
Setelah teman-teman mereka sudah tidak ada, Hisyam dan Lisa pun bersiap untuk pulang. Kedua orang tua mereka saling berpamitan.
"Hen, aku pamit dulu, ya. Terima kasih untuk semuanya, ya, " pamit Hamid kepada Hendrik.
"Ya, sama-sama. Kapan-kapan kita akan kumpul lagi, ya," ujar Hendrik.
"Pastinya, dong. Kita akan sering ketemu. Kan sekarang kita sudah jadi keluarga, " tukas Hamid, mengingatkan. Keduanya tersenyum.
"Jeng, aku juga pamit, ya, " pamit Halimah kepada Rita.
"Iya, sama-sama. Tapi jangan panggil Jeng, dong. Kedengarannya tidak enak banget. Cukup panggil nama saja. Kan kita seumuran, " ujar Rita.
"Baiklah, " sahut Halimah sambil tersenyum.
Setelah itu, Hendrik dan Rita mendekati anak dan menantunya. Lisa menyambutnya dengan menghambur ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Air mata kembali menetes di pipi mulusnya.
"Loh, kok putri papa nangis, sih? Ini kan hari bahagiamu, sayang, " tegur Hendrik sambil tangannya sibuk menghapus air mata Lisa.
Hendrik menjauhkan wajahnya agar dapat menatap putrinya.
"Selamat, ya, Nak. Semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu bahagia, samara, berkah dan diridhai Allah. Ingat, pesan Papa, ya. Bingkai rumah tangga kalian dengan ketakwaan agar berkah itu didapat."
Lisa hanya mampu mengangguk. Lalu Hendrik melepaskan pelukannya dan menepuk pelan bahu Hisyam,
"Nak, Papa titip Lisa sama kamu, ya. Tolong jaga dia, bimbing dia, dan bawa dia hingga ke surga. Ingat hari ini bukanlah yang terakhir, namun awal dari kehidupan kalian. Pahit dan manis pasti akan menghampiri kalian. Apapun yang terjadi pada rumah tangga atau hidup kalian kembalikan urusannya kepada Allah, pasti akan selalu ada jalan keluarnya, di samping ikhtiar tentunya, " pesan Hendrik kepada Hisyam membuat laki-laki itu mengangguk meyakinkan.
"Insya Allah, itu adalah kewajiban saya sekarang, Pak. Percayakan pada saya. "
"Loh, kok kamu masih panggil saya Pak, sih. Panggil Papa, dong. Sama seperti Lisa. Kamu sekarang sudah jadi anak saya juga, " tukas Hendrik.
"I... iya, Pa, " jawab Hisyam malu.
Sang Mama pun tak mau kalah, ia juga banyak memberi pesan untuk putrinya,
"Jadilah istri yang baik dan shalihah, turuti perintahnya selama untuk kebaikan, jaga kehormatanmu di saat suamimu tidak ada di dekatmu, amanahlah dalam mengelola rumah tangga dan harta suamimu. Oke?"
Lisa menjawabnya dengan anggukan.
Lalu pandangan Rita beralih kepada menantunya,
" Nak, Mama juga titip Lisa, ya. "
"Insya Allah, Ma. Terima kasih telah memberi restu kepada kami. Kami masih butuh bimbingan kalian sebagai orang tua, terutama saya sebagai suaminya, " ujar Hisyam.
Setelah puas memberi pesan kepada anak dan menantunya, Hendrik dan Rita berpamitan terlebih dahulu menuju ke rumahnya. Sedangkan Lisa ikut dengan keluarga suaminya.
***
Hisyam dan Lisa masuk ke dalam mobil Hisyam, sedangkan kedua adik kembarnya, Hanum dan Hana ikut mobil Hamid dan Halimah. Di perjalanan, Hisyam dan Lisa tampak canggung karena baru pertama kali berdua dalam satu mobil seperti ini. Duduk berdampingan pula di depan. Suasananya begitu hening. Tidak ada yang berani memulai bicara. Debaran di dada keduanya seolah berpacu.
Untuk mencairkan suasana, akhirnya Hisyam memutar radio. Entah saluran mana yang dia tekan, yang penting ada suaranya, tidak sepi, pikirnya. Ternyata, itu lagu nasyid.
