
Rianti baru saja menginjakkan kakinya memasuki rumahnya, langsung disambut oleh adik bungsunya, Radit. Dengan manja, ia bergelayut di lengan kakak sulungnya itu. Tak peduli dengan penampilannya yang terlihat kusut dan berkeringat karena cuaca panas di luar. Membuat Rianti jadi curiga dengan tingkahnya.
"Ada apa, Dek. Tumben, datang-datang ngelendotan gini sama Teteh. Hayo, pasti ada maunya, deh, " tebak Rianti.
"Ih, Teteh mah, disambut salah, nggak disambut juga salah. Jadi serba salah, deh, " Radit jadi merajuk. Bibirnya mencucu. Lucu.
Melihat itu, Rianti jadi ingin tergelak tapi ditahan, takut makin ngambek, "Ih, adik teteh yang satu ini mah ambekan banget, sih. Jadi hilang deh gantengnya, tuh, " goda Rianti, sambil mencolek kedua pipi chubby adiknya.
Radit masih bertahan dengan mimik mukanya yang cemberut, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Tapi Rianti tidak menyerah merayu adiknya, "Benaran, nih, ngambek sama Teteh?" godanya, sambil tangannya bergerak menggelitik pinggang adiknya. Membuat Raihan akhirnya jadi tergelak karena kegelian. Akhirnya usaha Rianti berhasil. Ah, Radit memang nggak pernah bisa marah lama-lama sama kakaknya yang satu ini.
"Teteh mau cuci-cuci dan ganti baju dulu, ya. Gerah, nih, Dek, " pamit Rianti.
"Iya, tapi habis itu ke sini lagi, ya. Radit mau ngomong, ada bisnis, " jawab Radit, sambil berbisik di telinga kakaknya.
Mendengar kalimat terakhirnya membuat Rianti merasa geli.
'Gaya benar, kecil-kecil sudah ngomong bisnis-bisnisan, kaya yang ngerti saja, ' gumamnya dalam hati.
"Iya, deh, Bos, Teteh ganti baju dulu, ya," pamit Rianti lagi. Lalu melangkahkan kakinya ke kamar, menyimpan tas sekolahnya, terus ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai ganti baju, Rianti kembali mendekati adiknya yang sedang asyik nonton Upin-Ipin sambil ngemil keripik singkong yang dibeli Bundanya tadi waktu belanja ke supermarket di ruang tengah. Lalu duduk di samping adiknya. Sesekali terdengar suara gelaknya ketika ada adegan lucu di sana.
Saking asyiknya menonton, Radit sampai tidak menyadari keberadaan kakak sulungnya yang sudah duduk di sampingnya. Akhirnya Rianti mengangkat tangannya, mencoba menghalangi pandangan matanya yang terus tertuju ke layar tv dengan telapak tangannya yang digerakkan ke atas dan ke bawah.
__ADS_1
Merasa ada yang menghalangi pandangan matanya, Radit baru menoleh ke arah kakaknya.
"Serius amat yang lagi nonton, sampai nggak nyadar kalau Teteh udah di sini dari tadi. Katanya mau ngomong. Ada bisnis apaan sih. Kaya yang ngerti saja, apa artinya bisnis, " tegur Rianti.
"He...he...he... maaf, habisnya seru, lucu Upin, Ipin dan teman-temannya. Bentar, ya Teh. Tanggung, nih nanti saja pas ada iklan, baru deh Raihan ngomong. Teteh tunggu saja, temenin Raihan, " jawab Radit yang masih menyimpan gelaknya.
Mendengar itu akhirnya Rianti membiarkan adiknya menonton. Pas ada jeda iklan, barulah ia menoleh ke kakaknya lagi. Eh, ternyata dilihatnya Rianti tertidur dalam keadaan duduk, kepalanya menyender di sandaran sofa.
'Ih, Teteh mah malah tidur. Cepat benar, sih. Hm, capek, kali, ya,' gumam Radit. Akhirnya, dia melanjutkan lagi menonton Upin Ipin sampai selesai.
Sore hari, Radit mendatangi kamar kakak sulungnya. Dilihatnya, sang kakak sedang tengkurap di ranjangnya yang berukuran sekitar 200x160 cm, sambil membaca buku novel yang baru dibelinya tadi.
Radit naik ke atas ranjang kakaknya dan duduk di sampingnya. Melihat itu, Rianti menoleh dan bertanya,
"Emh, gini, Teteh bisa bantuin Radit tidak?" Radit malah balik bertanya.
"Bantu apa?" tanya Rianti balik.
"Itu, minggu ini ada acara market day. Nanti giliran Radit hari Jum'at. Belajar jualan gitu, kaya waktu itu, tuh. Ganti-gantian jualannya. Acaranya dibikin 2 hari, Kamis giliran kelas 1 sampai 3, Jum'atnya kelas 4 sampai 6. Yang belinya juga gantian, " terang Radit.
"Bantu bikinin makanan buat dijual di market day. Tiap anak dibatasi bikin makanan atau minuman maksimal 3 macam, boleh makanan atau minuman saja, atau dua-duanya. Pokoknya 3 macam. Dan satu macamnya di batasi maksimal 10 pcs. Gimana, Teteh bisa bantu, kan?" pinta Radit, memohon.
"Oh, jadi itu bisnis yang kamu maksud tadi siang?" tanya Rianti.
__ADS_1
"He eh, " jawab Radit sambil mengangguk.
"Hem, dikira bisnis apaan. Ya udah, nanti kita bikin bareng aja, ya. Biar Radit juga bisa buat sendiri, rasanya lebih puas, loh, " ujar Rianti.
"Iya, deh, tapi yang gampang aja, ya. Emh, enaknya bikin apa, ya? " jawab Radit.
Sejenak Rianti tampak berpikir, mengingat-ingat makanan atau minuman apa yang disukai anak-anak SD. Akhirnya dapat ide juga.
"Nah, gini aja, deh. Gimana kalau bikin puding coklat cup, risolles sayur, sama susu Milo? Kira-kira pada suka, nggak?" usul Rianti.
Radit tampak berpikir, menimbang-nimbang. Akhirnya ia mengangguk tanda menyetujui usul kakaknya itu.
"Ya sudah, mau hari Rabu atau Kamis kita belanjanya? " ajak Rianti.
"Rabu saja, deh. Biar leluasa, " jawab Radit.
"Oke, boleh, " ujar Rianti.
"Yeay, siplah. Makasih, Tetehku sayang, " rayunya senang, sambil mencium pipinya.
Rianti hanya tersenyum melihat keriangan yang tergambar di wajah adiknya itu.
Market day memang telah menjadi agenda kegiatan rutin di sekolah Radit setiap tiga bulan sekali. Para siswa diajarkan untuk berniaga sejak dini dengan cara yang benar dan syar'i.
__ADS_1