
Assalamualaikum,
Dear Reader,
Seperti yang dijanjikan di bab sebelumnya, bahwa di sela kesenangan gadis-gadis belia itu menikmati liburan mereka akan menghadapi berbagai petualangan yang 'sedikit' menegangkan, ada aksi action juga. Dan kejutan-kejutan lain mengenai tokoh-tokoh utama kesayangan kita ini. Yup, keempat remaja muslimah. Kita akan melihat sisi lain dari mereka. Dan ditambah tokoh pendukung lainnya, yaitu Rina dan sepupunya, Andini, yang juga teman sekelas dari empat Srikandi kita ini. Dan jangan lupakan, Vania, adik kandung Sania yang ikut serta berlibur di Villa keluarganya. Yang nantinya akan bergabung pula. Mulai di bab ini, ya. Siap-siap, mulai pemanasan.
Kuy, baca pelan-pelan dan simak, ya!🤗
Semoga disukai.🙏🙏
*****
Esok harinya
Tepat pukul 05.30, Sania mengajak sahabat-sahabatnya berolahraga, berjoging, sambil menikmati suasana sekitar Villa sampai perkebunan teh. Ira, Rianti, Wulan, Tania, Andin, dan Rina pun menyambut ajakan itu dengan senang hati. Jangan lupakan pula empat bodyguard wanita mengikuti mereka dari belakang, untuk mengawal gadis-gadis belia itu.
Keempat bodyguard wanita ini baru saja datang tadi malam. Tugas mereka, khusus mengikuti dan mengawal kemana pun para gadis itu pergi. Sementara para lelaki, bertugas menjaga keamanan di wilayah Villa dan perkebunan teh milik Papa Sania dan Tania.
Meski kabut masih terlihat tebal menyelimuti daerah pegunungan dan perkebunan teh namun tidak mengurangi semangat dan antusiasme mereka berjoging ria sambil menikmati suasana pagi yang sejuk dan indah ini.
Satu jam sudah mereka berjoging ria, sampai ke atas perkebunan teh, kemudian mulai beristirahat sejenak di sana. Ada yang duduk di atas rumput, ada pula yang duduk di atas batu yang cukup besar.
"Hm, Masya Allah, segarnya!" kata Sania sambil memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi. Mencoba menggantikan udara yang dihirupnya tadi malam, dengan udara pagi yang menyegarkan dan menyehatkan tubuh, terutama organ paru-paru.
"Benar, tidak sia-sia liburan kita ini, ya, San. Terima kasih sudah mengajak kami liburan di Villa keluargamu yang indah ini, " sahut Rianti.
"Apakah kalian senang?" tanya Sania, ingin memastikan.
"Tentu saja, " jawab Ira dan Wulan bersamaan. Yang lain pun menyetujuinya.
"Pasti seru, ya, kalau setiap liburan kita habiskan bareng kaya gini, " ujar Wulan.
__ADS_1
"Setuju. Nanti, bergantian tempatnya biar ada variasi, gitu. Tapi tetap Villamu ini recommended banget, deh, " puji Ira, sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Sania. Membuat Sania tersenyum senang.
"Boleh juga idemu, Ra, " sahut Sania.
"Eh iya, di dekat sini suka ada warung-warung tenda yang menjajakan aneka kuliner untuk sarapan, loh. Kita ke sana, yuk!" Ajak Rani dan Andin.
Para gadis itu mengikuti ajakan Rina dan Andin. Mereka dengan senang melihat-lihat dan mulai memilih menu makanan untuk sarapan. Ada yang menjual nasi uduk, gorengan, bubur ayam, aneka kue basah, lontong sayur, doclang atau ketupat tahu, laksa, roti bakar, dan lainnya. Begitu pula para bodyguard yang mengawal mereka
Di tempat ini, suasana mulai ramai dengan kedatangan orang-orang yang juga berjoging atau sekedar ingin mencari sarapan di luar rumah.
