Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Kedatangan Papa Dandi


__ADS_3

Hari keempat liburan


Pagi, setelah sarapan Sania, Ira, Rianti, Wulan, Vania, Rina, dan Andin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Pak Hasan dan Laila. Dengan diantar oleh Mang Asep dan Mang Supri. Tak lupa mereka juga membawakan sarapan dan buah-buahan.


Lima belas menit kemudian mereka pun sampai. Langsung masuk ke ruang perawatan ayah dan anak itu. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam mereka masuk


"Hai, Laila bagaimana kabar kamu? Sudah baikan?" tanya Rina sambil tersenyum menenangkan.


"Alhamdulillah, baik, Rin, " jawab Laila sambil tersenyum.


"Oh iya, ini ada makanan untuk kalian sarapan. Kue marmer cake buatan Rianti untuk camilan, sudah dipotong-potong, tinggal diambil saja, dan ada juga buah-buahan," ujar Sania sambil menata makanan di atas meja dekat tempat tidur Laila.


"Masya Allah, terima kasih banyak teman-teman. Kalian baik sekali. Padahal tadi kita tidak saling kenal, ya. Tapi kalian..." ujar Laila merasa terharu akan perhatian Sania dan para sahabatnya.


"Kamu ini bicara apa, sih, Laila? Mungkin ini cara Allah mempertemukan kita. Jadi menambah saudara, " sahut Sania.


Selanjutnya mereka saling berbincang, mengakrabkan diri. Membuat Rina merasa terhibur, sejenak melupakan kepedihan hidupnya.


Saat sedang asyik berbincang ke sana kemari, terdengar ucapan salam dari arah laut ruangan. Tania yang berada dekat pintu segera membuka pintu itu. Dan betapa terkejutnya bercampur senang saat melihat dua sosok yang teramat disayangi dan dihormatinya.


"Papi, Mami!" panggil Tania senang.


Ya, mereka adalah orang tua Sania dan Tania. Lalu segera mencium punggung tangan keduanya.


Melihat itu, Sania pun mendekat ke arah orang tuanya, mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Begitu pun yang lain, ikut memberi salam hormat.


"Ya Allah, Mama, Papa. Kok nggak bilang-bilang mau ke sini? Kapan sampainya?" tanya Sania dengan suara manja. Rasanya ia begitu rindu pada keduanya.


"Pagi-pagi sekali Papa dan Mama langsung ke sini. Rasanya nggak sabar ingin bertemu putri-putri kesayangan Papa. Kangen rasanya. Rumah rasanya sepi tidak ada kalian, " ujar Sang Papa sendu sambil memeluk kedua putrinya. Posisi Papa Dandi berada di tengah-tengah kedua putrinya. Sania dan Tania pun sontak membalas pelukan Papa mereka.


"Sama mama nggak ada yang kangen, nih? Sama Papa saja kangennya?" sindir Sang Mama, membuat kakak beradik itu segera melepaskan pelukan papanya dan berpindah memeluk mama mereka.


"Kangen juga, lah, " jawab keduanya secara bersamaan.


Papa Dandi menatap sahabat-sahabat Sania satu per satu, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Papa Dandi.


"Alhamdulillah, baik, Om," jawab para gadis itu secara bersamaan.


"Kabarnya, kemarin ada yang berhasil mengalahkan ketua geng motor yang suka berbuat onar, ya, " tanya Papa Dandi.


"Ih, kok Papa bisa tahu?" tanya Sania, heran. Seingatnya dia belum bercerita apa-apa tentang kejadian tempo hari itu.


"Apa sih yang Papa tidak tahu tentang kalian?" jawab Papa Dandi.


Sania lupa siapa Papa Dandi. Pasti Mang Asep yang sudah cerita. Secara, dialah yang ditugasi untuk mengawasi gadis-gadis ini sekaligus mata-mata bagi papanya. Setiap hari, hari ada laporan tentang apa saja yang dilakukan oleh mereka selama liburan.


