
Hisyam dan Daffa kini telah sampai di depan rumah Lisa. Keduanya segera melangkah masuk melalui pekarangan depan rumah. Setelah sampai di depan pintu, Hisyam langsung mengetuk.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamualaikum!" sapa Hisyam.
Tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah seraya membuka pintu. Ternyata Lisa yang menyambut kedatangan mereka.
"Wa'alaikumussalam, eh Kak Hisyam dan Kak Daffa. Mari, silakan masuk!" ajak Lisa menuju ruang tamu.
Kedua lelaki itu mengikuti langkah Lisa menuju ruang tamu dan duduk di sofa.
"Orang tuamu ada, Lis?" tanya Hisyam.
"Ada, sebentar aku panggilkan, " jawab Lisa sambil beranjak menuju ruang tengah dan memanggil kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, itu ada yang mau bertemu," ujar Lisa memberitahu kedatangan tamunya.
"Oh, sudah datang? Yang kamu ceritakan tempo hari itu?" tanya Papa Lisa.
Lisa mengangguk seraya mengiyakan.
"Baiklah, ayo Ma, kita ke depan!" ajak Hendrik kepada istrinya, Rita.
Wanita paruh baya itu segera bergegas mengikuti langkah kaki suaminya menuju ruang tamu dengan senang hati. Bercampur rasa penasaran, ingin tahu seperti apa orang yang katanya ingin melamar putrinya. Namun sebelum itu, Rita sempat memerintahkan kepada maid untuk membuatkan teh manis dan membawakan beberapa camilan untuk tamu mereka dan minta diantar ke ruang tamu.
Sementara Lisa memilih duduk di dekat ruang tamu, agar tetap bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Tidak ikut bergabung. Dipasang telinganya baik-baik dengan dada berdebar kencang ketika mendengar suara Hisyam.
"Perkenalkan, nama saya Muhammad Hisyam. Dan ini sahabat saya, Daffa. Kedatangan kami kemari bermaksud ingin menyatakan keseriusan saya terhadap putri Bapak dan Ibu, Alisa, " ujar Hisyam memulai perkenalan dan menyampaikan maksud hatinya.
"Maksudnya, gimana, Nak?" tanya Papa Lisa.
Meskipun sebenarnya sudah tahu maksud kedatangan kedua lelaki ini dari Lisa, namun Papa Hendrik ingin mendengar langsung dari mulutnya.
Daffa yang sejak tadi diam akhirnya bicara, berusaha membantu Hisyam.
"Begini, Pak, maksudnya Bang Hisyam ini bermaksud ingin melamar putri Bapak untuk dijadikan istrinya. Dan saya di sini hanya mendampingi Abang saya ini, " terang Daffa, menjelaskan.
Mendengar itu, Papa Hendrik tampak tersenyum, lalu kembali bertanya, "Nak Hisyam sudah berapa lama kenal dengan Lisa?"
"Kami sudah lama kenal. Dulu, Lisa adalah adik kelas saya saat di SMA. Saat Lisa kelas satu, saya sudah kelas tiga, " jawab Hisyam.
__ADS_1
"Oh, berarti dulu kamu sekolah di SMA Insan Mulia juga?" tanya Papa Hendrik lagi.
"Iya, Pak. Hanya saja setelah saya lulus SMA kami tidak pernah bertemu lagi. Baru dua Minggu lalu kami bertemu kembali tanpa sengaja di rumah teman saya ini. Kebetulan ada acara di rumahnya. Rupanya Lisa adik tingkat saya juga di tempat saya kuliah, tanpa saya tahu, " terang Hisyam.
"Lalu, kamu memutuskan untuk mengkhitbah putri saya?" tanya Papa Hendrik, ingin meyakinkan.
"Ya, benar, " jawab Hisyam.
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Papa Hendrik.
"Sebelum kemari tentu saya sudah membicarakan dulu dengan orang tua saya. Meminta restu mereka. Alhamdulillah, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Insya Allah, mereka siap kapan pun berkunjung kemari untuk melamar putri Bapak secara resmi. Kedatangan saya kemari, katakanlah sebagai pengantar akan maksud hati saya terhadap Lisa. Semoga Bapak dan Ibu kerkenan merestui niat baik saya ini, " jawab Hisyam dengan lugas.
Mendengar jawaban Hisyam, Papa Hendrik tampak terdiam agak lama. Membuat Hisyam yang tadinya tampak berusaha tenang menjadi cemas, khawatir tidak diterima.
"Apa kegiatan kamu sekarang? Masih kuliahkah? Dan modal apa yang kamu miliki untuk menikahi putri saya?" tanya Papa Hendrik dengan pandangan masih menyelidik.
