
Satu bulan kemudian
Hari ini adalah hari terbesar bagi pasangan calon mempelai, Daffa dan Rima. Karena sebentar lagi keduanya akan segera melangsungkan akad nikah. Tepatnya pukul 08.00 pagi.
Setelah shalat subuh, Rima dan keluarganya segera bersiap-siap untuk pergi ke gedung tempat dilaksanakannya walimah. Sejak semalam Sania sengaja menginap di rumah Rima agar tidak terlambat. Karena dialah yang akan merias Rima dan keluarga.
Tepat pukul 05.30, mereka telah sampai di gedung yang telah dihias menjadi mirip seperti taman bunga yang indah bernuansa kombinasi tiga warna yaitu putih tulang, peach, dan krem menjadikannya terkesan sederhana namun elegan, dilengkapi pula dengan rangkaian bunga melati dan mawar yang mendominasi di seputar gedung sampai hiasan pelaminan. Kedua bunga itu adalah bunga kesukaan Rima.
Sedangkan pelaminan terlihat terbagi dua, yang sebelah kanan akan ditempati oleh Daffa, Wirawan, dan Ridwan, sedangkan sebelah kiri akan ditempati oleh Rima, Linda, dan Aini. Dan diantaranya terdapat sekat berupa kain. Begitu pula dengan para tamu undangan. Antara tamu laki-laki dan perempuan terpisah secara total. Begitu pula tempat prasmanan dan stand makanan dan minuman. Dengan maksud meminimalisir terjadinya interaksi dan campur baur antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana keinginan kedua mempelai dan dua keluarga.
Dengan telaten dan hati-hati Sania memulai pekerjaannya, yaitu merias Rima dan Aini secara bergantian hingga menghabiskan waktu selama satu jam. Dilanjutkan dengan membantunya mengenakan gaun pengantin yang telah dirancang khusus oleh Ira, sahabat sekaligus calon adik ipar Rima.
Rima tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin muslimah syar'i berwarna putih tulang, khimar dan cadar berwarna senada, lengkap dengan hiasan kombinasi bunga melati dan mawar yang dirangkai indah bertengger manis di atas kepalanya. Dengan make up yang natural, membuatnya terlihat begitu anggun dan elegan.
"Masya Allah, cantiknya Kak Rima. Jadi pangling, nih, " puji Sania sambil memandangi Rima dengan takjub.
"Terima kasih, kamu juga cantik. Ternyata kamu pandai merias, ya, " sahut Rima sambil tersenyum manis, balik memuji Sania.
"Gimana perasaan Kak Rima, deg-degan tidak?" tanya Sania penasaran.
"Yang pasti, nervous banget. Tidak disangka begitu cepat bertemu jodoh. Sebentar lagi akan bertambahlah tanggung jawabku, yaitu sebagai istri dan ibu. Semoga segalanya dimudahkan, " jawab Rima lirih.
"Jika membayangkan itu, agak ngeri-ngeri sedap, sih. Sanggupkah aku menjalani peran baruku?"
"Insya Allah, pasti dimampukan oleh Allah, Kak. Apalagi menikah itu kan menyempurnakan sebagian agama. Betul tidak?" ujar Sania, mencoba menenangkan dan menghibur Rima agar berkurang rasa gugupnya.
__ADS_1
Rima membenarkan dan mengaminkan doa Sania.
"Aku doakan kamu segera menyusul, " goda Rima.
"Ah, masih lama, Kak. Baru juga mau naik kelas dua SMA, " kilah Sania sambil tersipu.
"Aamiinkan saja, Sania. Itu kan doa yang baik, " sahut Aini, yang duduk di samping Rima, menanti gilirannya dirias oleh Sania. Aini ikutan menggoda Sania. Membuatnya semakin tersipu malu.
"Ya, aamiin, " sahut Sania malu-malu.
Setelah selesai merias Rima, dilanjutkan merias Aini. Wanita yang usianya menjelang 40 tahun itu tampak masih terlihat cantik dan awet muda dalam balutan gaun muslimah yang berwarna salem, dan khimar berwarna senada.
"Masya Allah, Tante juga cantik sekali. Sama seperti Kak Rima. Begitu mirip. Kalau orang lain bisa saja disangka seperti kakak dan adik, " puji Sania.
"Ah, bisa saja kamu, " sahut Aini.
Setelah semua selesai dirias, Aini mengajak mereka untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, sambil menunggu waktu mereka kembali berbincang-bincang ringan. Banyak sekali pesan dan wejangan dari Aini untuk putri semata wayangnya, Rima. Matanya mulai tampak berkaca-kaca,
"Jadilah istri yang baik dan sholihah, yang senantiasa indah dipandang, patuh dan taat kepada suami dalam hal kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan dalam ibadah, pandai menjaga kehormatanmu ketika suamimu tidak ada di rumah, juga pandai mengelola harta suami yang diamanahkan kepadamu. Jangan membebani suamimu dengan hal-hal yang di luar kemampuannya. Apalagi menuntut. Mengerti, Nak?"
