
Enam bulan kemudian
Pulang sekolah, Rianti mampir dulu di supermarket yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ia berencana membeli bahan-bahan cake untuk praktek masak besok. Setelah semua lengkap, Rianti segera membawanya ke meja kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Setelah itu mampir ke sebuah toko kue yang ada di teras mini market itu. Melihat kedatangannya, seorang wanita paruh baya, sepertinya pemilik toko kue itu tampak mengenalnya dan menyapanya dengan senang, "Hai, Rianti, apa kabar? Lama tidak ke sini, sih? Sudah lama juga nggak nitip kue-kuenya di sini. Kangen, ih."
"Iya, Tante Tita, kemarin-kemarin aku lagi sibuk dengan kegiatan di sekolah. Jadinya, belum sempat ke sini lagi, deh," jawab Rianti sopan.
"Duh, segitunya yang sudah jadi anak SMA, sibuk apaan, sih?" tanya wanita yang ternyata bernama Tita itu. Merasa geli bercampur gemas mendengarnya.
"Ya, sibuk sekolah, Tante, apalagi sekarang kan Rianti ikut kegiatan tata boga, banyak praktek masak," jawab Rianti.
"Wah, hebat, dong. Pasti makin pinter masaknya, seperti mamamu," seru Tita kagum.
"Ah, masih belum apa-apa, Tante. Masih belajar," jawab Rianti merendah.
"Terus kapan mau nitip kue lagi di sini? Sejak masuk SMA kamu belum nitip lagi, deh. Langgananmu banyak yang nanyain, loh," tanya Tita.
"Ya, Insya Allah Rianti mau titip kue lagi, tapi mulainya minggu depan saja, ya. Biar prepare dulu, " jawab Rianti.
"Oke, Tante tunggu, ya. Kangen juga sama kue-kue kamu. Tante juga suka," seru Tita sambil tersenyum.
Sejak SMP, Tita memang sudah sering menitipkan kue hasil buatannya di toko ini, selain di kantin sekolahnya dulu saat SMP. Tita, sang pemilik toko kue yang juga sahabat mamanya saat SMA begitu menyukai kue-kue buatannya. Selalu habis dibeli para pelanggan.
Kini Rianti berencana mau melanjutkan kembali usahanya menitipkan kue-kue buatannya yang sempat tertunda karena kesibukannya di sekolah barunya, SMA Cendekia. Ia memilih kegiatan tata boga di sekolahnya untuk meningkatkan kemampuan dalam memasak. Impiannya, ia ingin kuliah dan kelak punya toko kue sendiri. Tapi ia ingin berusaha sendiri, tidak mau merepotkan orang tuanya. Karena itu, ia rajin membuat kue dan menitipkannya ke toko-toko kue sebagai langkah awal usahanya. Hasilnya, ia tabungkan untuk mewujudkan cita-cita masa depannya.
Orang tuanya tampak mendukung. Bahkan begitu bangga dengan kemandirian putri sulung mereka itu. Di usianya yang masih belia, 15 tahun, sudah punya tujuan dan impian.
****
Seminggu kemudian
Dini hari, sekitar jam 03.00, Rianti tampak sibuk di dapur. Sebenarnya sudah bangun dari jam 02.30, setelah menunaikan shalat lail, ia langsung ke dapur. Memulai aktifitasnya memasak kue-kue yang akan dititipkan di toko-toko. Sejak kemarin, Rianti sudah menyiapkan bahan-bahannya. Sekarang tinggal eksekusinya saja.
Begitu asyiknya Rianti masak sampai tidak terasa waktu berlalu. Kue-kue itu sudah selesai dibuat. Hari ini Rianti hanya buat 3 macam kue dulu, sebagai langkah awal. Ada donat kentang berbagai 5 varian toping, seperti taburan coklat meses, keju, stroberi, blueberry, dan kacang tanah. Lalu, ada kue pai susu, dan juga risoles isi rogut sayuran dan isi mayonais daging asap.
Di tengah-tengah kesibukannya, tiba-tiba terdengar pula kumandang adzan shalat Subuh dari masjid yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Mendengar itu, ia langsung menghentikan sejenak aktifitasnya. Mencuci tangan sampai bersih, lanjut melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu, dan melaksanakan ibadah shalat Subuh di kamarnya.
Setelah selesai shalat Subuh, Rianti kembali ke dapur hendak melanjutkan kembali aktifitasnya.
__ADS_1
Dilihatnya Asti, bundanya sudah ada di dapur, sedang memasak untuk sarapan.
"Kamu jadi mau nitip kue-kue lagi?" tanya Asti.
"Iya, Bun. Habisnya pada nanyain. Ya sudahlah, mulai lagi saja. Sudah lama juga, kan. Sejak Rianti masuk SMA belum nitip lagi. Kasihan juga. Sekalian mau mempraktekkan langsung kue-kue hasil belajar di tata boga. Sedikit-sedikit saja dulu, " jawab Rianti.
Tak lama, menyusul pula Danti bergabung ke dapur.
"Teh Rianti, sudah beres masaknya? Kenapa nggak bangunin Danti? " ujar Danti merengut. Padahal ia juga ingin belajar memasak seperti kakaknya.
Baginya, kakaknya itu panutannya, idolanya. Apapun yang dilakukan ingin selalu dilibatkan. Ia ingin seperti kakaknya.
