Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Alasan Di Balik Rencana Perjodohan


__ADS_3

"Aku makan sendirian, nih?" tanyanya, saat menyadari bahwa ia makan sendirian.


"Kan aku mah sudah tadi sama anak-anak, " jawab Linda sambil terus memandangi suaminya dengan menopangkan kedua tangannya di bawah dagunya. Membuatnya jadi curiga.


"Ada apa? Kok, memandangku seperti itu? Apa aku terlihat sangat tampan, ya?" tanya Wirawan, sambil menggoda istrinya.


"Idih, ge er. Eh iya, deng, Abi memang tampan. Sangat tampan, bikin aku selalu tersepona, " rayu istrinya, menanggapi godaannya sambil mengulum senyumnya. Membuatnya jadi tergelak geli, karena tidak biasanya pakai acara merayu segala. Tapi ia senang, hatinya jadi berbunga-bunga. Serasa balik lagi ke zaman ABG yang baru mengenal cinta. Lalu menyuapi istrinya pisang goreng.


"Ayo, ikut makan, buka mulutmu! Tidak seru, ah makan sendirian, " titahnya.


Dengan segera, Linda menerima suapannya. Akhirnya mereka jadi suap-suapan sambil bercanda. Sementara anak-anak masih betah di ruang tengah, lagi nonton tv sambil bercanda juga. Jadinya, rame deh.


Sambil saling menyuapi, Linda mulai mengajak mengobrol tentang Daffa.


"Bi, tadi aku sudah ngobrol sama Daffa tentang rencana kita menjodohkannya dengan Rima, putri sahabatku, Aini."


"Oh gitu, terus gimana tanggapannya?" tanya Wirawan.


"Belum dijawab, sih, tapi katanya mau dipertimbangkan, minta waktu dulu untuk mikir. Tapi kayanya dia mau menerima, deh. Mungkin pertimbangannya karena aku dan Ira. Apalagi Ira begitu mendukung. Malahan dia yang lebih heboh," ujar Linda.


"Ya sudah, tunggu saja keputusannya. Biarkan dia mengambil keputusan sendiri, " ujar suaminya. Linda pun mengangguk setuju.


Tanpa terasa pisang goreng yang mereka santap habis juga. Teh manis pun tandas. Linda segera membereskan meja makan, membawa piring dan gelas kotor ke dapur lalu mencucinya sampai bersih. Wirawan asyik mengamati kesibukan istrinya dari tempatnya duduk.


'Semangat betul ingin cepat punya mantu, ' gumamnya dalam hati, mengulum senyumnya.


****


Seminggu kemudian, Linda berniat ingin kembali menanyakan tentang keputusannya sendiri berkaitan tentang rencana perjodohannya. Ia merasa penasaran. Linda mendatangi kamar Daffa. Dilihatnya, Daffa sedang asyik dengan laptopnya yang ada di pangkuannya sambil duduk bersandar di sandaran ranjangnya yang berbahan dasar besi berukir itu, dengan di alas bantal. Melihat kedatangan wanita yang telah melahirkannya itu membuatnya menoleh,


"Ada apa, Mi?" tanya Daffa.


"Lagi ngapain?" Linda malah balik bertanya, berbasa-basi membuka obrolan sambil duduk di sampingnya.


"Ini, lagi kerjakan tugas kuliah, Mi, " jawab Daffa sambil tetap menatap wajah teduh Umminya.


Secuek-cueknya Daffa, kadang suka jahil, ia tidak pernah bisa mengabaikan ibu kandungnya itu. Ia sangat menyayanginya. Ingin selalu membahagiakannya. Rasanya ingin selalu bisa memenuhi setiap keinginannya. Tidak pernah bisa menolak. Untungnya, umminya selalu mengajaknya atau menyuruhnya kepada hal yang baik, bukan yang aneh-aneh apalagi menyimpang dari tuntunan agama.

__ADS_1


"Boleh Ummi ngomong sebentar?" tanya Linda.


"Boleh, ada apa, sih?" tanya Daffa sambil matanya menatap wajah umminya. Penuh perhatian.


"Ummi cuma pengen tahu, sudah ada keputusan belum tentang Rima?" tanyanya.


Sebenarnya, Daffa sudah menduga apa yang mau dibicarakannya. Karena memang sebelumnya sempat ada obrolan ke arah sana. Ia memang belum memberi jawaban sejak itu.