"Iya, Rianti orangnya, Pa. Tidak disangka, ternyata dia jago juga ilmu bela dirinya. Sampai bisa dibanting gitu. Keren, pokoknya lah. Kalem-kalem ternyata menghanyutkan. Ternyata dia seorang Judoka, " jawab Sania, membanggakan Rianti dan kemampuan bela dirinya.


"Oh iya, keren kamu, " ujar Papa Dandi tidak menyangka jika sosok gadis yang biasa terlihat lembut, sabar bisa garang juga.


"Ah, biasa saja, Pa. Malah saya menyesal setelah membanting anak itu. Lepas kendali begitu saja. Tapi Alhamdulillah, sepertinya dia sedang berproses untuk berubah. Ternyata ada latar belakangnya juga mengapa Handi menjadikan seperti itu. Senang memancing masalah dengan orang lain, " ujar Rianti menjelaskan.


Sania pun menambah cerita dari Rina tentang masa kelam Handi sejak kecil sampai membentuk karakternya yang keras. Membuat Papa dan Mama Sania merasa kasihan dengan kehidupan Handi


Setelah asyik berbincang, pandangan Papa dan Mama Sania ke arah seorang gadis seusia Sania sedang duduk di sandaran tempat tidurnya. Sementara di ranjang satu lagi terlihat sosok laki-laki paruh baya. Lalu keduanya mendekati ayah dan anak itu.


"Oh, eh, Tu... Tuan Dandi, Alhamdulillah sudah agak membaik, tinggal pemulihan saja. Untung hanya hidung saya yang bermasalah, kata dokter agak retak karena pukul keras mereka, " jawab Pak Hasan dengan suara lirih.


"Alhamdulillah, semoga semakin membaik, ya," doa Papa Sandi. Pak Hasan mengaminkan.


Lalu menoleh kepada Laila seraya bertanya, " Ini Putri kamu?" tanya Papa Sandi.


Pak Hasan mengangguk sebagai jawaban.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Sudah baikan?" tanya Papa Dandi lagi.


"Alhamdulillah membaik, Tuan, " jawab Laila mengikuti ayahnya memanggil 'Tuan' kepada Papa Dandi.


"Saya turut prihatin mendengar apa yang terjadi kemarin pada keluarga kamu, Hasan. Seharusnya kamu bicara dengan saya. Saya ini atasan kamu, dan kamu karyawan saya yang harus diperhatikan kesejahteraannya. Jadi kamu tidak perlu lari ke rentenir licik seperti Samiri itu. Bukannya menyelesaikan masalah yang ada malah menambah, tidak selesai-selesai sampai sekarang, kan?" ujar Papa Dandi menyayangkan sikap Pak Hasan yang tidak terbuka.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Saat itu saya hanya terpaksa oleh keadaan. Saya butuh uang banyak untuk operasi almarhumah istri saya, ibunya Laila. Walaupun pada akhirnya istri saya meninggal dunia juga beberapa hari pasca operasi. Saya takut bicara dengan Tuan, " jawab Pak Hasan memberi alasan.


Membuat Papa Dandi menghela nafasnya mencoba maklum. Mungkin jika dia yang ada di posisi Pak Hasan bisa jadi akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih buruk dari itu.


"Ya, sudah. Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi. Saya berharap untuk ke depannya kamu tidak mengulangi lagi. Ambil pelajaran dari kejadian ini. Jangan lagi meminjam uang kepada rentenir, sebab selain tidak menyelesaikan masalah, dosa pula, " ujar Papa Dandi memberi nasihat.


"Harta yang kamu dapatkan juga menjadi tidak halal apalagi berkah. Meskipun kamu menggunakannya untuk keperluan mendesak sekalipun. Apalagi sampai taruhannya nyawa seperti itu. Saat mendapatkan pinjaman seperti itu mungkin hanya bisa menyelesaikan satu masalah itu. Selanjutnya berbuntut panjang. Hidup dikejar-kejar hutang, tidak enak rasanya, bukan?" ujar Papa Dania melanjutkan nasihatnya.


