Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
(Flashback) Sebuah Rasa Tak Terungkap


__ADS_3

"Kak Lisa!" panggilan Ira seketika membuyarkan lamunan Lisa tentang kisah masa lalunya bersama laki-laki yang pernah mengisi hatinya, yaitu Hisyam.


'Astaghfirullah, mengapa aku jadi mengingatnya lagi? Padahal aku sudah berusaha keras melupakannya selama ini. Tak disangka bisa bertemu lagi di sini, sejak tiga tahun terakhir bertemu. Dan dia menjadi mentor kakaknya Ira, ' batin Lisa dalam hati.


"Eh iya, ada apa, Ra?" sahut Lisa dengan agak gelagapan. Namun gadis itu segera berusaha bersikap biasa saja.


"Loh, justru Ira yang mau nanya, ada apa dengan Kak Lisa. Sepertinya melamun, " ujar Ira.


"Oh, tidak ada apa-apa, " elak Lisa.


Sementara, di ujung sana, Hasyim pun terlihat melamun.


POV Hasyim


Tak disangka hari ini bisa bertemu lagi, setelah tiga tahun yang lalu, terakhir kali aku melihatnya. Ya, tepatnya semenjak aku lulus SMA. Lisa Amaliah, gadis yang pernah mengusik hatiku sejak pertama kali aku melihatnya. Bahkan saat kugaungkan kembali namanya saja saat ini getaran itu masih terasa. Membuat memori tentangnya kembali berpendaran di dalam otakku.


Masih kuingat dulu, saat pertama bertemu dengan gadis itu. Ada rasa keasyikan tersendiri saat menatap wajahnya yang cantik, manis, dan imut. Membuatku selalu betah berlama-lama menatapnya. Awalnya, kupikir normal sajalah yang namanya laki-laki suka melihat gadis-gadis cantik.


Namun, ternyata lambat laun aku mulai menyadari perasaan yang lain terhadap gadis itu. Mungkin, itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Ada rasa rindu bila sehari saja tidak melihatnya. Karena itulah aku selalu mencari cara agar bisa melihatnya, meski dari jauh, aku tetap senang. Kebetulan pula kami satu organisasi, jadinya ada banyak kesempatan bagiku untuk selalu bertemu dengannya.


Masih kuingat wajah judesnya, cemberutnya, setiap kali bertemu dengannya, terutama di awal-awal bertemu. Sepertinya dia tidak suka kepadaku. Entah apa sebabnya, aku juga tidak tahu. Rasanya aku tidak pernah berbuat salah apapun padanya. Yang kulakukan selama ini hanya menatapnya saja. Tidak lebih. Meski begitu, aku tetap saja selalu tersenyum padanya, berharap suatu saat dia mau membalas senyumku.


Namun sayang, sepertinya mahal sekali senyumnya itu bagiku. Padahal jika dia tersenyum, dia tampak semakin cantik. Senyum dan tawanya seolah menular padaku, meski kadang aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa. Ya, ikut senang dan bahagia saja saat melihatnya seperti itu. Dia begitu ceria, ramah, dan supel ketika bergaul dengan teman-temannya, tapi tidak denganku.


Hingga suatu hari saat pertama kalinya dia akhirnya mau membalas senyumku. Duh, rasanya bahagia sekali. Begitu saja rasanya mampu membuat jantungku semakin berdebar-debar. Meski jarang sekali, tapi aku tetap senang setiap kali dia mau membalas senyumku. Terkadang dia juga seperti membalas menatapku. Seringkali tatapan kami bertemu.

__ADS_1


Sebenarnya, aku ingin sekali bisa mendekatinya, mengobrol, atau bercanda dengannya seperti yang lain. Namun entah mengapa, begitu ada di dekatnya jantungku berdegup sangat kencang, tak karuan, sulit berkata-kata. Tubuhku mendadak jadi gemetaran. Rasanya, takut jika dia tahu perasaanku. Akhirnya selalu gagal mendekatinya. Cuma berani menatapnya dari jauh saja. Begitu terus, sampai akhirnya aku lulus, tidak pernah punya kesempatan untuk bisa dekat dengannya.


Semenjak lulus SMA, aku melanjutkan kuliahku di kota lain. Berharap bisa melupakannya. Dan pertemuan hari ini kembali mengingatkan kenangan itu lagi.


***


"Bang Hisyam!" panggilan Daffa mampu mengejutkan dan membuyarkan lamunan Hasyim.


"Eh, iya, Daf, ada apa?" sahut Hasyim.


