Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Pasca Nikah


__ADS_3

Seluruh rangkaian acara walimahan berakhir pukul 14.00. Suasana gedung mulai sepi dari para tamu. Ruangan pun mulai dirapikan. Daffa dan Rima telah berganti pakaian biasa yang lebih santai namun tetap rapi. Rima mengenakan gamis berwarna merah maroon dan khimar berwarna senada. Sedangkan Daffa mengenakan kemeja berwarna coklat susu dan celana kain berwarna coklat tua.


Setelah seluruh ruangan gedung telah kembali rapi dan bersih seperti sebelumnya, mereka segera keluar dari gedung itu dan kembali pulang. Rima ikut mobil keluarga Daffa karena akan langsung tinggal di rumahnya, bersama mertuanya. Sedangkan Ridwan dan Aini pulang ke rumah mereka. Setelah saling berpamitan, mereka pun berpisah di depan gedung.


Tidak lama kemudian, mobil keluarga Wirawan telah sampai di depan rumah asri dengan pagarnya bercat warna abu-abu. Mereka segera memasuki rumah. Daffa langsung mengajak Rima ke kamarnya sambil membawa dua buah koper, yang satu besar dan yang satunya lebih kecil, milik gadis yang baru saja menjadi istrinya berisi pakaian dan berbagai perlengkapannya.


Sampai di depan pintu, Daffa membukakan pintu dan mempersilakan istrinya untuk masuk ke kamar mereka. Dengan perlahan dan malu-malu Rima menuruti perintah lelaki yang baru saja menjadi suaminya. Ia memasuki kamar. Debaran jantungnya mulai menyerang, mengingat untuk pertama kalinya ia akan tinggal di kamar ini berdua dengan suaminya. Sebelumnya terbiasa tidur sendiri. Lalu Daffa mengikuti istrinya sambil meletakkan dua buah koper itu di tengah kamar.


Namun begitu masuk Rima seperti lupa akan debaran jantungnya, bola mata begitu takjub melihat setiap detil ruangan yang sebentar lagi akan menjadi kamarnya juga. Dinding kamar bernuansa krem dan putih dipadukan dengan coklat kayu, warna kesukaannya, di belakang ranjang mereka. Lantai keramik berwarna krem. Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang besar berukuran king size dengan dipannya terbuat dari bahan kayu yang dilapisi kain, tampak cantik dan cerah. Di bawah tempat tidur dilapisi karpet bernuansa abu-abu muda, sedikit bercorek abstrak, salah satu warna kesukaan Daffa. Ternyata, saat dipadukan seperti ini menjadi terlihat manis. Dekorasi yang sederhana namun manis, perpaduan warna kesukaan kedua pasangan pengantin baru itu.



Tanpa disadari, Daffa sejak tadi masih berdiri di dekat koper yang baru saja diletakkan, terus memperhatikan Rima yang begitu intens memperhatikan setiap detil kamar yang akan mereka tempati berdua.


"Ehm...!" suara deheman Daffa menyadarkan Rima dari keasyikannya sejak tadi. Seketika pandangannya beralih menatap wajah suaminya. Perlahan berjalan mendekati istrinya hingga langkah berjarak dua langkah lagi.


"Gimana, kamu suka dengan dekorasi kamar ini? Sampai serius begitu?" tanya Daffa sambil tersenyum, membuka percakapan. Lelaki itu mencoba memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti diri mereka.


Dengan cepat Rima mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, suka, Aa sendiri yang mendekor kamar ini?" tanya Rima balik.


Daffa mengangguk lalu sedikit bercerita,


"Kamar ini baru saja Aa rombak sendiri. Terutama cat dindingnya, dan keramik. Tadinya bernuansa hitam dan putih, tapi beberapa hari menjelang pernikahan diganti dengan warna-warna ini setelah tahu kalau kamu suka dengan kedua warna itu."


Mendengar itu, Rima mengerutkan keningnya dan bertanya,


"Kenapa harus diganti warna catnya?"


"Ya, biar terkesan cerah saja, takutnya kamu tidak suka. Hasilnya, memang lebih cerah dan terang. tidak gelap. Intinya, biar kamu betah tinggal di sini. Ini sebenarnya usulan dari Ira juga, sih, " terang Daffa jujur.


Mendengar penjelasan Daffa, Rima tampak tersipu.


"Oh, terima kasih."


"Capek? Tidak pegal berdiri terus? Ayo duduk!" ajak Daffa sambil menunjuk sofa yang ada di seberang ranjang.

__ADS_1


Keduanya melangkah ke sofa dan duduk di sana. Berdampingan. Saat duduk keheningan kembali menyerang. Suasana kembali kaku dan canggung. Mengingat ini pertama kalinya bagi Rima duduk berdekatan dengan lawan jenis dan di ruang khusus pula, begitu pula dengan Daffa.


"Oh iya, itu koper kamu, mau dibereskan sekarang? Biar Aa bantu. Tapi kalau mau istirahat dulu juga tidak apa-apa, " tawar Daffa. Kembali memecah keheningan yang terjadi di kamar itu.


"Ehm, sekarang saja, biar sekalian capeknya. Setelah itu kan bisa tenang. Tinggal istirahat. Kalau Aa capek biar saja Rima yang kerjakan sendiri. Tidak terlalu banyak juga, kok. Hanya baju-baju dan buku-buku."


"Oh, kamu suka baca, ya?" tanya Daffa.


Rima mengangguk sambil tersenyum manis. Melihat senyum manisnya, membuat Daffa tertegun dan seketika jantungnya mulai bereaksi. Berdebaran tak menentu.


'Duh jantung, tenang dong. Dia kan cuma tersenyum. Kok, efeknya gini amat. Kaya yang tidak pernah lihat orang tersenyum saja, ' keluh Daffa dalam hati, sambil sibuk menenangkan diri.


