
Selama satu bulan ke depan Rima akan disibukkan menghadapi UAN. Ia berusaha fokus mempersiapkannya, sementara urusan persiapan rencana pernikahannya dengan Daffa diserahkan kepada kedua orang tuanya dan calon mertuanya.
Ira, adik perempuan Daffa ikut heboh memberi ide. Ia menawarkan diri ingin ikut dilibatkan dalam pernikahan kakak sulungnya itu. Jadi tidak perlu menyewa jasa Wedding Organizer lain. Supaya bisa menekan budget pernikahan, maksudnya.
"Sayang, kan budgetnya bisa ditekan untuk biaya jasa WO. Mendingan biar Ira sama teman-teman yang ikut membantu. Kebetulan teman-teman kan punya skillnya masing-masing, jadi tidak ada salahnya kita manfaatkan mereka. Ira bisa buat bajunya, dekorasi gedung bisa kita pakai bunga-bunga yang ada di toko kita, untuk katering bisa kita minta bantuan Rianti, urusan fotografi dan dokumentasi bisa minta bantuan Wulan, dan rias pengantinnya sama Sania. Pas, kan? Semua ada. Anggap saja untuk pengalaman kami. Gimana, boleh kan, Mi?"
"Ngomong-ngomong kamu semangat betul sih dengan pernikahanku? Yang nikah siapa, yang heboh siapa? " tanya Daffa penasaran.
"Ya iyalah, dari awal juga Ira setuju banget Aa nikah sama Kak Rima, kalian tuh cocok. Aa orangnya super jahil, kadang pecicilan, tidak pernah serius, Kak Rima orangnya kalem, tenang. Siapa tahu bisa meredam bahkan mengurangi kejahilan Aa. Bisa mengimbangi, lah. Hm, rasanya sudah tidak sabar ingin punya kakak perempuan. Selain itu, biar jadi pengalaman, gitu. Siapa tahu setelah kelar acara ini ke depannya aku sama temen-temen bisa kerjasama untuk buka Jasa WO. Ya, sambil menyelam minum air, gitu loh. Oke tidak ideku? " jawab Ira sambil menaik dan turunkan kedua alisnya secara bergantian dan menatap wajah kakak sulungnya itu. Ira mengemukakan alasannya, termasuk harapan ke depannya bersama ketiga sahabatnya. Berharap persahabatan mereka bisa selalu terjaga.
"Oh, begitu, ya. Jadi, acara pernikahan Aa mau kalian jadikan kelinci percobaan? Jadi ajang trial and eror, gitu?" sembur Daffa curiga.
"Ya, kurang lebih begitu, lah, " jawab Ira menggoda kakaknya. Tapi saat dilihat tatapan tajamnya langsung diralat.
"Eit, tapi Aa jangan takut, temen-temen Ira keren-keren di bidangnya, kok. Kemarin saja waktu kompetisi dalam rangka HUT kota kita mereka juaranya, termasuk Ira. Bukan sombong, ya. Kecuali Sania, karena dia kan juara panahan. Tapi untuk rias pengantin dia suka ikut bantu mamanya, kok. Secara neneknya juga dulunya perias pengantin, jadi keahlian turun temurun, gitu lah. Pasti tidak akan malu-maluin. Buat Aaku tersayang apa sih yang tidak bisa adiknya ini lakukan? Hm, gimana?" terangnya, sambil menjawil dagu kakak lelakinya dengan setengah menggoda, memberi jaminan bahwa semua pasti berjalan dengan lancar.
"Huh, sombongnya. Oke, deh kalau begitu. Tapi awas ya kalau jadinya kacau apalagi berantakan. Jangan malu-maluin!" Daffa memberi peringatan keras.
"Siap, Bos!" seru Ira sambil menempelkan tangan kanannya ke pelipis kanannya sendiri. Membuat gerakan seperti hormat.
__ADS_1
Setelah dipikirkan dan dipertimbangkan, akhirnya semua setuju dengan ide dari Ira. Apalagi Ira telah beberapa kali ikut membantu Ummi Linda mengurusi acara pernikahan, yaitu mendekorasi tempat pernikahan. Jadi, bukan hal yang asing untuknya.
***
Saat jam istirahat Ira mengajak ketiga sahabatnya, Rianti, Wulan, dan Sania ke kantin. Mengisi perutnya yang terasa lapar. Ira baru ingat, tadi pagi dia hanya sempat sarapan roti satu rangkap dan segelas susu saja, karena terburu-buru berangkat ke sekolah.