"Iya, Ma. Insya Allah, " jawab Rima sambil menahan rasa haru. Rasanya bercampur aduk antara bahagia, sedih, gugup, dan lainnya. Lalu keduanya berpelukan.
Saat melihat dua wanita kesayangannya berpelukan dan sama-sama menangis, Ridwan mendekati keduanya.
"Loh, ada apa ini? Kok kalian menangis?" tanya Ridwan cemas dan panik.
"Eh Papa, tidak apa-apa, kok. Tadi cuma ngobrol saja sama Rima. Tidak terasa putri kita akan segera menikah. Rasanya baru kemarin Mama melahirkanmu dan menimangmu, " ujar Aini sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Oh, dikira ada apa. Kaget aku. Ya, papa juga sebenarnya seperti itu, sih. Tapi kita sebagai orang tua harus bisa merelakan melepasnya. Cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi, " ujar Ridwan, menghibur istrinya, dan duduk di antara istri dan putrinya lalu memeluk keduanya.
"Cup, cup, cup, sudahlah kalian jangan menangis terus, make up-nya jadi luntur loh, "
Tepat pukul 07.30, calon mempelai laki-laki dan keluarga besarnya telah sampai di gedung tersebut. Di depan gerbang, mereka disambut oleh keluarga calon mempelai wanita. Kemudian memasuki gedung dan duduk di tempat akad nikah yang telah disediakan. Sementara Rima telah duduk di tempat pelaminan yang disediakan untuknya. Masih terpisah dengan calon suaminya.
Tepat pukul 08.00 penghulu yang akan menikahkan Daffa dan Rima pun tiba. Akad nikah berjalan lancar. Dengan suara lantang dan jelas Daffa mampu mengucapkan lafadz akad nikah, hingga para saksi menyatakan bahwa mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.
Setelah akad nikah, barulah Rima duduk di samping lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya lalu menandatangani surat nikah, Daffa mulai menyematkan cincin di jari manis Rima dan mulai membacakan surat Ar Rahman sesuai permintaan Rima, sebagai tambahan maharnya. Suasana tampak semakin syahdu dan penuh keharuan, mendengar suara merdu yang dilantunkan oleh Daffa. Hingga tidak mampu menahan air mata mereka.
Setelah prosesi akad nikah selesai kedua mempelai dan orang tua duduk di pelaminan yang terpisah. Selanjutnya para tamu mulai menyalami mereka dalam ruang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Wulan tampak sibuk mengabadikan semua momen membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi kedua mempelai yang baru saja resmi menjadi suami istri. Sedangkan di tempat pelaminan laki-laki yang bertugas menjadi fotografer adalah Papa Wulan. Hingga sesi foto mempelai, keluarga, kerabat, dan sahabat selesai.
Wulan memang sering ikut papanya dalam acara seperti ini. Jadi, sudah bukan hal yang asing lagi.
Setelah sesi foto, para tamu dipersilakan oleh MC untuk menikmati berbagai sajian yang telah disediakan. Para tamu terlihat tertib mengikuti protokol dari panitia agar tetap nyaman meski harus terpisah dengan sekat kain yang menjadi pembatas antara tamu laki-laki dan perempuan. Karena sejak awal, mulai dari undangan para tamu undangan telah dikondisikan agar mau mengikuti ketentuan. Seperti para wanita diwajibkan menutup aurat secara syar'i dan lainnya.
Tepat pukul 10.00 kedua mempelai kembali ke sebuah ruangan untuk berganti pakaian karena sebentar lagi adalah acara resepsinya.
Rima tampak cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantinnya. Sedangkan Daffa mengenakan baju pengantin dengan warna senada dengan istrinya. Keduanya tampak serasi. Gagah dan anggun.
Setelah berganti pakaian dan merapikan riasan, keduanya kembali ke tempat pelaminan masing-masing. Suasana gedung tampak lebih ramai dibandingkan sebelum mereka berganti pakaian. Para tamu undangan mulai berdatangan ingin menyalami mempelai.
Pukul 12.00, kedua mempelai dan keluarga besar menunaikan ibadah shalat Zuhur secara berjamaah di mushalla gedung yang terlihat cukup luas. Setelah itu, mereka mulai menikmati makan siang yang telah disediakan. Sebelum kembali ke tempat pelaminan untuk menemui para undangan yang baru datang silih berganti dan ingin menyalami keduanya.
__ADS_1
Seluruh rangkaian acara walimahan berakhir pukul 14.00. Suasana gedung mulai sepi dari para tamu. Ruangan pun mulai dirapikan. Daffa dan Rima telah berganti pakaian biasa yang lebih santai namun tetap rapi. Rima mengenakan gamis berwarna merah maroon dan khimar berwarna senada. Sedangkan Daffa mengenakan kemeja berwarna coklat susu dan celana kain berwarna coklat tua.