Perhiasan yang paling indah
Bagi seorang abdi Allah
Itulah ia wanita sholehah
Ia menghiasi dunia
Perhiasan yang paling indah
Bagi seorang abdi Allah
Itulah ia wanita sholehah
__ADS_1
Ia menghiasi dunia
Itulah ia wanita sholehah
Ia menghiasi dunia
Aurat ditutup demi kehormatan
Kitab Al Qur'an didaulahkan
Suami mereka ditaatinya
Walau berjualan di rumah saja
Karena iman dan juga Islam
Telah menjadi keyakinan
Jiwa raga mampu dikorbankan
Harta kemewahan dileburkan
Di dalam kehidupan ini
Dia menampakkan kemuliaan
Bagai sekuntum mawar yang tegar
Ditengah gelombang kehidupan
Aurat di tutup demi kehormatan
Kitab Al Qur'an di daulahkan
Suami mereka ditaatinya
Karena iman dan juga Islam
Telah menjadi keyakinan
Jiwa raga mampu di korbankan
Harta kemewahan dileburkan
Di dalam kehidupan ini
Dia menampakkan kemuliaan
Bagai sekuntum mawar yang tegar
Ditengah gelombang kehidupan
Wanita sholehah....
Nasyid itu mengalun sepanjang perjalanan, seolah mengingatkan mereka, terutama Lisa seperti apa seharusnya menjadi pribadi muslimah yang baik dan shalihah.
Sesekali keduanya saling melirik. Saat saling bertemu pandang keduanya tersenyum. Hisyam mencoba memecah keheningan dengan mulai membuka percakapan.
"Ehm, eh, Lisa, kamu suka nasyid ini? Ini nasyid lama, loh, " Tanya Hisyam, kikuk.
Sambil tersenyum dan masih menunduk, masih belum berani menatap laki-laki yang baru saja menjadi suaminya. Lisa menjawab,
"Suka, Kak, " jawab Lisa lirih, begitu singkat.
Setelah itu keheningan kembali menyelimuti keduanya. Masih bingung mencari bahan pembicaraan.
__ADS_1
"Ehm, Lis, " panggil Hisyam. Membuat Lisa menoleh, menatap wajah suaminya dari samping. Sementara Hisyam hanya melirik, masih berusaha fokus melihat ke depan sambil terus menjalankan mobilnya.
"Hem, " sahut Lisa.
"Terima kasih, ya, " kata Hisyam.
"Terima kasih untuk apa, Kak?" Tanya Lisa tidak mengerti. Merasa tidak berjasa apapun.
"Terima kasih telah menerima saya jadi suami kamu, " ucap Hisyam lirih, namun masih bisa terdengar di telinga Lisa. Sementara jantungnya kian berdegup kencang, membuatnya merasakan sesak. Hingga tanpa sadar menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Melihat itu, Lisa yang masih menatap suaminya, menjadi cemas karena mengira sesuatu telah terjadi padanya.
"Kak, Kakak kenapa? Dadanya ditepuk-tepuk seperti itu? Ada yang dirasa kah? Sakit?" Tanya Lisa dengan panik. Tanpa sadar tangannya refleks memegang lengan suaminya.
Membuatnya melirik tangan itu. Entah disadari atau tidak Hisyam menghentikan mobilnya di tepi jalan. Sambil berusaha menenangkan jantungnya yang terus bertalu-talu.
Perlahan, sebelah tangan Hisyam mengambil jemari yang ada di lengannya dan menggenggamnya dengan lembut sementara tangan satunya memegang setir. Lalu membawanya ke dadanya sendiri. Lisa terlihat terkejut, tegang, bercampur malu, karena baru menyadari bahwa tangannya sejak tadi telah memegang lengan suaminya. Namun tidak menolak genggaman hangat itu. Hisyam juga seperti tidak ingin melepaskan.
"Jantung ini berdetak kencang karena kamu ada di dekatku, " bisiknya lirih sambil menatap wajah gadis yang kini telah menjadi istrinya dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan yang terpendam lama.
Ungkapan hati dan tatapan mesra suaminya membuat wajah Lisa merona. Berbagai rasa pun bergolak di dada keduanya. Malu, haru, bahagia, bercampur. Hingga sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Keduanya tenggelam dalam rasa yang begitu membuncah. Seketika membuat mata Lisa mendadak panas, mulai berkaca-kaca, menahan tangis.
