Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Meminta Bantuan Papa


__ADS_3

Semua merasakan sesak di dadanya, ikut merasa prihatin. Betapa kemiskinan dapat membuat orang tidak berdaya. Seperti kasus yang dialami oleh keluarga Laila ini. Dan orang yang merasa memiliki harta berlebihan begitu mudah mempermainkan orang yang lemah dan sangat membutuhkan. Memberi pinjaman dengan bunga yang begitu melilit, tidak peduli pada penderitaan orang lain. Miris, rasanya.


"Sebaiknya kita bawa Laila dan ayahnya ke rumah sakit terdekat untuk diobati. Sekaligus melakukan visum untuk Laila, sebagai bukti kejahatan Samiri dan anak buahnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Sudah banyak korbannya, " ujar Mang Hanif.


Laila sempat menolak karena khawatir tidak memiliki biaya untuk mengobati luka ayah dan dirinya. Namun Sania kembali membujuk agar jangan khawatir mengenai biaya karena itu pasti akan menjadi tanggung jawab papanya. Apalagi Pak Hasan juga termasuk karyawan papanya di peternakan, walaupun hanya tukang bersih-bersih kandang.


Setelah dibujuk akhirnya Laila mau ikut ke rumah sakit untuk diobati bersama ayahnya.


Di luar terlihat ada dua buah mobil Jeep yang tadi dipakai oleh Sania dan teman-temannya ke peternakan untuk membawa Pak Hasan dan Laila ke rumah sakit. Rupanya saat mereka sedang mendengarkan cerita kronologi kejadian yang menimpa ayah dan anak itu, Mang Hanif menghubungi Mang Asep dan Supri. Meminta keduanya untuk membawa mobil Jeep yang tadi membawa para gadis ke peternakan untuk mengantar ke rumah sakit.


Setelah lima belas menit mereka sampai di rumah sakit. Ayah dan anak itu segera dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Dengan sigap para tim medis segera menangani keduanya. Sementara yang lain menunggu di luar.


Satu jam kemudian, dokter keluar dari UGD. Melihat itu, semua berdiri dan mendekati dokter.


"Bagaimana dengan keadaan pasien, Dok?" tanya Mang Hanif.


"Anda keluarga Pak Hasan dan Nona Laila?" tanya dokter Alamsyah, yang terbaca dari name tag yang ada di dadanya


"Bukan, saya penanggung jawab pasien. Dia anak buah saya, " jawab Mang Hanif.


"Baiklah, silakan ikut ke ruangan saya, " titah dokter Alamsyah, diikuti oleh Mang Hanif, Mang Asep, dan Sania.


Setelah masuk ke dalam ruangan dokter Alamsyah, ketiganya duduk di hadapan sang dokter.


"Kondisi Pak Hasan tidak terlalu parah, hanya terdapat luka di beberapa tubuhnya. Hidungnya agak retak, mungkin karena pukulan yang cukup keras. Tapi jangan khawatir semua bisa kembali pulih kira-kira tiga bulanan. Begitu pula dengan putrinya, Nona Laila tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lukanya termasuk ringan, hanya ada dua gigi geraham sebelah kanan tanggal, seperti terkena tamparan keras. Namun, karena kondisinya masih lemas sebaiknya mereka dirawat saja di sini. Agar kami bisa mengawasi dengan baik. Jika keadaan membaik lusa mungkin sudah bisa pulang, " terang dokter Alamsyah.


"Baiklah, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk mereka, " pinta Mang Hanif dengan penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah, Insya Allah kami akan berusaha semaksimal mungkin, " jawab Dokter Alamsyah.


"Baiklah, tolong tempatkan kedua pasien di ruang VVIP, kalau bisa biar mereka satu ruangan saja. Supaya bisa saling mengawasi, " pinta Sania.


"Baiklah, akan kami urus segalanya, " jawab Dokter Alamsyah.


Setelah berpamitan, ketiganya segera keluar dari ruangan Dokter yang terlihat masih muda itu. Kira-kira berusia tiga puluh tahunan.


Di luar, Sania menjelaskan tentang kondisi Pak Hasan dan putrinya kepada para sahabatnya.


Beberapa menit kemudian kedua ayah dan anak itu dibawa ke ruang perawatan.


"Sebaiknya, kalian pulang dulu ke Villa. Kalian pasti capek, istirahat dulu, ya. Untuk Pak Hasan dan Laila biar saya, Pak Agus, dan Pak Ramli yang akan menjaga. Kalian bisa kemari lagi nanti sore pas jam besuk atau besok pagi."


Semua mengangguk menuruti Mang Hanif. Para gadis itu pun kembali ke Villa dengan diantar oleh Mang Asep dan Mang Supri.


Sania sedang melakukan video call dengan kedua orang tuanya. Gadis itu menceritakan kejadian yang menimpa Pak Hasan dan Laila tadi. Meminta papanya untuk membantu mereka dari jeratan rentenir. Kalau perlu mesti diberantas hingga ke akar-akarnya, supaya tidak merajalela. Karena, menurut cerita Mang Hanif sudah banyak korbannya. Mereka memanfaat kepolosan warga untuk memeras. Mengikat mereka dengan hutang-hutang yang mencekik.


Terkadang warga yang polos plus ada bibit keserakahan akan harta dan kemewahan meminjam uang untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Hanya memenuhi keinginan hawa nafsunya, menuruti gengsinya saja. Bukan karena kebutuhan yang mendesak seperti keluarga Pak Hasan.


Meski meminjam ke rentenir itu tetap salah dalam alasan apapun namun bagi orang yang amat membutuhkan masih dianggap perlu. Hal itu merupakan jalan pintas dan instan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Tanpa harus berpikir keras apalagi memeras keringat.


