Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Hari Pertama Sekolah 4


__ADS_3


Rumah Sania


Kriing... kring... kring...!


Sania terbangun saat mendengar suara alarm dari jam weker yang ada di meja, samping ranjangnya. Segera dimatikannya alarm tadi dan melihat jam.


'Hm, sudah jam 04.00. Ah, sebentar lagi Subuh, jangan tidur lagi. Nanti kebablasan,' gumamnya.


Perlahan Sania duduk di tepi ranjang dengan kedua kakinya masih menggantung. Melawan rasa kantuknya.


Lalu, perlahan turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi, mau buang air dan berwudhu. Siap-siap shalat Subuh. Tidak lama, suara adzan pun berkumandang dari masjid di dekat rumahnya. Sania pun segera menunaikan ibadah shalat Subuh. Dilanjutkan dengan bertilawah beberapa lembar. Sebagaimana kebiasaannya sejak kecil.


Setelah selesai bertilawah, Sania membereskan tempat shalatnya dan tempat tidurnya. Setelah itu keluar kamar dan berjalan menuju ruang dapur. Dilihatnya Larasati sedang sibuk memasak. Mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Lasarati menoleh, dan tersenyum.


"Eh, putriku sudah bangun. Sudah shalat, Nak?" tanya Larasati.


"Ya, sudah, " jawab Sania.


"Masak apa, nih, Mi?" tanya Sania.


"Emh, nasi goreng, " jawab Larasati


"Hm... pasti enak, nih, " tanggap Sania.


"Nah, sudah beres, nih. Yuk, kita siapkan meja makan!" ajak Larasati.


"Wokeh, siap, Mami!" jawab Sania sambil mengangkat tangan kanannya, bergerak seperti hormat. Larasati tersenyum melihat tingkahnya. Lalu memencet hidungnya yang Bangir dengan gemas.


Sania pun tertawa, lalu segera diambilnya piring, sendok, dan dibawa ke meja makan. Tak lupa nasi goreng yang sudah dipindahkan ke dalam mangkuk besar dari penggorengan pun dibawanya pula. Larasati membuat susu untuk Sania dan adiknya, Tania. Kopi untuk suaminya, Sandi. Terakhir, teh manis untuknya. Lalu, dibawanya ke meja makan semua minuman itu dengan menggunakan nampan.


"Hm, beres semua! Sania, tolong panggilkan Papi dan Tania untuk sarapan!" titah Larasati.


"Iya, Mam," jawab Sania, lalu melangkahkan kakinya memanggil papi, dan adiknya untuk sarapan di kamar masing-masing. Tidak lama kemudian, semuanya sudah kumpul di meja makan dan sarapan bersama.

__ADS_1


Setelah sarapan, Sandi, Sania dan Tania berpamitan pada Larasati, pergi ke sekolah. Diantar oleh papi mereka. Lalu, lanjut ke kantor.


****



Para siswa dan siswi baru maupun yang lama di SMA Cendekia tampak sudah kumpul di lapangan, bersiap untuk upacara bendera. Tidak lama kemudian, upacara pun dimulai.



Haris Andriansyah, Kepala Sekolah SMA Cendekia memberi sambutan di tengah upacara, "Ehm, Assalamualaikum. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, puji dan syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan untuk Baginda tercinta, Rasulullah Saw, para sahabatnya dan orang-orang shalih yang setia di jalan Allah.


