Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Wejangan Pernikahan 1


__ADS_3

Setelah selesai shalat, Linda berbalik menghadap putri dan menantunya. Melihat itu, Rima dan Ira langsung mencium punggung tangan Linda. Lalu dibalas dengan elusan lembut di kepala keduanya.


"Selamat datang di keluarga ini, Nak, " sahut Linda sambil menatap wajah menantu barunya itu.


"Terima kasih juga telah menerima Rima sebagai bagian dari keluarga ini. Bimbing Rima, ya Tante, soalnya masih awam soal rumah tangga, " pinta Rima.


"Loh, kok masih panggil Tante, sih? Kan kamu sudah jadi menantu. Jadi, mulai sekarang panggil Ummi, ya, " protes Linda.


"Eh, i... iya, Tan, eh Ummi, " jawab Rima gugup.


"Tidak usah malu dan gugup, Rim. Kamu harus terbiasa memanggil saya Ummi, " ujar Linda sambil tersenyum geli melihat tingkah menantunya yang malu-malu.


Ira ikut nimbrung, "Tenang saja, Kak. Kan ada Ira. Sekarang kan Ira sudah jadi adik Kakak. Kalau A Daffa macam-macam bilang saja sama Ira, biar dibantu tabokin."


"Hus, kok ngomong gitu tentang kakakmu. Tidak sopan, " tegur Linda pada putrinya.


Ira langsung nyengir dan menutup mulutnya. Linda menggelengkan kepalanya.


"Heran kamu tuh, tidak pernah akur sama kakakmu itu. Berantem melulu."


"Habisnya, A Daffa itu suka jahil, menyebalkan, " keluh Ira, merengut.


"Tapi kan, kakakmu itu sayang sama kamu, suka jagain kamu, protek banget malah. Kalau kamu pulang telat sedikit saja Kakakmu langsung panik nyariin."


"Iya, deh, Iya..." potong Ira tidak mau berdebat lagi di depan Rima.


"Begini nih, Daffa sama Ira, Rim. Kaya Tom and Jerry saja, berantem terus. Yang satu jahil dan satunya lagi sensian bin moodian. Pokoknya rame terus, deh. Bikin panas kuping."


"Mi, sudah, ah, jangan ngomong A Daffa terus. Entar hidungnya kembang kempis lagi diomongin." protes Ira merengut.


Namun tidak lama pandangannya beralih ke kakak iparnya, lalu tersenyum senang,


"Ira senang banget, deh Kak Rima sekarang jadi kakakku benaran, tidak cuma di sekolah saja. Dari dulu Ira pengen punya saudara perempuan yang bisa diajak curhat, main, belanja, pokoknya seru-seruan gitu, " sahut Ira semangat.


Rima tersenyum, "Kakak juga senang, kok, punya adik cerewet dan lucu kaya kamu. Selama ini kan tidak punya saudara. Maklum anak tunggal. Kadang suka kesepian juga. Tapi sejak kenal kamu dan dekat Kakak sudah anggap kamu seperti adik. Eh, tidak disangka malah jadi adik benaran. Jodoh memang tidak bisa ditebak, ya."

__ADS_1


Keduanya berpelukan. Sementara Linda hanya tersenyum melihat keduanya.


Linda nimbrung, "Ya, itulah yang namanya jodoh. Semua itu ada di tangan Allah. Cepat atau lambat pasti bakal ketemu, entah dengan cara apapun. Allahlah yang menggerakkan. Coba kalian bayangkan, Ummi sama mama kamu sudah lama berpisah semenjak lulus SMA dan lost kontak pula. Tiba-tiba beberapa bulan yang lalu ketemu lagi tanpa kita sangka. Datang ke toko Ummi. Dan siapa sangka juga kalian ketemu di satu sekolah, ya kamu dan Ira. Dari situ, hati Ummi tergerak untuk menjodoh kamu sama anak Ummi, eh ternyata mamamu merasa tergerak juga. Nyambung banget. Semua itu memang sudah diatur di waktu yang tepat oleh Allah,"


Kedua gadis yang ada di hadapannya itu hanya manggut-manggut mendengar uraian dari Linda.


"Tapi walaupun begitu, jodoh itu tetap harus dicari, karena masih ada dalam wilayah yang bisa kita upayakan. Artinya, kita bisa memilih seseorang yang terbaik menurut kita dan juga menurut Allah. Itu yang penting, bukan berdasarkan hawa ***** kita sendiri. Bukan berarti menunggu jodoh datang sendiri, tetap saja harus dijemput. Tapi bukan dengan cara pacaran, ya. Ingat, ini sangat berlaku untuk kamu, Ira." Tukas Linda sambil mendelik ke arah putrinya dengan tatapan tajam. Sebagai peringatan keras untuknya.


