
Seminggu kemudian
Hari ini, Ira tampak bersiap-siap ke rumah Rianti untuk ikut kajian rutin mingguan. Setelah menyantap sarapannya, gadis itu pun berpamitan kepada kedua orang tuanya, kakak sulungnya, dan kakak iparnya dengan mengendarai Scoopynya.
Sampai di rumah Rianti, ternyata sudah ada Sania dan Lisa, keduanya memang selalu datang bersama. Kebetulan rumah mereka searah, jadi Sania lah yang menjemput Lisa setiap kali kajian.
"Assalamualaikum!" sapa Ira.
"Wa'alaikumussalam!"
Lalu mereka saling bersalaman, tak lupa pula bercipika-cipiki.
"Wah, ternyata Kak Lisa sudah datang, toh!" seru Ira senang.
"Iya, ada apa? Kamu kok roman wajahnya begitu? Kaya yang sudah lama kita nggak ketemu saja. Sesenang itukah ketemu Kakak?" tanya Lisa setengah menggoda adik mentornya itu.
"Iya, senang banget. Kak, nanti habis kajian ada sesuatu yang mau diobrolin, bisa kan? Kakak nggak kemana-mana setelah ini? " sahut Ira.
"Nggak kemana-mana, kok. Setelah ini Kakak free. Ada apa nih, kok kayanya penting banget, ya?" jawab Lisa.
"Iya, " jawab Ira sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, nanti kita ngobrol setelah kajian, " ujar Lia menyanggupi keinginan adik mentornya ini.
Tidak lama kemudian, datang lah Wulan. Setelah semua lengkap kajian pun dimulai. Rianti, Wulan, Ira, dan Sania menyimak dengan serius. Sesekali melemparkan tanya jawab dalam diskusi mereka.
Setelah dua jam berlalu akhirnya kajian pun selesai. Ira sengaja tidak langsung pulang. Gadis itu mulai mengajak kakak mentor mengobrol.
"Kak, sebenarnya ada yang mau ditanyakan ke Kakak." ujar Ira membuka obrolan.
"Bertanyalah!" titah Lisa sambil memasang wajah serius, mengingat tadi katanya akan membicarakan suatu hal yang penting.
"Emh, begini, Kak. Ira mau tanya masalah pribadi tentang Kakak, " ujar Ira lagi, sedikit ragu.
"Pribadi Kakak? Apa tuh?" tanya Lisa penasaran.
"Apa kakak sudah punya calon?" tanya Ira.
"Calon? Calon apaan?" tanya Lisa kembali, dahinya tampak berkerut, bingung. Belum bisa mencerna maksud dari pertanyaan adik mentornya itu.
"Ca ... calon suami, maksudnya? " jawab Ira sedikit ragu dan hati-hati, menjelaskan maksudnya.
"Oh, maksud kamu, sudah ada yang mengkhitbah kakak atau belum. Begitu?" tanya Lisa, meyakinkan.
"Iya, " jawab Ira sambil menatap wajah teduh kakak mentornya itu.
"Belum. Eh tunggu sebentar, kenapa kamu jadi bertanya seperti ini? Apa ini obrolan yang kamu maksud tadi sebelum kita kajian?" tanya Lisa sedikit memicingkan sebelah matanya ke atas Ira yang duduk di sampingnya.
"Ehm, nggak ada apa-apa, ingin tahu saja. Kalau memang belum, siapa kriteria suami idaman Kakak?" jawab Ira mulai memancing.
"Yang pasti, dia harus laki-laki, " jawab Lisa, sengaja menggantung kalimatnya. Ingin menggoda Ira. Membuat Ira jadi kesal dan sedikit protes,
"Ya, iyalah harus laki-laki. Masa sama perempuan? Mau seperti apa jadinya? Nggak bisa punya anak, dong. Hiy, serem... Kakak ini ada-ada saja, deh, " tukas Ira sambil menggidikkan kedua bahunya, merinding membayangkan kemungkinan itu terjadi.
Lisa terkekeh melihat reaksi Ira, "Kakak kan belum selesai ngomong, kamu main potong saja terus ambil kesimpulan sendiri. Salah siapa coba?" tanya Lisa balik. Membuat Ira jadi tersenyum malu, menyadari kesalahan persepsinya.
