Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Pertemuan Pertama Daffa dan Rima


__ADS_3

Daffa dan Rima melakukan gerakan seperti tadi, saling menangkupkan tangan, bersalaman jarak jauh. Sedangkan Raihan mencium punggung tangan Rima, seperti yang dilakukannya kepada Aini tadi. Dipikirnya, karena Raihan masih kecil, jadi Rima tanpa ragu menyambutnya, bahkan sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Sedangkan dengan Daffa, Rima berusaha tetap menjaga pandangannya. Keduanya telah paham bagaimana pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Berinteraksi sewajarnya saja.


Setelah itu, Linda dan Aini kembali mengobrol, begitu juga dengan Rima dan Ira. Sedangkan Daffa pamit masuk kembali ke dalam rumah setelah dilihatnya Umminya asyik ngobrol lagi. Saling melepas rindu. Diikuti oleh Raihan.


Setelah puas mengobrol, akhirnya Aini dan Rima berpamitan pulang.


Setelah pertemuan itu, Linda sangat ingin menjodohkan Daffa dengan Rima. Supaya persahabatannya dengan Aini semakin erat. Apalagi dia tahu sebentar lagi Rima akan lulus SMA. Malam itu juga, sebelum tidur ia diskusikan dengan suaminya, Wirawan.


"Bi, aku ingin sekali menjodohkan Daffa dengan putri sahabatku, Aini. Yang tempo hari aku ceritakan. Abi ingat, kan?" ujar Linda mengawali pembicaraan.


"Oh, sahabatmu semasa SMA itu, ya?" tanya Wirawan, mencoba mengingat cerita istrinya.


Wirawan masih ingat raut wajah bahagia istrinya saat bercerita tentang pertemuannya dengan sahabat lamanya di toko milik mereka.


"Kenapa kamu tertarik ingin menjodohkan mereka?" tanya Wirawan.


"Aku lihat Rima anaknya baik, begitu menjaga pergaulan dengan laki-laki. Apalagi aku mengenal baik orang tuanya, terutama Aini. Papanya Rima juga aku kenal, walaupun tidak terlalu dekat, dia kakak kelas kami dulu di SMA. Jadi, aku ingin sekali persahabatanku dengan Aini semakin erat, " terang Linda, menjelaskan alasannya ingin menjodohkan Daffa dengan Rima.


"Tapi, bukannya anak sahabatmu itu masih SMA, ya? Gimana kita bisa menikahkan mereka?" tanya Wirawan masih terlihat ragu.


"Sebentar lagi juga lulus, kan sudah kelas 3. Nanti setelah Rima lulus baru kita nikahkan mereka, " jawab Linda.


"Gimana menurut Abi?" tanya Linda, tak sabar ingin tahu tanggapannya mengenai rencananya itu.


Wirawan tampak tercenung mendengar niat istrinya. Sebenarnya dia tidak setuju dengan cara menjodohkan seperti itu. Dia cenderung membiarkan putranya memilih sendiri pasangan hidupnya. Khawatir tidak sesuai dengan keinginan putranya. Bagaimanapun putranya lah yang akan menjalani kehidupan rumah tangga. Pahit dan manisnya akan dijalaninya. Khawatir putranya tidak bahagia.


"Sebaiknya tanyakan dulu ke Daffanya, mau atau tidak. Kita tidak bisa memaksakan kehendak. Bagaimana pun itu kan kehidupan yang akan dijalaninya kelak. Biarlah dia sendiri yang memutuskan, " ujar Wirawan dengan bijak. Mencoba mencari kata-kata yang baik supaya tidak menyinggung perasaan istrinya yang sedang bersemangat itu.


"Ya, nanti akan kutanyakan ke Daffa. Sebenarnya tidak memaksa juga, sih. Kalau merekanya tidak mau, ya tidak apa-apa. Ini cuma ikhtiar saja mencarikan jodoh yang baik untuk anak kita, " ujar Linda.

