
Sekilas Info
Assalamu'alaikum, gimana kabarnya? Di minggu akhir bulan Ramadhan ini? Semoga tetap sehat, ya, semakin maksimal dan khusyu ibadahnya, walaupun cuma di rumah saja. Tetap semakin semangat meraih pahalanya yang berlimpah. Aamiin.
Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca dan ngelike novel ini. Novel ini sedang dilombakan, ya. Jadi, mohon dukungannya dengan komentar, like, dan votenya, ya. Masukan membangun dari teman-teman penting bagi author untuk perbaikan. Maklum masih pemula di dunia fiksi. Jadi, maafkan jika kata-katanya masih kaku, belum mengalir, apalagi menarik.
Insya Allah, setiap hari saya akan up minimal 3 bab dicicil, sambil terus mencari ide. Sehari 3 kali, pagi, siang, dan malam. Karena Author sedang menulis juga di novel yang lain. Sama-sama sedang dilombakan. Judulnya, Hope.
Jika ingin tahu lebih lengkap karya saya, silakan mampir saja, ketikkan di pencarian nama Author, nanti akan keluar semuanya. Idih, kaya sudah banyak saja, padahal baru 2, kepedeanš¤.
Yuk, ah, ditunggu komentar, like, dan votenya, ya. Semoga terhibur dan bermanfaat š¤.
Author,
Nurmita Dewi
****
Sore hari, terlihat Daffa sedang duduk santai di sofa ruang tengah dengan pakaian santainya sambil menonton TV. Linda berjalan mendekati putra sulungnya itu sambil membawakan camilan, pisang goreng kesukaannya dan secangkir teh manis hangat. Lalu diletakkan di atas meja.
Melihat camilan yang dibawa wanita yang melahirkannya itu, membuat Daffa jadi tersenyum, "Wah, terima kasih Ummiku tersayang, " puji Daffa senang. Sambil mencium pipinya, sebagai tanda terima kasih.
Melihat itu, Ira juga ikut bergabung.
"Wah, ada pisgor, mau dong, " pinta Ira, sambil tangannya bergerak mau ikut mencomot pisang goreng. Namun segera dihalangi oleh Daffa, menggoda adiknya,
"Eh, enak saja, ini pisgor untukku tahu. Iya kan, Mi?" tukas Daffa sambil minta dukungan sama umminya.
"Ih, Aa pelit, deh, " sungut Ira sebal, sambil menjauhkan tangannya lagi.
"Ya, untuk semuanya lah, Ummi juga mau. Ayo, berbagilah!" titah Linda.
"Tuh, kan. Wee..." ledek Ira sambil memeletkan lidahnya. Meledek.
"Oh, kirain khusus buat Daffa doang. Nih, deh" jawab Daffa akhirnya, sambil mendekatkan kembali piring yang berisi pisang goreng yang masih hangat itu. Membuat Ira kembali tersenyum senang. Lalu mencomotnya.
"Ira, panggilkan adikmu di kamarnya, " titah Linda.
Segera Ira mendatangi kamar adiknya untuk mengajaknya ke ruang tengah. Ikut menikmati sama-sama pisang goreng. Tak lama, Raihan nimbrung. Begitu datang, dia langsung mencomot pisgor itu. Pisang goreng memang kesukaan mereka. Sepertinya tidak ada bosannya. Akhirnya keempatnya asyik menikmati camilan itu bersama sambil bercanda ria.
Daffa memang suka jahil, senang sekali menggoda adiknya ini. Melihatnya merengut kesal bahkan hampir menangis malah makin membuatnya senang. Baginya, hiburan menyenangkan. Itu memang caranya menunjukkan rasa sayangnya kepada adik perempuannya itu. Tapi saat harus tegas, memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya, dia juga bisa.
Di kampusnya, di depan teman-temannya dia terlihat tegas, berwibawa, dan simpatik, sebagai Ketua Umum DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Ia aktif di sana semenjak masuk semester 2, diawali dengan mulai mengikuti kajian keislaman yang diadakan oleh kampusnya. Setelah mengikutinya, Daffa merasa mendapatkan hidayah untuk terus hijrah menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Biasanya semua mahasiswa baru, pada semester 1 dan 2, diwajibkan ikut mentoring kajian Islam, yang dibimbing oleh para seniornya. Semester selanjutnya diserahkan kepada masing-masing mau dilanjutkan atau tidak. Setelah mengikuti selama satu tahun, akhirnya Daffa memutuskan untuk melanjutkan aktif di sana. Selain ingin menambah pengalaman berorganisasi dia juga ingin terus mengkaji ilmu keislaman. Dia juga merasa nyaman dengan sahabat-sahabatnya yang selalu mengingatkannya kepada Allah. Suasana saling menasihati dan menjaga begitu kental. Suasana itulah yang membuatnya selalu rindu berkumpul bersama mereka.
