
"Aa sayang kamu, istriku, " bisik Daffa lagi sambil menarik tubuh mungilnya dan membawanya ke dalam dekapannya dari samping.
Sementara Rima masih saja diam mematung, tidak menolak namun juga tidak membalas dekapan suaminya. Kaku. Bingung. Benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini. Memilih membiarkan saja apapun yang akan dilakukan oleh suaminya. Mencoba mengikuti permainannya.
Setelah puas mendekapnya, Daffa menjauhkan sedikit kepalanya agar bisa menatap wajah cantiknya lagi. Lalu, Daffa kembali merasakan dorongan kuat untuk kembali mendekati wajah istrinya, memajukan wajahnya, menyatukan kening keduanya, lalu mengecup kening, hidung, kedua mata dan bibir manis istrinya. Saat menempel di bibir istrinya hal itu dilakukan cukup lama. Keduanya tampak menikmati suasana mesra, dengan mata terpejam.
Dengan napas yang terengah-engah dari mulut keduanya, dan saling menempelkan kening, Daffa berucap dengan suara serak, menahan sesuatu dalam dirinya akibat ulahnya sendiri.
"Emh, bolehkah Aa melakukan hal yang lebih dari tadi?" tanya Daffa, meminta izinnya untuk meminta haknya sebagai seorang suami terlebih dahulu. Khawatir membuat istrinya menjadi takut kepadanya atau tidak nyaman dengan perlakuannya yang tiba-tiba tadi. Atau belum siap.
Rima yang mengerti keinginan suaminya mulai memberanikan diri menatap wajahnya lalu mengangguk pelan, sebagai jawaban. Melihat itu, Daffa tersenyum senang.
"Jangan takut dan khawatir, kita akan melakukannya dengan pelan-pelan dan hati-hati. Biar kamu tidak merasakan kesakitan. Rilekskan tubuhmu, " bujuk Daffa menenangkan tubuh istrinya yang mulai menegang dan gemetaran.
"Baiklah, kita berdoa dulu, ya."
بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
"Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Setelah sama-sama membaca doa, secara perlahan Daffa merebahkan tubuh istrinya lalu kembali mendekapnya, setengah menindih sebagian tubuhnya. Melanjutkan cumbuannya hingga membuat keduanya merasakan sensasi panas dari tubuh mereka. Kedua pengantin baru itu semakin tenggelam dalam kemesraan yang menghiasi malam pengantin mereka. Hingga terjadilah pergumulan panas itu. Keduanya begitu menikmati hal baru yang sama-sama baru mereka rasakan.
Meski di tengah kemesraan itu Rima terdengar merintih seperti kesakitan, karena inilah pertama kalinya ada benda asing yang memasuki inti tubuhnya, merobek sesuatu yang selama ini ia jaga. Yang kelak ingin dipersembahkan hanya untuk suaminya. Sekaranglah saatnya.
Daffa memperlakukan istri kecilnya dengan sangat lembut dan hati-hati. Sempat ada rasa tidak tega saat mendengar rintihan kesakitan dari bibirnya.
"Sakit? Kita akhiri saja?" tanya Daffa tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Tidak ingin memaksanya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja!" jawab Rima lirih, nyaris tidak terdengar.
"Tapi, Aa tidak tega melihatmu kesakitan," sahut Daffa.
Rima menggelengkan kepalanya, sambil membalas sahutan suaminya, "Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Sekarang kan Rima sudah menjadi istri Aa. Jika suami meminta haknya, sebagai istri tidak boleh menolak, bukan? Rima tidak mau dilaknat oleh malaikat."
"Kamu yakin? Sudah siap?" tanya Daffa kembali, memastikan. Dia benar-benar tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Khawatir menimbulkan rasa trauma.
Rima hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Melihatnya begitu pasrah dan tanpa ragu menyerahkan tubuhnya hanya untuknya, akhirnya dilanjutkan kembali. Daffa mulai menciumi seluruh wajah dan bibir istrinya hingga gairah itu kembali bangkit. Lama kelamaan tubuh sang istri mulai rileks dan menerima sentuhan di setiap inci tubuhnya dari jemari dan bibir suaminya. Rasa sakit yang tadi dirasakan mulai berkurang dan berganti dengan sensasi baru yang mulai dirasakan. Hingga pergumulan itu mencapai puncaknya. Daffa membaringkan tubuhnya di samping gadis itu dengan telentang, dengan napas yang masih sama-sama terengah-engah.