__ADS_1


"Iya, aku ngerti. Setiap orang tua pasti inginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi harus diingat juga yang terbaik menurut kita belum tentu sesuai dengan pilihan anak kita. Pertimbangkan juga dari sisi mereka, terutama Rima, calon mantu kita, mengingat dia masih sangat muda. Masa depannya kan masih panjang, bisa jadi dia punya keinginan menggapai cita-citanya dulu, kuliah, dan sebagainya, baru menikah, " ujar suaminya lagi.


"Iya juga, sih. Ya sudah, nanti pelan-pelan saja aku tanyain ke Daffa, " ujar Linda.


"Ngomong-ngomong, kamu ngebet banget sih pengen cepat punya mantu? Udah siap jadi nenek emangnya? Wah, tua amat ya, kita, " Wirawan mencoba mengajak istrinya bercanda.


"Idih, Abi, nggak setua itu juga kali. Yang pasti mah jadi neli alias nenek lincah. Kan asyik kalau Daffa cepat nikah, pas punya cucu kitanya masih sehat, bugar, belum rempong sama sakit ini lah, itu lah, khasnya orang-orang tua. Lagian apa Abi nggak ingat gimana kita dulu. Aku juga nikah selepas lulus SMA, Abi yang ngelamar aku duluan, kan? " seru Linda menanggapi candaan suaminya.


"Sebenarnya sih ini terlintas begitu saja, setelah ketemu lagi sama Aini. Terus pas tadi aku kenalin Daffa dan Raihan ke Aini dan Rima. Tiba-tiba kepikiran, rasanya seru ya, kalau bersatu menjadi keluarga besar, aku juga nggak perlu penyesuaian lagi sama calon besan. Gitu aja, sih, " ujar Linda.


Wirawan tergelak mendengarnya, lalu ingatannya terbang ke masa bagaimana kisah mereka dulu.


Flashback On


Wirawan adalah guru les Linda di tempat bimbel. Sekaligus pemilik tempat bimbel itu. Dia juga masih kuliah. Semenjak masuk kelas 3, Linda memutuskan ikut bimbel untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Ia ingin lulus dengan nilai yang baik. Agar bisa kuliah di universitas yang diincarnya dari dulu. Karena itu, dengan semangat Linda berusaha keras untuk meraih mimpinya.


Sambil terus mengajari Linda dan teman-temannya, Wirawan tetap berusaha menjaga pergaulannya dengan murid-muridnya, terutama perempuan. Tidak menunjukkan langsung perhatiannya kepada Linda.


Berkat kegigihannya, Linda sukses mendapat nilai yang baik, bahkan yang tertinggi di sekolahnya. Dan berniat melanjutkan studinya.


Tepat di hari akhir pertemuan di tempat bimbel, Wirawan mengutarakan niatnya untuk menikahinya. Awalnya, Linda merasa kaget dengan lamaran dadakan itu. Akhirnya, meminta waktu untuk berpikir dulu. Wirawan pun bersedia menunggu jawabannya.


Sampai di rumah, Linda langsung membicarakannya dengan kedua orang tuanya. Mendengar itu, tentu saja mereka terkejut. Tidak menyangka jika putrinya ada yang mau melamar secepat itu. Namun sebagai orang tua, mereka mencoba menyelami perasaan anaknya,


"Kamu sendiri gimana mau menerimanya? Sudah dijawab?" tanya Abinya


Linda menggelengkan kepalanya.


"Belum, sih, Linda minta waktu dulu untuk berpikir dan bicara dulu sama Ummi dan Abi. Syukurnya, dia mau kasih waktu. Bingung jadinya, padahal pengen banget kuliah selepas lulus SMA, tapi kalau nikah, gimana ini? Nanti jadi tidak bisa fokus mengurus suami dan anak, dong, " jawab Linda, kebingungan tampak tergambar di wajahnya.