Saat sedang asyik menyantap pisang goreng dan bercanda, Linda mencoba mengajak Daffa bicara,
"Daffa, ngomong-ngomong kamu sudah punya calon belum?" tanya Linda hati-hati.
Mendengar pertanyaan tak terduga dari Umminya membuat Daffa dan Ira menoleh, menatapnya,
"Maksud Ummi apaan, sih?" tanya Daffa benar-benar belum mengerti maksud di balik pertanyaannya.
"Calon istri, " jawab Linda.
"Oh, belumlah, belum kepikiran ke sana. Kenapa memangnya?" jawab Daffa jujur.
Memang Daffa belum terpikir untuk menikah, dipikirnya akan ada saatnya kelak sampai bertemu dengan seseorang yang mampu menarik hatinya. Setelah lulus kuliah ia ingin serius menggeluti bisnis yang baru saja dirintis bersama teman-temannya, di bidang IT. Sesuai dengan ilmu yang diambilnya saat ini. Setelah dirasa cukup, pas juga waktunya, barulah berpikir untuk mencari pasangan hidup. Begitu rencananya.
Ira hanya menyimak sambil bolak-balik memperhatikan kakak dan umminya itu mengobrol.
"Menurutmu, gimana pendapatmu tentang Rima, anak sahabat Tante yang Ummi kenalin kemarin? Dia juga kakak kelasnya Ira, loh, " Linda mencoba mengorek pendapat tentang Rima.
'Apa maksudnya Ummi tanya-tanya tentang dia ke aku?' gumamnya dalam hati, mulai curiga.
Namun dengan cuek dan santai, Daffa menjawab, "Tidak tahu, tuh, Mi. Daffa kan tidak bisa menilai seseorang cuma dari pertemuan pertama. Lagian baru kemarin kan Daffa kenalnya. Iya, sih Ira mungkin tahu gimana dia karena temannya. Tapi Daffa sendiri kan tidak tahu. Jadi, kalau Ummi tanya ke Daffa soal dia, ya nggak bisa jawab apa-apa juga. Karena memang nggak tau, belum kenal betul. Eh, siapa tadi namanya, Rima, ya?"
Mendengar itu, Ira ikut nimbrung, "Kak Rima itu orangnya baik dan ramah, deh. Dia senior pertama yang Ira kenal pas masa orientasi siswa baru. Waktu itu masih jadi ketua koordinator unit Tata Busana. Semenjak ketemuan pertama itu aku sama Kak Rima jadi dekat, orangnya wellcome banget, terbuka sama siswa baru, tidak sombong lagi, bikin aku nyaman kalau ngomong apa saja sama dia."
"Sebenarnya ada apa, sih, Mi?" tanya Daffa.
"Jangan-jangan, Ummi mau jodohin Aa Daffa sama Kak Rima, ya?" tanya Ira penasaran sambil berharap. Ia ingin sekali punya kakak perempuan yang bisa diajaknya curhat, jalan-jalan bareng, dan hal seru lainnya.
'Uh, pasti seru, deh, ' gumam Ira dalam hati.
Linda menarik bibirnya membentuk senyuman
"Iya, sih, rencana Ummi juga kaya gitu. Gimana menurutmu?" jawab Linda.
'Tuh, kan pasti ke situ arahnya, ' gumamnya dalam hati.
"Tapi bukannya dia masih sekolah, ya?" tanya Daffa.
"Bentar lagi juga lulus, kan sudah kelas 3. Kenapa memangnya? Ummi juga dulu nikah sama Abi seusia Rima gitu. Selepas lulus SMA, tapi tetap bisa kuliah sampai selesai. Cuma setahun saja Ummi cuti karena melahirkan kamu, pas mau masuk semester empat, " jawab Linda.
"Ini bukan paksaan, kan Mi?" tanya Daffa hati-hati.
"Ya, Ummi sih, tidak memaksa, cuma mau kasih pertimbangan saja tentang Rima, tapi selanjutnya diserahkan ke kamu, " jawab Linda.