Saat Rima mulai berdiri dan hendak melangkah, Daffa menghentikannya dan ikut berdiri, "Biar Aa bantu. Kamu bereskan baju, Aa yang bereskan buku, biar cepat selesai. Gimana?"


"Oke, baiklah, " jawab Rima, sambil tersenyum. Dan lagi-lagi sukses membuat jantung Daffa kembali bereaksi, tanpa disadari oleh Rima.


"Ini koper baju, yang agak kecil itu koper buku Rima, " Rima menjelaskan sambil menunjuk koper-koper yang ada di dekatnya.


"Oh, oke. Sini, Aa bawain koper baju kamu dulu, kelihatannya berat, " tawar Daffa sambil tangannya langsung meraih dan mengangkat koper besar berisi baju-baju istrinya. Kemudian membawanya ke dalam ruang ganti, yang sengaja disekat berupa tembok kayu bercat coklat, tepat di belakang ranjang mereka.


"Silakan kamu atur sendiri," ujar Daffa mengejutkan Rima.


"Eh, maaf, Aa sudah mengejutkan kamu, ya,"


"Tidak apa-apa, Rima saja yang dari tadi asyik memperhatikan kamar ini, " terang Rima menjelaskan penyebab keterkejutannya tadi.


Daffa hanya tersenyum,


"Baiklah, sekarang Aa mau bereskan buku kamu dulu, ya, " pamit Daffa sambil melangkah meninggalkan Rima menuju rak buku yang letaknya ada di dekat sofa yang tadi mereka duduki.


Rima menganggukkan kepalanya.


Tanpa menunggu lama, Rima langsung memasukkan baju-baju ke dalam lemari yang ada di hadapannya. Kemudian menyusunnya dengan rapi. Sedangkan Daffa ikut sibuk menyimpan buku-buku milik istrinya ke dalam rak buku. Disatukan dengan buku-buku miliknya sendiri. Lalu disusun dengan rapi.


Satu jam berlalu, akhirnya kedua pasangan pengantin itu telah selesai dengan aktifitasnya. Ternyata waktu menunjukkan pukul 15.00. Melihat itu, Daffa pamit ke kamar mandi yang ada di kamar itu untuk membersihkan diri dan bersiap untuk shalat Ashar berjamaah di masjid.


Begitulah Daffa, dia memang selalu mengusahakan shalat berjamaah di masjid dalam setiap shalat lima waktu, di manapun berada. Sudah terbiasa sejak kecil, berkat didikan orang tuanya.

__ADS_1


Saat Daffa mandi, Rima menyiapkan baju yang akan dipakai suaminya ke masjid, yaitu baju koko satu set berwarna putih dan celananya berwarna senada, dan diletakkan di atas tempat tidur. Tak lama, Daffa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe berwarna putih yang panjangnya sebatas betisnya. Melihat itu, Rima langsung menundukkan pandangannya, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah, menahan malu. Jantungnya terasa berdebar-debar sangat kencang.


"Ehm, itu, anu, em, bajunya sudah Rima siapkan, "


Belum juga dijawab dengan ucapan terima kasih, Rima langsung melangkah ke kamar mandi, dengan gugup dan langkah lebar. Melihat itu, Daffa hanya menarik bibirnya, tersenyum melihat tingkah gadis itu. Sebenarnya Daffa juga gugup dengan penampilannya yang hanya mengenakan bathrobe itu namun dengan cepat ia mampu mengendalikan perasaannya sehingga terlihat seperti biasa saja.


'Ternyata begini rasanya punya istri. Baju disiapin, belum makannya, dimasakin, bobo juga ditemenin, tidak sendirian lagi,' lamun Daffa nyengir sendiri dengan khayalannya.


'Eh, astaghfirullah, kok malah ngelamun, kan sebentar lagi shalat Ashar, ' omelnya pada diri sendiri.


Benar saja, suara adzan telah terdengar dari masjid dekat rumahnya. Dengan cepat, Daffa langsung mengenakan baju koko yang telah disiapkan istrinya. Lalu melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, Daffa bertemu dengan Wirawan dan Raihan yang juga telah bersiap-siap mau berangkat shalat berjamaah di masjid. Akhirnya, ketiganya melangkah bersama. Sedangkan Linda dan Ira juga bersiap-siap ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Ra, panggil kakak iparmu untuk shalat berjamaah di ruang mushalla kita, "titah Ummi Linda.


"Iya, Mi."


Ira melangkah mendekati kamar kakaknya dan mengetuk pintu. Tak lama, pintu dibuka dari dalam dan nampaklah Rima yang telah rapi dengan mukenanya. Seperti bersiap mau shalat.


"Ada apa, Ra?" tanya Rima saat melihat adik iparnya.


"Oh, Kakak sudah shalat?" tanya Ira sambil menatap kakak iparnya.


"Belum, baru mau, " jawab Rima.


"Kita shalat berjamaah di mushalla, yuk! Ditunggu sama Ummi, " ajak Ira.


"Oh iya, sebentar, Kakak ambil sajadah dulu, ya, " jawab Rima, sambil melangkah untuk mengambil sajadah yang telah digelar.


Keduanya melangkah mendekati ruang mushalla keluarga. Sampai di sana ternyata sudah tersedia tiga sajadah dan mukena. Disiapkan oleh mertuanya. Melihat itu, Rima merasa malu.


"Oh, sudah ada sajadahnya?" sahut Rima.


"Sudah, ayo kita shalat berjamaah, sayang, " sambut Linda pada menantu barunya itu.


Ketiganya langsung menunaikan ibadah shalat Ashar berjamaah, dengan diimami oleh Ummi Linda.


__ADS_1


__ADS_2