"Saya sudah lulus kuliah tahun lalu, Pak. Dan saat ini, saya sudah bekerja, di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Alhamdulillah sudah dipercaya menjadi asisten direktur utama. Sejak kuliah saya memang sudah bekerja di sana. Sementara ini, itulah aktivitas saya, Pak, " urai Hisyam menjawab pertanyaan Papa Hendrik.
"Lalu, modal apa yang kamu miliki untuk menikahi putri saya?" tanya Papa Hendrik, mengulang pertanyaan terakhirnya.
"Modal saya? Sementara ini baru itu saja, Pak. Insya Allah saya akan terus berusaha membahagiakan dan menghidupi keluarga kecil saya kelak. Tentunya dengan restu dari Bapak dan Ibu, sebagai orang tua Alisa, " jawab Hisyam dengan tegas, berusaha meyakinkan kedua calon mertuanya.
Hisyam langsung menundukkan kepalanya, rasa cemas semakin menggelayuti hatinya. Membuatnya menghela nafas berat. Masih belum bisa menangkap maksud dari pertanyaan dari Papa Hendrik.
Mama Rita tampak menyenggol lengan suaminya, saat merasakan suasana tegang di ruang tamu itu. Mengingatkan suaminya agar jangan terlalu berlebihan dalam menguji calon menantu mereka.
Sementara Lisa tak kalah merasa tegang, membuat kedua bola matanya tampak berkaca-kaca, menahan tangisnya. Sambil menepuk dadanya pelan saat merasakan debaran jantungnya kian menggila. Kali ini, debaran itu lebih kepada rasa khawatir jika Papanya menolak Hisyam.
Merasakan ketegangan itu, Papa Hendrik langsung meluruskan maksud pertanyaannya sambil mencoba mencairkan suasana.
"Maksud Bapak, bukan modal secara finansial. Alhamdulillah jika kamu sudah memiliki pekerjaan tetap, dengan posisi yang tinggi seperti itu. Saya percaya kamu bisa menghidupi putri kesayangan saya. Dan sebagai laki-laki yang bertanggungjawab tentu kamu harus berusaha menghidupi keluarga kecil kamu kelak. Tapi, bagi Bapak tidak cukup hanya itu. Putri saya butuh seorang pendamping yang akan membimbingnya hingga sampai ke surga. Modal ilmu agama. Kelak kamulah yang akan menggantikan tanggung jawab saya untuk membimbingnya sebagai calon suaminya. Sebab, percuma saja kamu punya penghasilan tinggi namun tidak dibarengi dengan ilmu agama. Rumah tangga yang tidak dilandasi dengan ketakwaan akan berkurang keberkahannya. Sanggupkah kamu menggantikan saya, bertanggungjawab atas dirinya selama sisa hidup kamu?" ujar Papa Hendrik panjang lebar, menjelaskan maksud dari pertanyaannya. Sambil mempertanyakan kesiapannya memenuhi syarat terpentingnya.
Mendengar itu, semua tampak menghela nafas lega. Mulai memahami maksud dari pertanyaan Papa Hendrik.
Dengan penuh keyakinan dan mantap, Hisyam langsung menjawab, "Tentu saja saya akan selalu membimbing istri, eh calon istri saya agar selalu berada di jalan Allah. Karena itulah tanggung jawab saya yang pertama dan utama sebagai suami, eh calon suaminya. Saya juga berharap bisa memiliki istri yang shalihah, yang kelak akan mendidik anak-anak kami agar menjadi anak-anak yang shalih/shalihah. Dan saya melihat Lisa memenuhi kriteria istri, eh calon istri idaman saya."
Mendengar jawaban dari Hisyam ditambah melihat tingkahnya yang malu-malu saat salah dan bingung menyebut Lisa, sebagai istrinya atau calon istrinya. Seolah sudah resmi menjadi istrinya saja. Membuat Papa Hendrik menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis. Berusaha menahan tawanya.
'Ah, anak muda, kamu mengingatkanku zaman dulu saat aku melamar Mamanya Lisa, ' batinnya geli sendiri. Dulu dia pun mendapatkan pertanyaan ini dari Papa mertuanya, bahkan pertanyaannya lebih banyak dan menegangkan. Sekarang dia melakukan hal yang sama kepada calon menantunya ini.
Papa Hendrik tidak tahan lagi untuk tidak menggodanya, namun dengan tetap berusaha memasang wajah datarnya,
__ADS_1
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar lagi ingin segera menikah dengan putri saya, ya?"
Mendengar pertanyaan Papa Hendrik, sontak membuat wajah Hisyam jadi memerah karena malu. Namun tetap berusaha bersikap tenang agar tidak terlalu kentara salah tingkahnya.
