
Rima terbangun dengan terkejut saat mendengar suara alarm dari jam weker di atas nakas di sampingnya, yang cukup memekakkan telinganya. Segera saja dimatikan alarm itu. Dilihatnya jam weker menunjukkan pukul 04.00. Namun, tiba-tiba ia merasakan seperti ada sesuatu yang berat menimpa sebagian tubuhnya. Dilihatnya, sebuah tangan melingkar erat di atas perutnya. Nyawanya yang belum sepenuhnya kumpul seketika menatap wajah di sampingnya yang masih terlelap.
Melihat itu, Rima langsung menjauhkan tangan yang masih melingkar di perutnya dan bangkit dari rebahan menjadi duduk dengan wajah seperti terkejut.
'Astaghfirullah, kok bisa ada laki-laki yang tidur di ranjangku? Eh, tapi di mana aku sekarang, rasanya ini bukan kamarku?' gumamnya linglung, matanya meneliti setiap detil kamar ini. Serasa asing.
Gerakan yang tiba-tiba itu mengejutkan laki-laki yang sejak semalam tidur di sampingnya, hingga terbangun.
"Rim, ada apa?" tanya Daffa, bingung dengan suara serak khas orang baru bangun tidur sambil menyentuh bahunya pelan.
Rima segera menepis tangan itu agar menjauh dan menatap laki-laki itu sambil melototkan matanya, galak.
"Siapa kamu? Kok, bisa-bisanya ada di ranjang saya?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Rima malah balik bertanya dengan nada ketus.
"Loh, aku ini suamimu, Daffa. Kita baru saja menikah kemarin, dan tadi malam adalah malam pertama kita sebagai suami-istri. Tidur di kamar ini, kamar kita. Kamu lupa, ya?" terang Daffa, mengingatkan.
Mendengar itu, seketika Rima langsung memutar memorinya. Mengingat peristiwa sejarah besar dalam hidupnya sejak kemarin. Rima pun baru sadar.
"Hah, Ya Allah, kenapa bisa sampai lupa? Maaf, " sahut Rima sambil menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya, malu.
Daffa menahan tawanya geli melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba linglung seperti itu.
'Untung saja tidak kena tabok atau tendangan maut,' gumam Daffa sambil mengelus dadanya.
Lalu terbersit keinginan isengnya. Ingin menggoda gadis itu.
"Jangan bilang kamu juga lupa dengan apa yang sudah kita lakukan tadi malam," tukas Daffa dengan senyum menggoda.
Rima pun mengingat kembali apa yang terjadi semalam di kamar ini. Yup, pergumulan panas mereka. Wajahnya semakin memerah. Rupanya, gadis itu mendadak benar-benar lupa bahwa sejak kemarin dirinya telah menikah dan sudah berubah status menjadi seorang istri dari Daffa Wirawan dan tinggal di rumahnya. Bersama mertua. Bukan lagi seorang gadis remaja yang baru lulus SMA.
"Maaf, Rima benar-benar lupa, A. Kaget banget tadi, pas bangun merasa ada yang berat, ada tangan yang melingkar di perut pula. Terus lebih kaget lagi pas lihat ada laki-laki di sebelahku. Biasa tidur sendiri, tiba-tiba ada orang, laki-laki pula. Dan lupa juga pas lihat kamar, bukan kaya di kamar sendiri di rumah, " terang Rima menjelaskan.
Daffa menggelengkan kepalanya.
"Kamu, tuh ada-ada saja. Bisa-bisanya lupa hari bersejarah besar kita. Kamu pikir lagi diculik, gitu? Hm, kebanyakan nonton sinetron atau baca novel, nih, kayanya," selidik Daffa sambil mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Iya maaf, namanya juga orang baru bangun tidur. Nyawanya belum kumpul semua. Masih terbang ke mana-mana. Tapi sekarang sudah ingat lagi, kok, " ujar Rima membela diri.
"Besok-besok jangan lupa lagi, ya, " tukas Daffa memberi peringatan.
