Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Masa Orientasi Siswa Baru 3


__ADS_3

Saat Rianti dan Ira sedang asyik mengobrol, masuk pula Wulan dan Sania ke dalam kelas dan duduk di belakang mereka.


"Wah, kalian sudah duluan sampai, toh!" seru keduanya bersamaan.


"Kompaknya," seru Rianti, lalu semuanya tertawa.


"Eh iya, ke mana saja tadi kalian?" Tanya Rianti, sambil memandangi keduanya bergantian.


"Ya, keliling ke semua stand. Seru-seru ternyata, " jawab Wulan.


"Terus gimana, kamu mau ikutan apa?" kejar Rianti, penasaran.


"Aku pengen masuk mading, seru juga ternyata kegiatannya. Belajar nulis dengan multimedia, jurnalistik, broadcasting, sampai fotografi. Kalian tahu, kan, sekarang zamannya apa-apa pakai internet, gadget. Dan yang paling kusuka karena ada fotografinya, " jawab Wulan dengan senang.


"Oh, jadi kamu suka fotografi, ya?" tanya Sania.


"Iya, selain suka nulis juga, sih. Siapa tahu kelak bisa jadi wartawati atau bekerja di media, entah televisi, majalah, koran, atau apapun. Dan untuk fotografi, kesukaanku ini turunan dari papaku. Kami punya usaha studio foto di samping rumah kami. Halaman samping rumah kami dibuat seperti taman, cukup seru dijadikan background foto. Sesekali papaku juga suka jadi fotografer di acara pesta, seperti pernikahan, kerja sama dengan WO, sekaligus sahabatnya sejak SMA. Jadinya, nurun ke aku, deh, " jawab Wulan.


"Oh ya, jadi penasaran kepingin main ke rumahmu. Aku suka sekali melihat taman. Boleh, kan? " tanya Ira antusias.


"Tentu saja boleh, aku akan senang sekali kalau kalian mau main ke rumahku, " jawab Wulan semangat. Tak dapat menyembunyikan rasa senangnya karena mendapatkan teman baru yang bisa langsung akrab seperti ini. Padahal mereka baru kenal dua hari ini.


"Lalu, kau sendiri gimana, Ira. Kau mau gabung di unit yang mana?" tanya Wulan balik.


"Belum tahu, nih, masih bingung. Semuanya keren-keren. Nanti dipikirkan lagi, deh. Sebenarnya aku suka banget bunga-bungaan. Keterampilan tangan gitu, deh. Umiku buka usaha aneka bunga di paviliun rumah kami, kebetulan rumah kami di tepi jalan, jadi mudah dijangkau. Suka merangkai bunga, gitu, kalau ada pesanan. Alhamdulillah, setiap harinya selalu ramai di toko kami, " terang Ira.

__ADS_1


"Wah, asyik juga sepertinya, " seru Wulan.


"Terus gimana denganmu, Rianti, apa yang kau pilih?" tanya Wulan.


"Aku sudah putuskan mau ikutan gabung di unit tata boga. Karena suka saja masak. Terutama kue," jawab Rianti.


"Oh, kamu suka masak kue, ya?" tanya Wulan.


"Iya, karena sering melihat bundaku bikin kue, aku jadi suka, deh, " jawab Rianti.


"Oh gitu, nah kapan-kapan aku mau dong cicipi hasil masakanmu. Aku juga suka kue, tapi suka makannya saja, tidak bisa bikinnya. Nyerah, deh. Beberapa kali coba bikin kue gagal melulu. Jadi, klop kan, kamu yang masak aku yang habiskan, he... he..." ujar Wulan, sambil nyengir dan mengedipkan sebelah matanya.


Melihat itu semuanya jadi tertawa geli melihat tampangnya yang lucu.


"Ya, jangan nyerah dulu dong, baru juga beberapa kali. Udah down duluan. Namanya juga belajar, salah itu wajar. Kan dari situ kita bisa belajar, apa yang bikin gagal kuenya," Rianti memberi semangat pada Wulan.


"Nah, itu tuh yang harus dihilangkan dulu. Maunya langsung bagus, sempurna, tapi karena kurang sabar jadinya malah nyerah dan ditinggal, deh, " tukas Rianti.


"Oh iya, kamu sendiri gimana Sania, sudah diputuskan mau pilih apa? Rasanya dari tadi kamu diam saja, deh," tanya Rianti.