__ADS_1
"Hehehe... iya maaf, Kak," ujar Ira.
"Makanya, kalau orang lagi ngomong itu dengarkan sampai selesai, supaya tidak terjadi kesalahpahaman, " tegur Lisa, mengingatkan.
"Iya, iya, sekali lagi maafkan Ira, ya, " pinta Ira semakin merasa tidak enak.
"Oh iya, apa tadi pertanyaan kamu?" tanya Lisa ingin mengulang pertanyaan adik mentornya itu.
"Seperti apa kriteria suami idaman Kak Lisa?" tanya Ira, mengulang kembali pertanyaannya.
"Oh itu. Ehm, Kakak ingin punya suami yang sholih, mampu membimbing kakak dan calon anak-anak kakak menjadi lebih baik, hingga berkumpul di jannah-Nya. Soal ganteng, kaya, bobot bibit dan bebetnya bagus, sih itu mah bonus, lah, " jawab Lisa sambil tersenyum geli mengingat ucapan terakhirnya.
"Kalo tipenya kaya Bang Hisyam, gimana menurut Kakak?" pancing Ira lagi.
"Ba... Bang Hisyam? Emh, dia baik. Kakak tidak tahu bagaimana dia sekarang, tahunya dia yang dulu, waktu Kakak masih SMA. Jadi Kakak tidak mau sembarangan menilai," jawab Lisa sekenanya dengan sedikit tergagap.
"Kalau misalnya Bang Hisyam juga belum punya calon, Kakak mau nggak sama dia?"
"Sebentar, sepertinya Kakak mulai paham dengan arah pembicaraan kamu. Kamu mau jodohin Kakak sama Kak Hisyam, begitu?" tanya Lisa sambil menatap adik mentornya itu.
"He euh, kalau Kak Lisa mau, biar nanti ditanyain ke A Daffa. Gimana? " jawab Ira, sambil balas menatap wajah ayu di hadapannya. Mencoba menelisik melalui matanya, ingin tahu reaksinya. Katanya, mata itu adalah jendela hati. Apa yang tersirat di sana itulah kata hatinya.
"Tapi, pasti dia sudah punya calon. Secara, dia kan banyak yang suka dari dulu juga. Apalagi sekarang, " ujar Lisa ragu.
"Sekarang yang penting Kakaknya mau atau tidak? Kalau mau, prosesnya akan dilanjutkan ke A Daffa yang lebih dekat ke Bang Hisyam. Ira doakan semoga kalian memang berjodoh." ujar Ira semangat
"Kamu semangat betul, sih, mau jodohin Kakak sama Kak Hisyam? Kamu masih kecil." tanya Lisa heran.
"Kan, menjodohkan dua orang yang baik dan sholih itu berpahala. Menghindari diri dari fitnah, menjaga kehormatan, betul tidak?" ujar Ira.
"Ini serius, Kak. Mau tidak sama Bang Hisyam? Mumpung masih single. Lagipula, kemarin kata A Daffa Bang Hisyam sempat tanya-tanya tentang Kakak. Sepertinya dia tertarik sama Kakak, soalnya nanyanya sambil malu-malu gitu, " terang Ira, menjelaskan.
"Masa, sih?" tanya Lisa tak percaya.
"Beneran, masa Ira bohong sama Kakak mentorku sendiri, " Rajuk Ira.
Cukup lama terdiam, akhirnya Lisa mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya tampak merona. Malu.
"Baiklah, kamu tanyakan saja dulu kepada kakakmu. Tapi kalau ternyata dia sudah punya calon, kakak tidak mau berharap banyak, " ujar Lisa.
"Siap, Kak. Pasti akan dilanjutkan, karena setahu Ira, Bang Hisyam juga belum punya calon. Jadi jangan khawatir, " ujar Ira.
"Sudah berapa lama kamu kenal Kak Hisyam?" tanya Lisa.
"Sudah lama, sejak A Daffa dan teman-temannya ikut kajian dengan Bang Hisyam. Aktif di DKM kampus. Sejak masih semester awal kuliah. Kan mereka kajian mingguannya di rumah, jadi sering ketemu, " jawab Ira, menerangkan.
"Oh, begitu."
***
Sampai di rumah, Ira langsung mencari sosok kakak sulungnya. Ternyata sedang di ruang kerjanya.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" titah Daffa dari dalam.
