
Tidak terasa waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Empat bulan sudah usia janin yang ada dalam kandungan Rima. Perutnya mulai terlihat sedikit menonjol. Aura keibuan semakin terpancar di wajahnya yang cantik. Membuat suaminya semakin mencintainya.
Daffa rela menjadi suami siaga, selalu memperhatikan dan mengutamakan istrinya daripada urusan lain. Untungnya, kehamilannya tidak terlalu menemukan kesulitan yang berarti. Rima masih bisa beraktivitas seperti biasa, tetap kuliah, makan juga tidak bermasalah, walau kadang masih mengalami morning sick. Tapi masih bisa dikendalikan.
Meski begitu, Rima selalu menjaga kandungannya, dengan mencoba membaca bahasa tubuhnya. Jika terasa lelah, dia akan memilih istirahat, baru melanjutkan lagi setelah merasa baikan. Itu juga yang menjadi syarat dari suaminya jika ingin tetap pergi kuliah. Laki-laki itu begitu telaten memperhatikan setiap kebutuhan istrinya, termasuk mengingatkan makannya, minum susu ibu hamilnya, minum vitaminnya dari dokter, memeriksakan kandungannya setiap bulan, sampai antar jemput istrinya, kemana pun.
Semua itu dilakukan untuk menjaga istri dan calon anaknya. Sedikitpun tidak ada keluhan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Meski kadang terlihat lelah, karena harus membagi waktunya juga dengan urusan pekerjaan yang semakin banyak. Membuat Rima terkadang merasa kasihan melihatnya, sekaligus bersyukur memiliki suami seperti dirinya. Beruntung, teman-temannya bisa mengerti keadaannya dan mau menghandel ketika Daffa tidak bisa.
Tak henti-hentinya, kebahagiaan meliputi keluarga kecilnya. Khususnya bagi Daffa sendiri, tahun ini adalah tahun kebahagiaannya. Bertemu dan menikah dengan seorang gadis yang merupakan kakak kelas dan sahabat dari adik perempuannya, Ira, yang ternyata juga merupakan putri dari sahabat lama ibu kandungnya semasa SMA. Dari pertemuan itulah yang membuat kedua orang tua mereka bersepakat untuk menjodohkan keduanya, agar hubungan persahabatan mereka lebih erat lagi, yaitu menjadi satu keluarga besar.
Akhirnya, Daffa dan Rima menikah satu bulan setelah gadis itu lulus SMA. Kebahagiaan itu semakin terasa bertambah dengan kehamilannya setelah menjalani pernikahan selama lima bulan. Kini, usia kandungan istrinya hampir memasuki empat bulan. Apalagi saat anaknya lahir nanti. Maka, semakin lengkaplah kebahagiaan itu.
Laki-laki itu juga baru saja menyelesaikan kuliahnya, dan bulan depan akan diwisuda. Sementara usahanya bersama keempat sahabatnya semakin terlihat geliatnya. Apalagi setelah berhasil menangani proyek di rumah sakit-rumah sakit selama dua bulan ini. Walaupun lingkupnya masih dalam kota, belum merambah ke luar kota. Permintaan untuk dibuatkan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan oleh beberapa perusahaan semakin banyak. Membuat mereka harus bekerja lebih ekstra lagi. Kadang membuat mereka jadi keteteran membagi waktu.
Karena itulah, Daffa dan kawan-kawan mulai berpikir untuk membuka lowongan sebagai tenaga teknisi yang sangat dibutuhkan. Hingga akhirnya bertambahlah karyawan sebanyak sepuluh orang. Berharap, mereka bisa bekerjasama dengan baik. Semua pekerjaan dapat lebih optimal dikerjakan. Semuanya terasa begitu dimudahkan. Terasa hidupnya lebih berkah setelah menikah. Lebih bermakna dan berwarna.
Mengingat semua itu, membuat Daffa berpikir untuk mengadakan acara syukuran empat bulanan dan sekaligus membagi kebahagiaannya dengan orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
Daffa mulai menceritakan rencananya kepada orang tuanya. Daffa mendekati orang tuanya yang sedang asyik mengobrol santai sambil menonton televisi dan menikmati camilan, lalu duduk di dekat keduanya. Ira dan Raihan pun sedang duduk di seberang kedua orang tuanya. Sementara Rima, sedang ada di kamarnya.
"Abi, Ummi, sebentar lagi kan kandungan Rima akan memasuki usia empat bulan. Rencananya Daffa ingin mengadakan acara syukuran. Sekalian merayakan kebahagiaan Daffa yang lain, kuliah selesai, pekerjaan Daffa juga mulai berkembang, proyek yang sedang dijalankan juga sukses, dan sudah nambah karyawan pula. Gimana menurut kalian?" ujar Daffa.
"Boleh, Abi setuju banget dengan rencanamu itu. Terus bentuk acaranya gimana?" tanya Wirawan.
