
Dunia adalah tempat berbuat, berusaha, dan berjuang
Kelak akan kita petik hasilnya saat menghadap-Nya
Di manakah tempat kita nanti?
Semua tergantung amalan kita masing-masing
Semua bertanggung-jawab atas diri kita masing-masing.
****
Satu minggu setelah masa orientasi siswa, seluruh rangkaian acara ditutup dengan kegiatan berkemah selama dua hari satu malam di Bumi Perkemahan Khayangan, Puncak, tepatnya hari Jum'at dan Sabtu. Semuanya tampak senang dengan cara SMA Cendekia dalam menyambut penerimaan siswa dan siswi baru di sekolah ini. Masa orientasi yang menyenangkan.
Sama sekali tidak ada kesan seram dan menakutkan, seperti beberapa sekolah yang melakukan perpeloncoan dengan cara kekerasan berbau pembulian, hingga menimbulkan trauma dan rasa dendam serta hanya menciptakan ruang yang menganga lebar antara senior dan yuniornya yang baru masuk itu. Menciptakan atmosfir yang tidak sehat, seperti persaingan yang tidak sportif. Yang senior merasa superior, sehingga berhak melakukan apapun terhadap juniornya. Sementara para junior tidak boleh protes, kudu nurut, jika tidak ingin dihukum. Tak jarang, hukumannya itu berupa fisik, seperti bentakan, makian, sampai pemukulan, tendangan, yang pasti melukai fisik dan hati mereka. Alhasil, atmosfer itu seringkali menjadi momok menakutkan bagi setiap siswa dan siswi baru di mana pun.
Namun, berbeda dengan SMA Cendekia dalam menyambutnya. Sesuai dengan namanya, sekolah ini memiliki visi dan misi mulia, yaitu mencetak generasi masa depan yang cemerlang, membentuk pribadi yang cerdas dengan ilmunya yang bermanfaat, tetap mengikuti perkembangan zaman, namun tetap diikat dengan ketakwaan. Supaya tidak kebablasan. Menyeimbangkan antara IQ (Inteligen Question), EQ (Emotional Question), dan SQ (Spiritual Question). Antara ilmu dan agama tidak terpisah. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan. Jadi, sejak awal sekolah ini menunjukkan sikap ramah anak. Menciptakan persaingan yang sehat.
Bahkan dari unit kegiatan yang ada, dibuat sedemikian rupa agar dapat memberi manfaat lebih untuk masa depan mereka. Menciptakan life skill bagi hidup mereka kelak. Bukan sekedar mendirikan saja. Tak heran, sekolah ini menjadi salah satu SMA favorit di kota ini. Bisa dibuktikan dari para lulusannya bisa sukses menggapai cita-citanya namun tetap mampu menjaga diri mereka dari hal-hal yang dapat merusak mereka. Apalagi merusak keyakinan. Sehingga bisa tetap survive di manapun berada. Bisa menjawab tantangan zaman tanpa merusak keyakinan dan kepribadian mereka.
Hari ini, para siswa dan siswi mulai sibuk mengikuti proses belajar mengajar secara normal, berdasarkan jadwal mata pelajaran masing-masing. Baju seragam pun telah berganti, sama dengan seniornya. Tidak lagi pakai seragam SMP asal sekolah sebelumnya. Hari ini juga semuanya berkumpul berdasarkan unit kegiatan yang sudah dipilih. Di ruang-ruang kelas yang kosong yang sudah ditentukan. Sebagai pertemuan pertama.
Begitu pula dengan Rianti, Ira, Wulan, dan Sania. Mereka berpencar menuju unit kegiatan yang diinginkan masing-masing.
Rianti
Rianti tampak memasuki ruang kelas untuk anak-anak baru yang minat bergabung dengan unit Tata Boga, dan mencari tempat duduk di dekat jendela, deretan paling kanan, yang memang kosong. Ternyata sudah banyak yang ada di sana. Matanya beredar ke sekeliling ruangan, mencoba mengenali satu per satu teman-teman barunya. Beberapa wajah dari teman sekelasnya juga ada di sana ternyata. Ternyata, ada juga beberapa laki-laki yang berminat ikut gabung. Cukup kaget juga Rianti melihatnya.