"Abang melamun, ya?" tanya Daffa.


'Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?' batin Hasyim.


"Abang sedang memikirkan Lisa, ya?" tebak Daffa, membuat wajah mentornya itu menjadi memerah. Malu rasanya ketahuan sedang melamunkan gadis itu.


"Tenang saja, nanti biar Daffa bantu kalau memang Abang benar-benar tertarik sama Lisa, " janji Daffa.


Hasyim menggangguk dengan malu-malu, sebagai jawaban.


Setelah semuanya rapi kembali seperti semula, akhirnya teman-teman Ira maupun Daffa berpamitan pulang. Termasuk mentor mereka, Hisyam dan Lisa.


Daffa mendekati Ira dan istrinya yang sedang duduk santai di ruang tengah.


"Ra, Aa mau tanya tentang mentormu, Lisa, " ujar Daffa memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Ngapain Aa tanya-tanya tentang Kak Lisa segala?" Ira bertanya balik dengan heran. Rima yang mendengar pun langsung menatap suaminya curiga.


"Eh, tenang dulu, dong. Jangan pada curiga nggak jelas gini. Maksudnya, Aa mau tanya, Lisa itu sudah ada calon belum?" pertanyaannya malah semakin membuat kedua wanita yang disayanginya itu semakin mengerutkan kening.


"Ini pertanyaan titipan dari Bang Hisyam, mentor Aa. Ternyata Bang Hisyam dan Lisa itu sudah saling kenal. Mereka satu sekolah saat SMA. Adik kelasnya. Waktu Lisa kelas satu, Bang Hisyam sudah kelas tiga. Sejak dia lulus tidak pernah lagi bertemu. Baru tadi saja di rumah kita ketemu lagi. Sepertinya, Bang Hisyam tertarik sama Lisa. Jadi, Aa mau bantu mereka, siapa tahu jodoh," terang Daffa.


"Oh gitu, maksudnya Aa mau ngejodohin Bang Hisyam sama Kak Lisa?" tanya Ira, memastikan.


Daffa mengangguk.


"Tadi juga Kak Lisa tanya-tanya tentang Bang Hisyam. Dia kaya kaget gitu pas lihat Bang Hisyam yang mengisi tausiyah. Terus, cerita bahwa Kak Lisa sudah kenal lama sama Bang Hisyam. Kakak kelasnya di SMA. Sampai cerita tentang gimana sosok Bang Hisyam dulu waktu SMA. Kaya yang kenal dekat begitu, " Ira juga cerita yang sama.


"Iya, Bang Hisyam juga tadi sedikit cerita tentang Lisa zaman SMA dulu yang dia kenal. Kaya yang kaget gitu waktu tahu Lisa itu mentor kamu dan teman-temanmu. Mungkin, dulu mereka begitu sebelum hijrah. Yang Aa tahu, Bang Hisyam itu mulai aktif ikut kajian dan aktif di DKM sejak masuk kuliah memang, " ujar Daffa, mengingat cerita Hisyam tadi.


"Kok, bisa sama, A. Kak Lisa juga mulai hijrah itu sejak masuk kuliah. Wah, pasti pertemuan mereka bukan kebetulan, tuh. Jangan-jangan mereka memang berjodoh. Ira curiga, dulunya ada sesuatu antara Bang Hisyam sama Kak Lisa, deh. Kalau memang mereka saling tertarik kita bantu jodohin, yuk, A!" seru Ira bersemangat.


"Maksud Aa juga begitu, Ra. Ya sudah, kita bagi tugas saja. Kamu coba tanyain ke Lisa, ya. Dia sudah punya calon atau belum. Nanti hasilnya kasih tahu Aa. Biar Aa yang sampaikan ke Bang Hisyam lagi. Oke? Soal Bang Hisyam mah sudah Aa tanyain, dia langsung mau. Kelihatan banget Bang Hisyam ada rasa sama mentormu itu, " ujar Daffa yang tidak kalah bersemangatnya.


"Oke, besok akan Ira tanyakan ke Kak Lisa, " janji Ira.


"Oke, sip."


"Semangat sekali kalian ingin menjodohkan Bang Hisyam dan Kak Lisa? " tanya Rima akhirnya nimbrung, sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan suami dan adik iparnya.


"Iya, dong. Membantu menjodohkan orang baik dan shalih yang mau menikah itu berpahala, loh. Apalagi kita tahu bagaimana sosok kedua orang itu. Mentor aku dan Ira, " jawab Daffa.

__ADS_1


__ADS_2