Namun tidak lama kemudian, Daffa memiringkan tubuhnya, menghadap istrinya yang juga berbaring di samping kanannya. Dengan senyum bahagia, Daffa mengecup kening Rima dengan mesra dan membawanya ke dalam dekapannya kembali.
"Terima kasih, sayang, untuk malam yang indah ini."
Rima membalas senyuman itu dengan tidak kalah mesranya.
__ADS_1
Setelah keduanya mulai tenang, Daffa mengajak Rima untuk membersihkan diri. Rima bangkit menuruti suaminya. Saat turun, terdengar kembali suara rintihannya.
"Kenapa? Masih sakit, ya?" tanya Daffa cemas. Ikut duduk di ranjang.
"Ya sudah, duduk saja dulu."
Tidak lama Rima bangkit dari duduknya dengan pelan.
"Gimana, sudah tidak sakit lagi?" tanya Daffa lagi.
"Sedikit, tapi Rima mau ke kamar mandi. Mau bersih-bersih dulu, " Jawab Rima.
"Mau langsung mandi?" tanya Daffa.
"Iya, badan rasanya lengket. Takut tidak bisa tidur."
"Oke, Aa antar, ya, " ajak Daffa sambil membimbing istrinya menuju kamar mandi.
Setelah Rima menutup pintu kamar mandi, Daffa kembali ke ranjang dan duduk di sana. Daffa tersenyum bahagia kala mengingat setiap menit yang telah dilalui bersama istrinya tadi. Rasanya hal itu akan menjadi candu baginya. Jadi ingin lagi, dan ingin lagi mengulanginya.
Suara pintu dibuka segera membuyarkan lamunan indahnya, pandangannya melihat ke arah Rima yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang memang selalu di sediakan di lemari kamar mandi. Dengan handuk kecil yang menutupi rambut basahnya.
"Sudah mandinya?" tegur Daffa sambil menyentuh kedua pundaknya.
"Sudah."
"Dari tadi aku tidak tahan lihat senyum kamu. Bikin deg-degan. Istriku ini jadi berlipat-lipat cantiknya saat tersenyum, " rayu Daffa lagi.
Saat Daffa ingin menciumnya lagi, Rima langsung menahan dada suaminya.
"Sudah, jangan ngerayu terus. Kapan mau mandinya?" tegur Rima lembut namun sedikit tegas.
"Oh iya, sampai lupa. Kalau gitu, Aa mandi dulu, ya, " sahut Daffa. Lalu memberikan kedipan sebelah matanya dan ciuman jarak jauh dengan genitnya.
Rima hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya. Baru dilihatnya laki-laki itu bisa bersikap segenit itu padanya. Biasanya kelihatan cuek. Mungkin, saking ingin menjaga diri dan pandangannya yang belum berhak. Ia juga ingat bagaimana tingkahnya bersama adik iparnya, Ira tadi sore saat berkumpul bersama. Lucu.
'Katanya dia super jahil, ' gumam Rima sendirian.
Dengan cepat, Rima memakai pakaian tidurnya di ruang ganti. Setelah selesai, ia keluar dan berjalan mendekati ranjang yang terlihat berantakan akibat aktifitas panas mereka tadi. Wajah Rima kembali memerah saat mengingatnya. Segera dirapikan kembali seprainya. Namun saat dilihat ada bercak darah yang menghiasi seprai berwarna putih itu, Rima langsung mengangkatnya. Dan menggantikannya dengan seprai baru berwarna peach, salah satu warna kesukaannya. Agar nyaman tidurnya.
Tidak lama setelah Rima selesai membereskan ranjang mereka, terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Dilihatnya, suaminya keluar dengan menggunakan bathrobe dan sebuah handuk kecil di atas kepalanya, menutupi rambut basahnya.
"Kok, seprainya diganti?" tanya Daffa sambil mendekati istrinya.
