Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Lamaran


__ADS_3

Assalamualaikum, Dear Reader yang baik, maafkan jika sudah lama sekali tidak upload ceritanya. Karena satu dan lain hal. Insya Allah akan dimulai lagi mulai besok. Tapi tetap akan diusahakan upload minimal satu kali sehari. Untuk yang masih mau membaca novel ini dan masih setia menunggu lanjutan dari kisah gadis belia empat sekawan ini, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.


Mohon dukungan berupa like, komen, dan votenya, ya, untuk setiap bab yang dibaca. Biar Author kembali semangat nulisnya. Masukan yang membangun pun sangat dibutuhkan. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca dan melike, dan komen, tinggal votenya saja yang masih ditunggu banget🤗😍. Di sini dilihat masih banyak yang baca dan masih menyimpan favorit, tapi tidak tahu tanggapan Reader sekalian.


Dan untuk yang baru baca, selamat datang, semoga kalian semua suka dengan cerita saya. Yang terpenting bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.


So, happy reading Reader.


Salam Hangat


Nurmita Dewi❤️


***


Mendengar cerita dari kedua anaknya, Linda hanya tersenyum senang. Keduanya terlihat akur dan kompak.


"Semangat sekali menjodohkan mentor kalian. Terus gimana dengan merekanya. Mau juga?" tanya Linda menanggapi cerita anak-anaknya.


"Mau, Mi. Makanya kita mau bantu, soalnya dua-duanya masih malu-malu gitu. Siapa tahu memang jodoh, " jawab Daffa.


Linda mengaminkan.


"Ya sudah, lanjutkan obrolan kalian. Ummi mau masak dulu, " pamit Linda sambil bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Daffa menuju dapur. Menyiapkan untuk makan malam.


***


Seminggu kemudian


Sesuai janji, hari ini Daffa akan menemani Hisyam berkunjung ke rumah orang tua Lisa, bermaksud untuk mengkhitbahnya. Setelah pembicaraan mereka minggu lalu via ponsel.


Flashback On


Setelah mendengar kabar bahwa Lisa belum memiliki calon, dengan segera Hisyam langsung menghubunginya setelah mendapatkan nomornya melalui Ira.


Hisyam:


"Halo, Assalamualaikum, Lisa. Ini aku, Hisyam."


Lisa:


"Wa'alaikumussalam, oh Kak Hisyam, ada apa?"


Hisyam:


"Apa kabar?"


Lisa:


"Baik, Alhamdulillah. Ehm, ada perlu apa, Kak?"


Hisyam:


"Ehm, eh, begini Lisa. Ada yang mau saya tanyakan."


Lisa:


"Bertanyalah!"


Hisyam:


"Maaf jika pertanyaanku mengganggumu. Aku hanya ingin tahu, apakah kamu sudah ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini?"


Lisa:


"Ehm, ma... maksud, Kak Hisyam apa?" (terdengar gugup, jantung mulai bereaksi).


Hisyam:


"Maksudku, apakah kamu sudah punya calon suami?"

__ADS_1


Lisa:


"Oh itu, eh, Lisa belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini dan belum ada calon juga. Kenapa Kak Hisyam bertanya seperti itu?"


Hisyam:


"Oh begitu, kalau aku sudah ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat ini. Dengan kamu. Maukah kamu menerimaku? " (suaranya terdengar gugup dan bergetar, ada rasa malu, takut, cemas, jika Lisa akan menolaknya).


Lisa:


"Oh, eh, maksudnya, Kak Hisyam sedang meminta Lisa jadi calon istri Kakak?" (gugup, debaran jantungnya kian kencang).


Hisyam:


"Ya, lebih tepatnya begitu."


Lisa:


(Tampak terdiam beberapa saat, membuat Hisyam yang di seberang sana denganmerasa cemas)


"Apakah Kakak serius?"


Hisyam:


"Ya, aku serius."


Di seberang sana, suara Lisa tidak terdengar lagi, membuat Hisyam merasa semakin cemas. Sampai suara Hisyam kembali membuyarkan lamunannya.


