Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Latihan Perdana


__ADS_3


Pagi-pagi, sekitar jam 07.00, Sania terlihat sudah rapi. Lengkap dengan alat perlengkapan panahannya.



Melihat kesibukannya, Larasati, maminya menegurnya, "Jadi latihannya hari ini?"


"Iya, Mi, " jawab Sania sambil menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ya sudah, kalau gitu sarapan dulu, ya. Tania dan papi juga sudah siap sarapan. Mereka menunggumu," ujar Larasati.


"Iya, Mi, sebentar aku nyusul ke sana. Tanggung, nih," jawab Sania, tangannya tampak masih sibuk dengan berbagai perlengkapan yang akan dibawanya.


Setelah semua rapi, Sania membawa semuanya ke ruang keluarga. Meletakkannya di sofa. Lalu kakinya melangkah ke meja makan, yang memang letaknya tidak jauh dari situ. Sebenarnya antara ruang keluarga dan ruang makan masih satu ruangan, hanya dibatasi dengan sekat kayu berukir saja yang tampak berdiri membatasi kedua ruangan itu. Seolah punya dua ruangan.


Sania bergabung dengan semuanya menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan oleh maminya.



Melihat kakaknya sudah rapi, Tania bertanya, "Kakak mau latihan, ya?"


"Iya, Dek. Latihan pertama, nih. Kamu sendiri kapan mulai latihan renangnya?"


"Minggu depan kayanya, Kak. Minggu ini belum dimulai, " jawab Tania.


Sania dan adiknya, Tania, sama-sama menyukai olahraga, namun beda cabang. Sania menyukai panahan sedangkan adiknya suka renang. Baru gabung pula di klub renang khusus muslimah.



Mendengar percakapan antara adik kakak itu, Dandi, papinya nimbrung, "Gadis-gadis kecil papi ini suka banget sama olahraga, ya."

__ADS_1


"Iya dong, Papi, kan biar badan selalu fit, sehat, dan bugar. Jauh dari penyakit, " jawab Tania, sambil mendekatkan pangkal lengannya menuju bisepnya, seperti ingin memperlihatkan otot-ototnya.


Dandi tersenyum gemas mendengar jawaban dari Tania.


"Tidak terasa, ya, Mi. Anak-anak kita sudah gadis. Sudah punya hobinya masing-masing, " kata Dandi sambil melirik ke arah istrinya.


"Iya, ya, rasanya baru kemarin mereka digendong-gendong, eh sekarang sudah pada bisa jalan sendiri. Pada punya kegiatannya masing-masing. Berarti, sebentar lagi tinggal kita saja berdua, ya Pi? Hm, pasti bakalan sepi, deh," keluh Larasati sedih.


"Ih, Mami, Papi, apa-apaan, sih? Kan Sania sama Tania masih di sini. Kita nggak akan ke mana-mana, kok. Iya, nggak, Tan?" ujar Sania sambil meminta dukungan dari adiknya.


"Iya, mami jangan sedih, dong, " jawab Tania, sambil memeluk maminya. Sania akhirnya ikutan juga.


Yang dipeluk jadi tersenyum kembali.


"Ehm, Ehm, kok cuma mami aja yang dipeluk, papi nggak, nih?" Indra pura-pura merajuk.


"Idih, papi iri, deh, " seru Larasati.


"Ya sudah, habiskan dulu sarapannya, nanti kamu papi antar, Sania, " ajak papinya, saat melihat makanan yang ada di piring mereka masih belum habis.


"Wokeh, " jawab Sania.


Lalu semuanya kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda karena adegan dramatis tadi. Setelah semuanya selesai sarapan, Sania berpamitan kepada mami dan adiknya. Tak lupa cium punggung tangan dan cipika cipika.


Sandi membawakan perlengkapan Sania ke dalam mobil. Setelah Sania naik, akhirnya mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama, mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah.


Setelah memastikan putri sulungnya itu sudah masuk ke sekolahnya, mobil pun dijalankan. Kembali pulang ke rumah.


Sania tampak memasuki lapangan yang cukup luas, tempatnya berlatih panahan. Beberapa temannya pun sudah ada yang datang, walaupun belum lengkap.


Jam 8.00 teng, waktunya Sania dan teman-temannya berlatih panahan. Sebelum itu, Khairunnisa, Ketua Koordinator Putri, memimpin senam dan stretching untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Supaya tidak keram. Terutama daerah lengan, yang pasti banyak digunakan.

__ADS_1


Setelah itu, latihan dimulai. Secara bergantian mereka sebanyak lima orang maju untuk mulai fokus memanah papan bergambar yang berdiri tegak yang jaraknya cukup jauh.


Sania, yang memang sudah biasa latihan memanah tidak banyak menemukan kesulitan. Beberapa kali ia berhasil memanah papan tepat di tengahnya. Yang bertuliskan angka sepuluh. Semua yang melihat tampak takjub.