Melihat itu, Hisyam tidak mampu menahan rasa yang bergejolak di dadanya lagi. Segera dipeluknya sang istri. Dadanya pun tidak kalah sesak, matanya pun ikut berkaca-kaca manakala mengingat semua yang pernah mereka alami. Tangis keduanya pun pecah. Ya, tangis haru dan bahagia. Waktu lima tahun tidak mampu mengubah rasa yang pernah ada. Hingga takdir tak terduga mempertemukan mereka kembali. Padahal selama ini keduanya tidak pernah jauh, tanpa disadari.
Begitu pula bagi Lisa. Hisyam adalah laki-laki pertama yang membuatnya mengenal rasa ketertarikan kepada lawan jenis, selain kepada papanya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Hisyam sedikit melonggarkan pelukannya dan menjauhkan wajahnya untuk menatap kembali gadis yang selalu ada dalam doanya selama ini. Dengan caranya yang indah, Allah mempertemukan keduanya di saat yang tepat. Saat keduanya telah sama-sama hijrah.
Hisyam menggerakkan jemarinya untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Lisa, begitu pula dengan Lisa, dia menghapus air mata suaminya. Lalu saling menatap dengan cukup lama untuk pertama kalinya.
"Tapi Alhamdulillah dulu kita tidak sempat dekat, berinteraksi berlebihan, apalagi sampai berpacaran. Setidaknya kita dijaga dari hal itu. Sekarang kita dipertemukan kembali dan mulai hari ini kita resmi menjadi sepasang suami istri. Ikatan yang dihalalkan Allah. Sesuatu yang tadinya dilarang, kini menjadi halal untuk kita. Rasanya seperti mimpi, masih belum percaya. Allah mengabulkan doa-doaku dengan caranya yang indah seperti ini. Masya Allah!" ujar Hisyam.
Lisa pun mengangguk.
"Lisa juga masih belum percaya. Dikira tidak akan pernah bertemu dengan Kakak lagi setelah Kakak lulus SMA dulu. Skenario Allah tidak ada yang tahu. Dia bisa mendekatkan yang jauh atau sebaliknya menjauhkan yang dekat. Jadi merinding kalau ingat itu, " ungkap Lisa tidak mau kalah.
Dada keduanya terasa plong setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Kecanggungan pun mencair. Keduanya mulai rileks. Dan tidak ragu untuk saling menatap.
"Ngomong-ngomong, mau sampai kapan kita di sini? Sudah masuk waktu Ashar, loh, " Tanya Lisa tiba-tiba, membuat Hisyam menepuk kepalanya sendiri.
"Oh iya, ya sudahlah kita jalan lagi, yuk!, " jawab Hisyam sambil nyengir. Membuat Lisa tersenyum geli.
"Habisnya, keenakan ngobrol sama kamu, sampai lupa waktu. Untung saja kamu ingatkan, " kata Hisyam.
"Nanti kan bisa dilanjutkan lagi di rumah, " ujar Lisa sambil menahan tawanya. Baginya lucu melihat ekspresi wajahnya saat ini.
Akhirnya Hisyam kembali menjalankan mesin mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. Namun tangannya kembali menggenggam jemari istrinya sambil terus berusaha fokus ke jalanan.
Lisa pun terlihat lebih rileks bahkan membalas genggaman tangan suaminya. Membuat Hisyam tersenyum senang. Begitu juga dengan Lisa. Mereka tetap tidak bergeming sampai tiba di depan rumah orang tua Hisyam.
"Alhamdulillah, sudah sampai kita. Eh, Papa dan Mama sudah sampai duluan rupanya, " sahut Hisyam.
"Ya, iyalah, duluan. Kan kita tadi berhenti dulu, ngobrol lama, " tukas Lisa, membuat Hisyam kembali tersenyum.
Hisyam keluar dari mobil lebih dulu dan setengah berlari memutari mobil di bagian depan, ingin membukakan pintu untuk Lisa. Diulurkannya tangannya dan Lisa pun menyambutnya. Lalu keduanya melangkah ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
"Assalamualaikum!" sapa Hisyam.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Mama Rita.
"Kalian kok sampai duluan, sudah lama? Perasaan tadi bareng, deh, " tanya Hisyam
"Kita juga baru sampai, kok, Bang, " yang menjawab itu Hanum.
__ADS_1
Hanum berjalan mendekati Lisa, merangkul dan mencium kedua pipi kakak iparnya.