Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Mulai Bergerak


__ADS_3

Setelah berbincang dengan para sahabatnya, di kamar Wulan segera menghubungi Danu tanpa peduli dengan waktu yang telah larut. Namun bagi Wulan hal ini sangat mendesak.


Danu mengangkat ponsel yang ada di meja nakas, di samping ranjangnya, dengan malas-malasan bercampur kesal karena telah mengganggu tidurnya.


Wulan: "Halo, assalamualaikum, Nu?"


Danu: "Ya, Wa'alaikumussalam. Wulan? Ada apa sih malam-malam ganggu orang tidur. Emang kamu di sana gak tidur apa?"


Wulan: "Sorry, Nu. Tapi ini urgen banget.


Danu: "Ada apa?"


Wulan: "....................................."


Danu: "......................................."


Wulan: "Oke, besok aku tunggu barangnya, ya. Usahakan pagi. Biar siang sudah ada."


Danu: "....................................."


Wulan: Oke, thanks, Bro. Assalamualaikum, "


Danu: "...................................."


Wulan memutuskan sambungan telepon dari ponselnya lebih dulu. Setelah itu, langsung naik ke atas tempat tidur dan langsung terlelap.


****


Siang hari, tepat pukul 13.00 barang pesanan Wulan telah datang. Mereka berencana mulai segera bergerak. Setelah shalat Zuhur berjamaah dan makan siang bersama di Villa, mereka bersiap berangkat. Di luar telah menunggu Handi dan temannya, Iwan yang akan mengantarkan mereka menuju markas Samiri.


Empat puluh menit kemudian mereka sampai. Wulan segera memasang alat penyadap yang tadi sudah dikirim oleh Danu ke balik bajunya, dan tertutup kerudungnya. Ukurannya begitu mini berbentuk seperti kancing. Jadi tidak akan ketahuan kalau itu sebuah alat penyadap jika tidak diperhatikan dengan detil. Setelah itu, gadis itu membuka laptopnya dan mulai mengoperasikannya. Menghubungkan alat penyadap itu dengan pengawasan melalui laptop.


Setelah siap, Rina mulai keluar dari mobil dan melangkah mendekati markas Samiri. Begitu mendekati gerbangnya, Rina dihentikan dua orang laki-laki yang sepertinya bertugas sebagai penjaga gerbang depan. Gadis itu mulai ditanya-tanya,


"Hai, Nona. Ada apa kemari? Mau bertemu siapa?" tanya salah satu penjaga itu.


Rina menjawab, "Oh, saya salah satu orang yang akan masuk karantina sebelum disalurkan untuk bekerja."


Petugas itu terlihat manggut-manggut. Meneliti penampilan Rina dari atas sampai ke bawah. Lalu Rina diminta untuk menunjukkan identitas pribadinya. Gadis itu pun memberikannya.


"Tunggu sebentar, " ujar petugas itu. Lalu menghubungi seseorang.


"Halo, Juragan, ada yang ingin bertemu dengan Juragan, " beritahu sang petugas itu. Terlihat beberapa percakapan di antara mereka. Tidak lama, petugas itu memutus sambungan teleponnya.


"Baiklah, Nona, silakan masuk. Tuan sudah menunggu Anda di ruang tamu, " ujar petugas itu.


Rina pun melangkah menuju pintu depan, lalu mengetuknya. Tak lama, terdengar sahutan dari dalam untuk menyuruhnya masuk. Mendengar itu , Rina langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Duduk di kursi ruang tamu, dan mulai mengamati design interior mansion ini.


Dari luar, markas ini berbentuk seperti mansion biasa, cukup mewah dan megah. Namun ketika di dalam, seperti benteng dengan dinding yang kokoh di kiri dan kanannya. Kaca jendelanya terlihat gelap dari luar membuat orang luar tidak bisa melihat ke dalam mansion tersebut. Namun sangat jelas terlihat dari dalam.

__ADS_1


"Ehem... ," tegur seorang laki-laki paruh baya, demi menyadarkan akan situasinya.