Membuat Khairunnisa bertanya, "Sepertinya kamu sudah bisa memanah, ya?"


"Iya, Kak Nisa, sejak SMP saya sudah ikut klub memanah khusus muslimah, " jawab Sania.


"Oh, pantas. Wah, kalau begitu kamu bisa dong membantu kakak mengajari teman-temanmu, kan? Beberapa teman kamu masih banyak yang belum bisa. Mau, kan?" tanya Khairunnisa.


"Tentu saja boleh, Kak. Senang bisa sharing, " jawab Sania senang.


'Aku jadi bisa kenal dekat dengan teman-teman, nih," gumamnya dalam hati.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih," ujar Nisa.


Akhirnya, Sania ikut membantu teman-temannya berlatih dengan sabar. Walaupun tadinya mereka tampak ragu dan enggan karena melihat penampilannya yang bercadar. Namun, karena keramahannya, tidak pelit ilmu, dan tidak sombong, membuat mereka akhirnya mau mengikuti ajarannya dengan nyaman.


Sikap supel yang ditunjukkan oleh Sania pun membuatnya mudah diterima oleh teman-temannya. Sehingga menepis anggapan buruk tentang orang bercadar, yang sering diidentikkan dengan misterius, sulit didekati, eksklusif, dan sebagainya.


"Hm, pokoknya hari ini aku senang sekali. Teman-temanku jadi bertambah banyak," batinnya senang.


Seharian itu senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya, hingga terbawa sampai rumah. Melihat keceriaan anak sulungnya, Larasati bertanya-tanya, "Hayo, ada apa, nih? Dari tadi pulang kamu ceria betul. Senyam-senyum terus. Apa ada hal yang baik di sekolah?"


Sania memeluk maminya dengan manja sambil bercerita, "Iya, Mi, Sania senang sekali hari ini. Kenalan dengan banyak teman. Terus, tadi malah disuruh bantu melatih teman-teman yang belum bisa. Walaupun merekanya sempat ragu, menolak karena lihat penampilan Sania, tapi akhirnya mau juga. Akhirnya jadi bisa dekat dengan mereka, bercanda. Lucu saja ingat candaan mereka tadi."


Sambil mengelus rambut putrinya, ia berujar, "Oh, gitu rupanya. Ya, kamu betul, Nak. Kepada siapapun kita harus bergaul dengan baik, bersikap baik. Akhlak yang baik itu adalah hiasannya seorang muslim. Memang, sih, ada sebagian orang yang menilai seseorang itu dari penampilan, tapi banyak juga sih yang tidak seperti itu. Apalagi cadar itu bukan hal yang asing sebenarnya, kan. Sudah banyak yang pakai juga. Dibandingkan zaman mami dulu, jangankan yang bercadar, sekedar menutup aurat saja bisa dihitung dengan jari. Dan mami termasuk orang pertama yang berhijab di kampus. Walaupun tidak pakai cadar. Waktu SMA ingin berhijab susah, terhalang sama aturan sekolah yang melarang siswanya berhijab. Lagipula belum sampai ilmunya ke mami bahwa muslimah itu wajib menutup aurat. Jadinya mami baru bisa menutup aurat pas kuliah. Telat banget, kan? Kamu sih, beruntung sekarang, Nak. Di sekolah kamu tidak ada larangan. Semua lebih paham agama. Teruskan seperti itu, ya Nak. Tetap jaga akhlak yang baik."


"Iya, Mi, " jawab Sania sambil mengangguk.


Larasati melanjutkan nasihatnya, "Penampilan sebenarnya hanyalah aksesoris belaka yang menutupi buruknya aib kita. Allah tidak melihat rupa, tetapi yang dilihat adalah ketakwaan. Sejauh mana kamu terikat dengan seluruh aturan-Nya. Hanya itu yang dilihat Allah, bukan penampilanmu. Tapi bukan berarti juga kamu boleh mengabaikan penampilanmu, membiarkan tubuhmu kotor, kumal, dekil, atau bau badan, misalnya. Ya, tidak boleh seperti itu juga. Karena Allah pun menyukai keindahan. Yang terpenting tetap menjaga kebersihan diri, tubuh, dan hatimu. Itu baru muslimah yang baik, yang bisa membuat para bidadari cemburu karena ketaatan kepada Allah, menjaga pola pikir dan sikapmu sesuai dengan keinginan Allah. Begitu, Nak. Kamu paham, kan?"

__ADS_1


Sejenak Sania terdiam sambil mencoba mencerna kata-kata maminya. Terasa menyejukkan. Kemudian mengangguk sambil tersenyum. Lalu semakin mempererat pelukannya. Larasati pun membalas pelukan putrinya.


__ADS_2