__ADS_1


Melihat itu, akhirnya Adiguna, Abi Linda memberi nasihat, "Ya sudah, kalau kamu bingung sebaiknya shalat istikharah dulu. Minta sama Allah agar diberikan keputusan yang terbaik. Mau fokus kuliah dulu, atau mau kuliah sambil nikah, atau mau langsung nikah saja, fokus jadi ibu rumah tangga. Abi dan Ummi akan menghormati dan mendukung apapun keputusanmu. "


"Ya, Abi. Kalau gitu, aku shalat istikharah dulu saja, deh. Semoga Allah kasih keputusan yang terbaik untukku, " ujar Linda, menyetujui masukan dari abinya.


Wirawan sengaja memberi waktu agak luang kepada Linda, sampai kelulusan. Karena tak ingin membuatnya tertekan atau terkesan memaksa. Mencoba mempertimbangkan dari sisinya. Membiarkannya menghadapi ujian akhir dengan tenang. Tahap ada beban pikiran apapun.


Baru setelah mendengar kelulusannya, apalagi setelah tahu nilai-nilainya bagus, bahkan tertinggi di sekolahnya. Wirawan memberanikan diri kembali untuk menanyakan jawabannya.


"Linda, bagaimana dengan lamaranku waktu itu. Sudahkah ada jawabannya? Atau kamu punya rencana lain?" tanya Wirawan dengan hati-hati.


"Ehm, begini Pak, sebelum dijawab ada yang mau ditanyakan, dulu. Kalau aku mau kuliah apakah Bapak tetap ingin menikah denganku? Apakah Bapak tidak keberatan jika nantinya harus berbagi waktu antar kuliah dan mengurus rumah tangga?" tanya Linda.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menghalangimu. Silakan saja kalau kamu mau kuliah selama bisa mengatur waktumu dengan baik. Jangan sampai ada kewajiban yang terlalaikan. Karena menuntut ilmu dan mengurus rumah tangga, menjadi istri dan ibu sama-sama kewajiban, " jawab Wirawan tegas. Jawaban inilah yang diinginkan oleh Linda. Membuatnya mantap mengambil keputusan.


Karena itu, Linda mempersilakan untuk datang sendiri ke rumahnya, menemui orang tuanya untuk melamarnya langsung kepada abinya. Besoknya Wirawan datang ke rumahnya bersama dengan kedua orang tua. Melamar secara resmi. Setelah itu, segera diputuskan kapan waktu mereka menikah. Akhirnya jadilah mereka menjadi sepasang suami istri dua bulan kemudian. Wirawan memenuhi janjinya, tidak akan menghalangi istrinya untuk kuliah. Dan Linda pun berusaha keras untuk bisa mengatur waktunya dengan baik antara kuliah dan mengurus rumah tangga.


Flashback Off


Lamunan Wirawan dipecahkan oleh suara istrinya yang memanggilnya dari tadi sambil menepuk lengannya pelan. Merasa kesal karena diabaikan, dari tadi omongannya tidak didengar.


"Abi, ih, dari tadi diajak ngomong malah ngelamun. Mikirin apa, sih?" tanya Linda.


"Eh, iya, iya maaf, tadi tiba-tiba saja aku ingat dengan kisah kita dulu. Bisa diulangi tadi ngomong apa?" terang Wirawan.


"Nggak ada siaran ulang, sudah ah ngantuk, " jawab Linda dengan ketus sambil rebahan dan menarik selimutnya menutupi tubuhnya kecuali wajahnya. Dan membelakanginya. Masih kesal rupanya.


"Duh, yang lagi ngambek, gitu amat, sih. Maaf, atuh. Kan kamu juga yang tadi ngingetin ke masa lalu kita. Jadi saja keingetan lagi. Mana mungkin aku lupa dengan kenangan kita, sayangku, " rayu Wirawan sambil memeluk pinggangnya dari belakang.


Wirawan terus berusaha merayunya hingga kekesalannya jadi lumer. Lalu keduanya tidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2