
Hanum berjalan mendekati Lisa, merangkul dan mencium kedua pipi kakak iparnya. Lalu Hana pun melakukan hal yang sama.
"Selamat datang di rumah ini, Kak, " sambut Hanum dan Hana secara bersamaan. Membuat Lisa tersenyum dan merasa terharu akan sambutan hangat dari kedua adik iparnya itu.
"Terima kasih."
"Ayo, duduk di sini, Kak!" ajak kedua adik iparnya sambil menggiring Lisa agar duduk di sofa ruang keluarga bersama mereka sambil menggandeng lengan kanan dan kirinya. Membuat Hisyam jadi sedikit cemberut, tidak terima karena genggaman tangannya jadi terlepas. Lisa menatap suami dan kedua adik iparnya secara bergantian dengan bimbang.
"Eh, sebentar, ngobrolnya nanti saja, ya, Hanum, Hana. Kita belum shalat Ashar, nih, " cegah Hisyam.
"Oh, kalian belum shalat?" tanya Mama Halimah yang sejak tadi hanya diam memperhatikan tingkah kedua putri kembarnya yang terlihat senang memiliki kakak baru dalam hidup mereka.
"Belum, Ma, " jawab Lisa.
"Ya sudah, kalian shalat dulu, deh!" titah Mama Halimah.
Akhirnya Hisyam dan Lisa berpamitan hendak melaksanakan shalat Ashar. Hisyam kembali menggandeng tangan istrinya sambil membawanya ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Hisyam segera memutar handel pintu dan membukanya. Lalu membawa Lisa masuk ke kamar mereka. Lisa tampak takjub saat memperhatikan interior yang ada di kamar ini. Terlihat simpel, sederhana, namun tampak elegan. Kamar ini dilengkapi dengan ruang ganti yang disekat dengan tembok berlapis kayu. Dan terdapat kamar mandi di dalamnya.
Saat Lisa masih asyik memperhatikan setiap detil yang ada di kamar itu, Hisyam menegurnya,
"Lisa, kita wudhu dulu, yuk!" ajak Hisyam. Membuat Lisa sedikit terlonjak karena terkejut.
"Eh, maksudku gantian, " ralat Hisyam sambil menahan rasa malu. Lisa mengangguk.
"Kakak duluan saja wudhunya, biar aku siapkan keperluan shalatnya," kata Lisa.
"Baiklah, perlengkapan shalatnya ada di dalam lemari di ruang ganti, " sahut Hisyam. Sambil melangkah menuju kamar mandi.
Setelah Hisyam masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Lisa berjalan menuju ruang ganti, dan membuka lemari yang tadi ditunjukkan oleh Hisyam. Dilihatnya tampak peralatan shalat terlipat rapi di dalam lemari. Lisa pun mengambilnya dan hendak menata alat shalat. Namun dia bingung, belum tahu ke mana arah kiblatnya. Tadi lupa menanyakannya kepada suaminya.
Tidak lama, Hisyam keluar dari kamar mandi dan melihat Lisa yang seperti kebingungan.
"Ada apa, Lis?" tanya Hisyam.
"Anu, itu, Kak. Kiblatnya menghadap mana, ya? Tadi lupa tanya ke Kakak, " jawab Lisa.
"Oh, begitu rupanya. Aku lupa tadi kasih tahu kamu. Kiblatnya menghadap ruang ganti, sedikit miring ke kanan, " jawab Hisyam sambil tangannya menunjuk arah kiblat.
__ADS_1
Setelah mengetahui arah kiblat, Lisa segera menggelar dua sajadah. Untuk suami dan dirinya melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Lalu melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama kemudian, Lisa keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Hisyam tampak telah siap dengan baju koko dan sarungnya yang tadi sudah disiapkan, tampak rapi dan tampan.
Lisa pun segera mengenakan mukenanya. Lalu keduanya melaksanakan shalat berjamaah untuk pertama kalinya sebagai suami istri.
Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar, Hisyam memutar tubuhnya. Kini keduanya duduk berhadapan. Lisa segera mencium punggung tangan suaminya, membuat hati Hisyam menjadi hangat. Perlahan, Hisyam pun mengecup keningnya dengan lembut. Lalu keduanya saling bertatapan cukup lama. Rona bahagia begitu terpancar dari wajah keduanya. Namun masih ada rasa tidak percaya bahwa gadis yang ada di hadapannya ini telah menjadi istrinya, kekasih halalnya.
"Terima kasih, ya, Lis, bersedia menerimaku menjadi suamimu, " bisik Hisyam lirih.
"Sama-sama, Kak. Terima kasih juga telah memilih Lisa jadi istrimu, " jawab Lisa.
Kembali keduanya saling bertatapan, seolah saling membaca isi hati pasangannya melalui bola mata. Katanya, mata adalah jendela hati. Apa yang tersirat oleh mata, maka seperti itu pula hati. Rasa bahagia, sedih, marah, dan emosi lainnya bisa terlihat di sana.
Perlahan, Hisyam menarik tubuh Lisa ke dalam dekapannya. Lisa pun membalasnya. Keduanya saling transfer kasih sayang. Rasa cinta yang dirasakan keduanya tampak begitu membuncah. Setelah sekian lama keduanya memendam rasa cinta tanpa sempat terungkap sejak masa remaja, kini keduanya telah bersatu dalam biduk rumah tangga. Melangkah bersama mengarungi bahtera kehidupan yang tidak mudah ini.
Ya, hubungan inilah yang seharusnya ada pada laki-laki dan perempuan.
Di tangah suasana haru itu, Lisa bertanya,
"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Bertanyalah!" sahut Hisyam sambil menatap mesra wajah cantik istrinya.
