Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Wejangan Pernikahan 2


__ADS_3

"Itulah pesan Abi untuk kamu Daffa. Dan sekarang, untuk Rima. Boleh, kan?"


Rima mengangguk, sambil menjawab, "Iya, boleh."


"Nah, untuk Rima yang sekarang sudah menjadi istrinya Daffa, Abi mau pesan. Pertama, taatilah suamimu dalam hal kebaikan. Suami adalah qowwam atau pemimpin di rumah tangga kalian, dan istri itu makmumnya. Kedua, berterima kasih dan doakan suamimu. Karena kedua hal itulah yang akan menambah rasa cinta dan kasih sayang suamimu. Ketiga, kelola rumah tanggamu dengan baik. Seorang istri harus berusaha menciptakan suasana dan kondisi yang nyaman dalam rumah tangganya sehingga suami dapat melaksanakan kewajiban agama dan dunianya dengan baik. Keempat, tidak membuka aib suamimu. Sama seperti suami yang harus menjaga aib istrinya.


Kelima, jagalah marwah suami dengan menjaga kehormatan di hadapan lawan jenismu. Terutama saat suamimu tidak ada di dekatmu. Menjaga diri dari fitnah. Tutuplah auratmu saat keluar rumah atau berhadapan dengan lawan jenis, berhiaslah hanya untuk suamimu, bukan yang lain, mintalah izin kepada suamimu jika ingin keluar rumah."


"Itu pesan Abi untuk kamu Rima. Bisa dipahami?"


"Iya Bi, Rima paham. Insya Allah Rima akan berusaha menjadi istri yang baik untuk A Daffa. Terima kasih atas wejangan Abi dan Ummi hari ini. Begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik. Mohon bimbingannya selalu, ya," pinta Rima dengan suara lirih.


"Sama-sama, Nak. Oke, selamat datang di keluarga besar kami!" seru Wirawan.


Rima tersenyum senang. Matanya tampak berbinar melihat sambutan kedua mertuanya. Melihat itu, Daffa yang duduk di sampingnya pun tersenyum senang. Netranya tak lepas menatap wajah cerah dan ceria istrinya. Tanpa disadari oleh gadis itu. Jantung pun semakin bereaksi.


'Duh, baru lihat senyumnya saja aku sampai kaya gini. Dia makin cantik saat tersenyum seperti itu. Rasanya jadi pengen cium pipi merahnya itu. Ups,' batin Daffa dalam hati mencoba menghentikan khayalan gilanya. Merasa gemas sendiri.


'Eh, tapi kan dia sudah jadi istriku. Jadi sah-sah saja kalau mau melakukan apapun padanya, ' bantahnya lagi.


Lama kelamaan, naluri Rima merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya dengan intens. Dia mencoba melirik seseorang yang ada di sampingnya. Akhirnya, saling pandang sambil saling melempar senyum. Tatapan mereka saling mengikat. Inilah pertama kalinya kedua pasangan pengantin baru itu saling tatap yang cukup lama. Debaran jantung keduanya pun seolah saling bersahutan. Perlahan, Daffa memberanikan diri menggenggam jemari istrinya untuk pertama kalinya. Rima pun tidak menolak, memilih membiarkan saja.


Ira yang melihat tingkah keduanya tersenyum-senyum sendiri. Entah sudah berapa kali dia memperhatikan tingkah kakak sulungnya itu yang malu-malu dan salah tingkah semenjak mengenal Rima. Wajah keduanya pun tampak sama-sama merah. Rasanya ingin menggodanya, tapi tidak tega. Akhirnya Ira memilih pura-pura tidak melihatnya. Tidak ingin merusak suasana romantis mereka.


"Nah, sambil ngobrol, kita nikmati dulu camilan sore ini, yuk! Biar lebih seru, " ajak Linda sambil meletakkan camilan itu di tengah-tengah mereka.


Dengan gembira, semuanya menikmati camilan itu, sambil terus berbincang ringan. Bersenda gurau.


***

__ADS_1


Setelah shalat Isya dan makan malam bersama keluarga, Rima terlihat mulai lelah. Melihat itu, Daffa langsung mengajak istrinya ke kamar mereka.


"Kamu capek?" tanya Daffa berbasa-basi.


"Iya, sedikit, " jawab Rima pelan.


"Banyak juga enggak apa-apa, kok, " sahut Daffa mengajaknya bercanda. Biar tidak ada kekakuan dan kecanggungan lagi di antara mereka.


Rima hanya tersenyum menanggapi candaan suaminya.


"Ya sudah, sebelum tidur kita shalat Sunnah dulu, yuk! Kamu masih punya wudhu?" ajak Daffa.


"Ehm, sepertinya wudhu lagi saja, deh. Biar segar."


"Baiklah, kalau Aa juga mau wudhu lagi."


"Oh, kalau begitu, Aa wudhu duluan saja, biar Rima siapin perlengkapan shalatnya."


Tak lama kemudian, Daffa keluar dari kamar mandi dan melangkah ke tempat shalat di kamar mereka. Giliran Rima yang masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan berwudhu. Tak lama, ia pun keluar dan melangkah mendekati suaminya lalu mengenakan mukenanya. Setelah siap, keduanya langsung menunaikan ibadah shalat Sunnah untuk pengantin. Karena malam ini adalah malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


Setelah selesai shalat Sunnah, Daffa memutar tubuhnya menghadap istrinya. Kini posisi keduanya saling berhadapan. Rima mencium punggung tangan suaminya dengan takjim. Keharuan seketika menyeruak di dalam hatinya. Dengan senyum dan tatapan mesra, Daffa meletakkan tangannya di atas kepala istrinya dan meniup ubun-ubunnya sambil membacakan doa malam pengantin.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau berikan kepadanya.”