"Emh, aku suka saja dengar cerita kalian, ternyata masing-masing punya kegemarannya sendiri, ya. Ternyata mimpi itu membuat hidup kita jadi lebih bersemangat dan bermakna. Punya tujuan hidup, " jawab Sania sambil menatap sahabat-sahabat barunya itu satu per satu.


"Ya, kamu benar, dengan punya mimpi kita jadi bersemangat berusaha untuk meraih mimpi itu agar menjadi kenyataan. Bukan sekedar khayalan saja," jawab Ira.


"Eh, kamu belum jawab pertanyaanku, loh, " Rianti mengingatkan.

__ADS_1


"Kalau aku, suka dengan olah raga panahan. Sejak SMP aku sudah berlatih panahan. Eh, ternyata di sini ada juga, jadi mau dilanjutkan di sini juga. Biar sekalian sekolah, " jawab Sania.


Ketiga gadis manis yang mengerubunginya itu tampak kaget dengan kegemarannya. Sama sekali tidak disangka.


"Oh, jadi kamu suka panahan, ya? Bukannya itu cocok untuk laki-laki, ya?" tanya Wulan akhirnya.


"Siapa bilang, perempuan juga bisa, kok. Banyak juga yang belajar. Bagiku, panahan itu mengajarkan kita untuk lebih fokus mengerjakan sesuatu, lebih konsentrasi, selain bisa membuat badan menjadi fit terus. Dan yang penting tidak mengurangi keanggunan kita sebagai wanita. Suka saja. Lebih dari itu, panahan adalah salah satu olah raga yang dianjurkan oleh Rasulullah, " tukas Sania, membantah kata-kata Wulan.


"Oh, begitu, ya. Selama ini latihannya di mana? Apa di sekolahmu dulu ada juga panahan?" tanya Ira.


"Tidak, ini kegiatanku di luar sekolah, di sekolah aku hanya ikutan rohis saja. Aku gabung di klub panahan khusus muslimah di luar sekolah. Konon, pelatihku dulu seorang atlet, banyak menyabet sejumlah penghargaan dari cabang olahraga panahan. Tapi sejak menikah dan punya anak ia memutuskan untuk berhenti menjadi atlet dan menjadi pelatih saja. Lalu membuka klub panahan khusus muslimah. Aku tertarik bergabung di klub panahan miliknya. Ya, bisa dikatakan dia idolaku, kagum padanya, " jawab Sania.


"Oh, gitu, sepertinya menarik juga, tuh. Berarti kamu juga udah jago, dong. Secara sudah latihan sejak SMP. Hm, jadi penasaran, pengen lihat kamu latihan, " seru Rianti.


"Ah, nggak juga, Rianti. Aku masih belajar juga, kok. Nanti kalau sudah mulai latihan kalian boleh lihat. Atau kapan-kapan kuajak ke tempat aku biasa latihan. Mau? " tanggap Sania dengan merendah.


Ketiganya mengangguk dengan antusias.


Tak lama, suasana kelas terasa ramai. Ternyata semua teman-temannya telah kembali ke kelas mereka. Sebentar lagi waktunya shalat Zuhur dan bersiap pulang ke rumah masing-masing.


Selama dua hari ini terasa bermakna bagi keempat gadis remaja ABG yang mulai menata diri, merancang masa depan mereka. Begitu pula bagi teman-temannya yang lain. Karena mereka bisa menyalurkan hobi dan kegemarannya masing-masing.


Di saat banyak gadis-gadis remaja seusia mereka hanya berpikir untuk bersenang-senang, berhura-hura saja hari ini, tanpa memikirkan nasib mereka di hari esok. Ingin menjalani hidup sebebas-bebasnya, mumpung masih muda, menurut mereka. Dunia remaja hanya datang satu kali, dan tidak akan pernah kembali. Karena itu, mereka ingin menikmatinya tanpa beban apapun.


Itulah jiwa remaja yang berjiwa bebas, lepas. Masih belum mengerti akan beban kehidupan ini. Untuk apa mereka ada di dunia ini, dan bagaimana mereka harus menjalani hidup ini. Padahal, semua itu kelak akan mereka hadapi. Jika tidak dipersiapkan sejak awal, bisa saja mereka tergerus arus pergaulan yang salah, yang merusak masa depan mereka sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2