"Nggak apa-apa, pengen saja diganti. Biar tidurnya nyaman, " jawab Rima sedikit malu-malu. Hal itu terbaca oleh Daffa. Pikiran jahilnya mulai muncul ingin menggoda istrinya.
__ADS_1
"Hayo, ada apa? Kenapa tiba-tiba diganti, hm?" Daffa mengulangi lagi pertanyaannya.
"Tidak ada apa-apa, pengen saja atuh, A, " jawab Rima masih menyembunyikan rasa malunya.
Akhirnya Daffa mengambil seprai yang masih teronggok di lantai, tepat di bawah ranjang.
"Masih bersih, ah. Kan baru diganti," sahut Daffa, lalu merentangkannya, hingga terlihatlah noda yang berasal dari darah perawan istrinya.
"Eh, noda apa, ini? Perasaan tadi tidak ada, deh," tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Ih Aa, itu kan ada noda darahnya, " sahut Rima mengakui.
"Darah apa ini? Kamu haid?" tanya Daffa masih pura-pura tidak tahu.
"Ehm, bukan. Itu da... darah kegadisan aku, lah," jawab Rima malu.
"Hah, siapa yang berani membuat istriku terluka sampai keluar darah kaya gini?" tukas Daffa dengan memasang tampang pura-pura marah.
"Ya, siapa lagi kalau bukan Aa sendiri pelakunya?" jawab Rima sedikit ketus, merasa kesal melihat tingkah suaminya.
'Pasti aku lagi dikerjain, nih, ' rutuk Rima baru sadar.
"Masa, sih. Aa pelakunya?" tanya Daffa kembali masing memasang mode pura-pura tidak tahu.
"Ya, kalau bukan Aa siapa lagi, atuh? Memangnya aku cewek apaan?" gerutu Rima, membuat Daffa menyembunyikan senyumnya. Jahilnya masih ingin keluar tapi takut istrinya benar-benar ngambek.
"Iya, deh. Maafkan kalau begitu, sudah membuat istriku berdarah di malam pertama kita sebagai pengantin. Apa masih sakit?" bujuk rayu Daffa akhirnya membuat Rima kembali tersenyum.
"Mulai berkurang, " jawab Rima singkat.
"Kalau gitu, mau diulang lagi? Mumpung Aa masih belum pakai baju," ajak Daffa sambil mengerling nakal.
"Istirahat dulu, ya. Rima ngantuk, besok lagi saja, " tawar Rima, memohon pengertian.
"Baiklah, tapi malam ini Aa pengen tidur sambil peluk kamu. Boleh, ya?"
"Boleh, tapi jangan lebih, ya," jawab Rima sambil mengingatkan.
"Iya, kalau nggak khilaf, " jawab Daffa asal, masih keluar jahilnya.
"Ayo, cepat pakai bajunya. Nanti masuk angin, loh. Bajunya sudah Rima siapin di meja ruang ganti, " titah Rima.
Daffa segera melangkah ke ruang ganti untuk memakai pakaian tidurnya yang telah disiapkan oleh istrinya.
Lalu segera menyusul istrinya berbaring di ranjang dengan posisi miring, saling berhadapan. Tatapan keduanya masih saling mengunci. Perlahan Daffa mulai meraih tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Rima pun meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Tidak menunggu lama, keduanya terlelap dalam posisi saling berpelukan. Sama-sama menyalurkan kehangatan dan kenyamanan. Saling tranfer kasih sayang.
__ADS_1
Itulah indahnya cinta yang diridhai oleh Allah. Saat kedua pasangan suami istri saling menatap dengan penuh cinta dan jemari yang saling bertaut, pada saat itu pula Allah memandang keduanya dengan penuh rahmat. Sehingga keberkahan dan keridhaan senantiasa meliputi rumah tangga keduanya, yang baru saja di bangun mulai hari ini. Dan esok hari dan seterusnya, mereka akan terus melanjutkan langkah mengarungi bahtera kehidupan yang sesungguhnya, bersama sang suami sebagai pemimpin nakhoda dan istri sebagai manager yang mengelola rumah tangga mereka yang dibingkai dengan ketakwaan.