Mulailah mereka mencari tempat duduk dan memilih pesanan masing-masing yang disukai. Rianti memilih nasi uduk sebagai sarapan plus gorengan. Ira memilih bubur ayam. Sania memilih doclang, Tania memilih roti bakar, Rina memilih lontong sayur, dan Andin memilih laksa. Begitu pula para bodyguard wanita yang sejak tadi mengawal para gadis ini, ikut memilih menu sarapan masing-masing. Setelah selesai sarapan, mereka kembali bergerak menuju Villa. Tak lupa mereka membeli kue-kue basah untuk dibawa ke villa sebagai oleh-oleh, dan camilan mereka.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba dikejutkan dengan aksi nakal beberapa pemuda. Kebut-kebutan melewati mereka begitu saja tanpa segan. Secara spontan para gadis itu segera menepi, jika tidak ingin jadi korban tabrak lari.
"Astaghfirullah! Siapa sih mereka? Ugal-ugalan betul bawa motornya. Membahayakan, " umpat Ira, kesal. Apalagi tadi gadis itu nyaris menjadi korban. Hampir saja terserempet motor karena tadi posisinya berada paling pinggir. Untung semuanya selamat.
"Pasti itu Si Handi, " tebak Rina, ikut merasa jengkel atas ulah anak-anak nakal itu.
Menyadari ada gadis-gadis cantik dan manis yang berpakaian muslimah syar'i yang baru saja dilewati, membuat pemuda-pemuda itu kembali lagi. Memutar motornya. Mendekat. Menghalangi jalan. Mereka memandangi gadis-gadis itu dengan pandangan penuh minat. Sambil masih tak bergeming, betah duduk di atas motor masing-masing. Mencoba menghalangi langkah para gadis itu.
Melihat itu, para bodyguard yang sejak tadi mengawal para gadis ini segera maju ke depan, bersiap memasang kuda-kuda, mencoba melindungi. Para gadis pun terlihat waspada. Belum tahu saja, para gadis ini tidak lemah, seperti kelihatannya. Tidak mudah dibuli, bahkan semua memiliki ilmu bela diri yang cukup memadai. Meskipun berbeda-beda. Jangan tertipu dengan penampilan.
Seperti Sania dan Tania yang mahir ilmu bela diri tifan, sejenis kungfu. Wulan pemegang sabuk hitam karate. Ira pemegang sabuk hitam taekwondo, sedangkan Rianti mahir Yudo.
"Hai, gadis-gadis cantik, kenalan, dong! Kalian pasti tamu di sini, ya? Baru lihat, " sapa seorang laki-laki seusia dengan mereka yang berada paling depan dengan pandangan menggoda dan melecehkan. Sepertinya dia ketua gengnya. Dilihat dari penampilannya yang sangar, berani dan paling menonjol. Ya, dialah yang bernama Handi yang tadi dijelaskan oleh Rina
Dengan berani, Rina maju ke depan mendekatinya sambil menatap tajam dengan penuh amarah ke arah wajah lelaki itu. Bermaksud menggertaknya dan membuatnya berpikir ulang jika ingin mengganggu mereka. Namun sama sekali tidak rasa takut.
"Mau apa kamu, Handi. Berhenti mengganggu. Mereka adalah teman-temanku, tamuku. Biarkan kami lewat, " hardik Rani dengan tegas.
"Oh, ternyata mereka teman-teman kamu, Rin. Boleh juga teman-temanmu. Cantik-cantik. Bisa dipilih-pilih, nih. Yang paling cantik untukku, selebihnya kalian pilih sendiri, " sambil matanya meneliti satu per satu gadis-gadis itu.
__ADS_1
"Nah, itu tuh yang paling cantik, yang berkacamata minus, " ujar lelaki yang ternyata bernama Handi itu dengan berani sambil menunjuk ke arah Rianti yang memang memiliki paras paling cantik.
Ucapannya itu membuat teman-temannya yang ada di belakangnya menyeringai senang dan terlihat tidak sabar.
Mendengar itu, seketika tangan Rianti ditarik oleh Sania ke belakang tubuhnya, bermaksud ingin melindunginya. Namun Rianti tidak sedikit pun bergeser dari tempatnya. Ternyata gadis itu telah bersiap diri memasang posisi kuda-kuda. Begitu kokoh.