Suasana kantin mulai ramai dengan anak-anak lain yang juga ingin mengisi perutnya. Sambil menunggu pesanan datang, Ira mulai membicarakan rencana pernikahan kakak sulungnya kepada ketiganya.
"Eh, teman-teman, tahu tidak, akhirnya Kak Rima mau menerima khitbah dari A Daffa. Dan sudah diputuskan bahwa mereka akan menikah tiga bulan ke depan, setelah acara perpisahan kelulusan kelas tiga, " ujar Ira membuka pembicaraan.
"Hah, jadi beneran Kak Rima mau nikah sama kakakmu?" tanya Rianti, Wulan, dan Sania hampir bersamaan.
Benar saja, beberapa temannya yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka menoleh ke arah mereka. Namun akhirnya mereka memilih untuk tidak mempedulikannya. Kembali melanjutkan aktivitasnya menyantap hidangan di depan matanya.
"Eh, iya, maaf, " Rianti ikut menutup mulutnya.
"Berarti sebentar lagi, dong, " Seru Wulan.
__ADS_1
"Terus, rencananya gimana, Ra?" tanya Sania
"Bentar, bentar, tadi saja kompak nanyanya samaan, eh sekarang malah keroyokan. Satu-satu dong, " protes Ira.
Menyadari itu, ketiga sahabatnya itu hanya terkekeh. Perlahan, Ira mulai menjelaskan maksudnya.
"Jadi begini, rencananya aku mau mengajak kalian jadi panitia pelaksana pernikahan kakakku dan Kak Rima. Tadinya, keluargaku mau menggunakan jasa WO, tapi ternyata harganya lumayan mihil. Akhirnya setelah dipikir lagi, buat apa kalau di dekatku ada sahabat-sahabatku yang bisa diperdayakan. Seperti kamu Rianti, kamu kan suka masak, suka juga terima katering seperti mamamu, kami mau minta bantuan kamu untuk kateringnya. Terus Wulan aku minta bantuan untuk fotografinya, dan Sania mau minta bantuan untuk merias Kak Rima. Sedangkan untuk baju pengantin dan seragam keluarga, aku sendiri yang mendesain dan membuatnya. Ini permintaan Kak Rima, sih. Dia pengen pakai gaun hasil rancanganku. Untuk urusan dekorasi gedung jadi urusan Ummiku dan karyawan di toko. Jadi, mudah-mudahan bisa sedikit menekan budget untuk acara nanti. Gimana, kalian mau kan?"
Tanpa menunggu lama, ketiganya langsung mengangguk, ikut antusias menyambutnya.
"Alhamdulillah, terima kasih buat semua. Kalau begitu, Ahad ini kalian ke rumahku, ya. Kita bicarakan lebih lanjut. Gimana, bisa?" ajak Ira.
"Oke, siap!" jawab Rianti, Wulan, dan Sania bersamaan lagi.
Selanjutnya mereka melanjutkan obrolan sambil menyantap makanan yang sudah dipesan tadi. Setelah semua habis, akhirnya mereka kembali ke kelas.
***
Hari ini, semua berkumpul di rumah Ira untuk membicarakan rencana pernikahan Daffa dan Rima. Semua menyambutnya dengan antusias.
__ADS_1
Dari hasil pertemuan itu, akhirnya disepakati beberapa hal. Untuk masalah dekorasi gedung, tempat diselenggarakannya akad nikah dan resepsi nanti diserahkan kepada Ummi Linda, tentu dibantu dengan karyawannya, dengan menggunakan aneka bunga yang ada di toko bunga milik keluarga. Sedangkan urusan gaun pengantin, Rima menyerahkan kepada Ira untuk mendesainnya. Termasuk mendesain baju seragam untuk dua keluarga. Ira diminta mempersiapkannya dari sekarang. Sedangkan urusan rias pengantin diserahkan kepada Sania, yang ternyata memiliki pengalaman juga dalam merias pengantin dari maminya. Untuk urusan katering diserahkan kepada Rianti. Sedangkan urusan fotografi diserahkan kepada Wulan. Jadi, masing-masing sudah memiliki tugasnya.
Dengan semangat, Ira segera merancang gaun pengantin yang akan digunakan oleh Daffa dan Rima, ditambah baju seragam untuk dua keluarga, yaitu keluarga besar kedua calon mempelai. Ia begitu bersemangat melakukannya.