Setelah itu, Daffa memberanikan diri mengangkat dagu istrinya, agar lebih leluasa menatap wajah cantiknya, dan menangkap ke dua pipinya, perlahan mulai mengecup keningnya. Namun mampu menggetarkan dada keduanya, seperti gendang yang bertalu-talu, saling bersahutan. Rima hanya mampu memejamkan kedua matanya. Inilah pertama kalinya dirinya disentuh oleh lelaki selain papanya.


Setelah puas saling menatap, Daffa mengajak istrinya untuk pindah ke ranjang mereka.

__ADS_1


"Kita pindah ke tempat tidur, yuk! Lama-lama jadi dingin duduk di sini!" ajak Daffa sambil bangkit, dan membantu istrinya berdiri.


"Ya, sebentar, mau bereskan ini dulu, " sahut Ira sambil membuka mukenanya, mengambil dua sajadah yang tadi mereka gunakan, sarung, dan melipat dengan rapi dan disimpan di dekat meja.


Setelah selesai, keduanya melangkah ke ranjang lalu duduk sambil menyandarkan punggung mereka ke sandaran ranjang. Daffa mengambil jemari lentik istrinya dengan lembut lalu menggenggamnya. Membuat Rima menatap wajah lelaki yang baru saja menjadi suaminya. Keduanya kembali saling tatap dengan tatapan yang mengunci. Perlahan sebelah tangannya yang nganggur mengelus pipi merah istrinya, sementara tangan yang lain masih setia menggenggam jemarinya.


"Terima kasih, sudah mau terima Aa menjadi suami kamu, " ujar Daffa lirih.


"Sama-sama, A. Terima kasih juga mau terima Rima jadi istri. Padahal Rima baru saja lulus SMA," sahut Rima.


Daffa tersenyum lalu kembali bertanya,


"Bolehkah Aa tanya sesuatu?"


"Tentu boleh, mau nanya apa?"


"Apa harapan kamu dari seorang suami?" tanya Daffa.


"Emh, Rima pengen punya suami yang bisa dijadikan sebagai sahabat, tempat curhat, tempat bersandar, teman dalam suka maupun duka, juga bisa menjadi guru yang ngemong, membimbing Rima supaya bisa menjalankan peran sebagai istri yang baik untuk Aa. Bisa membawa ke jalan Allah. Selalu menjadi pendukung utama dalam hal kebaikan. Dan berharap mau menerima Rima apa adanya. Kalau Aa temukan suatu kekurangan yang tidak disukai atau berbuat suatu kesalahan, mohon luruskan dengan baik. Jika memang itu baik, Rima usahakan untuk berubah. Menjadi lebih baik lagi ke depannya, " jawab Rima.


"Lalu Aa sendiri gimana?" tanya Rima balik.


"Harapan Aa tidak muluk-muluk. Dari dulu, pengen punya istri yang bisa menjaga kehormatan diri dan suaminya. Aku lihat, kamu sudah memenuhi syarat dengan selalu mengenakan pakaian muslimah syar'i. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Setidaknya, bisa dilihat selama kita menjalani masa ta'aruf dan khitbah. Aa lihat aman, lah. Sangat terjaga. Untuk peran kamu sebagai istri, Insya Allah pasti akan selalu dukung kamu selama untuk kebaikan. Jadilah diri kamu sendiri. Biar Aa mengenal kamu sesuai watak aslinya. Jika ada sesuatu yang harus diluruskan, maka pasti akan diluruskan dengan baik.


"Yang namanya rumah tangga itu adalah sebuah proses untuk selalu belajar, saling mengenal karakter, agar saling memahami, mengingat pelajaran ini tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah. Inilah sekolah kehidupan yang sebenarnya. Dengan status yang baru kita sandang sebagai suami istri, tentu bertambah pula kewajiban dan tanggungjawab kita. Kita berdua harus bisa saling mengisi, saling menyempurnakan, saling menguatkan. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, jika ada hal yang tidak kamu sukai dari diri Aa, katakan saja dengan baik. Kunci dari keharmonisan rumah tangga adalah komunikasi yang baik, keterbukaan, dan kepercayaan. Itu saja harapan Aa dari istriku."


Rima menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis sekali, membuat Daffa kembali tertegun dan terpesona.


"Ehm, Aa suka saat kamu tersenyum. Makin cantik, " ungkap Daffa jujur sambil terus menatap istri belianya itu.

__ADS_1


Mendengar ungkapan yang tiba-tiba itu membuat wajah Rima memerah seketika. Baru kali ini ada laki-laki yang memujinya seperti ini selain papanya. Rima menundukkan kepalanya. Namun Daffa tidak membiarkannya menunduk lama. Diangkatnya kembali dagu istrinya agar kembali menatapnya. Tatapan keduanya kembali mengunci.


"Aa sayang kamu, istriku, " bisik Daffa lagi sambil menarik tubuh mungilnya dan membawanya ke dalam dekapannya dari samping.


__ADS_2