"Ehm, sebenarnya Daffa masih bingung, Mi. Kenapa Ummi ngebet banget ingin Daffa cepat nikah? Apalagi sama Rima yang masih anak SMA. Kan kasihan kalau dia masih punya keinginan lain sebelum menikah. Takutnya malah jadi beban buat dia. Kan tidak bagus juga buat ke depannya," jawab Daffa jujur.


Perlahan Linda menjelaskan alasannya,


"Ya, Ummi pengen saja kasih pertimbangan ke kamu. Berikhtiar memilihkan jodoh buat kamu. Sebagai orang tua tentu Ummi inginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Itu saja, sih sebenarnya. Kebetulan saja ketemu lagi dengan sahabat lama Ummi yang lama terpisah sejak lulus SMA. Ummi mengenal baik Tante Aini dan keluarganya. Begitu pula dengan Om Ridwan, papanya Rima. Beliau kakak kelas kami. Mereka dari keluarga baik-baik, paham agama, pastinya mereka telah mendidik Rima menjadi gadis yang baik dan pandai menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Ya, bisa dilihat dari penampilannya yang berhijab dengan syar'i. Walaupun Ummi sendiri baru kenal dengannya tempo hari sama kaya kamu. Tapi pas tahu dia dekat dengan Ira, bikin Ummi jadi nggak ragu menjodohkan kamu sama dia. Kamu dengar sendiri gimana penilaian Ira tentang dia minggu lalu, kan. Jadi, tidak perlu repot-repot lagi penyesuaian dengan mereka. Tinggal kamunya saja sama Rima yang saling menyesuaikan diri nantinya."


Daffa terdiam mencoba mencerna kata-kata umminya. Tampak merenung. Melihat itu, Linda jadi bertanya,


"Kenapa, kamu tidak suka dijodoh-jodohin kaya gini? Ingin cari sendiri? Atau kamu mau nolak? Atau belum siap?" Linda memberondongnya dengan pertanyaan.


Daffa langsung menjawab,


Linda merasa takjub mendengar jawaban dari putra sulungnya itu bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu bijak, dewasa, memandang jauh ke depan tentang konsep sebuah pernikahan yang diinginkannya. Biasanya suka konyol, jahil, cuek, dan masih suka bermanja-manja dengannya. Rasanya seperti bukan berhadapan dengan anaknya saja. Seperti melihat orang lain dalam dirinya.


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan panggilan Daffa yang menepuk lengannya pelan,


"Mi, Ummi, Halo, kenapa jadi bengong? Kok, pandangi Daffa kaya gitu, sih?" tanya Daffa bingung, sambil mengerakkan tangannya ke kira dan kanan di depan wajah umminya.


"Eh iya, tidak apa-apa, kok. Tidak sangka kalau anak Ummi udah dewasa ternyata. Sampai lupa kalau amu sudah kuliah, sudah gede gini, " jawab Umminya, sambil mencubit kedua pipinya lalu diciumi kedua pipinya bolak-balik saking gemasnya. Membuat Daffa jadi tertawa geli.


Setelah Linda menghentikan ciumannya, Daffa jadi merengut manja, kumat konyolnya,


"Ummi ini gimana, sih. Katanya, suruh Daffa cepat nikah sampai dijodohin segala. Terus minta jawaban. Pas dijawab, malah kaya gini responnya. Jelas dong Daffa sudah gede, dewasa, kan dipelihara, diurus dengan baik. Kalau masih kecil, masa kudu nekat nikah juga. Nanti judulnya kaya Kecil-Kecil Jadi Manten, dong. Eh, kaya pernah dengar judul itu, deh. Di mana, ya? " keningnya berkerut, mengingat-ingat sesuatu.


Akhirnya keduanya jadi tertawa. Lalu Linda mengacak-acak rambutnya. Masih belum hilang juga gemasnya, ternyata.


Setelah puas menggelung putranya, Linda bertanya lagi,


"Jadinya gimana, kamu mau terima Rima nggak?"

__ADS_1


Daffa menjawab dengan gaya konyolnya,


"Kan tadi sudah dijawab, gimana dulu sama dianya. Kalau mau dan siap dengan tanggung jawabnya ke depan di usia segitu Daffa sih, oke-oke saja. Kalau dia belum siap, Tidak apa-apa juga. Tidak kecewa, tidak mau maksa. Maklumi saja. Kalau jodoh syukur, kalau nggak, ya... kudu, " sambil nyengir penuh arti.