"Eh, em maaf, Juragan, " sahut Rina sambil menangkupkan kedua tangannya.


Laki-laki yang sedang duduk di sofa di seberangnya ini terus mengamati penampilan Rina yang berpakaian muslimah syar'i. Membuatnya mengerutkan keningnya, heran.


"Kamu orang yang ingin mencari pekerjaan di luar negeri itu, kan?" tanya laki-laki yang ternyata bernam Samiri itu. Rina mengangguk, mengiyakan.


Matanya sejenak memicing, semakin tajam memandangi gadis itu, membuatnya lebih waspada.


"Dengan pakaian seperti ini? Tidak salah? " tanyanya, heran. Seperti tidak percaya.


Rina meyakinkan, "Benar, Juragan.


Melihat Samiri semakin menatapnya intens dengan tatapan tidak percayanya, membuat Rina kembali meyakinkan, "Saya sudah lulus tes karantina, Juragan. Makanya saya kemari sekarang, " jawab Rina.


"Baiklah, tapi di sini tidak ada orang yang berpakaian seperti itu. Tidak ada yang berhijab seperti dirimu. Ada pakaian khusus untuk kalian, " ujar Samiri.


"Pakaian khusus, apa itu?" tanya Rina, mengulang perkataan Samiri. Membuat sudut bibir laki-laki itu terangkat, membentuk seringai mengerikan. Rina bergidik melihatnya.


Sebenarnya Rina paham pakaian seperti apa yang dimaksud Samiri itu. Namun dia memilih pura-pura tidak tahu.


"Yang pasti tidak berhijab seperti itu. Kamu harus membukanya. Dan mengganti dengan pakaian khusus, " jawab Samiri, masih dengan seringaiannya.


"Loh, Bukannya waktu itu Juragan bilang tidak masalah saya berpakaian seperti ini?" tanya Rina, pura-pura heran.


Rina berusaha memutar otaknya agar tidak harus membuka jilbabnya.


"Maaf, Juragan. Saya tidak tahu kalau peraturannya seperti itu, " ujar Rina, tegas.


"Ya, memang seperti itu aturannya. Kalau tidak mau saya tidak akan membantu kamu mencarikan pekerjaan untukmu, " Tukas Samiri.


Rina terdiam sejenak, lalu masih berusaha menolak. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya.


"Begini saja, tolong beri kelonggaran untuk saya, Juragan. Biarkan saya tetap berpakaian seperti ini. Saya akan menuruti apapun keinginan Juragan. "


Mendengar ucapan Rina, membuat Samiri menjadi salah tanggap, menyeringai licik,


"Kamu sedang merayu saya?" tanya Samiri, membuat Rina mengerutkan keningnya, bingung. Sebab dia tidak merasa sedang merayu.


"Kamu bilang tadi akan mengikuti apapun keinginanku, bukan?" tanya Samiri, mengingatkan janjinya. Gadis itu mengangguk.


Dengan seringai licik, Samiri memandangi Rina dengan tatapan penuh damba, lalu dengan sadar mengelus pipi chubby milik Rina dengan lembut, membuat gadis itu terkejut, lalu berujar, "Kamu cantik juga. Aku ingin kamu jadi istri keempatku. Bagaimana?"


Lebih terkejut lagi gadis itu saat mendengar keinginan Samiri. Seraya menjauh dari Samiri, yang ternyata sudah ada di dekatnya. Entah sejak kapan.


"Hah, Apa?" seru Rina, tak percaya.


"Jangan terkejut begitu. Kalau kamu mau jadi istriku, kamu tidak perlu bekerja di mana-mana. Aku akan menjamin kehidupanmu. Aku akan membahagiakanmu. Dan kamu tidak perlu membuka jilbabmu. Karena aku tidak suka jika tubuh wanitaku dilihat oleh pria lain, selain aku, " ujar Samiri dengan suara lembut, namun penuh nada posesif.

__ADS_1


Mendengar itu Rina terdiam. Terlihat berpikir keras. Perang batin pun terjadi.


