
Assalamualaikum
Dear Readers,
Apa kabar? Semoga sehat semuanya, ya. Kalau ada yang sakit semoga segera diangkat penyakitnya dan sehat kembali. Sehingga bisa segera beraktivitas kembali. Salam sehat semuanya.🤗
Maafkan baru sampat update lagi. Minggu kemarin fokus mendampingi anak-anak ujian akhir jadi gak sempat pegang hp. Alhamdulillah sudah selesai tinggal tunggu bagi rapot, jadi bisa lanjut lagi nulisnya.
BTW, bagaimana, nih, suka tidak dengan jalan ceritanya? Minta komentarnya, dong. Biar tetap semangat nulisnya. Kalau suka dan banyak yang komentar, Insya Allah diusahakan untuk creazy up, deh. Author senang cukup banyak yang membaca novel ini, tapi sayang sepi komentarnya.
So, please jangan lupa untuk melike dan komennya, ya.
***
Rina terbangun dari tidurnya. Merenggangkan otot tubuhnya yang terasa pegal dan memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Tak lupa menggerakkan kepalanya ke kiri, kanan, ke atas, ke bawah, lalu memutar lehernya. Wajar saja, karena posisi tidurnya yang sambil duduk dengan kepala agak miring ke kanan. Tanpa berpindah-pindah. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 16.00.
"Astaghfirullah, sudah Ashar rupanya. Aku ketiduran, " gumamnya seraya beranjak dari sofa menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berwudhu, dilanjutkan shalat Ashar.
Setelah shalat dilanjutkan dengan berzikir petang dan berdoa memohon petunjuk agar dimudahkan segala urusannya di sini sekaligus meminta perlindungan. Lalu dilanjutkan dengan bertilawah dengan menggunakan aplikasi Qur'an yang ada di ponselnya, hingga hatinya terasa tenang.
__ADS_1
Tanpa disadari, semua aktivitasnya di dalam kamar itu diawasi oleh Samiri melalui CCTV. Dia memang sengaja memasang CCTV di setiap ruangan yang ada di mansion itu kecuali kamar mandi, untuk mengawasi semua aktifitas dan pergerakan yang terjadi di dalam markasnya ini. Laki-laki paruh baya yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya itu tampak tertegun melihat apa yang dilakukan oleh Rina.
'Benar-benar calon istri idaman. Calon istri shalihahku. Masih muda tapi ibadahnya bisa sekhusyu' itu. Dia begitu menikmati ibadahnya. Suara ngajinya juga merdu. Wajahnya begitu teduh, menenangkan, mungkin saking seringnya terkena air wudhu. Suatu hal yang jarang dilakukan oleh anak muda zaman sekarang,' gumam Samiri. Apa yang dilihatnya membuatnya semakin kagum pada gadis itu. Hatinya sedikit bergetar dan tersentuh.
'Ah, jangankan anak muda, orang-orang tua juga banyak yang lalai dari kewajibannya. Lupa pada Tuhan. Termasuk aku, ' gumamnya.
'Sudah berapa lama aku tidak shalat, ya?' gumamnya lagi. Tiba-tiba merasa malu pada dirinya sendiri.
Ya, secara fitrah, sejahat-jahatnya manusia tetap menginginkan yang baik-baik. Tetap memiliki sisi baik. Sepertinya itu yang sedang dirasakannya. Seandainya laki-laki itu mau menggunakan akalnya untuk merenung lebih dalam, akan menjadi pintu hidayah baginya.
Tak terasa, satu jam sudah Rina melakukan aktivitasnya. Melipat mukena dan sajadahnya lalu diletakkan di atas nakas. Lalu dilanjutkan dengan memasukkan baju-baju yang dibawanya dari rumah dan merapikannya.
Tak terasa waktu shalat Maghrib pun datang. Gadis itu pun bersiap untuk melaksanakan ibadah tersebut. Tak lama setelah selesai shalat Maghrib terdengar suara ketukan pintu. Dengan masih menggunakan mukenanya, Rina membuka pintu. Dan terlihatlah sosok paru baya itu. Ya, orang yang mengetuk pintunya itu adalah Samiri. Laki-laki itu tampak memperhatikan Rina, menatapnya dari atas hingga ke bawah berulang-ulang, membuat gadis itu merasa risih dan takut.
"Turunlah ke bawah, kita makan malam bersama!" titah Samiri.
"Baik, sebentar saya akan menyusul, " jawab Rina.
"Oke, aku tunggu di bawah, " ujar Samiri.
__ADS_1
Rina menganggukkan kepalanya.
Setelah Samiri tidak terlihat lagi, Rina kembali menutup pintunya lalu merapikan peralatan shalatnya. Mengganti bajunya dengan gamis berwarna navi dan kerudung yang senada, tak lupa memakai kaos kakinya agar aurat di sekitar kakinya tidak terlihat.
Setelah rapi, Rina pun keluar dari kamar dan turun ke lantai satu untuk makan bersama. Ternyata di lantai bawah begitu ramai, rupanya di sinilah semuanya makan bersama, termasuk teman-temannya yang sedang dikarantina. Ada sekitar dua puluh orang. Membuat Rina terkejut melihat mereka. Tapi tidak lama, setelah terlihat senang. 'Mungkin ini cara Allah untuk memudahkan misiku di sini. Alhamdulillah, Ya Allah," batinnya dalam hati.
Begitu pula teman-teman yang mengenalinya tampak terkejut. Tidak menyangka jika Rina ada di sini. Turun dari lantai atas.
"Rina, kamu di sini juga? Sejak kapan?" tanya gadis remaja seusia Rina, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya, Tika, baru tadi siang aku sampai sini, " jawab Rina sambil tersenyum, lalu keduanya saling berpelukan dan bercipika-cipiki ria.
"Aku senang melihatmu di sini, " ujar gadis yang dipanggil Tika itu.
"Aku juga, " sahut Rina.
Selanjutnya acara makan malam dimulai, semua tampak menikmati hidangan lezat malam ini dengan lahap.
Setelah makan malam, Rina tampak terlihat sedang mengobrol dengan teman-temannya. Samiri hanya memperhatikan dari jauh. Memilih membiarkan gadis itu. Tanpa ada rasa curiga.
__ADS_1
Rina sedang berusaha mencari cara dan celah untuk memperingati mereka. Tapi masih belum bisa dilakukannya karena merasa Samiri sedang memperhatikannya sejak tadi.
Ya, gadis itu sebenarnya menyadari jika sejak tadi Samiri memang memperhatikannya tapi bersikap pura-pura tidak tahu. Memilih tetap sibuk mengobrol dengan teman-temannya.