Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Rina dan Andini


__ADS_3

Tok... tok... tok!


Suara ketukan pintu di kamar Sania terdengar, bertepatan saat gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Iya, Bi, sebentar, " Sania berteriak agar terdengar sahutannya. Sambil berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa, Bi?" tanya Sania.


"Itu, Non, camilan sama minumannya sudah siap. Bibi taruh di ruang tengah saja? Barangkali mau sambil bersantai sambil menonton TV, " tawar Bibi.


"Iya, Bi, sebentar Sania mau keluar, kok. Nanti biar Sania panggilkan yang lain, ya, " jawab Sania.


"Oh, ya baik, Non, kalau begitu Bibi pamit mau ke dapur dulu, ya. Mau siap-siap masak untuk makan siang nanti, " pamit Bi Arum. Setelah mendapatkan persetujuan, Bi Arum segera membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju dapur.


Tak lama Sania keluar dari kamarnya, bersamaan dengan adiknya, Tania. Lalu keduanya memanggil yang lain untuk turun ke lantai dasar, untuk menikmati camilan yang telah disediakan di meja ruang tengah.


Kelima gadis remaja belia itu pun telah sampai di lantai bawah. Lalu duduk di sofa, depan TV.


Saat melihat camilan di meja sofa, mata Sania tampak berbinar senang.


"Wah, yummy, nih. Ini camilan favoritku sejak kecil, loh. Singkong kukus, dengan toping parutan kelapa yang gurih. Setiap ke sini pasti Bibi selalu membuatkannya untukku, atas permintaanku juga, sih. Ayo, dicoba!" Sania mempromosikan camilan favoritnya dengan bangga dan senang.


Jiwanya seolah melayang ke masa kecilnya. Begitu banyak kenangan indah di Villa ini. Dulu, setiap liburan pasti Sania dan keluarganya akan memilih menghabiskannya di sini. Rasanya tidak pernah bosan. Dan selalu rindu ingin selalu ke sini. Suasananya yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan di kota, udaranya yang sejuk, pemandangannya yang indah, dan sahabat masa kecilnya dulu.


Ya, Rina adalah anak dari Mang Supri dan Bi Arum. Usia mereka sebaya, hanya selisih satu tahun lebih muda dari Sania. Sungguh, Sania merindukan semua yang ada di Villa ini. Hanya saja tiga tahun terakhir ini Sania tidak ke sini lagi. Ada saja hal yang membuat mereka gagal berlibur di sini. Terutama semenjak papanya mulai sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya di kantor. Mulai naik jabatan sebagai Asisten Direktur Utama, yang mengharuskannya selalu mendampingi Direktur Utama ke mana pun, sekaligus mengatur agar memudahkan pekerjaan Tuannya.


Untuk berlibur sendiri tanpa orang tua, Papanya belum mengizinkan. Mengingat mereka masih kecil, khawatir ada apa-apa dengan mereka. Namun akhirnya, baru sekarang Sania berkesempatan berlibur di sini. Itu pun setelah merayu dan meyakinkan papanya bahwa mereka akan berhati-hati.


Akhirnya, beliau mengizinkan. Itu pun dengan membekali banyak syarat dan peringatan agar semuanya harus saling menjaga, tidak bermain secara berlebihan, apalagi jauh dari lokasi villa. Tidak boleh jauh dari pengawasan Mang Asep dan Mang Supri, yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga keselamatan mereka. Mengingat semuanya terdiri dari para gadis remaja belia, yang amat rentan dengan korban kejahatan. Ditambah dengan sepuluh orang bodyguard terlatih yang akan turut membantu menjaga keamanan dan keselamatan semuanya.


CCTV pun diaktifkan di setiap ruangan dan sekitar villa, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Empat orang diserahi tugas untuk mengawasi CCTV di ruang monitor. Tujuannya agar bisa bergantian mengawasi keadaan. Tidak boleh ada yang lengah. Memang terlihat berlebihan, over protektif, namun mencegah itu lebih baik, bukan? Kewaspadaan harus tetap dijaga. Tentu setiap orang tua tidak berharap sesuatu terjadi pada diri anak-anak mereka. Berharap mereka selamat sampai ke rumah masing-masing.


***


Tok... tok... tok!

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


Suara ketukan pintu dan ucapan salam terdengar dari pintu ruang tamu. Sania yang mendengarnya langsung ke ruang tamu dan menjawab salam.


"Wa'alaikumussalam!"


"Ya Allah, Rina, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, ya. Kangennya aku, " sapa Sania menyambut kedatangan sahabat baiknya semasa kecil, sambil saling berpelukan, dilanjutkan bercipika-cipiki ria, sama-sama melepas rindu.


"Alhamdulillah, baik. Iya, nih. Kamu lama tidak ke sini, San. Kupikir kamu sudah lupa sama aku. Aku juga kangen banget, " kata Rina.


"Mana mungkin lah, aku lupa sama sahabat baikku ini, " kilah Sania sambil belum melepaskan pelukannya.


"Oh iya, kenalkan, ini sepupuku. Dia ke sini untuk mengisi liburan, katanya, " ujar Rina memperkenalkan sepupunya. Setelah pelukan mereka terlepas.


Keduanya tampak bertatapan dengan wajah terkejut, dan tidak percaya, karena saling mengenal. Keduanya pun saling menunjuk.


"Andin!" panggil Sania.