Hisyam:


"Halo, halo, Lisa, kamu masih mendengarku?"


Lisa:


"Oh, i... iya, masih mendengar, kok. Maaf. Ehm, kalau Kak Hisyam memang serius, silakan datang saja ke rumah, meminta langsung kepada orang tuaku."


Hisyam:


Lisa:


"Ehm, ya, Li... Lisa mau, Kak."


Hisyam:


Terdengar suara helaan napas lega.


"Alhamdulillah, terima kasih atas jawabannya. Insya Allah Ahad ini aku mau berkunjung ke rumahmu bersama Daffa. Bisakah?"


Lisa:


"Bisa, silakan saja. Nanti Lisa sampaikan ke orang tua dulu."


Hisyam:


"Baiklah, terima kasih. Aku pamit dulu, ya. Sampai jumpa Ahad depan. Assalamualaikum."


"Iya, Kak. Wa'alaikumussalam."


Terdengar suara ponsel ditutup, pembicara pun terputus. Namun Lisa masih tak bergeming, masih duduk di situ dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya. Masih terkesima dengan pembicaraan Hisyam di ponselnya tadi.


'Apa ini bukan mimpi? Dia mau melamarku? Secepat ini?' batin Lisa, masih tak percaya.


Tanpa disadari, tingkahnya ini diperhatikan oleh mamanya, Rita.


"Lisa, ada apa? Kok melamun sambil memegang ponselmu seperti itu?" tanya Mama Rita heran, sambil menepuk bahunya pelan.


Walaupun pelan, namun sanggup mengejutkan Lisa dan segera memutuskan lamunannya.


"Eh, Mama, " sahut Lisa.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada hal buruk?" tanya mamanya lagi. Cemas.


Lisa menggeleng. Namun hal itu tak membuat mamanya puas akan jawabannya.


"Ayo cerita, ada apa, Nak? Apa ada yang mengganggumu?" kembali lagi Mama Rita bertanya dengan raut wajah cemas. Tidak dapat menahan rasa penasarannya.


Melihat raut wajah wanita yang melahirkannya panik dan cemas membuat Lisa merasa tidak tega. Akhirnya, pelan-pelan dia menceritakan semuanya.


Setelah mendengar itu, Mamanya tampak tersenyum senang. Dan sangat ingin menggoda putrinya.


"Oh, jadi Putri Mama ini sudah ada yang mau melamar, ya? Mama kira kenapa. Terus kenapa jadi bengong begitu? Kamu tidak suka?" tanya Mama Rita, sedikit menyelidik ingin tahu perasaan putri kesayangannya.


"Ehm, tadi Lisa sudah kasih jawaban," jawab Lisa malu-malu. Wajahnya jadi memerah.


"Oh ya? Terus apa jawaban kamu?" tanya Mama Rita.


"Ehm, Li... Lisa bilang mau terima dia, Ma. Maaf, Lisa sudah kasih jawaban tanpa diskusi dulu dengan Mama dan Papa, " jawab Lisa sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi, kamu sudah terima dia? Kamu juga suka sama dia?" tanya Mama Rita, masih berusaha mengorek isi hati putrinya.


Perlahan, Lisa mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Membuat Mama Rita menahan tawanya melihat Lisa tampak malu seperti itu.


"Siapa namanya, tadi?" tanya Mama Rita lagi?


"Kak Hisyam, Ma, " jawab Lisa pelan.


"Sudah lama kenalnya?" tanya Mama Rita lagi.


Lalu Lisa menceritakan tentang Hisyam yang merupakan kakak kelasnya saat di SMA, dan baru dua minggu yang lalu bertemu lagi setelah lima tahu terpisah. Tepatnya sejak Hisyam lulus SMA. Dan sedikit kisah tentang mereka dulu.


Mendengar itu, Mama Rita berkomentar,


"Mama sama sekali tidak tahu dulu kamu pernah mengalami jatuh cinta pada kakak kelasmu sendiri. Kamu nggak pernah cerita ke Mama," ujar Mamanya sedikit menyesal tidak tahu kondisi putrinya dulu.