Ternyata, di kelas sudah ada Rizki Restu Putra, Ketua Kelasnya, dan Jamaludin, teman sekelasnya juga. Yang duduk di bangku baris kedua dari belakang. Meski kaum hawa masih lebih dominan jumlahnya yang berminat pada unit ini.
'Ternyata ada juga laki-laki yang suka masak, ' pikir Rianti dalam hati, merasa geli.
Merasa diperhatikan, Rizki menoleh lalu tersenyum, berjalan menghampirinya dan menyapanya, " Hai, Rianti, kamu ikutan tata boga juga?"
"Iya, " jawab Rianti.
__ADS_1
Saat itu juga Rianti dikejutkan dengan seseorang yang mencolek bahunya dari samping.
Seketika Rianti dan Rizki menoleh ke arahnya. Ternyata dia Andini Putri, teman sekelasnya juga.
"Hai, Assalamualaikum, Rianti, Rizki, kalian ikutan tata boga juga?" Sapa Andini.
"Iya, aku memang hobi masak, " jawab Rizki, tanpa rasa malu. Baginya, tidak ada rasa gengsi dan malu dengan hobinya itu. Lagipula banyak juga para chef laki-laki saat ini. Jadi, bukan hal yang memalukan.
"Eh, wa wa'alaikumussalam, Andin. Iya, kamu mau juga ikutan ini?" tanya Rianti.
"Iya, " jawab Andin, singkat.
"Wah, senang rasanya ada teman sekelas yang ikutan juga. Ayo, duduk di sebelahku, kebetulan kosong!" ajak Rianti sambil menggeser duduknya. Memberi tempat duduk untuk Andin. Dengan senang, Andin menuruti keinginan Rianti. Duduk di sebelahnya.
Jamal juga terlihat berjalan mendekati teman-teman mereka, dan menyapa.
"Hai, semuanya. Wah jadi ramai, nih kalau begini."
"Ya udah, aku balik lagi duduk di sana, ya," pamit Rizki, sambil menunjuk tempatnya tadi duduk. Dan mengajak Jamal duduk kembali.
Lalu dilanjutkan dengan beberapa penjelasan tentang apa yang akan dilakukan mereka ke depan. Mulai minggu depan, setiap hari Jum'at untuk perempuan, sedangkan laki-laki hari Kamis. mereka akan memulai kegiatannya secara terpisah, yaitu praktek masak. Untuk menunya, menyusul kemudian. Masing-masing punya jadwal sendiri-sendiri.
Akhirnya, Ira memilih unit kegiatan Tata Busana yang di dalamnya ada kegiatan yang bersifat kerajinan tangan. Ada menjahit, menyulam, merajut, sampai merangkai bunga. Sesuai dengan minatnya.
***
Ira memasuki kelas yang telah ditentukan. Tempat para siswi baru yang berminat untuk gabung di unit kegiatan ini. Lalu memilih duduk di bangku deretan kedua dari kiri, baris kedua, yang memang kosong. Ternyata di sana ada juga teman-teman sekelasnya. Seperti Sari, Tari, dan Indah. Keempatnya melambaikan tangan ke arah Ira sambil tersenyum. Ira pun membalas, lalu berjalan mendekati ketiganya.
"Hai, kalian ikutan ini juga?" tanya Ira.
"Iya, Ra. Mana Rianti, biasanya kamu selalu sama dia ke mana-mana," tanya Indah.
"Oh, dia nggak ikutan di sini, gabung sama unit tata boga. Jadinya pisah, deh, " jawab Ira.
"Oh begitu, ya sudah, duduk di sini dekatku saja, " ajak Indah sambil menunjuk bangku di sebelahnya yang memang kosong.
"Oke, baiklah!" jawab Ira, sambil duduk.
__ADS_1
"Dikira, kalian selalu bersama-sama," ujar Tari.
"Enggaklah, hobi kami masing-masing beda. Dia suka bikin kue, katanya. Makanya pilih tata boga." jawab Ira.