"Sania!" panggil Andin secara bersamaan.


"Masya Allah, Andin. Jadi kamu toh keponakannya Mang Supri?" tanya Sania, ingin meyakinkan.


"Iya, jadi kamu sama Rina sepupuan?" tanya Sania kembali, seakan masih tidak percaya.


"Iya, San. Kamu tidak percaya?" tanya Andin kembali.


"Kok, selama ini aku tidak tahu, ya. Padahal aku dan keluargaku dulu sering berlibur ke sini, loh. Setiap liburan. Tapi kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kan? Atau apa aku yang lupa, ya?" ungkap Sania, mencoba mengingat-ingat kembali kenangan masa kecilnya. Seingatnya, dulu ia hanya bermain bersama Rina dan beberapa teman, tetangganya Rina, tapi tidak ada yang bernama Andin.


"Dulu, aku menghabiskan masa kecilku di kota Surabaya, kampung halaman papaku. Tapi sejak lulus SD, aku dan keluarga pindah ke kota B. Mengikuti papaku yang pindah dinas di sana, sampai sekarang. Jadi, wajar kalau kita tidak pernah bertemu sebelumnya, " cerita Andin.


"Oh, jadi begitu ceritanya. Tidak disangka, ya?"


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Rina yang sedari tadi terdiam menyaksikan obrolan kedua gadis manis yang ada di hadapannya itu, akhirnya ikut nimbrung. Membuat keduanya menoleh ke arah Rina.


"Iya, tentu saja kenal. Kenal baik, malah. Aku dan Andin ini satu kelas, Rin. Sekelas juga dengan sahabat-sahabatku yang ikut berlibur ke sini, " jawab Sania, menjelaskan.

__ADS_1


"Oh ya, ada siapa saja, San?" tanya Andin.


"Ada Ira, Rianti, Wulan, dan adikku Tania, " jawab Sania.


"Wah, ramai dong, kalau begitu. Untung aku ke sini, jadi bisa bertemu kalian semua. Tidak sia-sia aku memilih liburan di sini, " seru Andin, senang.


"Ayo, masuk Ndin, Rin!" ajak Sania.


Ketiganya melangkah masuk menuju ruang tengah. Tempat sahabat-sahabatnya dan adiknya berkumpul. Bersantai ria, menonton TV, sambil asyik mengunyah camilan yang ada di depan mereka.


"Hai, Girls, coba lihat! Ada siapa ini?" tanya Sania sambil setengah berteriak. Suaranya terdengar menggema. Membuat semuanya menoleh ke arah Sania.


"Hah, Andin!" seru Rianti, Ira dan Wulan secara bersamaan. Dan bersama-sama pula mendekati Andini.


"Kok, kamu ada di sini, Ndin?" tanya Rianti, tampak heran.


"Aku lagi liburan di sini, di rumah Rina. Sepupuku, " jawab Andin.


Sania menambahkan dengan memperkenalkan sosok Rina. Sahabat masa kecilnya dan anak dari Mang Supri dan Bi Arum. Sekaligus menjelaskan hubungan keduanya.


"Masya Allah, ternyata dunia ini begitu sempit, ya? Benar juga dengan ungkapan lama bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Artinya, isi dunia ini tuh, Lo lagi, Lo lagi. Cuma cara dipertemukannya itulah yang berbeda-beda. Gitu kali, ya? " tukas Ira. Merasa takjub sendiri.


Begitu banyak kejutan-kejutan dalam hidup ini, menurut Ira. Apalagi setelah melihat berbagai peristiwa pertemuan orang-orang terdekatnya. Seperti kisah pertemuan kembali Ummi Linda dan sahabatnya Aini, yang lama terpisah. Kemudian tanpa sengaja dipertemukan kembali dan kini mereka bukan hanya bersahabat, namun berkembang menjadi dua keluarga besar setelah kakaknya Daffa menikah dengan Rima, kakak kelas sekaligus seniornya di SMA nya.


Lalu, pertemuan kembali guru mentornya Alisa dan kakaknya, Hisyam, setelah lima tahun terpisah. Pertemuan yang akhirnya menyatukan keduanya dalam ikatan pernikahan. Dan juga kejadian hari ini.


Sungguh, hidup ini begitu penuh dengan misteri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dear Reader,


Bagaimana tanggapan kalian, suka tidak dengan kelanjutan kisahnya empat sekawan ini? Sudah upload 2 bab, loh. Yang bab 1 sudah oke, tinggal satu bab lagi menunggu hasilnya.


Insya Allah, dalam beberapa bab ke depan akan ada beberapa perubahan yang telah Author susun dalam otak. Lebih menceritakan bagaimana mengisi masa liburan sekolah untuk keempat dara cantik dan manis itu, ya. Ada juga beberapa petualangan yang akan mereka hadapi ala remaja selama mereka berlibur di Villa milik keluarga Sania. Biar sedikit ada gregetnya. Tidak terpaku pada kisah cinta dan pernikahan seperti bab-bab sebelumnya.

__ADS_1


Tadi kan, ada sedikit clue tentang sifat over protektif papanya Sania, dengan sistem penjagaan super ketat, demi menjaga kedua putrinya dan para sahabatnya. Ada peristiwa apakah itu?. Penasaran? Yuk, ikuti terus ceritanya, ya!🤗


Semoga kalian suka! Aamiin.🙏


__ADS_2