"Apa yang mesti diceritakan, Ma. Tidak ada hal yang istimewa di antara kami. Cuma, dulu dia sering memperhatikan Lisa, tapi Lisa cuekin, karena tidak mengerti maksud perhatiannya itu pada Lisa. Tidak mau geer. Dia dulu tidak pernah mengatakan apapun, bahkan sampai dia lulus. Sampai akhirnya Lisa capek menunggunya. Akhirnya Lisa juga lulus dan kuliah, maksudnya ingin melupakan dan menjauh darinya. Eh, tidak tahunya ternyata satu kampus, lucunya lagi dia juga aktif di DKM. Tapi rasanya, Lisa tidak pernah melihatnya. Lisa baru tahu dua minggu yang lalu pas acara syukuran empat bulanan kakaknya Ira, Kak Daffa, kakak tingkatku di kampus. Satu tahun di atasku," terang Lisa, menceritakan sedikit kisahnya dengan Hisyam.


"Oh, jadi begitu ceritanya. Lalu setelah lima tahun kalian tidak bertemu dia langsung ingin mengkhitbah kamu, gitu?" tanya Mama Rita, meyakinkan.


Lisa hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lucu juga. Apa ini artinya kalian berjodoh? baru dipertemukan kembali dengan cara yang tidak terduga ini?" tanya Mama Rita lagi. Kali ini Lisa hanya mengedikkan kedua bahunya.


Tanpa mereka sadari, rupanya Papa Lisa, Hendrik mendengar percakapan istri dan putrinya. Entah sejak kapan berada di situ.


"Apa benar putri Papa ada yang mau dilamar?" tanya Papa Hendrik tiba-tiba, membuat keduanya menoleh ke arahnya. Dengan ragu dan malu-malu Lisa menganggukkan kepalanya.


"Sejak kapan Papa di sini? Papa mendengar semua obrolan kami?" tanya Mama Rita heran.


"Ya, dari tadi Papa sudah ada di belakang kalian. Kalian saja yang keasyikan ngobrol sampai tidak menyadari kehadiran Papa," keluh Hendrik.


"Lisa, kamu belum menjawab pertanyaan Papa, " ujar Hendrik mengingatkan.


"Iya, benar, Pa. Baru saja orangnya menghubungi Lisa dan menyatakan maksud hatinya sama Lisa, " jawab Lisa.


"Oh, begitu. Terus kamu mau terima dia?" tanya Lisa langsung.


Dengan tersenyum malu, Lisa mengangguk. Raut wajahnya semakin memerah.


Melihat jawaban putrinya, sejenak Papa Hendrik terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Lalu akhirnya, keluar kata-katanya, " Baik, kalau dia serius, suruh dia datang langsung ke Papa. Papa ingin tahu sejauh mana keseriusannya. Mungkin harus dites dulu anak itu. "


"Dia bilang, katanya Ahad depan mau ke sini. Meminta langsung kepada Papa, " jawab Lisa.


"Bagus, Papa tunggu, " seru Papa Hendrik tegas.


Kali ini Papa bersikap begitu protektif terhadap putrinya. Dia ingin memastikan putrinya mendapatkan pendamping yang terbaik. Agar tenang melepasnya. Walaupun sebenarnya ada rasa tidak rela jika putri kesayangannya ini akan segera melepas masa lajangnya. Rasanya, baginya Lisa adalah putri kecilnya yang dulu sering ditimang-timang olehnya.


'Mengapa waktu begitu cepat?' sesal Papa Hendrik, berusaha menyembunyikan kesedihannya yang tiba-tiba menyerangnya.


Yup, begitulah perasaan seorang ayah saat akan melepas putri kesayangannya untuk menikah. Selalu ada rasa tidak rela, cemas jika buah hati yang selama ini selalu dilimpahi kasih sayangnya dan perhatian, dijaga olehnya akan diambil orang lain, yang akan menjadi calon suaminya. Namun, dia tidak ingin egois. Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi. Begitulah hidup. Ada saatnya dia harus melepaskan.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2