__ADS_1
"Eh kamu, Ra. Sudah pulang?" tanya Daffa.
"Iya, baru saja, " jawab Ira.
Ira melangkahkan kakinya dan duduk di sofa. Daffa pun mendekati adiknya itu.
"Gimana, tadi sudah ngobrol dengan Lisa?" tanya Daffa.
"Sudah tadi, setelah selesai kajian. Ternyata, Kak Lisa itu belum punya calon, A. Sepertinya dia juga mau sama Bang Hisyam. Selanjutnya, tugas Aa menghubungi dia, " terang Ira.
"Oke, nanti kita langsung proses saja. Bang Hisyam juga tadi nelpon Aa, dia tanyakan kabar Lisa," ujar Daffa
"Oh ya? Wah, wah... ya sudah Aa bilangin saja hasilnya, Kak Lisa juga mau, " seru Ira semakin bersemangat.
"Ternyata menjodohkan dua orang yang mau melepas masa lajang itu seru juga ya, A. Apalagi dua-duanya orang yang kita kenal baik. Pantesan mama semangat banget waktu menjodohkan Aa sama Kak Rima."
Daffa cuma terkekeh sambil mengacak rambut adik kesayangannya. Membuat gadis itu merubah wajah cerianya menjadi cemberut karena kesal.
"Kebiasaan!" omel Ira yang disambut tawa oleh Kakak sulungnya.
"Habisnya, kamu lucu, kecil-kecil sudah berani jodohin orang. Kaya yang mengerti saja. Jangan-jangan, kamu mau juga dijodohin nanti. Mau langsung nikah selepas SMA juga, kaya Rima?" ledek Daffa.
"Ih, masih jauh banget atuh, A. Masih pengen lanjut kuliah. Tapi, kalau memang dapat jodohnya cepat, siapa takut," jawab Ira, sambil nyengir malu-malu.
"Mulai genit, kamu. Belajar dulu yang benar!" ujar Daffa sambil mencubit kedua pipi adik kesayangannya dengan gemas.
"Aw, sakit tahu, A, " Rajuk Ira dengan memasang wajah cemberut. Membuat Daffa jadi terkekeh.
"Nanti Aa cariin, deh. Tapi nanti kalau sudah waktunya, tidak sekarang, " Daffa masih saja betah menggoda adiknya. Membuat wajahnya yang tadinya cemberut berubah merona.
"Ih, siapa juga yang mau sekarang-sekarang. Masih banyak yang mau Ira lakukan, " tukas Ira, wajahnya sedikit cemberut.
Rupanya, umminya mendengar obrolan kedua anaknya. Entah sejak kapan ada di situ. Saking asyiknya mengobrol hingga tidak menyadari keberadaan wanita yang telah melahirkan keduanya. Rupanya, dari tadi memang pintu masih terbuka. Pantas saja wanita itu bisa masuk ke ruang kerjanya dengan leluasa.
"Seru banget ngobrolnya, sambil nggak nyadar ada Ummi dari tadi, " tegur Linda.
"Ini, Mi. Lagi ada proyek perjodohan, " jawab Daffa.
"Hah, perjodohan? Kalian sedang menjodohkan siapa?" tanya Linda.
"Itu, Bang Hisyam sama Kak Lisa, " jawab Ira.
"Mentor kalian?" tanya Linda lagi.
"Iya, ternyata mereka sudah lama saling kenal dari zaman SMA. Bang Hisyam itu Kakak kelas Kak Lisa, dua tahun di atasnya. Dan mereka baru ketemu lagi pekan lalu pas acara syukuran empat bulanan Aa. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu sejak lima tahun yang lalu, sejak Bang Hisyam lulus SMA saja. Tidak disangka mereka ternyata dekat selama ini, padahal Aa tahu kalau mereka satu kampus, sama dengan Aa juga, " terang Ira.
"Wah, lucu juga kisah mereka. Terus mereka pada mau?" tanya Linda jadi ikutan antusias.
"Mau, makanya Daffa sama Ira mau bantu jodohin mereka, " kali ini Daffa yang menjawab.
"Ya, sudah, semoga sukses dan berhasil sampai mereka menikah, " doa Ummi Linda.
Kedua anaknya mengaminkan.
Bersambung
__ADS_1