Rima mengangguk sambil tersenyum. Daffa pun ikut tersenyum maklum sambil mengecup kening istrinya.
"Ya sudah, sekarang kita siap-siap shalat, yuk!" ajak Daffa.
"Ya, A Daffa duluan saja, deh. Kan mau ke masjid. Biar Rima siapkan baju kokonya."
"Baiklah."
Daffa langsung bergegas turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Sementara Rima langsung menyiapkan baju koko, sarung dan sajadah untuk suaminya, disatukan dengan menggunakan satu hanger dan digantung di gantungan lemari di ruang ganti. Tidak lama kemudian, Daffa terlihat keluar dari kamar mandi.
"A, itu baju dan sarungnya sudah Rima siapkan, digantung di ruang ganti, " sahut Rima.
"Oke, terima kasih, istriku," jawab Daffa, sambil melangkah ke dalam ruang ganti. Langsung mengenakan baju koko dan sarungnya dengan rapi lalu keluar dari sana.
__ADS_1
"Rim, aku pamit shalat di masjid dulu, ya. Nanti pulang setelah waktu syuruk. Kamu tahu, kan, berdiam di masjid dari shalat Subuh sampai waktu syuruk itu amat besar pahalanya, dilanjutkan shalat Sunnah Syuruk," pamit Daffa, sambil membawa sajadah dan mushab Al Qur'an di tangan kanannya.
"Iya, A, " jawab Rima, sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Setelah Daffa keluar kamar dan menutup pintu, giliran Rima yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Setelah keluar dari kamar mandi, langsung menggelar sajadah dan mengenakan mukenanya. Langsung menunaikan ibadah shalat Subuh.
Setelah shalat Subuh dilanjutkan dengan bertilawah, membaca Al Qur'an beberapa lembar. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya setiap setelah menunaikan ibadah shalat Subuh dan Maghrib. Setelah bertilawah, dilanjutkan dengan berzikir pagi. Berzikir di waktu pagi ba'da shalat subuh dan petang ba'da shalat Ashar juga telah menjadi aktifitas kebiasaannya. Masih setia duduk di lantai beralaskan sajadah dan mengenakan mukenanya.
Semua kegiatan itu selesai sampai pukul 05.00. Segera saja, Rima membereskan perlengkapan shalatnya dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuju dapur. Kerongkongannya terasa kering. Haus. Karena sejak tadi malam belum sempat minum.
Setelah sampai di dapur, rupanya sudah ada Ummi Linda di sana. Sedang mempersiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya. Rima menghampiri ibu mertuanya itu dan menyapanya,
"Assalamualaikum, Ummi."
"Eh, wa'alaikumussalam, Nak. Sudah bangun? Sudah shalat subuh?" jawabnya langsung memberondong dengan pertanyaan.
"Sudah dari tadi, Mi, " jawab Rima sopan.
"Emh, Rima mau minta minum, boleh?" izin Rima dengan sungkan.
"Tentu saja boleh, Nak. Ayo, ambillah! Jangan sungkan, anggap di rumahmu sendiri. Ini kan rumah kamu juga, " ujar Linda lembut.
"Iya, Mi, terima kasih, " sahut Rima malu, lalu mengambil minumnya sendiri.
Setelah minum, Rima kembali mendekati ibu mertuanya.
Rima memang terbiasa membantu mamanya di dapur, menyiapkan sarapan.
"Cuma masak nasi goreng saja. Kebetulan masih banyak nasi kemarin di magic com. Sayang saja, " jawab Linda jujur.
"Oh, kalau begitu biar Rima bantu buatkan omelettenya, untuk teman nasi goreng, " tawar Rima.
"Kamu bisa masak?" tanya Linda penasaran.
"Bisa sedikit, kadang-kadang suka masak sendiri kalau Mama dan Papa tidak ada di rumah. Biasanya setelah pulang sekolah untuk makan siang. Untuk pagi dan sore baru Mama yang masak, " jawab Rima, sedikit bercerita.