'Waduh, apa-apaan nih orang. Jadi istri keempat dari laki-laki yang seharusnya menjadi ayahku, katanya? Di usia semuda ini? Kepikiran untuk menikah saja belum? Oh, no, kenapa jadi begini? " gumam Rina dalam hati.


Tapi setelah mengingat misinya kemari adalah untuk menyelamatkan para gadis yang akan disalurkan menjadi pelacur, sekaligus membongkar kejahatannya selama ini.


Akhirnya gadis itu berpikir ulang.


'Apa aku berpura-pura saja akan menerimanya, ya? Dengan begitu aku akan lebih mudah mencari kelemahannya, dan menjebaknya. Baiklah, mendingan jadi calon istri dari pada calon pelacur. Ih, na'udzubillahi min dzalik, jauhkan. Bismillah, tolong hamba-Mu ini, ya Allah.' gumam Rina berdialog dengan dirinya sendiri.


Setelah lama terdiam akhirnya Rina membuka suaranya, " Baiklah, saya mau menjadi istri keempat Juragan. Tapi Juragan harus meminta langsung kepada ayahku."


Mendengar itu, Samiri tertawa senang. Dia terlihat begitu bahagia.


"Hahaha... bagus, bagus. Terima kasih atas jawabannya, ya. Aku akan segera menemui ayahmu, Rina Amalia binti Supriyanto, " ujar Samiri sambil mengembangkan senyumnya.


Mendengar Samiri memanggilnya dengan nama lengkap, membuat Rina heran.


"Apa Juragan mengenal ayah saya?" tanya Rina.


Sambil tersenyum, Samiri menjawab, "Apa yang tidak kuketahui tentang kalian? Apalagi tentang gadis yang ingin kunikahi? Tentu aku akan mencari tahu dengan detil identitas kamu."


Rina merasa terkejut ternyata selama ini Samiri mengamatinya. Membuatnya menjadi was-was.


Khawatir ketahuan misinya.


"Mengapa harus saya, Juragan? Masih banyak gadis lain yang lebih baik dari saya, " tanya Rina, ingin tahu.


"Semenjak kamu tumbuh remaja saya sudah mengamati kamu. Tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis. Sejak itu aku ingin sekali memilikimu. Karena itu aku ajak kamu untuk bekerja bersamaku, namun bukan untuk bekerja di mana-mana. Tapi menjadi istriku, " ungkap Samiri.


Rina tampak tertegun mendengar ungkapan Samiri. Tidak menyangka sama sekali.


Melihat Rina terlihat diam tidak bicara apapun membuat Samiri bertanya, "Bagaimana, apa kamu berubah pikiran?" tanya Samiri.


Lama Rina tercenung, lalu mengingat misinya kembali akhirnya dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, saya tidak berubah pikiran. Hanya saja saya masih sekolah. Mungkin saya bisa menikah setelah lulus sekolah. Tidak apa-apa?" ujar Rina, mencoba mengulur waktu.


"Tidak apa-apa, saya bersedia menunggu sampai kamu lulus sekolah. Tidak masalah, " sahut Samiri dengan cepat dan bersemangat. Saat Samiri seperti hendak memeluknya, Rina langsung menjauh.


"Maaf, Juragan. Sebaiknya sebelum kita menikah jangan ada sentuhan fisik dulu, ya. Karena saya belum resmi menjadi istri Juragan, bukan?" ujar Rina, menolak pelukannya secara halus.


"Oke, oke, baiklah. Maaf, saya tidak bisa mengendalikan diri. Terlalu bahagia, " ujar Samiri sambil tersenyum malu, tampak salah tingkah. Rina mengangguk.


"Tidak apa-apa, saya hanya mengingatkan, " ujar Rina halus.


Padahal dalam hati gadis itu merasa lega, tidak jadi dipeluk oleh laki-laki itu.


'Sekarang waktunya untuk mengatur strategi baru bersama teman-teman, nih, " gumam Rina dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2