"Dalam Islam sangat dilarang laki-laki dan perempuan itu memiliki hubungan dekat sebelum menikah. Hatta itu dengan alasan teman doang. Karena satu-satunya hubungan yang diridhai oleh Allah antara laki-laki dan perempuan hanya dengan jalan pernikahan. Di luar itu tidak boleh, kecuali ada nash atau ayat yang dibolehkan secara syar'i. Seperti guru dan murid, majikan dan karyawan, dokter dan pasiennya, penjual dan pembeli. Meski begitu tetap ada batasannya, mereka berhubungan sesuai keperluannya saja, di luar itu tidak diperbolehkan.


"Tidak boleh tuh, yang namanya berduaan kecuali disertai mahram, berkhalwat atau bercampur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa ada keperluan yang dibolehkan secara syar'i, bertabarruj atau berhias dengan tujuan untuk menarik perhatian lawan jenis, buat perempuan harus mengenakan pakaian syar'i, yaitu gamis atau baju panjang yang luas dan menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan khimar atau kerudung, kain yang menutupi kepala sampai batas dada, itu batasan minimalnya."


"Karena itulah, Ummi, Abi, Mama, dan Papa kamu sepakat untuk segera menikahkan kamu dengan anak ummi. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Maklumlah pergaulan anak muda zaman sekarang, begitu bebas. Mentang-mentang sudah pacaran lantas bebas berbuat apapun termasuk hubungan terlarang, yaitu berzina. Perbuatan itu termasuk perbuatan fahisyah atau merusak. Padahal belum sah di mata Allah. Bisa merusak nasab keturunan, sekaligus merusak tatanan masyarakat, padahal Islam sangat menjaga itu. Karena itulah Islam mengatur sedemikian rupa tentang hubungan di antara dua jenis kelamin ini dengar begitu detil, jelas, dan tegas."


"Dipikir-pikir ribet juga, ya. Terus kalau kita tidak boleh pacaran, gimana kita bisa tahu sifat dan karakternya? Nanti kalau salah pilih gimana, Mi? Kaya beli kucing dalam karung, dong. Ih, enggak mau, ah, " tanya Ira penasaran.


"Sebenarnya tidak seribet itu juga, Ra. Islam itu datang dengan sekumpulan aturannya justru untuk memudahkan semua urusan manusia. Semuanya itu petunjuk untuk kita. Ibarat komputer kalau tidak ada petunjuk bagaimana cara menjalankannya, gimana bisa dipakai? Lihat saja orang yang gaptek alias gagap teknologi, sampai kapanpun enggak akan bisa menjalankannya. Tapi berbeda orang yang mau mengikuti petunjuk dan tekun belajar, pasti bisa dan benar, cepat jago. Kalau asal saja, tidak mau ikuti petunjuk cara pemakaiannya, ya bisa Heng, deh itu komputernya. Ngerti, kan maksud Ummi, Ra?"


"Iya, Mi," jawab Ira.


"Terus, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengenal calon jodoh kita?" tanya Ira dengan tampang serius.


"Ya, sebenarnya tidak ada batasan harus berapa lama masa ta'aruf dan khitbah itu. Seperti kakakmu dan Rima, mereka tidak butuh waktu lama untuk saling mengenal. Apalagi ada orang terpercaya yang bisa dijadikan referensi tentang calon masing-masing. Kedekatan kamu dan Rima cukup jadi pertimbangan A Daffa akhirnya mau menikah. Ditambah lagi kedekatan Ummi sama Mama Rima sejak zaman SMA, termasuk dengan Papa Rima yang merupakan kakak kelas kami. Ummi mengenal mereka dengan baik. Begitu, paham?" tanya Linda.


"Iya, Mi," jawab Ira.


"Eh, ngomong-ngomong, perasaan dari tadi kamu aktif banget nanya terus. Antusias banget bahas soal ini. Wah, jangan-jangan kamu sudah ada yang diincar, ya?" tuduh Linda curiga.


"Ih, Ummi kok jadi su'udzon gitu, sih," kesal Ira.


"Bukan gitu, Ira mau tahu saja ilmunya, Mi. Sebelum benar-benar ketemu jodoh. Ira sama sekali belum kepikiran, kok. Apalagi mikirin laki-laki, ih jauh banget, deh. Lagian, kan lebih baik tahu ilmunya dulu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau sudah tahu kan, Ira jadi tahu batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Terus jadi lebih menjaga diri."


"Iya deh, gitu saja ngambek. Baguslah kalau belum kepikiran, lebih baik kamu fokus belajar dulu. Itu tugas kamu sekarang. Belum waktunya bicara jodoh. Tapi kalau mau tahu ilmunya itu tentu lebih baik, " sahut Linda sambil mengelus kepala putrinya.