"Ya, yang sederhana saja, lah. Undang makan bersama dengan tetangga terdekat kita, anak-anak yatim yang ada di sekitar rumah kita, teman-temanku dan Rima, dan juga Bang Hisyam untuk mengisi tausiyahnya nanti."
"Oke, boleh juga, tuh!" ujar Linda.
"Kamu Ira, bantuin Aa lagi, ya. Ajak teman-temanmu juga!" titah Daffa kepada Ira sambil menatap adiknya yang baru saja membuka mulutnya dan nyaris memasukkan camilan yang ada di tangannya. Membuatnya jadi menghentikan aktifitasnya sejenak lalu melanjutkannya kembali suapannya.
"Habiskan dulu makananmu, tidak sopan banget makan sambil ngomong. Anak gadis kok jorok, banget, sih!" omel Daffa kesal.
"Iya, iya, cerewet, " sungut Ira yang ikut kesal.
"Eh iya, maksudnya Aa tadi apa?" tanya Ira lagi.
__ADS_1
"Iya, bantuin. Kan yang waktu nikahan Aa lumayan sukses. Jadi, biar tidak repot lagi, kalian aja yang atur di acara syukuran empat bulanan calon keponakan kamu, " terang Daffa.
"Oke, siap, Bos!" sahut Rima penuh semangat.
"Sip, lah. Thanks adikku, sayang, " seru Daffa senang sambil mengacak-acak rambutnya gemas.
"Ih, kebiasaan, deh. Rambut Ira jadi berantakan, tahu," sungut Ira kesal, sambil sibuk merapikan rambutnya yang sebatas bahunya. Membuat Daffa jadi terkekeh.
"Besok-besok dibantuin promo, deh. Biar kalian bisa punya usaha WO atau EO beneran. Kalau teman atau kenalan Aa mau adakan acara pasti kalian yang Aa rekomendasikan, " rayu Daffa.
"Benaran, ya? Janji?" harap Ira dengan senang. Dan anggukan dari kakak sulungnya itu membuat gadis itu jadi tersenyum senang, lalu menciumi pipinya kiri dan kanan, bolak-balik. Membuat Daffa jadi terkekeh geli. Sebenarnya, memang Ira dan sahabat-sahabatnya sudah ada rencana mau membuat WO atau EO setelah acara pernikahan Daffa. Tentu saja gadis itu merasa senang karena mendapat dukungan dari kakaknya.
"Ada maunya saja, cium-cium Aa, " ledek Daffa.
Dalam hati, Daffa merasa kangen juga bercanda sama adiknya itu. Setelah menikah, Daffa lebih sibuk mengurusi istrinya, kuliahnya, dan bekerja. Jarang ada waktu kumpul, kecuali saat weekend. Apalagi setelah mengetahui kehamilan istrinya. Otomatis, lebih fokus lagi menjadi suami siaga.
Ya, semenjak menikah memang tak dipungkiri ada sesuatu yang berubah dari dirinya. Daffa kini jauh lebih dewasa, mungkin karena menyadari tanggung jawab besar yang ada di pundaknya. Ira pun kadang suka merasa rindu, serasa kehilangan sosoknya yang ceria, jahil, rada pecicilan, namun sesekali bisa juga tegas dan terkesan over protektif terhadap adiknya itu melebihi orang tuanya. Terutama jika menyangkut pergaulannya.
__ADS_1
Daffa selalu khawatir mengenai pergaulan adiknya dengan teman-temannya. Menurutnya, di usia remaja seperti Ira lah harus ketat mengawasinya, jangan sampai kebablasan. Usia labil dan kritis, jika tidak ingin terjadi hal yang mengerikan. Meski lingkungan sekolahnya terbilang Islami namun kemungkinan itu akan selalu ada. Mengingat pergaulan bebas begitu mudah didapat seiring dengan perkembangan canggih tekhnologi. Akses internet yang begitu mudah. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya smartphone canggih. Hanya dengan menggunakan sentuhan jari, seluruh dunia seolah bisa dijangkau dengan mudah. Suatu hal yang dulunya tidak mungkin, menjadi suatu keniscayaan di zaman ini. Jika tidak sigap mengawasi adiknya, entah apa yang akan terjadi. Apalagi setelah laki-laki itu berkecimpung di dunia teknologi IT, sesuai mata kuliahnya. Membuatnya sangat paham bagaimana bahayanya tekhnologi di balik kecanggihannya.
Beruntung, adiknya itu mudah diatur dan selalu menuruti nasihatnya. Namun, kekhawatiran itu akan tetap ada, karena bagaimana pun adiknya itu juga tanggung jawabnya, setelah abinya. Sebelum ia menikah kelak. Ya, biar bagaimana pun dan sampai kapanpun Ira itu akan selalu menjadi adik kecilnya yang begitu disayangi. Memperhatikan dan mengawasi adiknya akan tetap dilakukan.