Linda jadi tergelak, apa lagi saat mendengar kata terakhirnya.


"Itu mah sama saja dengan maksa atuh, " tukas Linda geli, sambil menjentikkan jarinya di jidatnya, membuatnya jadi mengaduh dan meringis, lalu mengusap-usapnya.


"Duh, dari tadi perasaan Ummi demen banget nyiksa anak, sih. Udah dicubitin, terus diciumin, eh tadi dijitak lagi, " protes Daffa manja. Cemberut. Merajuk.


Mendengar itu, Linda jadi makin tergelak. Lalu ikut mengusap-usap jidatnya.


"Iya, iya, maaf. Habisnya anak Ummi ini ngegemesin, sih."


"Jadi benar, ya. Kamu mau? Selanjutnya biar urusan Ummi, " ujar Linda.


"Okelah kalau begitu, " jawab Daffa.


Setelah tenang, Linda bicara lagi,


"Dengar, Nak. Ummi senang dan bangga kalau kamu sudah punya konsep sendiri dalam membangun rumah tanggamu kelak. Setuju juga dengan pemikiran kamu. Justru karena kamu laki-laki, bakal jadi suami, imam, yang akan membimbing istrimu. Makanya kamu kudu punya konsep yang jelas, semacam visi dan misi hidup lah. Biar lebih terarah mau dibawa ke mana biduk rumah tanggamu kelak. Jangan seperti air yang mengalir, cuma mengikuti alur air ke manapun perginya. Ke hulu oke, ke hilir juga oke. Pasrah itu namanya. Sedangkan pernikahan itu kan ibadah terbesar dan terpanjang seumur hidup. Sebuah ikatan suci dan sakral yang mampu mengguncang Asry-Nya, saat kamu mengucapkan akad pernikahan."


"Terus, gimana dengan Ummi dulu? Waktu nikah sama Abi kondisinya persis kaya Rima, kan? Nikah selepas lulus SMA. Apa yang bikin Ummi mau terima Abi, nikah di usia segitu?" tanya Daffa ingin tahu.


Perlahan Linda berkisah,


"Jujur, awalnya Ummi sempat ragu, bingung, waktu Abi pertama kali bilang mau melamar, menjelang kelulusan juga kaya Rima gini. Waktu itu Ummi lagi persiapan menghadapi ujian akhir. Dan masih punya keinginan melakukan banyak hal selepas lulus SMA, seperti kuliah. Makanya tidak langsung dijawab, minta waktu untuk memikirkannya. Ternyata Abi mau menunggu dan membiarkan Ummi fokus menyelesaikan ujian akhir nasional. Barulah setelah diwisuda dan perpisahan, Abi kembali melamar. Dia berhasil meyakinkan bahwa tidak akan menghalangi, dengan catatan tetap tidak melalaikan kewajiban dan tanggungjawab sebagai istri dan ibu. Karena kedua-duanya sama-sama wajib, begitu katanya. Pas banget dengan jawaban yang diinginkan. Karena itulah Ummi akhirnya mau terima Abi. Dan langsung menikah dua bulan setelah perpisahan dan sebelum masuk kuliah."


Daffa manggut-manggut.


"Oh, jadi gitu ceritanya. "


Lalu mengalirlah nasihatnya,


"Iya, jadi intinya, justru kunci utamanya ada di kamu. Harus punya kendali. Karena kamulah yang akan jadi Kepala Keluarga. Pemimpin di rumah tanggamu. Sedangkan istrimu adalah makmum, pengikutmu selama kamu mengajak kepada kebaikan. Tidak merusaknya. Tidak terlalu mengekang juga tidak membebaskannya begitu saja. Kamu juga harus mampu meyakinkan Rima bahwa dia tidak akan menyesal menikah denganmu di usia semuda itu. Perempuan itu, biasanya lebih mudah diarahkan, dididik, dibentuk, karena fitrahnya memang seperti itu. Yaitu melayani suami, mengurus anak dan jadi manager rumah tangga. Nah, semua itu perlu dukungan penuh dan motivasi kuat dari kamu sebagai orang terdekatnya. Paham maksud Ummi, kan?"


Daffa menggangguk. Mulai memahami maksud baik Umminya.

__ADS_1


__ADS_2