"Oke, baiklah. Ummi jadi penasaran pengen coba masakan kamu, " ujar Linda sambil tersenyum.
Seketika Rima mengangguk.
"Tapi, maaf kalau rasanya kurang enak, " ujar Rima lagi merendah.
"Ah, pasti enaklah. Hm, ambillah bahan-bahannya di kulkas, " titah Linda sambil menunjuk letak kulkas di dapur itu.
Rima mengangguk dan melangkah menuju kulkas dan mengambil bahan omelet, seperti mentega, bawang merah, bawang putih, daun bawang, 1 buah tomat, dan empat butir telur. Diambilnya mangkuk yang ada di rak piring untuk mengadon bahan-bahan itu. Mengocok telur dengan menggunakan garpu, setelah itu memasukkan bahan bumbu yang tadi diambilnya di dalam kulkas. Tambah garam, merica bubuk, kemudian diaduk rata.
Setelah itu, diambilnya teflon anti lengket yang tergantung di atas kompor gas, tepat di dekat kepalanya dan menaruhnya di atas kompor. Berdampingan dengan Linda yang masih sibuk dengan nasi gorengnya. Api kompor gas dinyalakan dengan ukuran sedang, lalu Rima memasukkan mentega ke atas teflon. Setelah panas, barulah semua bahan yang telah tercampur tadi dituangkan ke atas teplon, dan disebar mengikuti bentuk teplon yang bulat. Ditunggu hingga agak matang, barulah dibalikkan.
Tidak lama, omeletnya matang langsung dituangkan ke dalam piring dalam keadaan sudah dipotong kecil-kecil. Hingga memudahkan siapapun yang akan mengambil dan memakannya nanti. Tampilannya sungguh cantik dan mengundang selera.
__ADS_1
Semua kegiatannya tak luput dari perhatian ibu mertuanya.
"Hm, harumnya! Pasti enak, nih, " puji Linda sambil mengenduskan hidung menghirup aroma omelette buatan menantunya itu. Rima hanya tersenyum.
Ira yang baru keluar dari kamarnya segera mendekati dapur saat menghirup aroma masakan yang berasal dari dapur.
"Wangi masakan apa, nih? Harum banget, " tanya Ira sambil mengenduskan hidungnya.
"Itu, tuh, omelette buatan kakak iparmu, " jawab Linda.
"Wah, kayanya enak, nih!" Seru Ira melihat omelette yang telah terhidang di meja makan. Berdampingan dengan nasi goreng buatan Linda.
"Bukannya bangun dari tadi kamu, Ra, bantu-bantu di dapur," tegur Linda kepada Ira.
"Ira sudah bangun dari tadi, kok, Mi. Habis shalat tilawah dulu, sekalian muraja'ah. Nanti siang kan ada setoran ayat sama Kak Lisa sambil ngaji sama teman-teman, " jawab Ira.
"Oh, dikira baru bangun."
"Ya, sudah, kamu siapkan minuman untuk semua," titah Linda.
"Siap, bos!" jawab Ira sambil melakukan gerakan seperti hormat saat upacara bendera.
Melihat itu, Linda hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, Kakak mau minum apa? Susu, teh, atau kopi?" tanya Ira.
"Eh, Ra, untuk kakak dan A Daffa biar diseduh sendiri saja. Oh iya, A Daffa biasanya suka minum apa kalau pagi?" Rima bertanya balik.
"Apa saja, sih. Tidak pernah pilih-pilih. Tidak pernah rewel soal makanan atau minuman. Apapun yang disediakan sama Ummi pasti akan ditelannya tanpa protes. Katanya, tidak boleh mencela makanan atau minuman. Itu sama saja tidak mensyukuri nikmat Allah. Lebih dari itu, ingin menghargai jerih payah Ummi yang telah sibuk menyiapkan sarapan ba'da shalat subuh buat kita-kita. Nggak tahu juga, tuh memang benar begitu alasannya atau memang doyan, " terang Ira.
Rima menganggukkan kepalanya.