Semua orang tampak terdiam mendengar nasihat panjang dari Papa Dandi. Mencoba merenungi setiap kata-katanya.


"Sudah, sekarang kamu tidak usah khawatir. Hutang kamu sudah saya lunaskan semua. Jadi kamu tidak punya hutang apa-apa lagi sama Si Samiri itu. Mereka tidak akan mengganggu keluarga kamu lagi, " ujar Papa Dandi, membuat tangis Pak Hasan pecah seketika. Merasa bersyukur memiliki majikan yang begitu baik dan murah hati.


"Masya Allah, hiks... te... terima kasih, Tuan. Ba... bagaimana cara saya mengembalikan hutang saya pada Tuan?" ujar Pak Hasan dengan suara tersendat-sendat. Sekaligus menyesal.


"Kamu tidak perlu pikirkan hal itu, cukup kamu bekerja dengan baik dan rajin. Mulai hari ini, kamu saya angkat menjadi wakil Hanif, " ujar Papa Dandi.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Begitu banyak kebaikan Tuan kepada saya dan keluarga," ujar Pak Hasan. Tangisnya semakin keras.


"Mengenai anakmu, mulai hari ini saya angkat menjadi anak asuh saya. Saya akan memberikan beasiswa penuh untuknya sampai perguruan tinggi. Saya dengar, putri bapak ini pintar. Prestasi di sekolahnya sangat baik. Tapi harus putus sekolah karena tidak ada biaya, benar begitu?" ujar Papa Sandi.


"I... iya, Tuan. Sebenarnya saya keberatan jika Laila berhenti sekolah, tapi dia yang bersikeras. Katanya sayang, uangnya buat bayar hutang saja. Dia ingin mencari bekerja saja, " jawab Pak Hasan dengan wajah sedih.


"Nak Laila tidak usah khawatir lagi, hutang ayah kamu kan sudah lunas, kamu bisa sekolah lagi. Sayang loh jika kepintaran kamu tidak diasah dengan ilmu. Nanti bisa tumpul seperti pisau yang tidak pernah diasah. Kamu mau begitu?" ujar Papa Sandi membuat Laila menggelengkan kepalanya.


"Nah, kalau begitu lanjutkan sekolahmu, ya?" bujuk Papa Sandi lembut, persis seperti bicara kepada putri-putri.


"Alhamdulillah!" ucap semua yang mendengarnya, lega. Air matanya menetes tak terbendung. Bahagia. Lega. Bersyukur.


"Dan kamu juga tidak usah sungkan sama saya. Anggap saya ibu kamu, ya. Sama seperti Sania dan Tania, " ujar Mama Larasati sambil menghisap bahunya pelan.


"Iya, kita jadi nambah saudara, " ujar Sania dan Tania senang. Membuat Laila tersenyum bahagia.


"Terima kasih atas kebaikan Tuan kepada saya dan keluarga. Saya berjanji akan bekerja lebih rajin dan lebih baik lagi, " ujar Pak Hasan haru.


"Ya, sama-sama. Pada dasarnya, rezeki itu dari Allah. Saya hanya perantara saja. Melalui peristiwa ini saya jadi tahu permasalahan karyawan saya yang selama ini diabaikan. Saya anggap ini teguran dari Allah untuk saya. Sekaligus juga ini cara Allah untuk menolong hambanya agar kamu lepas dari jeratan rentenir. Ini juga pasti karena doa kamu selama, bukan?" ujar Papa Dandi lirih.

__ADS_1


Suasana di ruang perawatan itu menjadi mengharu biru.


Ya, pertolongan Allah pasti akan datang pada saat yang tepat. Kadang dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dan skenario Allah pasti lebih indah.


__ADS_2