"Sebenarnya ini pertanyaan lama, sih. Aku penasaran, kenapa sih dulu Kakak sering menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan?" tanya Lisa.
"Bukan hanya ingin menatap, Lisa. Tapi aku selalu ingin memperhatikan kamu. Apapun yang kamu lakukan selalu berhasil menarik perhatianku. Yah, sejak pertama melihatmu, kamu memang sudah berhasil menarik perhatianku sekaligus hatiku. Tanpa kusadari hati ini terus saja menuntun untuk terus memperhatikanmu. Ingin dekat dengan kamu, tapi bingung gimana caranya. Kamu dulu tampak seperti menghindar, sulit didekati, jutek pula."
"Habisnya, Kakak dulu kalau sudah menatap itu bisa tahan lama. Bikin risih, grogi, kadang takut, " ujar Lisa.
"Apa? Kamu takut sama aku?" Hisyam bertanya. Dia tampak terkejut mendengar kalimat terakhir Lisa.
"Iya, gimana tidak takut, jika selalu ditatap begitu intens. Jadi serba salah gitu, dan bingung, memangnya di wajahku ada apa, sih? Ada yang aneh, ya?" tanya Lisa lagi dengan wajah polos.
Hisyam terkekeh
"Salah kamu cuma satu, " jawab Hisyam dengan tatapan misterius.
"Apa itu?" Tanya Lisa dengan penasaran.
"Salah sendiri kamu terlalu cantik untuk kuabaikan begitu saja, " jawab Hisyam sedikit menggombal, sambil menatap istrinya dengan mesra. Namun yang dikatakannya adalah benar.
Blush
Seketika rona merah terpancar di wajah Lisa mendengar ungkapan hati suaminya.
__ADS_1
'Menurut dia aku cantik, ' batin Lisa dalam hati.
Tanpa sadar Lisa menutup wajahnya ingin menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya. Membuat Hisyam jadi gemas, perlahan mengangkat kedua tangannya, dan membuka wajahnya. Hingga wajah cantiknya terlihat kembali.
"Kamu kenapa? Malu, ya?" tanya Hisyam sedikit menggoda. Membuat Lisa mengangguk.
"Apa kamu masih takut sama aku?" tanya Hisyam.
Lisa menggeleng.
"Awalnya memang suka takut kalau ketemu dengan Kakak. Tapi entah kenapa lama-lama jadi terbiasa. Kalau Kakak tidak terlihat pasti aku akan mencari."
"Cie... Kangen, ceritanya?" goda Hisyam sambil tersenyum simpul, sambil menaikkan sebelah alisnya.
Dengan wajah semakin memerah, Lisa mengangguk, mengakuinya. Membuat Hisyam jadi terkekeh geli.
"Tidak disangka, ternyata tatapanku ngangenin, ya?" goda Hisyam lagi. Lisa pun kembali mengangguk.
"Iya, nakutin sekaligus ngangenin. Habisnya tidak pernah ada laki-laki yang berani menatapku seperti itu. Apalagi yang modelnya kaya Kakak, " ungkap Lisa, membuat senyum Hisyam semakin melebar.
"Maksudnya?" tanya Hisyam tidak mengerti.
"Habisnya Kakak itu guanteeeng pake banget. Jadinya grogi, deh, " ujar Lisa sambil menatap suaminya, membalas godaannya.
Gantian, kini wajah Hisyam yang terlihat memerah.
"Benarkah, menurut kamu aku ganteng?" tanya Hisyam.
"Ya iyalah, ganteng. Masa cantik, kan tidak mungkin," jawab Lisa, masih mode menggoda.
Membuat Hisyam sedikit cemberut, ambyar sudah mau romantis-romantisan. Lisa pun terkekeh melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan suaminya. Sama sekali tidak ada rasa takut.
"Kamu merusak suasana, ah," tukas Hisyam kesal.
"Awas, kamu, ya, " ancam Hisyam dengan gemas. Tangannya kini bergerak menggelitik pinggang istrinya. Membuat Lisa menggeliat kegelian, tawa keduanya pun lepas. Selanjutnya, keduanya kembali saling berpelukan.
"Aku bersyukur kita kembali dipertemukan untuk disatukan dalam ikatan pernikahan ini. Kalau dulu aku sering menatapmu dari kejauhan tapi sebenarnya pandangan itu yang tidak berhak. Seindah-indahnya masa itu, tetap saja belum halal untukku. Untuk kita. Masih diliputi hawa nafsu. Yang jika dibiarkan bisa saja terjadi hal yang liar. Untungnya, hal itu tidak terjadi. Setidaknya kita dijaga dari perbuatan yang diharamkan. Bedanya sekarang, saat kau sudah resmi menjadi istriku, lalu aku menatapmu seperti dulu bahkan lebih, tidak akan ada masalah. Bahkan ketika sepasang suami istri saling menatap maka Allah pun akan memandang kita penuh rahmat. Yang pastinya, rasanya semakin dahsyat. Rasa cinta seperti ini yang diridhai Allah, " ujar Hisyam.
"Benar, Kak. Mungkin Allah bermaksud menuntun kita bagaimana menjemput jodoh sesuai dengan cara yang dibenarkan. Hanya ikatan pernikahan yang boleh ada di antara kita. Bukan yang lain. Semua akan indah pada saat yang tepat. Seperti hari ini dan seterusnya selama sisa hidup kita. Kuharap, Kakak mau mendampingiku dalam suka dan duka, menua bersama sampai maut memisahkan kita, " sahut Lisa, membenarkan.
Hisyam mengaminkan.
***
__ADS_1
Gimana kabar keempat sekawan gadis belia, Rianti, Ira, Wulan dan Sania, ya. Kangen, gak dengan kisah mereka?