Rekan-rekan guru yang saya hormati, dan anak-anakku yang Bapak sayangi, senang rasanya dapat menatap wajah-wajah kalian di hari yang cerah ini. Semoga limpahan berkah, rahmat, hidayah dan taufik-Nya senantiasa dicurahkan untuk kita semua. Aamiin Ya Rabbal'alamin. Khusus kepada siswa-siswi baru di SMA Cendekia, Bapak ucapkan selamat datang, semoga kalian dapat belajar dengan baik dan senang di sini. Seraplah ilmu dari para guru dengan baik dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan umat. Dan untuk siswa-siswi kelas dua dan tiga, berilah contoh yang baik kepada adik-adik kelas kalian yang baru. Bergaullah dengan baik. Gapailah cita-cita kalian dengan semangat yang terus berkobar. Jangan pernah menyerah atau putus asa. Berjuang dan berusahalah terus. Kami, para guru akan berusaha mendidik kalian dengan baik. Jadilah putra-putri terbaik di bidang kalian masing-masing. Di masa depan, kalianlah yang akan menggantikan Kami melanjutkan estafet kepemimpinan. Jadi, masa depan kalian ditentukan oleh diri kalian sendiri. Jadilah pribadi-pribadi yang baik, cerdas, sholih-sholihah, tangguh menghadapi berbagai tantangan dan hambatan di zaman yang penuh fitnah ini, jauhilah hal-hal yang dilarang Allah, jaga ketaatan hanya kepada Allah. Terakhir, Bapak berpesan tetaplah selalu bersyukur kepada Allah yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya yang tidak terhitung. Bersabarlah dalam belajar, jadikan pemahaman, bukan sekedar pengetahuan belaka. Hormatilah guru-guru kalian, anggaplah mereka sebagai orang tua kalian sendiri. Dengan begitu, ilmu yang kalian dapat dari mereka menjadi berkah. Baik, Bapak akhiri sambutannya, ya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh."


Setelah memberi sambutan, Haris turun dari mimbar upacara dan kembali bergabung dengan para guru. Tak lama, upacara pun selesai dan semua siswa-siswi masuk kelasnya masing-masing. Termasuk yang baru.


Rianti tampak celingukan mencari kelasnya. Dari papan pengumuman yang dilihatnya tadi, tertulis ia masuk kelas 1 A. Akhirnya ketemulah kelasnya. Rianti pun masuk dan mendekati meja Ira yang duduk di deretan bangku baris kedua sebelah kanan, dekat jendela, yang tampak kosong.


"Hai, assalamualaikum, boleh aku duduk di sebelahmu?" sapa Rianti. Ira tampak sedikit terkejut, lalu segera memasang senyum manisnya.


Rianti pun duduk berdampingan dengan Ira.


"Eh, iya, Kita belum berkenalan, ya. Siapa namamu?" tanya Rianti.


"Namaku Irawati Wirawan Adiguna, panggil saja aku Ira," jawab Ira.


"Oh, baiklah, Ira. Namaku Rianti Noor Iskandar, panggil saja Rianti," Rianti memperkenalkan dirinya. Sambil mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.


"Baik!" jawab Ira, sambil tersenyum, membalas. Keduanya saling bersalaman.


Lalu, keduanya asyik mengobrol, saling bertanya pribadi masing-masing. Saat asyik mengobrol dengan Ira, perhatian Rianti teralihkan pada sosok seorang gadis yang baru masuk ke kelasnya. Lalu duduk di belakang Rianti yang memang kosong. Gadis itu menggunakan cadar, satu-satunya di kelas itu. Ternyata Rianti tidak sendirian, beberapa pasang mata pun menatapnya. 'Siapa, tuh?" tanya Rianti dalam hati.


Merasa diperhatikan, Sania menoleh ke arah Rianti. Dari matanya tampak seperti tersenyum. Tanpa diduga, Sania mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan duluan. Membuat Rianti sedikit terkejut.


"Hai, assalamualaikum! Perkenalkan, namaku Sania Verawati Gunawan, panggil saja Sania," sapa Sania.

__ADS_1


"Eh, iya, Wa... wa'alaikumussalam. Namaku Rianti Noor Iskandar, panggil saja Rianti," balas Rianti sedikit gagap.


Keduanya saling berjabat tangan. Lalu, Ira pun ikut mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri juga. Akhirnya, mereka bertiga terlibat obrolan. Saling bertanya pribadi masing-masing. Sama seperti yang dilakukan Rianti dengan Ira tadi.


