
"Maaf, Kak, habisnya Rianti jadi penasaran. Mungkin saja dulu ada sedikit story antara Kakak dengan Bang Hisyam. Soalnya, sepertinya Kakak sangat mengenal sosoknya yang dulu, " Rianti meminta maaf, gara pertanyaan membuat Lisa jadi tersedak.
"Nggak apa-apa, " senyum Lisa.
Pertanyaan dari Rianti membuat Lisa kembali memutar memorinya saat masih kelas satu SMA dulu. Saat pertama kali bertemu dengan kakak kelasnya itu.
Flashback On
POV Lisa
Siang itu, setelah bubar sekolah, aku tidak langsung pulang karena ada pertemuan pertama bagi yang mau ikutan salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Tepatnya seminggu setelah masa orientasi siswa di sekolahnya.
Aku dan sahabatku, Hani yang juga memilih ekskul yang sama ikut masuk ke salah satu ruangan kelas yang telah kosong. Dan memilih duduk di deretan bangku nomor ketiga dari depan yang memang kosong. Aku memilih duduk bersandar di tembok kelas.
Saat sedang asyik mengobrol dengan Hani, tiba-tiba aku merasa seperti ada seseorang yang memperhatikanku. Entah ini ge er atau memang instingku benar. Seketika aku menoleh ke arah seseorang itu. Ternyata orang itu adalah laki-laki yang duduk di meja guru yang sama sekali belum kukenal. Sepertinya dia kakak kelasku.
Saat aku memergokinya, hingga beberapa kali, laki-laki itu bukannya berpaling malah semakin menatapku bahkan melempar senyumnya yang memikat, seolah telah mengenalku sebelumnya. Padahal kami baru saja bertemu hari itu. Penilaianku saat itu, secara fisik dia terlihat ganteng, tinggi, putih. Sepertinya dia memang sudah memperhatikanku sedari tadi tanpa kusadari. Entah sejak kapan.
Saat pandangan mataku ke arah laki-laki itu, dia malah terus tak bergeming, begitu betah dan intens menatapku. Bahkan saat dirinya memperkenalkan diri seperti kakak kelasnya yang lain, matanya tetap tertuju padaku. Dengan jelas dan lantang dia menyebutkan namanya, Muhammad Hisyam. Seolah yang ada di kelas itu hanya mereka berdua. Tidak mempedulikan adik-adik kelasnya yang lain yang juga telah berkumpul di kelas itu. Tidak juga memperhatikan teman-temannya yang lain yang juga memperkenalkan dirinya satu per satu.
Ditatap seperti itu tentu saja membuatku menjadi tidak nyaman, risih. Sampai bertanya-tanya, "Memangnya ada apa dengan wajahku? Ada yang aneh, gitu? Sambil tatapannya kaya gitu, ' batinku dalam hati, mulai kesal.
Mata itu terus saja tak lepas menatapiku dengan intens. Membuatku semakin risih, bahkan mulai terselip rasa takut padanya. Bahkan hingga pertemuan itu berakhir matanya tak juga lepas dariku. Huh, seandainya aku tidak takut dipenjara, rasanya ingin kucolok saja matanya itu. Biar berhenti menatapku seperti itu. Tuh, kan aku jadi mendadak sadis.
__ADS_1
Rupanya Hani juga memperhatikan tingkah kakak kelasku itu. Rasa gugupku buyar dengan ucapan sahabatku itu,
"Lisa, sepertinya kakak yang duduk di depan itu ngeliatin kamu terus, deh, " tegur Hani sambil menunjuk laki-laki itu dengan dagunya, aku berusaha mengelak.
"Mana?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Mataku pura-pura melihat ke arah lain.
"Itu, tuh, " tunjuk Hani kembali dengan menggunakan dagunya.
"Ah, bukan ke aku, kali. Perasaan kamu saja, " sahutku, masih mengelak.
"Ih, benar tahu, dari tadi matanya tertuju ke kamu terus. Naksir, kali, " tebak Hani.
"Ah, sok tahu kamu," tukasku masih mencoba mengelak.
Akhirnya aku mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dan aku tahu mata itu masih saja tertuju ke arahku. Duh, rasanya ingin cepat-cepat bubar, deh. Tidak nyaman sekali.
Akhirnya, setelah satu jam berlalu kami pun di bubarkan. Aku langsung bernapas lega, merasa lepas dari tatapan tajam bak elang itu. Dengan cepat, aku menarik tangan Hani keluar kelas tanpa menengok ke kanan dan kiri lagi, langsung melangkah keluar gerbang sekolah. Lalu jalan kaki menuju pangkalan angkot yang kira-kira jaraknya membutuhkan sepuluh menit dari sekolah.