"Cuma tinggal goreng-goreng doang, kok. Kan dari kemarin sore sudah disiapkan, terutama untuk donat sama risol. Jadi nggak lama juga, " jawab Rianti.
Wajar Danti masih saja cemeberut.
"Ya sudah, kalau begitu, bantu Teteh mengemas kue-kue ini saja, ya. Nanti untuk kantin SMP kamu yang bawa, ya. Anggaplah kamu itu reseller Teteh. Nanti kamu dapat juga, lah, Gimana, mau?" tawar Rianti, mencoba menghiburnya.
"Wokeh!" seru Danti senang, apalagi saat mendengar kalimat terakhir. Matanya tampak berbinar. Ia juga ingin merasakan uang hasil keringatnya sendiri. Walaupan cuma jadi reseller. Ia merasa sangat senang karena dilibatkan.
Bundanya hanya memperhatikan kedua putrinya itu dengan senyum bahagia dan bangga.
"Anak-anak Bunda sudah besar ternyata, " gumamnya haru.
Lalu, keduanya tampak sibuk mengemas kue-kue itu. Setelah semua rapi, lanjut membereskan dapurnya yang berantakan, bekasnya memasak tadi hingga kembali bersih dan rapi.
Setelah itu, ia melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri, bersiap untuk mengantarkan kue-kue itu ke toko kue sebelum berangkat ke sekolah. Ia siapkan untuk 3 toko, yaitu toko kuenya Tita, lalu kantin SMP-nya yang akan dibawa oleh adik perempuannya, Danti, dan untuk kantin di sekolahnya sekarang.
Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, semuanya berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan yang telah dimasak oleh bundanya. Setelah itu, semuanya bersiap berangkat sekolah dengan di antar oleh ayahnya, Iskandar. Setelah sebelumnya berpamitan dengan bundanya.
Sebelum ke sekolah, Rianti minta mampir dulu ke mini market untuk mengantarkan kue yang akan dititipkan di toko kue Tante Tita. Kebetulan toko kuenya memang sudah buka sejak jam 6 pagi. Setelah itu, langsung ke sekolah.
Sampai di sekolah, jam menunjukkan pukul 06.30. Jarak sekolah Rianti dari rumah memang ditempuh 30 menit. Sebelum ke kantin dia mau menyimpan tasnya dulu. Di kelas sudah mulai ada beberapa temannya. Termasuk ketiga sahabatnya, Ira, Wulan, dan Sania.
Melihat kedatangannya dengan bawaannya, membuat ketiganya tampak penasaran. Wulan dan Sania mendekati bangku Rianti dan Ira.
"Apa yang kamu bawa, Rianti?" tanya Ira.
"Ini, kue-kue mau dititip untuk dijual di kantin sekolah kita. Jum'at lalu aku sudah izin ke Bu Siti, pengelola kantin. Dan mulai hari ini aku mau nitip di sana, " jawab Rianti.
"Wah, coba lihat, dong!" pinta Wulan.
__ADS_1
"Boleh, " jawab Rianti sambil memperlihatkan kue-kue itu.
"Wow, ada donat, risol, dan ini apa? " tanya Wulan sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah kue pie susu.
"Pia susu," jawab Rianti.
"Hm, kelihatannya enak nih, apalagi donatnya. Topingnya itu loh menggoda banget. Semuanya aku suka. Boleh aku beli sekarang?" seru Wulan. Matanya tampak tak berkedip melihatnya.
"Boleh, ambillah!" jawab Rianti.
Akhirnya Ira, Wulan, dan Sania mengambil kue-kue itu, membeli di situ juga. Tak lama, menyusul pula teman-temannya yang dari tadi ikut memperhatikan bawaan Rianti ikut membeli di situ.
Semua tampak menikmati kue buatan Rianti.
"Gimana? Ada yang kurang?" tanya Rianti, berdebar-debar. Menunggu komentar dari mereka
"Iya, kurang. Kurang buanyak, " goda Andini.
"Ih, kamu bisa saja, deh. Aku minta masukan yang benar, nih," Rajuk Rianti.
"Bercanda, deh. Enak, kok. Enak banget. Beneran. Kamu mau titip ini di kantin?" tanya Andini.
"He eh, " jawab Rianti sambil mengangguk.
"Pasti laris, deh, " doa Andini.
"Aamiin, terima kasih doanya, ya, " jawab Rianti.
"Sudah, nih. Nggak ada lagi? Mau langsung kubawa ke kantin soalnya, " tawar Rianti sekali lagi.
"Sudah cukup, besok-besok bawanya banyakan, ya, " jawab teman-temannya.
Mendengar itu, Rianti melangkah ke luar kelas hendak ke kantin. Diikuti oleh Ira, Wulan dan Sania.
"Assalamualaikum, Bu Siti, " sapa Rianti.
"Eh, wa'alaikumussalam Rianti, gimana jadi nitip kue di sini?" tanya Bu Siti.
"Jadi, dong, Bu. Ini sudah dibawa. Tapi maaf, tadi sempat dibeli teman-teman di kelas, " jawab Rianti sambil menyerahkan kotak kue yang sudah dikemas dari rumah itu.
"Oh ya, nggak apa-apa, " jawab Siti.
__ADS_1
Rianti pun bertransaksi dengan ibu Siti. Sementara teman-temannya hanya diam memperhatikan keduanya. Setelah semua selesai, Rianti dan sahabat-sahabatnya kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar.