Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Wisuda dan Pelepasan Siswa


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Hari ini adalah hari Wisuda dan Pelepasan siswa kelas 3 di SMA Cendekia. Rima dan orang tuanya tampak telah hadir di gedung tempat diselenggarakannya acara tersebut. Rima tampak cantik dan anggun dalam balutan gamis berwarna kuning gold polos dipadukan dengan khimar warna senada dengan gamisnya, lalu di luar gamisnya dikenakan pula seragam khas wisuda berwarna hitam, lengkap topi khas wisuda yang bertengger manis di atas kepalanya.


Hari ini benar-benar hari spesial untuk Rima dan teman-temannya yang juga akan diwisuda. Mereka duduk di kursi yang disediakan oleh panitia. Yaitu di sisi bawah panggung sebelah kanan untuk siswa laki-laki, di sisi bawah panggung sebelah kiri untuk perempuan, dengan posisi saling berhadap-hadapan.


Sementara para guru, undangan, orang tua duduk di sisi sebelah kanan, menghadap panggung. Sedangkan adik kelas mereka yang terdiri dari kelas 1 dan 2 duduk di sisi kanan menghadap panggung. Mereka semua ingin menghadiri acara ini.


Tepat pukul 08.00 acara pun dibuka oleh MC. Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran, acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah, undangan dari pihak Diknas kota B, perwakilan orang tua siswa, dan terakhir sambutan dari siswa dan siswi secara bergantian. Keduanya adalah yang mendapatkan nilai dan ranking terbaik di SMA Cendekia. Setelah keduanya menerima ijazah dan tanda kelulusan.


Lalu dilanjutkan dengan pemanggilan semua siswa-siswi kelas 3 yang akan menerima ijazah dan tanda kelulusan di atas panggung. Begitu pula dengan Rima. Dengan iringan musik instrumental khas wisuda. Suasana menjadi kian syahdu dan penuh keharuan.


Rima mengenang semua yang pernah dialaminya selama di SMA-nya. Berbagai kenangan manis dan pahit seolah berkelebatan di benaknya. Bagai rekaman indah yang memenuhi otaknya. Kelak semua itu akan menjadi kenangan indah yang takkan mungkin bisa dilupakan seumur hidupnya.


Ya, Rima mengenang semuanya. Mulai saat pertama kali menginjakkan kakinya di gedung sekolah itu. Lalu keaktifannya di unit Tata Busana hingga mengantarkannya menjadi Ketua Umumnya. Sampai pertemuannya dengan adik kelasnya bernama Ira di masa orientasi siswa gadis itu. Tidak disangka pertemuan itulah yang membawanya semakin dekat dengan calon jodohnya. Yang tidak lain adalah kakak kandung Ira, Daffa Wirawan. Siapa sangka orang tuanya dan Ummi Daffa dan Ira bersahabat sejak masih di bangku SMA. Dan tidak lama lagi, Rima akan segera melepas masa lajangnya. Menikah dengan Daffa. Tepatnya awal bulan depan.


Semuanya begitu lekat dalam ingatannya. Bagaimana pertemuannya pertama kali dengan Daffa di toko bunga dan butik milik keluarganya. Yang lokasinya tepat di samping rumahnya. Daffa saat itu terlihat cuek, berbicara seperlunya saja. Namun tetap mencoba bersikap ramah saat dikenalkan dengannya dan mamanya. Mungkin karena menghormati dan menghargai persahabatan keduanya.

__ADS_1


Mungkin dari situlah tercetus ide perjodohannya dengan Daffa. Agar persahabatan dua keluarga semakin erat, berkembang menjadi satu keluarga besar. Meski melalui perjodohan, Rima berjanji akan menjalani pernikahan ini dengan baik. Seraya berharap pernikahannya menjadi yang pertama dan terakhir di hidupnya. Selepas ini Rima mulai fokus pada persiapan pernikahannya.


Tak terasa, seluruh rangkaian acara wisuda dan pelepasan siswa kelas 3 SMA Cendekia telah dilewati. Rima tampak berjalan mendekati kedua orang tuanya, berhambur memeluk mereka dan mencium punggung tangan. Air mata akhirnya pecah juga, keharuan begitu terasa. Di tengah keharuan itu, Ira dan ketiga sahabatnya mendekati dan menyapa mereka.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam, " jawab Rima dan mamanya sambil melepas pelukannya dan tersenyum manis. Wajah keduanya tampak bahagia.


"Eh, Ira, Rianti, Wulan, Sania, " panggil Rima sambil menatap Ira dan ketiga sahabatnya.


"Selamat atas kelulusannya, ya Kak, " ucapan selamat mengalir dari mulut mereka sambil memeluk dan cipika-cipiki secara bergantian.


"Maaf, ya Kak, Abi, Ummi, dan A Daffanya tidak bisa hadir di acara wisuda ini. Mereka mengundang Kakak, Om Ridwan, dan Tante Aini untuk makan siang di rumah. Karena itulah tidak bisa datang, karena harus mempersiapkan semuanya, " terang Ira menjelaskan alasannya mengapa keluarga Ira tidak hadir di acara spesialnya ini.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Rima maklum.


"Oh iya, terima kasih atas undangannya, " ujar Mama Aini.

__ADS_1


"Terus nanti Ira pulang sama siapa?" tanya Papa Ridwan.


"Nanti dijemput sama A Daffa, mungkin sebentar lagi. Sedang di jalan, katanya tadi, " jawab Ira.


Baru saja dijawab, terdengar sapaan salam dari seorang laki-laki, yang telah berdiri tepat di belakang Papa Ridwan. Ternyata dialah Daffa.


"Assalamualaikum, Om dan Tante, maaf baru bisa datang, " sapa Daffa sambil tersenyum.


Daffa tampak rapi dan gagah dengan setelan kemeja berwarna biru langit dan celana kain berwarna navy.


"Tidak apa-apa, Nak, " jawab Papa Ridwan.


Lalu tatapannya beralih ke Rima, "Selamat atas kelulusanmu, Rima, " ucapan selamat mengalir di bibirnya sambil menangkupkan kedua tangannya seperti bersalaman jarak jauh, Rima pun menyambutnya dengan gerakan yang sama.


Setelah itu, mereka melangkah keluar gedung. Daffa mengundang Rima dan orang tuanya ke rumah mereka. Dua mobil pun meluncur. Ketiga sahabat Ira ikut dalam mobil Daffa, sedangkan Rima ikut mobil orang tuanya.


Tidak lama kemudian mereka sampai di depan pekarangan rumah Daffa dan Ira. Dengan sopan, Daffa mempersilakan semuanya masuk ke dalam rumah dan mengantarkan ke ruang tamu. Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Ummi Linda dan Abi Wirawan.

__ADS_1


Sedangkan Ira mengajak sahabat-sahabatnya masuk ke ruang tengah. Di ruangan itu, telah disediakan aneka hidangan yang terletak di meja panjang. Aneka lauk teman nasi, seperti sop kimlo, ikan gurame asam manis, ayam bakar, lengkap dengan lalapan sambal goreng dan kerupuk udang. Di meja satu lagi yang lebih kecil juga telah tersedia potongan buah-buahan, seperti semangka, melon, dan pepaya, dan puding cokelat dengan saus gula vanila. Dan aneka kue basah.


Semuanya begitu mengundang selera. Tapi mereka tidak berani menyentuh hidangan-hidangan itu. Akhirnya mereka hanya duduk-duduk saja di sofa dekat meja TV sambil mengobrol santai dan bercanda. Menikmati camilan yang juga tersedia di meja sofa.


__ADS_2