Pola pikir seperti inilah yang sering dimanfaatkan oleh para rentenir itu. Apalagi aparat terkait di desanya mendiamkan praktek rentenir seperti ini. Membiarkannya. Bahkan malah ikut meminjam juga. Bukannya mencegah, malah ikut terjerumus.


Maka, semakin beranilah mereka berulah dan merajalela di mana-mana.


***

__ADS_1


Selesai berbincang dengan putrinya, Papa Dandi segera menghubungi Mang Hanif, menanyakan tentang kebenaran cerita putrinya tadi. Mang Hanif pun menjelaskan semuanya secara rinci.


Setelah mendengar itu, Papa Dandi meminta Mang Hanif untuk menyelidiki kasus ini. Sekaligus mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Samiri dan anak buahnya. Agar segera menjebloskan mereka ke dalam penjara. Supaya tidak ada lagi yang berani melakukan sesuatu yang meresahkan warga. Dia juga tidak ingin keamanan warga yang berada di perkebunan dan peternakannya terganggu oleh ulah mereka.


Dan tidak ada lagi praktek rentenir di sana.


Semua itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pemilik perkebunan teh dan peternakan terbesar di sana. Apalagi Hasan itu termasuk salah satu karyawannya di peternakan, di bawah kepemimpinan Hanif.


"Hanif, tolong kamu urus semua biaya pengobatan Hasan dan putrinya sampai sembuh. Segera lunasi hutangnya plus bunganya, supaya Si Samiri itu tidak lagi mengganggu Hasan dan keluarganya. Dan ingatkan supaya jangan pernah lagi meminjam kepada dia atau rentenir manapun. Ini berlaku juga untuk semua karyawanku baik di perkebunan maupun peternakan. Jika ada yang seperti itu lagi akan ditindak tegas, dipecat secara tidak hormat, " ujar Papa Sandi tegas.


"Siap, Tuan, akan saya laksanakan, " jawab Mang Hanif.


"Tunggu dulu, saya masih belum selesai bicara


Tolong diperbaiki juga rumah Hasan yang kata Sania tidak layak huni itu. Aku jadi malu punya karyawan tapi rumahnya kaya gitu. Tolong yang lain juga diperhatikan hal-hal seperti itu. Jangan sampai ada karyawanku yang kehidupan memprihatinkan seperti itu."


Dan terakhir, untuk putrinya Laila, akan saya angkat jadi anak asuh saya. Saya akan membiayai pendidikan sampai perguruan tinggi. Dengar dari Sania, Laila juga termasuk siswa yang pintar di sekolahnya, ya?" ujar Papa Dandi.


"Iya Tuan, Laila termasuk anak pintar di sekolahnya. Kebetulan seangkatan dengan anak saya dan anak Supri, Tuan. Jadi saya tahu bagaimana anak itu. Dia gadis yang baik dan rajin. Karena itu, saya sangat mendukung rencana Tuan. Sayang sekali jika sekolahnya harus terputus hanya karena biaya, " jawab Mang Hanif menjelaskan sosok Laila.


"Baik, baik, anggaplah ini sebagai ungkapan rasa bersalah saya karena kurang memperhatikan karyawan-karyawan saya. Sampai tidak tahu jika ada kasus seperti Hasan ini. Saya jadi malu sama putri-putri saya. Apalagi Laila itu seusia Sania. Seandainya hal itu terjadi pada putri-putri kesayangan saya, pasti saya tidak akan rela, " ujar Papa Dandi, mengungkapkan keresahan hatinya.


Tanpa disadari, ternyata Sania mendengar semua percakapan antara Mang Hanif dan Papanya via video call. Membuat Sania merasa senang dan bangga ternyata papanya memiliki hati yang baik dan begitu perhatian kepada warga desa ini, terutama karyawan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ingin rasanya memeluk papanya itu karena saking bangganya. Namun sayang, kini papanya berada jauh darinya. Membuatnya menjadi terharu karena merasakan tanggung jawab papanya itu begitu besar. Mengingat ratusan karyawan yang bergantung padanya. Tak terasa air mata mengalir di kedua pipinya.


Sekarang Sania mengerti, walaupun papanya selalu sibuk, jarang bertemu dengannya namun dia yakin, pasti papanya itu selalu memikirkan keluarga kecilnya di manapun berada. Apapun pasti akan dilakukan untuk anak dan istrinya. Selama untuk kebaikan pasti akan didukung.


Dia berjanji tidak akan protes lagi jika ayahnya terlihat sibuk, seperti tidak punya waktu untuk keluarga. Seperti berlibur bersama. Sebenarnya, gadis itu memiliki ide mengajak sahabat-sahabatnya berlibur di Villa ini sebagai bentuk protes karena menganggap papanya hanya mempedulikan pekerjaan daripada keluarga.

__ADS_1


Begitulah kasih sayang seorang ayah. Mungkin mereka tidak pandai mengungkapkan perasaannya, namun dia lebih banyak berbuat daripada berbicara. Mereka juga jarang menangis, namun lebih banyak memeras keringat, membanting demi kebahagiaan keluarga kecilnya. Selalu mengawasi dalam diam, namun jika ada yang berani menganggu apalagi menyakiti kedua putrinya dialah orang pertama yang akan memasang badan untuk melindungi mereka. Dalam hati kecilnya, pasti mereka ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, namun terkadang keadaan membuatnya tidak bisa melakukan hal yang sangat diinginkan. Ya, Dialah sosok cinta dalam diam yang sejati bagi anak-anaknya dan keluarganya.


__ADS_2