"Oh, begitu rupanya," tanggap Sari sambil manggut-manggut.
Tidak lama kemudian, tampak beberapa kakak senior mereka masuk ke kelas. Yang pertama bicara di depan adalah Rima Susanti, selaku ketua koordinator unit Tata Busana. Dia memperkenalkan diri, lalu mempersilakan teman-temannya yang lain memperkenalkan diri. Selanjutnya, giliran adik-adik baru mereka yang disuruh untuk memperkenalkan diri mereka, yang jumlahnya sekitar 20 orangan.
Selanjutnya, Rima menjelaskan program mereka ke depan. Semuanya mulai aktif minggu depan. Jadi, setiap hari Kamis adalah jadwal mereka untuk berkumpul.
***
Wulan tampak memasuki ruang kelas yang ditentukan untuk berkumpul bersama teman-teman lainnya yang juga berminat untuk bergabung di Unit Jurnalistik. Ternyata ada beberapa orang teman sekelasnya yang sudah hadir duluan. Ada tiga orang perempuan, yaitu Citra, Yulia, dan Yanti, dan dua orang laki-laki, yaitu Randi dan Amir. Tentu hatinya senang saat mengetahui ada teman sekelasnya juga yang memilih Mading. Ternyata banyak juga peminatnya. Ada sekitar 20 orang yang hadir.
Wulan berjalan mendekati bangku Citra, Yulia, dan Yanti. Tampak Yulia duduk sendiri, bangku di sebelahnya kosong.
"Hai, teman-teman kalian ikutan Jurnaliatik juga?" sapa Wulan.
"Iya, " jawab keempat temannya itu serempak.
Mendengar itu, Wulan jadi tergelak
"Kompak benar kalian, " ujar Wulan, merasa geli. Akhirnya semua ikut tertawa.
Tak lama kemudian, senior mereka yang sudah ada di depan kelas memperkenalkan diri. Begitu pula dengan adik-adik junior mereka yang baru. Rupanya, koordinator putra dan putri pun dipisah. Yang menjabat Koordinator Putra adalah Ikbal, senior mereka yang pernah mendampingi kelas 1 A saat masa orientasi siswa kemarin, bersama Deni. Sedangkan yang putrinya dijabat oleh Yunia Saraswati.
***
Sania tampak memasuki ruangan kelas yang telah ditentukan untuk berkumpul bersama teman-teman yang juga berminat untuk bergabung di unit panahan.
Di depan kelas, tampak Deni, senior yang pernah mendampingi kelasnya sedang duduk di meja guru bersama tiga orang temannya yang juga laki-laki, mengelilinginya. Sementara kakak senior lain yang perempuan masih berdiri di dekat pintu. Sambil memperhatikan adik-adik baru mereka.
Setelah dirasa semua sudah berkumpul, akhirnya Deni bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan kelas. Memperkenalkan diri dan teman-temannya. Lalu disusul oleh koordinator akhwat, yaitu Khairunnisa. Akrab disapa Nisa.
Selanjutnya, mereka menjelaskan program latihan mereka ke depan. Jadwal mereka, setiap hari Sabtu. Memang untuk kegiatan olahraga di sekolah ini jadwalnya semua Sabtu, tidak seperti kegiatan yang lain. Biasanya setelah bubar sekolah. Sementara sekolah mereka hanya lima hari, dari Senin sampai Jum'at.
Begitulah kegiatan yang ada di sekolah ini. Ada Koordinator laki-laki dan perempuan, kegiatannya pun terpisah. Kecuali Paskibra, PMR, Pramuka, dan marching band. Semua dikondisikan agar interaksi antara perempuan dan laki-laki tidak terlalu intens dan sering. Menjaga interaksi pergaulan antar dua jenis kelamin ini. Mengingat mereka sudah beranjak remaja yang biasanya sudah mengenal rasa ketertarikan kepada lawan jenis, karena seringnya interaksi antara keduanya. Ya, setidaknya berusaha mengurangi resiko yang muncul kemudian. Hal itu, menjadi perhatian khusus dan ketat di sekolah ini.
__ADS_1