"Sa... saya rasa, sesuatu yang baik itu harus disegerakan. Supaya tidak timbul fitnah, " jawab Hisyam sambil menahan rasa malunya.
Mendengar itu, akhirnya meledaklah tawa Papa Hendrik. Tidak bisa menyembunyikan lagi rasa tawanya. Begitu pula semua yang ada di situ. Membuat Hisyam bingung melihat semuanya tertawa. Lalu ia mulai menyadari kata-kata terakhirnya, akhirnya dia pun tersenyum. Wajahnya semakin merah. Tanpa sadar dia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Membuat tawa itu semakin terdengar. Setelah itu suasana tegang pun mulai mencair.
Setelah berhasil menguasai diri, Papa Hendrik memanggil Lisa untuk bergabung bersama mereka. Akhirnya, Lisa pun keluar dan duduk di samping mamanya. Setelah duduk dengan tenang, Papa Hendrik menatap putrinya dengan pandangan agak sendu, lalu bertanya, "Putriku, apa kamu mendengar percakapan kami di sini?"
"Iya, Pa, " jawab Lisa sambil membalas tatapan papanya. Cinta Pertamanya.
"Anak muda yang ada di hadapan Papa ini sedang meminta kamu sebagai calon istrinya. Apakah kamu mau menerimanya? Papa hanya akan mengikuti keinginan kamu. Karena kelak kamu lah yang akan menjalani biduk rumah tangga. Pahit dan manisnya akan kamu rasakan sendiri. Maka, apa keputusan kamu?" Tanya Papa Hendrik.
Sebelum menjawab, selain menatap papanya Lisa juga menatap wajah mamanya, meminta persetujuan. Keduanya hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang menguatkan.
Lisa menjawab dengan anggukan, membuat Hisyam terlihat begitu bahagia. Anggukannya sudah cukup sebagai jawaban dari gadis yang sudah begitu lama bertahta di hatinya ini. Ya, cinta pertamanya setelah ibunya.
Papa Hendrik menghela nafas, lalu menatap wajah calon menantunya dengan pandangan sendu. Seperti menahan matanya yang mulai berkaca-kaca, lalu bertanya, "Kamu mengerti jawaban Lisa, Nak?"
Hisyam mengangguk
"Maafkan saya telah membuat kamu tegang tadi. Tapi sebagai orang tua, terutama Papanya, sebagai walinya, pertanyaan seperti tadi adalah yang harus ditanyakan. Saya hanya ingin memastikan bahwa saya tidak menyerahkan putri saya begitu saja kepada orang yang salah. Agar tidak menyesal melepasnya. Kamu juga perlu tahu, bahwa saya dan Mamanya Lisa telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan juga pendidikan agama sejak kecil. Maka, saya juga berharap kamu memperlakukan Lisa seperti itu. Karena kamulah yang akan menjadi pengganti saya dalam menuntunnya, menjaganya, serta melindunginya. Dan jika ada yang tidak kamu sukai pada dirinya, tegurlah dengan cara yang baik. Saya yakin, pasti Lisa akan mendengarkan kamu selama kamu menyuruhnya kepada hal yang baik. Bukan menjerumuskannya ke dalam dosa, " ungkap Papa Hendrik.
Hisyam mengangguk lalu menjawab,
"Baik, Insya Allah saya akan berusaha menjadi calon suami yang baik untuk Lisa. Karena itu, kami pun masih butuh bimbingan dari Bapak dan Ibu. Karena saya pun sampai hari ini masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya juga menyadari begitu banyak kekurangan. Karena itu, jika suatu saat saya melakukan kesalahan jangan ragu untuk mengingatkan."
Lalu melanjutkan,
"Saya juga mengerti kekhawatiran Bapak akan nasib putrinya ke depan setelah menikah. Saya yakin, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Saya pun kalau kelak memiliki anak perempuan pasti akan melakukan hal yang sama dengan Bapak."
Papa Hendrik menganggukkan kepalanya merasa puas akan jawaban calon menantunya itu.
"Baik, terima kasih atas jawabannya. Oh iya, kapan kira-kira saya bisa bertemu dengan orang tuamu?" tanya Papa Hendrik.
"Insya Allah mereka siap kapan pun, " jawab Hisyam dengan yakin.
"Baik, besok malam saya mengundang orang tuamu untuk makan malam di sini. Bisa?" pinta Papa Hendrik.
"Insya Allah akan saya sampaikan, " jawab Hisyam dengan begitu cepat. Membuat Papa Hendrik sedikit terkejut dengan reaksi laki-laki yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1