"Siap, Bos!" jawab Ira kocak. Lalu, dengan manja Ira memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


Saat sedang berpelukan, tiba-tiba Daffa menegur, "Wah, ada apa ini, kok peluk-pelukan kaya Teletubbies?"


"Idih, Aa nih, sirik saja. Bilang saja pengen ikut pelukan juga, " ledek Ira sambil mendelikkan matanya ke arah Daffa. Rima menahan tawa melihat ekspresi galak yang ditunjukkan adik iparnya kepada suaminya.


"Eh, sudah pada pulang, toh. Tidak kedengaran masuknya, " sapa Linda saat dilihat suami dan kedua putranya berjalan mendekati mereka. Linda bangkit berdiri mendekati suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Dari tadi sudah ucapin salam, tidak ada yang jawab. Eh, rupanya lagi pada kumpul di sini, " sahut Wirawan rada merengut.


"Maaf, kita baru saja selesai shalat berjamaah di sini, terus ngobrol-ngobrol sebentar, " terang Linda.


Akhirnya kelimanya berkumpul di ruang mushalla ini. Wirawan duduk di samping kanan istrinya yang memang kosong, sedangkan Raihan segera duduk di pangkuannya. Daffa duduk di samping Rima, sedangkan Ira masih tak bergeming, tetap di tempat duduknya sambil memeluk Umminya.


Awalnya mereka terlibat perbincangan ringan, saling bersenda gurau. Melihat keakraban yang tercipta di keluarga ini membuat Rima merasakan keharuan sekaligus iri melihatnya. Karena selama ini ia sangat merindukan kehangatan bersama saudara, meski kedua orang tuanya selalu melimpahkan kasih sayang dan perhatian penuh untuknya.


Perlahan, Wirawan mulai berbicara hal yang lebih serius untuk sepasang pengantin baru, putra dan menantunya.


"Daffa, Rima, Abi ucapkan selamat atas pernikahan kalian,


" Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”


"Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan."


Tentunya kebaikan di dunia dan akhirat.


"Pesan Abi untuk Daffa, jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab. Pertama, bimbinglah istrimu ke jalan Allah dengan cara yang baik, lembut. Jangan sekali-kali menyuruhnya berbuat hal yang dilarang Allah. Jika itu terjadi, istrimu sangat boleh tidak menaatimu. Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah. Hatta itu kepada suaminya sendiri. Maka jagalah istrimu dari berbuat dosa. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka."


"Kedua, perlakukan istrimu dengan baik, jangan sekali-kali kamu berbuat dzalim kepadanya, menyakiti hatinya, membebaninya dengan sesuatu di luar kemampuannya. Hubungan antara suami dan istri itu seperti dua orang yang bersahabat. Keduanya saling menguatkan dan melengkapi."


"Ketiga, penuhi nafkah lahir dan batinnya dengan cara yang baik. Dalam mencari rezeki, selalu berusaha mencarinya dengan cara yang halal, baik secara zat maupun cara mendapatkan rezeki itu. Adapun nafkah batin, penuhi pula dengan cara yang sebaik mungkin. Istrimu adalah ladang tempat bercocok tanam bagimu. Dari rahimnya akan lahir anak-anakmu."


"Keempat, jagalah aib istrimu. Apapun kekurangan istrimu jangan kamu bicarakan kepada orang lain, kecuali dalam rangka mencari solusi. Dan harus diceritakan kepada orang yang tepat, yang mampu memberikan solusi, bukannya disebarkan kepada banyak orang. Apalagi sampai update status di medsos, curhat sembarangan. Karena istrimu adalah ibarat pakaian untukmu, begitu pula dengan kamu pakaian bagi istrimu. Apakah kamu suka jika pakaian istrimu tersingkap di hadapan orang lain, hingga auratnya terlihat? Tentu tidak rela, bukan?"


"Kelima, berikan rasa tenang, cinta, dan kasih sayangmu kepada istrimu, maka rumah tangga yang sering kita idamkan akan tercapai, yaitu pernikahan yang di dalamnya dipenuhi rasa tenang atau sakinah, cinta atau mawadah, dan Rahmah, atau kasih sayang. Itulah samara."


"Intinya, kamu harus selalu ingat bahwa sejak kamu mengucapkan akad nikah di hadapan penghulu, para saksi, dan semua yang hadir tadi pagi, sejak itu pula tanggung jawab yang tadinya dipikul oleh papanya Rima, menjadi berpindah ke tanganmu, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di hari Akhir nanti. Kedudukan surga dan nerakanya ada di tanganmu. Karena pada hakikatnya kamu telah berakad di hadapan Allah, bersumpah atas nama Allah, yang sanggup mengguncang Arsy-Nya. Maka, bingkailah rumah tanggamu dengan ketakwaan."

__ADS_1


"Itulah pesan Abi untuk kamu Daffa. Dan sekarang, untuk Rima."


__ADS_2