
Setelah sampai di rumah, Hisyam langsung mengajak kedua orang tuanya untuk membicarakan hasil kunjungannya ke rumah gadis yang ingin dikhitbahnya. Lisa.
Hisyam mendekati kedua orang tuanya dan kedua adik kembar perempuannya, Hanum dan Hana, yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton TV dan menikmati camilan.
"Ma, Pa, ada yang mau Hisyam bicarakan," sapa Hisyam membuka pembicaraan dengan menunjukkan wajah serius.
Melihat mimik wajah putra sulung mereka, keduanya segera mengalihkan tatapannya dari TV. Diikuti oleh kedua adiknya. Lalu Hamid, papanya segera mematikan TV yang sedang ditonton.
"Ada apa, Syam? Sepertinya serius sekali, " tanya Hamid
Semua pasang mata yang ada di ruang keluarga itu tertuju kepadanya.
"Jadi, gini. Tadi Syam sudah berkunjung ke rumah Lisa, gadis yang Syam ceritakan tempo hari sama Papa dan Mama, "
Belum juga selesai bicara, Halimah, Mama Hisyam langsung memotong,
"Oh, Lisa. Gadis yang mau kamu khitbah itu? Terus gimana hasilnya?" Tanya sang mama dengan penasaran bercampur antusias.
Ketika pertama kali Hisyam mengutarakan maksud hatinya setelah menghubungi Lisa via ponselnya kepada kedua orangtuanya tentu saja membuat keduanya bahagia. Akhirnya putra sulung mereka mulai memikirkan untuk menikah.
"Iya, sabar, Ma. Ini juga Syam baru mau cerita, " tegur Hisyam, membuat mamanya terkekeh.
"Iya, maaf, habisnya Mama senang sekali kamu sudah punya niat untuk menikah dengan gadis pilihanmu sendiri. Mama jadi penasaran, kaya apa sih gadis yang mampu menaklukkan hatimu itu sampai ingin segera menikahinya?" Ujar Halimah.
Hisyam mulai menceritakan hasil pertemuannya dengan orang tua Lisa. Kemudian menyampaikan undangan makan malam di rumah Lisa besok malam. Tentu saja undangan itu disambut Dengan senang hati. Begitu juga kedua adik perempuannya. Keduanya saudara kembar.
"Aku mau ikut, Bang, " seru Hanum.
"Aku mau ikut juga, " seru Hana.
"Baik, baik, kalian boleh ikut, " jawab Hisyam sambil tersenyum lebar.
Jiwa kepo kedua gadis remaja seusia Ira pun meronta.
__ADS_1
"Bang, jadi penasaran deh, sama calon kakak ipar ku. Seperti apa sih dia? Pasti cantik, ya, Bang?" Tanya Hanum.
"Cantik sih sudah pasti, kan perempuan. Sama seperti kalian, " jawab Hisyam sekenanya sambil menarik turunkan kedua alisnya, menggoda. Namun kedua adiknya itu tampak tidak puas dengan jawabannya. Melihat mimik penasaran kedua adiknya membuat Hisyam jadi terkekeh, gemas. Terlintas pikiran jahilnya,
"Kasih tahu gak, ya? " ujar Hisyam sambil berpura-pura bingung dengan jari telunjuk kanannya ditekan-tekan ke keningnya sendiri.
"Cerita, dong, Bang. Mama pengen tahu juga, " kali ini mamanya yang bertanya, ikut kepo juga. Membuat Hisyam makin terkekeh.
"Sudahlah, pokoknya lihat saja besok, ya. Kalian bisa menilai sendiri nanti, " jawab Hisyam membuat kedua adiknya makin cemberut. Begitu juga mamanya.
"Ish, Abang mah pelit banget, nggak mau cerita ke kita-kita, " Rajuk Hana.
"Ada, deh. Rahasia!" Tukas Hisyam semakin senang menggoda.
"Ya, sudah, kalau begitu Mama, Papa, Hanum dan Hana tidak mau ke rumah Lisa, " ancam Mama merajuk. Membuat sang papa tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang kekanak-kanakan itu.