__ADS_1
Daffa terlihat terdiam agak lama, lalu akhirnya menjawab,
"Oke, Daffa akan mempertimbangkannya, deh. Tapi kasih waktu untuk berpikir dulu. Istikharah dulu atau gimana gitu. Tapi Rimanya sendiri gimana?"
"Soal itu, sih biar urusan Ummi. Kamu tenang saja. Tapi sebelum itu kan Ummi harus nanya dulu sama kamunya, dong. Makanya jangan kelamaan mikirnya, ya. Setelah ada keputusan dari kamu barulah Ummi lanjut bertindak. Kumaha? " jawab Linda dengan logat Sundanya yang cukup kental.
Baru saja Daffa mau menjawab, Ira bersorak,
"Yeay, akhirnya aku mau punya kakak perempuan..." sorak Ira senang sambil berjingkrakkan. Mengejutkan Daffa.
"Hus, belum... belum juga mikir, " tukas Daffa seolah memutus harapannya. Sambil menjitak pelan kepala adiknya. Membuat Ira meringis kecil dan mengusap kepalanya. Namun segaris senyum tipis terlihat di bibir Daffa, hingga nyaris tak terlihat kalau tidak diperhatikan lekat-lekat.
"Sakit tau, A, habisnya punya satu-satunya kakak laki-laki jahil melulu. Hobi bener bikin kesal dan nangis adiknya. Kalau punya kakak perempuan kan aku bisa ngadu, biar dibelain. Biar dia ngomelin Aa. Punya teman curhat yang enak, teman main..." ujar Ira antusias.
"Oh jadi gitu, toh. Kalau maunya sama kamu, terus siapa dong yang melayani Aa?" tanya Daffa.
"Kan seluruh waktunya sudah spesial buat Aa. Tapi sesekali boleh dong dipinjam dulu calon kakak iparku itu, " jawab Ira cepat, sambil menaikan kedua alisnya, menggoda. Membuat Daffa jadi kaget sendiri mendengarnya. Lalu tampak tersipu malu.
Linda dan Ira jadi tergelak melihat roman wajah Daffa yang terlihat memerah. Jarang-jarang melihatnya malu-malu seperti itu.
'Ah, sepertinya tanda-tandanya dapat lampu hijau, nih,' harap Linda dalam hati.
Akhirnya ketiganya semakin larut bercanda dengan hangat. Sampai tidak mendengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar. Yaitu dari Wirawan. Dia baru saja pulang.
"Ehm, rupanya pada ngumpul di sini, toh. Dari tadi ketuk pintu tidak ada yang membuka, salam tidak ada yang jawab lagi, tidak ada satu pun yang menyambut Abi. Tidak kedengaran, ya?" keluhnya kesal.
"Eh, Abi, maafkan atuh. Tidak terdengar, Wa'alaikumussalam, " Linda langsung berdiri mencium punggung tangan suaminya. Diikuti oleh anak-anaknya.
"Wah, apaan tuh yang di piring, kok sudah kosong?" tanya Wirawan sambil menatap piring yang terlihat kosong.
"Oh, ini pisang goreng, Bi, " jawab Linda.
"Yah, kok habis? Buat Abi mana?" tanya Wirawan merajuk.
"Tenang, Bi, masih ada, kok. Sekarang mandi dulu saja. Nanti disiapin, oke!" bujuk Linda.
"Okelah kalau begitu, " seketika itu Wirawan jadi tersenyum.
Akhirnya Wirawan melangkah ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan membersihkan diri dari semua kotoran yang terasa menempel di tubuhnya. Seolah keringat dan debu menjadi satu. Sedangkan Linda membuatkan lagi pisang goreng yang memang sudah disiapkan dan diadoni dengan tepung, dan ditaruh di kulkas. Sengaja digorengnya mendadak supaya bisa dinikmati selagi hangat.
Pisang goreng dan teh manis hangat telah siap di meja makan. Wirawan pun tampak sudah selesai mandi, dan mengenakan pakaian santai. Lalu mendekati istrinya.
"Mana pisgornya?" tanya Wirawan menagih.
"Sudah siap, Tuanku. Masih hangat pula, " jawab Linda membuat suaminya jadi tergelak melihat tingkah istrinya, persis pramusaji restoran. Dicubitnya pipinya dengan gemas. Linda mengajak suaminya ke ruang makan dan menemaninya menikmati camilan sore.
__ADS_1
"Aku makan sendirian, nih?" tanyanya, saat menyadari bahwa ia makan sendirian sementara istrinya cuma memandanginya dari tadi.
"Kan aku mah sudah tadi sama anak-anak. Kenyang, " jawab Linda.