"Jangan macam-macam kamu? Kamu pikir kami ini baju loakan apa, disuruh dipilih?" bentak Rianti dengan marah.
"Tenanglah, Nona, jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang, loh. Kan rugi, aku tidak bisa menikmati lagi wajah cantikmu. Aku tidak bermaksud macam-macam, kok. Hanya ingin satu macam saja. Jadilah pacarku, Nona manis, atau istriku sekalian, " ujar Handi sambil menyeringai licik, mencoba merayu Rianti. Lalu turun dari motornya, berjalan mendekati gadis itu. Tangannya diangkat, sepertinya ingin mencoba mencolek dagu Rianti dengan sangat tidak sopan.
Namun dengan cepat, Rianti yang sudah siap sejak tadi segera menangkap jari tangan itu, memelintir ke belakang tubuhnya, lalu menariknya ke atas hingga nyaris mendekati pergelangan tangannya dan menguncinya di sana. Hingga terdengar suara kretek tulang dan rintihan kesakitan dari mulus laki-laki itu.
"Aw, ****, ah, sakit. Lepaskan!" teriaknya marah membentak Rianti, sambil meringis menahan rasa sakit.
Mendengar laki-laki itu malah membentaknya membuat Rianti semakin menguatkan kuncian tangannya. Membuatnya semakin berteriak keras. Tidak bisa lagi menahan rasa sakit.
Semua tampak terkejut, baik dari pihak anak buah Handi maupun sahabat-sahabatnya. Semua terjadi begitu cepat. Bagaimana tidak? Selama ini mereka mengenal Rianti adalah sosok yang lembut, ramah, sabar, dan baik hati. Tidak pernah sekalipun melihatnya marah kepada siapapun. Baru kali ini mereka melihat sisi lain dari sosok Rianti. Bisa juga bersikap garang kepada orang yang berusaha menindasnya.
Beginilah ternyata marahnya orang yang sabar. Marah karena melihat kedzaliman di depan matanya. Apalagi akan menimpa dirinya. Tentu saja siapapun tidak akan membiarkan dirinya dilecehkan dan diinjak-injak harga diri dan kehormatannya yang selama ini dijaga betul. Padahal pakaian pun sudah syar'i. Akan tetapi masuk saja ada orang yang berani mengganggu dan melecehkan.
Mendengar teriakannya semakin keras akhirnya Rianti pun melepaskannya. Namun bukannya sadar, Handi malah menatap Rianti dengan tajam dan penuh amarah.
"Kurang ajar, beraninya kamu mengalahkan aku, " hardiknya murka.
"Kenapa tidak? Kamu tidak lebih hanya seorang pengecut yang cuma beraninya menindas orang yang lemah. Padahal kamu itu bukanlah siapa-siapa di mata Allah. Kecil, " balas Rianti tak kalah garangnya sambil menautkan ibu jari dan telunjuknya sebatas kuku. Untuk menunjukkan betapa kecilnya dirinya.
"Kamu menghinaku?" bentaknya semakin marah. Emosinya semakin terbakar. Baru kali ini ada yang begitu berani kepadanya, menghinanya, dan menantangnya. Lebih dari itu, dia sosok perempuan, yang selama ini sering dianggap lemah.
Tangannya kembali terangkat bermaksud ingin menampar pipinya dengan keras. Namun naas, laki-laki itu kembali mengalami kekalahan. Kali ini dengan dibanting hingga terjatuh dalam posisi telentang, kepalanya pun sedikit terantuk. Membuatnya merintih kesakitan lagi di area belakang tubuhnya. Megap-megap, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi padanya.
Saat sadar, dengan penuh kemarahan Handi pun bangkit dengan cara menghentakkan kedua kakinya. Langsung berdiri. Merasa tidak terima karena telah dikalahkan kembali oleh seorang perempuan yang menurutnya lemah. Apalagi di depan anak buahnya. Takut wibawa dan kharismanya berkurang, kemudian diremehkan.
__ADS_1
Tentu hal itu menjadi pukulan menyakitkan baginya. Terutama harga dirinya sebagai laki-laki.