Setelah mendapatkan mobil angkot yang sesuai jurusan menuju rumahku, aku, Hani dan beberapa temanku yang lain dan beberapa kakak kelas yang juga sejurusan denganku ikut naik mobil itu. Hingga satu mobil yang tadinya kosong itu mendadak penuh dengan anak-anak satu sekolahan. Dan betapa kagetnya aku, ternyata laki-laki yang bernama Hisyam itu juga satu mobil denganku, bahkan duduk tepat berhadapan denganku.
Melihat itu, aku hanya bisa cemberut. Kesal. Terutama dengan matanya yang masih saja betah menatapku. Tak kupedulikan senggolan Hani yang duduk di sebelahku. Mungkin maksudnya ingin mengingatkanku akan keberadaan laki-laki itu yang duduk di depanku. Aku sama sekali tidak mau balas menatapnya. Bahkan kutunjukkan rasa tidak sukaku dengan memasang wajah asem, dan judes. Kalau ada cermin, sepertinya terlihat kekesalanku.
Isi mobil angkot itu menjadi riuh dengan suara canda dari teman-teman. Termasuk dia. Sementara aku hanya diam sambil cemberut. Hingga ada temannya yang melontarkan kalimat lucu yang meledek laki-laki itu membuatku jadi tidak bisa menahan tawa. Merasa senang karena ada yang meledeknya.
__ADS_1
Melihatku menahan tawa sambil menutup mulutku, dia langsung menegur sambil tersenyum pula dan menunjukku, "Eh, kamu ketawa juga."
Mendengar itu seketika senyumku langsung hilang, berganti dengan delikan tajam dari mataku dan memasang tampang judes. Namun bukannya takut, dia malah terus tersenyum. Mungkin tadi dia berpikir, senyumku itu mahal, jadinya nggak senyum-senyum. Padahal yang membuatku tidak mau senyum pelakunya itu dia sendiri. Menyebalkan.
Jadilah sepanjang jalan yang menghabiskan waktu empat puluh lima menit itu merupakan siksaan bagiku, hingga akhirnya dia turun duluan di depan gang rumahnya. Barulah aku bisa bernapas lega. Tidak lama, sekitar lima belas menit kemudian barulah aku turun di depan gang rumahku.
Itulah awal pertemuanku dengan Kak Hisyam.
Mengingat semua itu, jadi geli sendiri. Masih terbayang bagaimana tampangku saat itu karena menahan kesal dan risih padanya. Dan entah bagaimana ceritanya sampai akhirnya rasa sebal, rasa tidak suka itu berubah jadi sebaliknya. Entah sejak kapan aku jadi berbalik memperhatikan laki-laki itu.
Masih kuingat ledekan Hani dulu setiap kali mengungkapkan kekesalannya, "Lis, jangan terlalu benci sama orang, nanti kebalikan baru tahu rasa, loh. Berbalik jadi cinta."
Dengan spontan dan sok yakin, aku pun menjawab, "No way."
Rupanya ledekannya itu seperti kutukan untukku. Karena pada kenyataannya, perlahan tapi pasti laki-laki itu mulai memasuki hatiku tanpa disadari. Mulai ada rasa kehilangan jika tidak bertemu dengannya, tidak ada tatapan dan perhatiannya seperti itu. Rasa rindu mulai menyusupi hatiku. Membuatnya tanpa sadar mencari sosoknya. Ya, laki-laki itulah yang pertama kali menanamkan rasa cinta di hatiku.
Namun sayang, sampai dia lulus, kami tidak juga dekat. Dia hanya sering menatapku dari kejauhan, dan tidak pernah bergeming sedikitpun saat aku memergokinya. Tidak ada juga penjelasan atau pernyataan apapun mengenai maksud dibalik tatapannya selama ini. Apakah dia, memiliki perasaan yang sama denganku? Entahlah. Aku tidak berani berspekulasi sendiri. Takut, akhirnya kecewa.
Hingga pada suatu titik, akhirnya aku merasa lelah karena terlalu lama menunggu tanpa kepastian selama dua tahun. Padahal selepas dia lulus aku seringkali berharap bisa bertemu lagi dengannya. Misalnya, datang ke sekolah seperti seniorku yang lain. Bahkan sampai aku lulus pun tidak pernah melihatnya datang ke sekolah meski hanya sekali. Tidak tahu lagi kabar beritanya. Aku pun kehilangan jejaknya.
Lama kelamaan aku merasa jenuh menunggu. Lalu memutuskan untuk menyerah dan tidak lagi menunggunya. Lupakan, itu yang seharusnya dilakukan. Karena itulah, selepas lulus SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota lain. Menjauh dari kota kelahiranku, dari keluargaku, dan darinya. Pokoknya, aku tidak ingin melihat lagi hal-hal yang mengingatkanku padanya. Aku pun pergi dengan membawa tangis terakhirku untuk laki-laki bernama Muhammad Hisyam.
__ADS_1