"Hus, kamu tuh sama kakakmu su'udzon terus. Heran, pagi-pagi sudah ngajak perang, " omel Linda sedikit keras. Membuat Ira langsung nyengir dan menutup mulutnya. Rima hanya menahan tawanya sambil geleng-geleng kepala.
'Benar-benar kaya Tom and Jerry, kakak dan adik ini, ' gumam Rima geli.
Namun dalam hati, Rima merasa kagum atas sikap Daffa yang begitu menghargai wanita yang telah melahirkannya itu. Gadis itu ingat nasihat dari mamanya saat ia menanyakan tipe laki-laki yang baik dan sholih itu seperti apa, saat masih dalam tahap ta'aruf dan khitbah dengan suaminya, Daffa.
"Sifat dan karakter seorang laki-laki yang baik terhadap wanita itu bisa dilihat dari caranya memperlakukan ibu atau saudara perempuannya. Jika dia baik, begitu menghargai, dan menjaga, maka begitu pula sikapnya kepada istrinya. Sebaliknya, jika perlakuannya buruk maka begitu pula sikapnya terhadap istrinya. Yang seperti ini biasanya karena kurang dekat dengan orang tua, terutama ibunya. Karena itu, penting bagi seorang anak laki-laki dekat dengan ibunya di masa golden age, yaitu lima sampai tujuh tahun pertama semenjak kelahirannya. Sebelum sang anak mengenal dunia luar di luar keluarganya. Belajar mengenal sosok seorang wanita darinya dan menjadi cinta pertama baginya sebelum orang lain, yaitu istrinya. Dan laki-laki yang baik dan sholih itu adalah yang paling baik kepada keluarganya. Akhlaknya. Bukan sebaliknya, baik kepada orang lain, tapi buruk kepada keluarganya sendiri. Apalagi kepada orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkannya sejak masih dalam kandungan."
Selanjutnya, Rima dan Ira langsung membuatkan minuman untuk seluruh anggota keluarganya. Rima membuat susu untuk suaminya, sedangkan untuknya teh manis hangat. Ira membuatkan susu untuk adiknya Raihan dan dirinya, kopi susu untuk Abinya, dan teh manis untuk umminya. Semua minuman itu segera dihidangkan di atas meja makan dengan beralaskan nampan.
Tidak lama kemudian, para lelaki, yaitu Abi Wirawan, Daffa, dan Raihan tampak memasuki rumah. Mereka baru saja pulang dari masjid. Jam di dinding menunjukkan pukul 06.15.
Linda mencium punggung tangan suaminya sedangkan Daffa dan Raihan mencium punggung tangan umminya. Rima juga berjalan mendekati suaminya dan mencium punggung tangannya, dan Abi Wirawan. Lalu membawakan perlengkapan shalat suaminya dan menyimpannya di dalam kamar. Setelah itu keluar lagi.
"Wah, ganteng-gantengnya Ummi, nih. Baru pulang dari masjid. Ayo, langsung sarapan. Menantu kita ikut masak, loh! " ajak Linda menuju ruang makan.
"Oh ya, wah menantu Abi bisa masak, ya? Masak apa saja, nih?" Tanya Wirawan
"Ummi masak nasi goreng, menantu kita masak omeletnya, kelihatannya menarik dan enak, Bi. Harum, deh. Dan ternyata cukup cekatan juga. Tidak salah kan aku menjadikannya sebagai menantu kita?" jawab Linda.
Wirawan mengangguk senang. Sementara Rima hanya diam sambil tersenyum, tampak tersipu malu. Daffa pun tersenyum sambil mengelus kepala Rima dengan lembut.
__ADS_1
"Ayo, kita serbu sarapan kita!" ajak Wirawan kepada semuanya.
Kelimanya begitu lahap menyantap sarapan pagi itu hingga tandas. Setelah semua selesai sarapan, Rima dan Ira langsung membantu Linda membereskan meja makan hingga rapi dan bersih lagi seperti sedia kala. Semua peralatan masak yang telah kotor langsung dicuci sampai bersih. Begitu pula dapur.