluar dari sana, masuk ke masjid melalui pintu bertuliskan Area Akhwat. Segeralah ia masuk, mengeluarkan mukena parasit yang selalu dibawanya di dalam tas, dan mengenakannya. Dan langsung menunaikan shalat Zuhur dengan khusu'. Dilanjutkan shalat rawatib.


Setelah semua ritual ibadahnya selesai, gadis itu keluar dari sana dan kembali menghampiri suaminya yang masih setia menunggu di teras depan masjid. Langsung duduk di sampingnya.


Merasakan kehadiran istrinya, Daffa langsung menoleh dan tersenyum manis.


"Sudah shalatnya?" tanya Daffa.


"Ya, sudah, " jawab Rima.


"Ngomong-ngomong, Aa lapar, nih. Kita cari makan dulu, yuk!" ajak Daffa sambil mengelus perutnya sendiri.


"Oke, kita coba dimakan di kantin saja, yuk. Katanya enak-enak loh makanannya, " Rima balik mengajak suaminya.


Laki-laki itu hanya mengangguk dan segera berdiri sambil mengulurkan tangannya membantu istrinya untuk ikut berdiri. Lalu keduanya melangkah menuju kantin dengan saling bergenggaman tangan.


Sampai di kantin, keduanya segera memesan makanan. Keduanya melihat daftar menu yang memang tersedia di meja itu.


"Kamu mau pesen apa, Rim?" tanya Daffa.


"Pecel ayam saja, deh. Sama minumannya es jeruk, " jawab Rima.


"Itu saja?" tanya Daffa, sambil menuliskan menu yang diinginkan oleh istrinya tadi dalam secarik kertas kecil yang disediakan di situ.


"Iya, Aa mau makan apa?" kali ini gantian Rima yang bertanya.


"Ehm, soto lamongan sama nasi saja, deh. Minumnya es jeruk, " jawab Daffa sambil melanjutkan menulis menu yang diinginkannya.


Rima segera mengambil kertas kecil itu dan memberikannya kepada pelayan.


"Tunggu sebentar, ya, Mas, Mbak," jawab pelayan itu.


Keduanya hanya tersenyum.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Keduanya langsung menyantap makan siang mereka dengan lahap.


Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Ingin segera sampai di rumah dan beristirahat.


Tiga puluh menit berlalu keduanya telah sampai di rumah, langsung masuk ke kamar. Secara bergantian, mereka membersihkan diri dan berganti dengan baju santai.


Lalu keduanya merebahkan diri di ranjang mereka. Daffa mendekap tubuh istrinya dengan erat. Rima pun membenamkan kepalanya di atas dada bidang milik suaminya. Saling mencari kenyamanan dari pasangannya. Puas bercengkrama akhirnya keduanya terlelap dengan posisi masih tidak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2