Saat sedang asyik mengobrol, ada yang mencolek bahu Sania pelan dari belakang. Sania terlihat sedikit terkejut lalu menoleh dan menatap orang yang mencoleknya tadi.


"Hai, Assalamualaikum, boleh aku duduk di sebelahmu? Kosongkah?" tanya Wulan, sambil memasang senyumnya.


"Wa'alaikumussalam, iya boleh, silakan!" jawab Sania sambil menggeser duduknya bersandar ke dinding.


Wulan pun duduk di sebelahnya. Lalu, matanya menatap ke arah Rianti dan Ira di depannya yang sedang menatapnya juga. Akhirnya, mereka pun saling berkenalan. Dan mengalirkan obrolan mereka. Saling mengenal satu sama lain.



Saat sedang asyik mengobrol, masuklah Ihsan ke kelas mereka. Suasana kelas yang tadinya ramai jadi mendadak hening saat menyadari kehadirannya. Ihsan berdiri di depan kelas dengan senyum hangatnya. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas mereka. Lalu membagikan lembaran kertas yang berisi jadwal mata pelajaran selama satu semester ini.


Selanjutnya, semuanya disuruh memperkenalkan diri masing-masing. Suasana kelas kembali ramai. Ada saja ekspresi yang ditunjukkan saat memperkenalkan diri. Ada yang terlihat gugup sampai suaranya nyaris tak terdengar. Membuat teman-temannya memasang telinganya baik-baik. Ada juga yang meminta volume suaranya diperbesar. Membuatnya semakin gugup, gemetaran. Akhirnya, dia menuliskan namanya di buku tulis kosong dan mengangkatnya, sehingga semua membacanya. Namun ternyata gadis itu bukannya menuliskan namanya, melainkan ucapan Basmallah. Karuan saja, seisi kelas menjadi tertawa melihatnya.



Melihat teman-teman baru mereka tertawa, seketika gadis itu melirik ke kertas yang ditulisnya tadi. 'Rupanya ini penyebabnya, ' gumam gadis itu menyadari kekeliruannya.


"Eh, ma ... maaf, salah tulis, nama saya, Andini Putri Reksadiansyah, dari SMP Tunas Mulia, " ujarnya memperkenalkan diri dengan wajah masih menahan rasa malu, tersipu. Lalu cepat-cepat duduk di kursinya dan menundukkan kepalanya.


"Oh, namanya Andini Putri Reksadiansyah, toh. Ngobrol, dong!" celetukan dari Rizal dengan ekspresi lucu, cowok yang duduk di deretan bangku paling belakang, sambil menahan tawa. Mendengar celetukannya, semua jadi tertawa. Membuat wajah Andini makin bersemu merah, menahan malu.


"Eh, sudah, sudah. Cukup, lanjutkan yang lainnya! Jangan diledekin terus. Nanti nangis kalian harus tanggung jawab, loh, " lerai Ihsan. Mendengar itu, seketika tawa mereka menghilang. Ada juga yang masih menahan tawanya sambil menutup mulutnya.


Ada juga yang kelewat pede, sampai lucu. Jadilah suasana kelas itu ramai dan terasa hangat. Apalagi Ihsan memang pandai mencairkan suasana dengan humornya yang segar.


Terakhir, setelah perkenalan, mereka disuruh untuk memilih orang-orang yang akan menjadi mengurus kelas. Beberapa orang mengajukan dirinya sebagai ketua kelas. Lalu, diambillah suara terbanyak, maka itulah yang terpilih.



Akhirnya, terpilihlah nama Rizal Restu Putra sebagai ketua kelas. Cowok yang tadi menyeletuki Andini. Yang terpilih tersenyum senang sambil tebar pesona, memberikan kecupan jarak jauh dari depan kelas dengan genitnya. Membuat seisi kelas hanya bisa menggelengkan kepalanya, lucu. Termasuk Pak Ihsan.

__ADS_1


Itulah awal pertemuan mereka.


__ADS_2