"Yaa, jangan gitu dong, Ma. Kan tadi sudah janji. Lagian Lisa itu gadis yang selalu ada dalam doa Hisyam sejak zaman SMA, Ma. Gadis yang sudah berhasil menarik perhatian dan hati Hisyam sejak pertama melihat dia, " dengan cepat Hisyam langsung merayu mamanya, agar luluh kembali. Tanpa sadar dia keceplosan menceritakan sedikit kisahnya bersama Lisa.
"Hah, jadi dulu kamu pernah pacaran sama Lisa. Waktu kamu SMA? Kok, Mama tidak tahu, ya?" Berondong Mamanya.
"Oh, jadi ceritanya ini cinta lama yang terpendam, ya. Kaya, cinta dalam diam. Eh, kok jadi kaya judul novel, sih, " ujar Hanum dan Hana secara bersamaan.
"Hus, kebanyakan baca novel kalian, nih, " tegur Hisyam pura-pura galak. Seraya mencubit pipi kedua adiknya.
"Aduh, sakit, Bang, " protes Hanum dan Hana.
"Sudah, ah. Sudah cukup puas mendengar cerita Abang, kan?" Tanya Hisyam. Tak lupa matanya melirik mamanya.
"Jadi, gimana, nih. Kalian mau kan memenuhi undangan camer Abang?" Tanya Hisyam.
"Cie, camer. Segitu yakinnya bakal jadi, " goda mamanya.
"Ih, doain Syam, dong, Ma. Biar semuanya dimudahkan sampai Syam berhasil menikahi Lisa," pinta Hisyam dengan memasang wajah memohon dan memelas. Membuat Halimah jadi terkekeh geli.
__ADS_1
"Oke, besok semua boleh ikut, " seru Halimah.
"Alhamdulillah, terima kasih Mamaku tersayang, " pekik Hisyam sambil menciumi kedua pipi mamanya bolak-balik. Wajah bahagianya begitu kentara.
"Segitu bahagianya, " ujar Mamanya.
***
Esok harinya
Malam ini Hisyam dan keluarganya telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Lisa, memenuhi undangan makan malam. Segera mereka keluar rumah dan memasuki mobil.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Lisa. Segera mereka keluar dari mobil dan berjalan beriringan memasuki pekarangan rumah yang tampak asri. Begitu sampai di depan pintu, Hisyam segera mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!" Sapa Hisyam.
Tak lama terdengar suara jawaban salamnya. Dan tampaklah sosok maid yang membukakan pintu. Dengan sopan, sang maid pun mempersilakan tamu itu masuk dan mengantarkan sampai ke ruang tamu. Setelah itu, dia melangkah ke dalam kembali setelah berpamitan.
Bi Ani, sang maid segera memberitahukan kedatangan tamu istimewa mereka. Mendengar itu, dia pun bersiap-siap memanggil suami dan Lisa.
Mama Halimah berjalan ke kamar Lisa dan mengetuk pintu.
"Masuk, Ma. Pintunya tidak dikunci, kok, " jawab Lisa dari dalam.
Mendengar itu, Mama Halimah membuka pintu dan berjalan mendekati putrinya yang masih duduk depan meja hias. Memperhatikan penampilannya. Lisa tampak cantik dan anggun dengan balutan gamis berwarna merah marun dan kerudung dengan warna yang senada dengan gamisnya.
"Duh, cantiknya putri Mama. Tidak terasa mau diambil orang, " puji Mama Halimah.
"Ah, Mama, bisa saja, deh. Mama juga cantik, " puji Lisa kembali.
"Sudah siap? Hisyam dan keluarganya sudah datang, loh, " ujar Halimah. Membuat wajahnya jadi bersemu merah, jantung Lisa pun seketika berdebar tak menentu.
"Loh, kok wajah kamu merah gitu, Lis? Senang ya, mendengar Hisyam dan keluarganya sudah datang?" Tanya sang mama setengah menggoda. Kontan saja wajahnya semakin merona.
__ADS_1
"Tenang jangan gugup, ada Mama, Papa, Kakakmu, dan adikmu, " bujuk sang mama. Lisa pun mengangguk dan mengikut langkah mamanya menuju ruang tamu.
Bersambung